Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 235



Pelangi terlihat gusar namun juga kesal mendengar umpatan Joe yang seolah tidak mempercayainya. Ini sungguh tidak pernah terduga, sikap Exelle lebih konyol dan berani walaupun dia tahu siapa Joe saat ini.


"Langi, kita perlu bicara berdua."


Pelangi mendengus, ia menatap wajah Joe kemudian beralih menatap wajah Exelle yang melempar senyuman nyengir padanya.


"Ex, bisakah kau pergi dulu? Aku perlu bicara dengan pacarku, kau bise kembali menemui mama ku di dalam."


"Tapi..."


"Heh, kau. Ini bukan urusan mu, aku perlu berbicara dengan pacarku. Ini masalah kami, apa kau perlu sebegitunya hah?"


"Joe!!! Kau mau kemana lagi? Apa kau mau meninggalkan ku lagi?" Kini Maria sudah hadir menghampiri mereka.


"Pfftt... Lihat saja, apakah sungguh akan bisa berduaan setelah ini?" Ujar Exelle lirih.


"Maria, aku harus pergi dengan Pelangi."


"Gak boleh!!! Aku harus ikut."


"Maria, jangan membuatku marah."


"I don't care!!!" Jawab Maria cetus.


"Ok, ok. Sepertinya memang tidak ada lagi yang harus kita bicarakan Joe, sebaiknya kau selesaikan anak manja ini. Ku risih melihatnya berlama-lama di depan ku,"


"Hei, apa maksudmu? Aku hany tidak ingin membiarkan Joe dengan wanita plinplan sepertimu itu."


"Kau bilang aku Plinplan?"


"Hemm, buktinya kau pergi dengan Exelle diam-diam."


"Mery! Come on pliss... Apa yang kau katakan? Aku dengannya tidak sengaja bertemu disini." Jawab Exelle dengan tegas.


"Diam kau!!! Aku tahu kau akan membelanya."


"Maria, bisakah kau diam saja dan tidak ikut campur lagi?" Kali ini Joe sungguh dibuat kesal akan sikap Maria.


"Joe, kau jahat. Padahal sejak malam tadi kau baik, kau sampai menemaniku hingga lelap tidur."


"Langi. Ayo pergi dengan ku," Joe menarik tangan Pelangi dan berusaha mengalihkan ucapan Maria barusan. Tapi tidak dengan Pelangi yang begitu peka akan ucapan Maria hingga kini dia menatap tajam ke arah Joe.


"Sedekat itu kalian?" Tanya Pelangi.


"Ayolah, Langi. Ini tidak seperti yang kau pikirkan, kau tahu maria memang suka sekali ngelantur bicaranya."


"Sebaiknya kau pulang saja Joe, aku tidak ingin bertengkar lagi." Jawab Pelangi dengan membalikkan badannya memasuki mall kembali.


"Selamat bro, sepertinya kali ini gue yang akan memenangkan hati nya." Bisik Exelle menyeringai.


"Langi, tunggu!!!" Joe memaksa untuk mengejar Pelangi kembali. Pelangi terus berjalan mengabaikan nya, hingga langkah Pelangi terhenti saat tiba di hadapan ku yang berdiri bersama Abel.


"Nak.." Panggilku kebingungan saat melihat nya begitu kesal, sedang Joe mengejarnya dari belakang dan saling menyenggol satu sama lain dengan Exelle.


"Joe, ada apa baby?" Tanya Abel dengan panik.


"Ma, ayo kita pulang sekarang." Ajak Pelangi dengan sikap dingin.


"Langi... Pliss," Joe masih berusaha merayunya, tapi dengan sikap dingin Pelangi mengacuhkannya.


"Nak, ada apa ini?" Tanya ku kembali.


"Ayo lah, Ma. Kita pulang sekarang yuk, Pelangi capek."


Ku tatap wajah puteriku yang tampak jelas dia sedang menahan amarah yang memuncak. Aku yakin kali ini dia sedang mengalami masalah rumit dengan Joe, atau mungkin dengan gadis yang bernama Maria itu.


"Tante, Joe mohon untuk..."


"Ssst... Biarkan Pelangi tenang dulu ya, sebaiknya kami pulang saja dulu." Aku menyela tutur kata Joe yang memohon untuk tetap berbicara pada Pelangi.


"Tapi tante..."


"Abel, aku dan Pelangi pulang duluan ya." Pamitku pada Abel.


"Fanny, ayo lah.. Ini urusan anak-anak. Biarkan mereka menyelesaikannya berdua. Itu akan lebih baik,"


" Tante, maaf. Aku dan Joe baik-baik saja kok," Bantah Pelangi.


"Tapi, Nak.."


"Mami, Pelangi marah padaku. Dia salah paham, Mi."


"Pfftt... Cowok apaan yang suka ngadu begitu, manja banget." Ucap Exelle meledeknya.


Joe mengumpatnya dengan lirih. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anak ini, sedangkan Pelangi sudah terlihat mengendus nafas panjang sejak tadi.


Dan pada akhirnya aku tetap memutuskan untuk pulang. Pelangi sudah tidak bisa lagi diajak bekerja sama dengan keadaan walau Joe terus saja memohon padanya.


🌻🌻🌻


Sampai dirumah pun Pelangi langsung memasuki kamarnya. Aku tidak bisa menghentikannya untuk mengajak bicara sejenak, atau paling tidak menjadi tempat curahan hatinya.


Pelangi menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dia menelungkupkan wajahny pada bantal, membayangkan kembali yang dilihatnya tadi.


"Aaaarght... Bodohnya aku, harusnya aku tidak cemburu pada cewek manja itu. Tapi Joe, dia menatapnya berbeda saat bercanda tadi. Hingga ia menemaninya sampai lelap tidur, apakah itu tidak keterlaluan?"


Tak berapa lama kemudian, ponsel Pelangi bergetar. Dengan sigap dia meraihnya, dalam pikiran dan harapannya adalah Joe yang menelponnya. Tapi ternyata justru nomor ponsel baru yang di ketahuinya adalah milik Exelle.


Pelangi meletakkan kembali ponselnya di atas kasur, sesaat kemudian berdering kembali. Sebuah pesan singkat di layar ponsel nya terlihat dari nomor baru yang meneleponnya tadi.


Aku ingin bicara sebentar, cewek galak. Tolong angkat telepon ku.


"Hah, mau apa lagi sih?"


Kemudian Exelle kembali meneleponnya. Dengan terpaksa Pelangi menerima karena jika tidak, Exelle akan terus mengusiknya tanpa jeda.


"Hah.. Akhirnya, kau menerima panggilan telepon ku cewek galak." Jawabnya mengeluh di ujung ponselnya itu.


"Aaah. baiklah. Nona Pelangi, katakan apakah kau baik-baik saja?"


"Jangan memanggilku nona lagi, cukup Pelangi. Kau sungguh menyebalkan!!!"


"Hahaha, astaga. Baiklah, maafkan aku."


"Apa kau menelponku hanya untuk bertanya hal itu?"


"Tidak, aku sungguh ingin tahu apa kau baik-baik saja?"


"Menurutmu?" Pelangi melempar tanya kembali pada Exelle.


"Ku rasa kau saat ini sedang mengumpat, kau marah-marah tidak jelas dan mungkin kau sedang menangis."


"Hei, aku tidak selemah itu hanya karena rasa cemburu ku. Ups," Pelangi menyentuh kedua bibirnya yang mengatup seketika. Ia merasa tanpa sengaja mengungkapkan apa yang kini di rasakannya.


"Hahaha, benar dugaan ku. Kau cemburu pada Mery, oh astaga."


Pelangi terdiam tanpa suara. Membuat Exelle segera mengalihkan bicaranya agar Pelangi tidak sedih.


"Pelangi, jangan sedih atau marah lagi. Kau harus tetap ceria dan semangat, jangan mau kalah. Kau harus sepertiku, lihat.. Meskipun aku tidak memiliki orang tua aku tetap selalu tersenyum ceria untuk menghibur orang-orang terdekatku. Oleh karena itu, aku tidak mudah menyerah mengejarmu. Hehe,"


"Cih, apaan sih? Kau meledekku?"


"Tidak, aku berbicara apa adanya agar kau tidak bersedih lagi. Lakukan saja apa yang akan membuatmu bahagia, dan jika pun kau merasa apa yang saat ini kau miliki di rebut oleh seseorang. Kau harus mempertahankannya jika itu pantas, jika tidak... Lepaskan. Itu lebih baik,"


"Kau tidak tahu apapun, jangan melewati batasan mu."


"Ya ya, baik lah. Ehm, apa kau suka baca buku komik?"


Tanya Exelle kembali, mencoba lebih akrab dengan Pelangi.


"Ehm... Aku suka, tapi aku lebih menyukai berbagai buku ilmu pengetahuan tentang kedokteran."


"Waow, hebat!!! Tapi sayangnya, aku benci profesi itu."


"Hei, kau menghinaku. Aku ingin sekali menjadi dokter hebat nantinya,"


"Ibu ku seorang dokter dulunya, dia dokter yang hebat. Tapi justru dia tidak tertolong dan bisa menyelamatkan nyawa nya sendiri, juga dengan ayahku."


Pelangi terhentak, dia merasa sedikit sedih membayangkan posisi Exelle saaat ini.


"Maafkan aku jika begitu alasan mu, tapi tentang profesi seorang dokter... Nyawa bukan hal mudah yang mampu di selesaikan hanya dengan status kedokteran. Itu urusan Tuhan, profesi dokter hanya sebagai perantaranya. Jadi, kau tidak perlu membenci profesi dokter."


"Wah... Kau sungguh cerewet, apa kau begitu mencintai profesi itu dan ingin menjadi dokter hebat?"


"Hemm, sejak kecil itu adalah impian ku. Lalu saat kau sakit apakah kau tidak butuh dokter?"


"Aku menolaknya, aku lebih memilih pengobatan herbal saja. Aku tidak ingin membuat diriku sendiri sedih hanya karena terus mengingat kepergian ayah dan ibu."


Pelangi tertegun mendengarnya, sejenak ia termenung jauh. Memikirkan posisi Exelle sejak kecil, tentu dia begitu kesulitan.


"Halo, halo... Hei, cewek galak. Ups, Pe-langi. Kau masih disitu?"


"Ah, ya. Maaf, ehm... Jika kau sudah tahu profesi apa yang saat ini aku inginkan, cita-cita apa yang ingin ku raih, lalu kenapa kau begitu memaksa untuk mengenalku."


"Aku tidak peduli. Aku hanya merasa jika kau berbeda, kau lucu, kau polos, meski kau sedikit galak dan dingin, tapi aku merasa jika hanya kau yang mampu menyaingi kegilaan ku."


"Berapa kali aku harus menjelaskannya, aku sudah memiliki pacar."


"Tidak bisakah kau putus saja dengan nya? Dia tidak pantas dengan mu. Bahkan dia lebih memilih memanjakan Mery, apa kau lupa itu?"


"Kau terlalu ikut campur. Aku hanya akan mempercayai Joe, pacarku."


"Jika kau mempercayainya, kau tidak akan memilih untuk pulang begitu saja tadi. Hahaha, tapi jujur aku sangat suka melihat pacar mu itu kebingungan seperti tadi. Aku berhasil membuatnya tersulut api cemburu."


"Kau menyebalkan. Aku akan mematikan panggilannya, kau hanya membuatku semakin kesal."


Klik!!!


Pelangi sungguh mematikan panggilan Exelle. Dia menyadari jika sebenarnya, dalam hatinya mulai ragu karena rasa cemburu yang menguasainya. Melihat Joe yang selalu di ikuti oleh Maria kemana pun pergi, membuatnya tidak nyaman. Terlebih sikap Maria yang begitu manja dan genit pada Joe.


Ponsel nya kembali bergetar, pesan singkat dari Exelle. Yang menyatakan kata maaf padanya karena telah meledeknya sejak tadi.


Tok tok tok...


Ku ketuk pintu kamar Pelangi kemudian, sebagai ibu yang memiliki anak remaja sepertinya saat ini, aku merasa gelisah jika hanya berdiam diri membiarkannya begitu saja, sementara suasana hatinya saat ini ku yakin tengah kacau. Paling tidak, peranku juga harus bisa menjadi sahabat baik untuknya.


"Pelangi, mama bawakan jus strawberry. Apa kau mau?"


Sepertinya cara ini akan berhasil menyogoknya nanti.


Tak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka, Pelangi terlihat lusuh dan bermalas-malasan. Rambutnya yang tertata rapi tadi kini bagaikan sarang burung saja.


"Mama boleh masuk?" Tanya ku ragu, dengan sedikit mencondongkan kepala ku di balik pintu kamarnya.


"Boleh, Ma. Asal Jus nya sungguh untuk Pelangi,"


Aku langsung melangkah masuk ke kamar nya ketika Pelangi sudah mengiyakan. Lalu meletakkan segelas jus favoritnya, kemudian aku dusuk di sofa mini dekat ranjangnya.


Pelangi langsung menyeruput jus buatan ku, lalu menghela nafas panjang bersandar pada punggung sofa di dekatku.


"Sudah enakan?"


"Hem, maksud mama?" Tanya Pelangi sedikit terkejut menatapku namun dengan cepat dia alihkan kembali.


"Ehm... Mama juga dulu pernah muda, loh."


"Cih, mama. Iya, Pelangi tahu, mama pernah muda dan pasti tercantik. Maka itu papa sangat mencintai Mama dan juga... Om Kevin, hahaha."


"Hai, dasar anak nakal." Aku sungguh malu hingga mungkin wajah ku saat ini sudah memerah ketika puteriku sendiri menggodaku demikian.


"Hahaha, ampun Ma." Jawabnya dengan menunjukkan dua jari telunjuk dan jari tengah sejajar yang bertanda 'salam damai'