Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 195



Aku merasa malu ketika akhirnya harus menceritakan semua hal yang membuat Pelangi yang di kenal Kevin begitu periang dan ceria kini menjadi sosok yang dingin. Itu sedikit membuat Kevin terheran-heran, dan dengan segala kekuatan aku menceritakannya pada Kevin dan Nia. Seakan mereka tak menghela nafasnya sedikitpun mendengarkan ku berbicara, lalu kemudian Nia memelukku yang menangis.


Meskipun aku sudah mengingat semua nya, aku masih tidak percaya jika Ammar masih bisa hidup layak di dunia ini. Kenapa Tuhan masih membiarkannya hidup, aku sudah berusaha melupakan semua nya demi keutuhan rumah tangga ku, demi kebaikan bersama. Tapi melihat Fanny terluka seperti ini, ah.. Seakan aku pun ikut kembali merasakan luka lama.


"Eh, bolehkah aku mencoba berbicara dengan Peri kecil ku?" Ucap Kevin kemudian, ia segera menyeka air mata yang berjatuhan membasahi pipinya. Tarikan nafasnya begitu dalam, ia tampak mengepalkan kedua tangannya diam-diam gemetaran.


"Kevin, aku.. Ehm, rasanya ini terlalu membebanimu."


"Irgy, sejak lahir aku pun sudah menganggap Pelangi sebagai puteri ku. Hingga kini, aku bahkan selalu merindukannya dari tahun ke tahun menghitung usianya hingga kini." Kevin menjawab dengan tegas lalu kemudian menatap ke arahku. Ada perasaan lega dan sedikit sesak melihatnya begitu peduli.


"Fanny, izinkan aku dan Kevin lebih dekat dengan Pelangi. Aku ingin menganggapnya juga sebagai puteri ku, atau jika saja boleh apapun yang Pelangi inginkan kami akan memenuhinya."


"Nia.. Kau,"


"Sssttt... Kita keluarga bukan?" Ujar Nia sembari menyentuh pipi ku dengan telapak tangannya yang hangat.


Aku memeluknya kemudian, aku sungguh bahagia seorang Nia yang dahulu begitu membenciku namun kini dia sungguh berubah. Penuh kelembutan dan keibuan, aku jadi sedikit lega. Aku bisa merelakan sepenuhnya Kevin hidup dengan wanita yang berhati baik seperti Nia.


Beberapa saat kemudian, setelah jam makan malam Nia dan Kevin tengah asyik bermain dengan putera kembar ku. Sedang Irgy entah kemana dia, aku berniat membantu bibi aisten di dapur. Aku berniat membawakan beberapa cemilan untuk Nia dan Kevin yang sedang asyik di ruang bermain.


"Aduh, seru banget ya kalian ini kalau sudah bermain."


"Hahaha, iya ma. Om dan tante jago main game juga, Rafa dan Rafi suka main dengan mereka." Jawab mereka dengan tawa ceria.


"Ehm, Fanny. Dimana Pelangi? Sejak makan malam selesai dia menghilang begitu saja."


"Hem, yah.. Begitu lah, Peri kecil mu selalu menyendiri di halaman atap setelah makan malam. Terkadang dia juga langsung menuju kamar untuk menyendiri dan selalu marah jika kami memaksa untuk berbicara dengan nya."


Seketika Kevin beranjak berdiri, setelah mendengar ucapan ku.


"E,eh Vin. Kau mau kemana?" Tanya ku setelah dia berlalu pergi dari hadapan ku.


"Aku akan berbicara dengan puteri ku, izinkan aku Fanny."


"Tapi Vin, saat ini bukan waktu yang tepat. Aku tidak ingin Pelangi marah pada mu nantinya."


Kevin terus berjalan mengabaikan ucapan ku. Dan Nia menahan ku untuk menghentikan Kevin.


"Fanny," Panggil Nia dengan lembut lalu menggelengkan kepalanya menatapku.


"Apa kau ragu dengan suami ku yang lebih dulu kau kenal?"


"Nia, aku hanya..."


"Ssssttt... Percayalah, selama ini aku belum pernah melihat suamiku tidak memenangkan hati seseorang, dan kau tahu itu juga bukan?"


Aku terdiam kemudian mengangguk pelan pada Nia.


🌻🌻🌻


Di halaman atap, Pelangi sedang duduk santai di sofa dengan merebahkan tubuhnya sedikit terlentang menatap langit malam. Kevin tersenyum dari kejauhan dan perlahan menghampirinya.


"Hah, langit malam memang selalu mampu menjadi obat penenang untuk hati yang ingin menghindari kebisingan".


Ucapan Kevin mengejutkan Pelangi hingga ia beranjak untuk membenahi posisi nya tadi.


"E,eh.. Om, ehm.. Apakah om akan bersantai disini? Jika begitu aku akan pergi ke kamar." Ucap Pelangi dengan sedikit kikuk.


"Boleh kah om memintamu menemani om disini, sebentar saja."


"Tapi om, aku..."


Pelangi terdiam sejenak. Kemudian ia mengalihkan pandangan nya pada sekitar seolah dia ingin mencari cara agar segera bisa kembali ke kamar nya.


"Kau adalah seorang anak yang selama ini di nantikan kehadirannya oleh kedua orang tua mu, banyak pengorbanan yang di lakukan oleh mama mu Fanny selama ini Nak. Kehidupannya di masa lalu begitu banyak hal menyakitkan yang di dapatkannya. Mungkin kau belum mengerti, tapi aku yakin kau masih memiliki hati untuk mendengarkan ini semua."


"Om, aku.. Aku ke kamar dulu."


"Karena om juga bagian dari masa lalu mama mu Nak,"


Pelangi terhentak dan menoleh ke arah Kevin dengan tatapan tajam.


"Dipisahkan dengan orang yang kita sukai memang sangat menyakitkan, apa kau percaya bagaimana dulu kami berpisah?"


Pelangi terdiam dengan bibirnya yang gemetaran, lalu Kevin dengan lembut dan penuh hati-hati menceritakan semua nya pada Pelangi. Namun dia masih berusaha menahan dan menyimpan akan semua hal memalukan yang pernah terjadi pada Fanny di masa lalu. Dia tak ingin Pelangi akan mengikuti jejak mama nya di masa lalu.


Dan Kevin tidak menyangka jika semua tutur katanya sejak tadi membuat Pelangi menangis tersedu hingga nafasnya terengah-engah. Kevin meraihnya dalam dekapannya, ia peluk erat gadis mungil yang dia anggap sebagai puterinya sendiri. Kevin memejamkan matanya sembari menciumi kepala Pelangi, ia seakan berada pada masa Fanny muda waktu itu, saat bersamanya.


"Om, aku selalu takut akan perpisahan. Aku merasa menemukan kembali teman yang bisa mengerti akan diriku setelah bertemu dengan Lucky, setelah aku harus terpisah dengan kakak Tama. Aku selalu merasa sendiri om,"


"Sssst... Kau tidak pernah sendiri peri kecil ku, banyak yang menyayangimu. Dan mulai saat ini, kau pun tidak akan pernah merasakan sendiri lagi. Ada om yang selalu kau sebut dengan uncle baik sejak kecil."


"Tapi om, bagaimana om masih bisa berteman baik dengan mama sampai saat ini?"


"Mencintai seseorang yang sebenarnya adalah untuk membuat dan melihatnya bahagai. Bukan egois yang membuat kita serakah hanya karena mencintainya. Itu sebab nya, hingga detik ini. Hanya dengan tetap menjalin pertemanan layaknya saudara hati kita akan tetap merasa cinta itu adil, apa kau mengerti?"


"Aku bingung om, aku tidak tahu harus berkata apa."


"Jangan katakan apapun, Nak. Kau akan perlahan memahami saat dewasa dan mulai jatuh cinta." Jawab Kevin dengan terus mendekap Pelangi dalam pelukannya.


"Om, apakah ini berarti... suatu saat aku masih bisa berteman baik dengan Lucky om? Meski, kita tidak mungkin bertemu kembali." Pelangi kembali terisak dalam tangis.


"Mulailah dari dalam hatimu sendiri, bukalah hatimu untuk memulai semua dari awal saat sebelum kau mengenal Lucky. Belajarlah untuk mengendalikan hati mu dari keterputukan, kau adalah sumber kebahagiaan bagi mama mu Fanny. Saat kau dewasa nanti, jika kau siap akan segalanya. Biarkan hatimu yang memutuskan."


"Aku akan mencoba nya om, maafkan aku..."


"Untuk apa kau meminta maaf Nak, kau tidak salah. Kau hanya belum mengerti dan butuh waktu lama untuk memahaminya, dan saat ini usia mu sudah akan menginjak 17 tahun. Usia yang sudah cukup matang untuk memulai kehidupan dan kisah baru."


"Om memang luar biasa."


"Cih, apakah saat ini kau sudah mulai mengagumi om kembali?"


"Ih, GR. Enggak tuh, biasa aja."


"Hmm... Katakan pada om, apakah kau sudah memiliki pacar di sekolah?"


"Ih, apaan sih om. Kagak, yang menyatakan perasaan nya sih banyak om. Tapi aku menolaknya, aku tidak bisa membuka hatiku pada mereka."


"Wah, jangan bilang jika peri kecil om ini hanya menyukai sesama jenis saja."


"Iih, om. Jahat banget sih, enggak dong. Pelangi juga punya kriteria cowok sendiri yang belum Pelangi temui sampai saat ini. Maka dari itu Pelangi masih jomblo, tauk."


"Oh, sungguh.. Apakah kriteria cowok itu seperti om? Tampan, pintar, lucu, dewasa, dan gagah."


"Oh, No. Om terlalu tua, hihihi."


Mereka saling bercanda ria, dan hanya sekejap Kevin mampu membuat Pelangi ceria dan kembali banyak bicara. Tertawa riang bersenda gurau dengan Kevin yang terus mengerjainya.


Dan kau tahu, hatiku ingin meledak saja rasanya. Aku terengah-engah menahan tangis ku yang diam-diam melihat mereka di balik pintu menuju ke halaman tersebut.


Terimakasih Kevin... Terimakasih... Dan Terimakasih untuk segala cinta mu pada ku yang masih setia kau simpan hingga detik ini, dan kau melampiaskan semua perasaan mu untuk menyayangi anak-anak ku. Khususnya Pelangi, peri kecil mu.