
Selama pelajaran berlangsung di kelas, ketiga sahabat Pelangi
selalu menatap Pelangi dengan tatapan tajam dan seolah sudah menyimpan banyak
Tanya untuknya. Pelangi tampak gelisah namun tetap berusaha selalu melempar
senyuman nyengir ala kuda.
Teeet… teeettt…
Terdengar suara bel yang menandakan jam istirahat dimulai.
Bergegas seluruh murid di kelas berhamburan keluar setelah dua jam di kelas
baru sudah di awali dengan berbagai ilmu pengetahuan yang harus di tempuh.
Pelangi pun tetap dengan sikap nya yang menunjukkan baik-baik saja.
“Ayo, kita ke kantin!” Ajaknya.
“Princess cold, apa kau sungguh menganggap kami sebagai
sahabat mu?” Tanya Lisa.
“Huhft… Aku tahu kau akan marah akan hal ini. Maafkan aku,
Sa. Aku tidak ingin mengganggu liburan kalian saat itu.”
“Ceritakan semua secara detail, ada apa sebenarnya?” Tanya
Jeni dengan nada marah.
“Seperti yang kalian lihat tadi. Apa yang kalian pikirkan
tentang Maria?”
“Jadi benar ini semua karena Kuyang itu?” Tanya Jeni dengan
menggertakkan giginya.
“Brengsek, si Joe. Akh, aku tidak menyangka dia akan selemah
itu mudah berpaling. Apa yang special dari cewek itu?”
Pelangi menundukkan wajahnya mendengarkan hal itu, dalam
hatinya memang masih tersimpan rasa sesak yang berusaha dia tepis untuk tak terlihat
sedih di wajahnya.
“Huh, aku pun benci cewek itu. Pasti dia yang telah menyuruh
Joe merubah wajahnya, aku kehilangan kumis tipis ku. Iiiiihhh…”
Pelangi kemudian tersenyum tipis, paling tidak masih ada
ketiga sahabatnya yang menghiburnya saat ini.
“Maafkan aku, aku tahu kalian pasti kecewa. Tapi kali ini
sungguh aku tidak bisa menerima Joe sebagai lebih dari sahabat. Rasanya sangat tidak adil bagi
hatiku, jika aku membiarkan ini terus berlanjut dengan tetap membiarkan semua
berjalan begitu saja. Aku pun percaya kalian akan lebih memahami keputusan ku
ini.”
“Yes!!! Jadi adil kali ini. Kita semua berstatus JOM-BLO.”
Ujar Jeni menyeru.
“Hei… Tidak demikian, sayang. Sepertinya aku akan mengakhiri
masa kesendirianku ini, kalian tahu.. bertemu dengan seorang pangeran yang sangat
sangat uugh… Membayangkannya saja aku merasa melayang.” Ucap Lisa tersenyum
genit dengan kedua mata mentap ke atas.
Tampak yang lainnya mengerutkan kening menatapnya.
“Cih… Apakah kini seleramu sudah berubah menjadi Cinderella
modern?” Ledek Jeni.
“Huuh… Jika kalian melihatnya, kalian akan terpesona akan
ketampanannya. Dia sangat lembut dan penuh santun, hanya saja. Dia sedikit
cuek, walau begitu aku suka. Aku sangat suka, kyaaaa… Pokoknya aku suka.” Lisa
kian semakin terhanyut dengan lamunan membayangkan sosok yang dia ceritakan.
“Aah, sudah lah. Ayo kita ke kantin saja, aku sudah sangat
lapar.” Ajak Jeni mengabaikan Lisa yang sedang berbunga-bunga.
“Tunggu!!!” Lisa memberikan titah untuk menghentikan langkah
para sahabatnya.
“Princess cold, apa kau sungguh baik-baik saja putus dari
Joe? Karena setahu kami… Kalian sejak kecil sudah bersama dan saling
menyayangi. Meski aku sangat terkejut melihat kejadian pagi tadi.”
“Setiap orang akan berubah seiring waktu berjalan, dan begitu
pula dengan Joe. Teman masa kecilku, mungkin dulu dia orang yang baik, dan
hanya menyayangiku. Tapi saat ini, siapa tahu??? Joe dan Maria sudah berteman
baik selama di Joe di LN. Aku harus sadar diri bukan?”
“Hikzt… Princess cold, kenapa kau bisa sekuat itu setelah
putus dari Joe? Bukankah dia cinta pertama mu? Itu pasti sangat berat.” Lisa
sahabatnya itu lekat-lekat.
Pelangi mengangguk pelan.
“Bahkan aku tidak yakin cinta pertamaku siapa dan bagaimana
rasanya. Selama ini aku hanya menganggap Joe sahabat terdekatku Sama seperti
kalian.” Kemudian mereka berpelukan dan saling merangkul satu sama lain.
Jam pelajaran berakhir, setelah bel jam pulang berbunyi.
Semua siswa siswi saling berhamburan, seperti biasa Pelangi keluar dari kelas
di kawal oleh ketiga sahabatnya. Saat tiba di halaman sekolah, langkah mereka
terhenti ketika seseorang yang mereka kenal berdiri di depan pintu gerbang.
“Oh my God, dia seperti hantu saja. Tiba-tiba muncul begitu,”
Ucap Lisa dengan suara berbisik.
“Hai, cewek galak. Lama tidak bertemu,” Sapa Exelle
melambaikan tangan pada kearah Pelangi.
“Hai, Ex. Kau disini?” Jawab Pelangi.
“So what??? Princess cold, kau membalas sapanya?” Lisa tampak
terkejut menatap wajah Pelangi lalu bergilir kearah Exelle.
Exelle tersenyum berjalan menghampiri Pelangi untuk lebih
dekat dengan Pelangi.
“Ada waktu???”
“Ehm… Mau kemana?”
“Kafe, atau toko komik seperti biasa?”
“Hei, tunggu! Sejak kapan kalian menjadi akrab begini hah?”
Kini giliran Jeni yang bertanya dengan ekspresi terkejut.
“Jangan bilang jika aku akan di hajar kembali oleh kalian?
Aku dan Princess kalian sudah berteman baik. Iya kan, cewek galak?”
Pelangi hanya tersenyum menanggapinya.
“Oh my God. Ini yang dibilang hilang satu akan tumbuh seribu.
Hihi…” Lisa menggoda mereka kemudian.
“Apaan sih, Sa? Jangan mulai deh.” Bantah Pelangi.
“Kalian juga bisa ikut, dan salam kenal dari ku. Aku Exelle,
kalian mau kan berteman juga dengan ku?”
“Ho ho ho, tidak semudah itu, bro.” Ucap Jeni.
“E,eh… Apaklah ada salah satu syarat dan ketentuan yang harus
ku jalani? Hahaha…” Exelle mencoba lebih akrab dengan mereka. Meski tatapan
mereka sangat sinis pada Exelle. Kecuali hanya Pelangi yang menertawainya.
“Baiklah, Ex. Ayo, kita ke kafe Lucas saja.”
“Yess!!!” Seru Exelle dengan sumringah. Ia tampak sangat
bahagia setelah mendengar Pelangi mau menerima ajakannya tanpa berpikir lebih
dulu seperti sebelumnya.
“Ya ya ya, baiklah. Kali ini aku permudah kau bergabung
dengan kami, itu karena Pelangi kami menyetujuinya.” Jawab Jeni dengan senyuman
kecut.
Kemudian mereka pergi menuju kafe Lucas beriringan dengan
mobil yang berbeda. Sesaat kemudian mereka tiba di kafe Lucas, dan betapa
terkejut nya Pelangi saat terlihat Joe sedang duduk sendiri di kursi sofa yang
biasa menjadi tempat berkumpul dengan Pelangi dan ketiga sahabatnya. Dia duduk
termenung menyendiri dengan segelas jus jeruk di hadapannya. Tanpa menyadari
“Iiih, Pangeran ku. Sungguh kasihan dia, duduk sendiir begitu
dengan wajah murung. Dia pasti sedih karena putus dari Princess cold.” Ujar
Lucas dengan nada rengekan.
“Kau putus dengan nya?” Bisik Exelle pada pelangi.
“Ya, mereka sudah putus. Lalu apa urusan mu?” Jawab Jeni
dengan cetus.
“Hahaha… Woah, entah kenapa aku bahagia mendengarnya.” Ujar
Exelle dengan tawa lepas. Hingga membuat Joe terkejut dan menoleh ke belakang.
“Ups…” Joe menahan tawanya.
Sontak Joe beranjak berdiri dengan tatapan penuh marah dan
melangkah menghampiri Pelangi. Ketiga sahabat Pelangi mulai beraksi untuk menghadang langkah Joe agar tidak
menyentuh Pelangi sedikitpun. Exelle sedikit terkekeh melihat sikap ketiga
sahabat Pelangi yang begitu sigap melindungi Pelangi.