Because, I Love You

Because, I Love You
#90



Olivia hanya mencium sebentar bibir Rendy karena tidak ingin membuat Rendy terbangun dan marah kepadanya hingga nanti Rendy akan pergi dan tidak ingin menemuinya lagi.


Olivia tidak ingin itu terjadi. Saat ini, dia sedang sangat membutuhkan Rendy. Hanya dengan bersama Rendy dirinya bisa merasa lebih baik.


Olivia kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Rendy dan memeluk perut six pack mantannya ini. Kemudian dia memejamkan matanya dan tidur dengan memeluk Rendy hingga jam menunjukkan pukul lima pagi.


Rendy terbangun dan sejenak merasa bingung karena dia tidur dengan dipeluk oleh Olivia. Saat tersadar, dia mengingat kalau dirinya semalam memang datang ke apartemen mantannya ini untuk menemui Olivia.


Rendy menghela nafasnya kemudian perlahan sedikit mengangkat tubuh Olivia dan memindahkan kepalanya kebantal. Saat dia ingin beranjak, Olivia terbangun dan memegangi tangan Rendy dengan wajah yang resah. "Kamu mau kemana? Jangan pergi Ren."


"Oliv, aku harus kerja." Jawab Rendy berusaha untuk berbicara lembut.


"Tapi, nanti kamu kesini lagi kan?"


Olivia takut kalau Rendy tidak akan datang lagi setelah mengingat permasalahan yang terjadi sebelumnya. Rendy memblokir nomornya membuat Olivia tidak bisa menghubunginya lagi. Bahkan Rendy sama sekali tidak mau melihatnya.


Rendy mengangguk pelan dan tersenyum tipis. "Hmm. Aku usahain untuk datang."


"Janji?"


Olivia masih merasa belum yakin dan Rendy hanya mengangguk sambil mengusap puncak kepalanya. Olivia tersenyum dan memeluk Rendy.


Setidaknya, setelah kejadian yang membuatnya harus merasa sangat kesakitan, dia bersyukur dan sangat senang karena Rendy bisa bersikap lembut lagi kepadanya dan mau menemuinya bahkan menemaninya tidur seperti semalam.


"Ya udah, sebaiknya kamu mandi dan minta Andreas beliin sarapan buat kamu. Jangan lupa minum obatmu juga. Aku pulang dulu." Ucap Rendy sambil melepaskan pelukan Olivia dan Olivia hanya mengangguk dengan tersenyum manis terlihat dengan jelas kalau dia sedang bahagia.


Rendy berbalik dan segera beranjak pergi.


...


Kirana yang baru saja selesai membuat sarapan, dia mendengar suara dering ponselnya. "Siapa yang telepon pagi-pagi gini?" Gumamnya sambil masuk kedalam kamar dan mengambil ponselnya yang dia letakkan diatas meja belajarnya. "Mas Rendy?" Gumamnya lagi saat melihat nama di layar ponselnya ternyata Rendy yang sedang menelponnya.


Kirana merasa ragu sejenak tapi dia segera menerima telepon dari laki-laki tampan yang berstatus menjadi pacarnya itu.


Dia menghela nafasnya terlebih dulu sebelum bicara.


"Hallo. Selamat pagi Pak. Ada perlu apa Pak Rendy telepon saya sepagi ini?"


"Gimana keadaan kamu? Sebaiknya kamu nggak usah masuk kerja dulu hari ini. Istirahat aja dirumah." Suara Rendy terdengar lembut dan merdu ditelinga Kirana membuatnya yang tadinya merasa kesal seketika menjadi luluh.


"Tapi..saya udah baikan kok. Eum.. Pak Rendy nggak perlu khawatir. Saya ini nggak lemah." Jawab Kirana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Cukup ya Ki, semalam kamu udah bikin aku kesel, jangan bikin aku makin kesel lagi sama kamu!"


Tiba-tiba Rendy marah kepada Kirana. Mungkin karena Kirana sengaja merubah panggilannya lagi dan bicara dengan formal kepadanya sejak semalam. Rendy sangat tidak suka mendengarnya.


"Loh kenapa jadi marah-marah? Ya udah kalo gitu nggak usah telepon-telepon saya lagi, daripada Bapak kesel dan jadi marah-marah ke saya!" Ucap Kirana yang juga nikut marah kepada Rendy dan langsung menutup teleponnya sambil mendengus kesal.


"Dasar nyebelin! Pagi-pagi udah bikin orang jadi badmood aja!" Gerutu Kirana. Dia merasa kalau Rendy menjadi sering sekali mengatur hidupnya. Kirana tidak suka itu karena dia merasa kalau Rendy bukan siapa-siapa dia. Hubungan mereka juga masih belum jelas adanya.


Sedangkan Rendy yang belum selesai bicara dengan Kirana, mendengar nada terputus di teleponnya, dia memejamkan matanya dan menghela nafasnya panjang untuk meredam kemarahannya kemudian membuka matanya kembali. "Dia ini bener-bener nggak sopan banget!" Rendy segera beranjak pergi setelah memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya.


"Den, sarapan dulu!" Teriak Bi Sumi yang melihat Rendy berjalan dengan buru-buru keluar rumah.


"Makasih ya Pak. Aku berangkat dulu." Ucap Rendy dengan tersenyum ramah.


"Iya Den, hati-hati dijalan." Jawab Pak Salim yang sudah jarang menyupiri Rendy lagi karena Rendy lebih sering mengemudikan mobilnya sendiri atau meminta Beni untuk menyupirinya.


...


Kirana baru saja selesai mandi dan ingin sarapan. Saat keluar dari kamarnya, ada yang mengetuk pintu rumahnya. "Eh, siapa ya?"


Dia berjalan kearah pintu dan membuka pintunya. Seketika kedua matanya melotot karena terkejut. "Mmaass Rendy?! Ngapain kesini?" Pekik Kirana dengan terbata.


"Mau mastiin keadaan kamu." Jawab Rendy sambil memperhatikan Kirana dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Kirana terbengong sejenak kemudian mengerjapkan matanya. "Ta tapi, aku udah baikan kok." Lanjutnya masih tergagap dan salah tingkah.


"Sebaiknya hari ini kamu nggak usah masuk kerja dulu." Saran Rendy karena masih mencemaskan kesehatan Kirana.


"Nggak bisa gitu. Aku udah sering nggak masuk. Lagi pula, aku udah sehat kok." Bantah Kirana sambil berbalik dan masuk. Rendy mengikutinya masuk.


"Ki, kenapa sih kamu nggak pernah mau dengerin aku?" Tanya Rendy.


Kirana berbalik dan menatap Rendy dengan kesal. "Karena kamu bukan siapa-siapa aku! Jadi, kamu nggak usah ngatur-ngatur hidup aku."


Rendy menghela nafasnya untuk mengontrol emosinya. "Ya, aku bukan siapa-siapa kamu. Kamu nggak pernah menganggap hubungan kita ini ada. Aku nggak tau harus gimana lagi ngadepin kamu Ki. Aku..."


'Tok Tok Tok!'


"Kirana!"


Rendy belum selesai bicara, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan memanggil Kirana.


"Kak Haris?" Seru Kirana pada Haris yang sudah berdiri diambang pintu rumahnya.


Rendy hanya mengusap wajahnya dan tidak ingin menoleh melihat Haris. "Mengganggu aja!" Gumamnya pelan merasa jengkel.


Kirana segera berjalan melewati Rendy dan menghampiri Haris. "Kapan kak Haris pulang?"


"Semalam jam sebelasan. Sebenarnya semalam mau kesini tapi udah terlalu malem, kamunya pasti juga udah tidur kan? Ini, oleh-oleh buat kamu. Semoga kamu suka dan mau memakainya."


"Waaah, bagus banget ini kak. Makasih ya kak Haris. Aku suka kok. Aku pakai deh." Jawab Kirana diselingi tawanya terlihat begitu imut.


"Sini aku pakaikan."


Melihat kedekatan Kirana dengan Haris yang sangat dekat seperti ini, selalu membuat Rendy dilanda kecemburuan. Tapi dia juga tidak bisa menunjukkan rasa cemburunya dan tidak bisa berbuat apa-apa sebelum hubungan mereka benar-benar jelas adanya. Rendy juga tidak berhak mengatur hidup Kirana saat ini.


Rendy menghela nafasnya panjang kemudian berbalik dan beranjak pergi. "Aku pergi dulu. Permisi." Ucap Rendy dengan wajah dinginnya dan Haris yang masih berdiri dipintu seketika melangkah mundur kesamping untuk memberi akses jalan kepada Rendy setelah memakaikan gelang oleh-oleh darinya.


"Eh Mas Rendy!" Teriak Kirana yang melihat Rendy pergi begitu saja dan terlihat seperti marah.


................