
Ku pikir ini akan menjadi momen liburan yang menyenangkan dan membuat Pelangi bahagia begitupun terlebih aku. Kau tahu bagaimana hati dan pikiran ku saat ini? Begitu sesak tak terhingga melihat Pelangi terus menangis dan mengamuk, bahkan dia mulai berani dengan melempar segala suatu benda yang berada di dekatnya. Ini bukan puteri ku yang selama ini pendiam dan selalu ceria.
Berulang kali kak Rendy dan Irgy bersatu untuk menenangkannya, tapi Pelangi kian semakin jadi tangisannya.
"Oh Tuhan, bagaimana ini?" Ucap ku.
"Fanny, tenangkan dirimu. Jangan panik, jangan cemas. Pelangi pasti akan mereda nantinya, ini hanya karena waktu saja. Ini terlalu mendadak baginya." Jawab kak Shishi yang sejak tadi berusaha menenangkan ku.
"Ini tidak akan mudah kak, saat itupun ini pernah terjadi ketika dia harus berpisah dengan Tama. Putera Abel teman ku, dia harus pindah ke LN dan kami lost contac hingga saat ini."
"Ya ampun, kasihan gadis kecil kami. Diusianya dia selalu mendapatkan kesedihan mendalam dengan perpisahan yang menyakitkan."
"Katakan padaku kak, jawab aku. Apakah ini suatu hukuman untuk ku sebab di masa lalu?"
"Hey, apa yang kau pikirkan itu Fanny? Tidak ada hal yang demikian, percayalah. Semua akan baik-baik saja, lambat laun Pelangi akan mengerti. Dia hanya masih anak-anak saat ini, jangan terlalu keras pula. Kasihan dia,hemm?"
Aku menundukkan wajah dengan linangan air mata yang perlahan menetes tanpa henti. Saat ini aku benar-benar takut sekaligus marah, aku tidak percaya ini.. Bagaimana Lucky seketika hadir di kehidupan Pelangi sebagai putera dari laki-laki di masa lalu ku. Selama ini aku selalu meminta kepada Tuhan agar kelak, kehidupan Pelangi akan jauh dari orang-orang ku di masa lalu. Tapi nyatanya???
"Sayang, sepertinya kita harus segera kembali ke indonesia saja. Agar Pelangi lebih tenang, kita tinggal bersama ibu dulu sementara. Hanya ibu yang bisa mengambil hati Pelangi." Ujar Irgy tiba-tiba.
"Bagaimana jika Pelangi semakin menjadi nantinya sayang, kau tahu perjalanan kita di pesawat cukup lama." Bantahku.
"Lalu bagaimana lagi? Kita sudah membawanya ke lain tempat dimanapun itu dia tetap menangis. Sejak awal aku sudah meragukan anak itu, kau yang memberinya kelongggaran untuk puteri kita dan membiarkannya semakin dekat dengan anak itu."
"Maksud mu Lucky? Apa mau pikir aku tahu siapa dia sejak awal hah? Apa sekarang kau menyalahkan mu hanya karena dia anak dari laki-laki di masa lalu ku? Begitu? Ingat Irgy, disitu juga ada Hana."
"Hana bukan urusan ku lagi," Jawab Irgy dingin.
"Oh, jadi kenapa kau memukul Ammar tadi? Apa kau cemburu?"
"Fanny !!!" Teriak Irgy memanggilku.
"Apa, apa hah? Benar kan dugaan ku. Kau cemburu melihatnya bertunangan dengan orang yang kau benci di masa lalu ku."
"Sedikitpun aku tidak merasa cemburu, aku hanya kesal kenapa harus dia yany berada di balik sosok Lucky yang selama ini kalian puji. Apa aku masih tidak berhak marah hah?"
"Kau..."
"Stop. Berhenti kalian, tidak bisakah kalian menghadapi ini semua dengan tenang dan otak yang dingin, hem? Kalian sebagai orang tua Pelangi saat ini seharusnya bersikap lebih bijak. Bukan saling menyalahkan seperti ini, sebentar lagi kalian sudah akan memiliki anak lagi. Ingat itu," Tiba-tiba kak Rendy berbicara dengan nada lantang kepada kami, membuat perdebatan ku dengan Irgy terhenti begitu saja.
"Ehm, aku tahu.. Aku dan suami ku Rendy tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Tapi kali ini, aku putuskan saja. Aku akan membawa Pelangi ikut bersama kami ke kota kami tinggal, ini hanya sementara waktu sampai liburan sekolah habis. Apa kau setuju Baby?" Ucap kak Shishi kemudian.
"Tapi kak, kita..."
"Apapun alasan kalian aku menolak. Kalian bisa ikut bisa tidak. ini keputusan kami demi kebaikan Pelangi. Kami sudah menganggapnya sebagai puteri kandung kami." Jawab kak Rendy dengan tegas membuat ku dan Irgy hanya saling menatap tanpa berani menjawab lagi.
"Ehm, bidadari uncle. Ayo kita ketemu adik Yasmin dan kakak kembar dirumah uncle, kau pasti akan menyukainya bermain dengan mereka seru loh. Kalian akan bermain bola bersama, bermain dengan banyak boneka dan robot pintar. Mau?" Ucap kak Rendy mencoba menghentikan tangisan Pelangi.
"Pe,pelangi.. Hikzt, ma-mau.. Hikzt, main sama Lucky. Uncle," Jawabnya terbata-bata dengan tangisan sesunggukan.
"Nak, dirumah kami nanti kau akan jauh lebih senang bermain dengan para saudaramu." Ujar kak Shishi menambahkan.
"Kau mau? Kau bisa bermain dengan robot pintar juga loh." Ucap kak Rendy kembali.
Pelangi mengangguk ragu dan menatap ke arah ku dengan Irgy, tatapannya seolah dia menyimpan amarah dan kesedihan mendalam. Membuatku merasa semakin sakit melihatnya demikian.
"Honey, aku pesan ticket penerbangan tercepat saat ini juga. Sementara kau membereskan semua nya ya," Ucap kak Rendy kembali pada istrinya, dan terlihat mengabaikan ku dan Irgy begitu saja.
"Kakak..." Panggilku lirih pada nya, menghentikan aktifitas jarinya yang mulai ingin melakukan sebuah panggilan.
Dia menatapku sejenak, kemudian dengan tangisan meluap aku menghampiri dan memeluk tubuhnya. Lalu dia membalas pelukan ku dengan terus mengelus rambut panjang ku. Rasanya aku seperti kembali pada masa kecil ku, dimana aku selalu memeluknya begini saat masalah berat mengusikku.
"Sudah sudah, maafkan kakak. Jangan menangis lagi, kakak tidak marah pada mu. Kakak justru tidak ingin kau terluka, terlebih dengan Pelangi. Dia masih anak-anak, belum mengerti apa yang di rasakan oleh hati dan pikiran kedua orang tuanya." Ucap kak Rendy dengan terus membelaiku.
"Aku hanya kesal kak, aku tidak ingin hidup Pelangi sama sepertiku. Aku takut kak, aku tidak ingin dia berhubungan dengan orang-orang di masa lalu ku. Terkhusus Ammar, aku tidak ingin. Aku tidak mauuu," Tangisan ku kian semakin menderu dalam pelukan kak Rendy.
"Kita hidup di dunia tidak sendiri, dunia ini memang luas adik ku. Tapi yang memiliki scenario nya hanya Tuhan yang berhak, bukan kita. Jikalau nanti, puteri mu berasa di antara semua orang-orang mu di masa lalu. Itu sudah takdirnya, hanya bagaimana kau dan Irgy yang dewasa menyikapinya. Jangan membuat psikisnya menjadi pembenci karena masa lalu mu adik ku,"
"Dan kau Irgy, tidak seharusnya kau bersikap kalap begitu juga. Kau tidak perlu mengotori tangan mu lagi untuk membalas kebencian dan dendam mu pada Ammar. Semua sudah berlalu, pikirkan masa depan kalian dan anak-anak kalian nanti."
"Maafkan aku kak, maafkan aku. Aku tidak bisa mengontrol diri tadi, jujur aku terlalu shock melihat semua ini, itu sebabnya aku..."
"Sudah lah, kalian jangan saling menyalahkan lagi. Kemasi barang-barang kalian kemudian tinggallah beberapa hari lagi di rumah kami selama Pelangi libur sekolah."
"Apa tidak merepotkan kakak nantinya?"
"Merepotkan, terutama Fanny. Dia mulai banyak makan saat ini, tapi mau bagaimana lagi?"
"Aaaaah, kakaaaak. Nyebelin," Jawab ku mendecak kesal yang di susul gelak tawa oleh kak Rendy dan Irgy.