
Setiap waktu yang ku lalui dengan kehamilan ku bersama bayi kembar, begitu banyak hal yang menakjubkan. Usia kandungan ku sudah menginjak bulan ke 6, dan Pelangi masih saja enggan menerima kenyataan jika dia akan segera memiliki adik-adik yang lucu.
Sepertinya, ucapan Ira saat itu sungguh berhasil mempengaruhi pikirannya. Dia begitu ketakutan saat mendengar hal itu, setelah berkali-kali Irgy merayu dan meyakinkannya. Pelangi mulai mengerti dan mau menerima meski masih ragu. Memanglah tidak mudah untuk memberi pengertian pada anak seusianya kini.
Sekolah Pelangi sudah akan mendekati hari libur, dia mulai mengeluarkan segala rayuan pada papa nya untuk berlibur ke suatu tempat yang di penuhi dengan wahan bermain.
"Papa, Pelangi mau liburaaan seperti teman-teman si kelas." Ucapnya merengek manja, ketika sedang bermain di ruang TV.
"Hem.. Papa sibuk sayang, di kantor banyak sekali pekerjaan. Liburan di rumah oma baik aja gimana?" Jawab Irgy sembari tersenyum, aku melirik Irgy sejenak. Aku tahu dia sedang mencoba mengerjai puteri kami.
Pelangi tampak sedih menundukkan wajah dengan wajah yang di tekuk, mengetahui hal itu Irgy tertawa lepas lalu meraihnya dalam pelukan Irgy.
"Katakan, kau ingin berlibur kemana?"
"Ingin bersama Lucky."
"Lucky???" Tanya Irgy terkejut.
"Lucky bilang akan berlibur ketempat yang jauh."
"Oh ya? Dimana itu?" Tanya ku menyela penuh rasa penasaran.
"Lucky bilang di Luar Negeri ma, dan banyak tempat bermain seperti kerajaan dongeng ma. Wah, Pelangi juga mau ma.. Ayo pa.." Jawab Pelangi dengan terus menggerakkan kakinya mendecak di lantai.
Aku saling menatap dengan Irgy.
"Nak, Luar Negeri itu sangat jauh. Kita harus naik pesawat dulu baru bisa sampai di Luar Negeri." Jawab Irgy menjelaskan.
"Yeay.. Pelangi mau pa, Pelangi mau naik pesawat."
"Tapi papa tidak bisa nak, liburan kali ini di rumah oma baik saja ya. Kasihan mama, di perut mama sedang ada dua adik bayi."
"Adik-adik pasti senang juga pa, kita ajak jalan-jalan. Iya kan ma? Tuh tuh, dengar pa. Kata adik-adik juga mau jalan-jalan." Jawab Pelangi sembari menempelkan telinganya di perutku.
Tampak Irgy menghela nafas panjang kemudian menghempaskan tubuhnya bersandar di sofa. Aku menahan diri untuk tidak menertawainya sembari mengangkat setengah kedua tangan ku ke atas.
Satu minggu kemudian, jadwal ku memeriksakan kandungan. Dokter sedang melakukan pemeriksaan USG di dari perutku, rasanya tidak sabar ingin mengetahui jenis kelaminnya. Ku lihat mereka sangat menggemaskan di layar komputer, mereka sangat aktif. Hingga membuatku terharu, begitu juga dengan Irgy yang sejak tadi tidak sabar menunggu untuk mengetahui jenis kelaminnya.
Berkali-kali Irg bertanya apakah sudah di tahu jenis kelamin nya atau tidak, namun aku selalu menahan dan memberikan isyarata pada dokter untuk tidak memberitahunya dulu. Aku ingin mengerjainya, akan semakin menggemaskan bukan saat melihatnya merajuk begitu.
"Dok, ayo lah. Apa jenis kelamin bayi kembarku?" Kembali Irgy mengulang pertanyaannya.
Dokter melirik ku sejenak, aku masih bersikeras menahannya. Dokter tersenyum mengangguk tanda mengerti, lalu Irgy melihat ke arahku.
"Apakah kalian bersekongkol? Aaakh, ayolah. Jangan begitu, sayang.. Jangan tega begitu." Ucap Irgy mengeluh nafas panjang.
"Hahaha, aduh kalian ini. Pasangan yang sungguh unik, kalian selalu berisik berdua untuk saling merebut keingintahuan kalian tentang bayi kembar ini.
"Aduh," Aku memekik di tengah perbincangan dokter kepada kami.
"Ada apa sayang? Kau baik-baik saja?" Irgy mendekatiku dengan panik.
"Hem, baiklah nyonya." Jawab dokter sembari mengarahkan tanda panah di layar komputernya.
"Tuan Irgy, lihatlah ini. Bayi kembar kalian sepertinya masih malu, tapi dia mereka saling beradu jadi itu membuat jenis kelamin mereka terlihat jelas. Mereka laki-laki, selamat ya."
"La,laki-laki? Sungguh dokter, apa kau sedang mengerjaiku lagi?"
"Sayang, kau bicara apa? Aku sudah mengetahui ini saat jadwal kemarin. Dan aku sengaja merahasiakannya darimu,"
"Hahaha, ah jadi aku akan memiliki bayi kembar laki-laki? Ah, oh Tuhan aku sangat bahagia. Hahahaa, akhirnya aku akan memiliki seorang putra dan itu bukan hanya satu saja. Yeaaaay, Pelangi. Kau segera memiliki dua adik laki-laki nak, ahahahaa."
Tampak Irgy begitu bahagia hingga dia menggendong Pelangi dan menjadikannya bak mainan pesawat di putar-putar dan di ayunkan. Pelangi pun tampak riang karena dia di ayun-ayunkan oleh papanya, Irgy.
"Hahaha, selamat sekali lagi tuan dan nyonya."
"Terimakasih dokter, terimakasih." Ucap Irgy dengan ceria dan kedua matanya berkaca-kaca.
Hingga tiba dirumah Irgy begitu bahagia tanpa henti-hentinya dia menari, bersiul, bernyanyi juga memeluk dan menciumiku. Membuat Pelangi tertawa lepas melihat tingkah laku papa nya, ini baru yang pertama kalinya demikian.
"Papa, hahahaa papa lucu."
"Iya nak, papa mu lucu. Papa mu selalu bertingkah konyol jika sedang bahagia."
Pelangi kembali tertawa cekikikan. Dan malam mulai larut setelah Irgy menemani Pelangi bermain sejenak, ia pun tidur lelap di kamarnya. Kemudian Irgy memasuki kamar, menyusulku yang masih duduk di depan meja rias ku.
"Ku pikir kau sudah tidur istriku," Ucap Irgy sembari memeluk tubuhku dari belakang dan mengecup kepala ku.
"Ehm, aku.. Menginginkan sesuatu darimu sayang." Jawabku dengan mendongakkan kepala menghadap padanya.
"Apapun itu, aku akan mengabulkannya. Karena kau telah memberiku segala kejutan yang membuatku bahagia sayang."
"Aku.. Aku ingin."
Irgy membelalakkan kedua matanya ketika melihatku sedikit membuka piyama tidurku di bagian dada.
"Sa,sayang. Semenjak kau hamil, ini pertama kalinya kau memintaku melakukannya lebih dulu. Aku, aku.. Aku jadi semangat. Hahaha,"
"Cih, dasar. Aah, jangan membuatku malu, tapi aku sungguh rindu dan ingin kau melakukannya malam ini lagi."
"Baiklah tuan puteri, aku bersedia memuaskan mu malam ini hingga pagi." Jawab Irgy sembari mengecup bibirku lebih lama.
"Ehm, sayang. Ingat, aku sedang hamil. Kaua jangan membuatku kelelahan, aku hanya bermanja dengan mu saja malam ini." Jawab ku mencubit perutnya.
"Aw, hahaha. Baiklah, aku akan atur tempo." Bisiknya di telinga sembari menggigitnya. Membuatku merasa bergidik seketika.
"Ih kau mulai genit. Ini yang membuatku sedikit takut jika memulainya lebih dulu, kau selalu lebih menggodaku hingga aku ingin menggila."
"Kau yang memulainya sayang, kau yang membuatku berani menggodamu. Dan aku suka membuatmu gila, aku suka kegilaan mu sayang. Jangan menahannya, biarkan semua berjalan mengikuti aliran desah nafasmu." Jawab Irgy sembari perlahan mulai melucuti pakaian ku satu demi satu.
Dan kami mulai bercinta, hingga aku benar-benar menyerah untuk melakukannya lagi sepanjang malam ini. Aku tahu, sejak awal kehamilan kembar ku ini Irgy selalu menahan diri untuk tidak berprilaku gila seperti hal biasanya. Namun kali ini, entah kenapa justru aku yang lebih ingin menggila bermain dengannya.