Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 310



Pagi ini, Lisa begitu antusias dan semangat bahkan penampilannya terbilang jauh lebih mempesona. Sehingga begitu banyak mata mahasiswa yang menatapnya sedikit nakal, diantaranya pun ada yang berani genit menggodanya. Namun sepertinya, Lisa sudah terbiasa dengan tatapan dan godaan mereka. Dia berjalan dengan acuh di sisi Pelangi, sementara Pelangi hanya menatapnya dengan menggelengkan kepala saja.


"Sa, bagaimana dengan cowok yang mengajakmu dinner malam kemarin?"


"Hmm.. Baik sih, dia anak tunggal dari keluarga pengusaha di kota ini. Dan dia sangat royal, aku suka itu." Jawab Lisa dengan mengedipkan satu matanya kearah Pelangi.


"Cih..." Balas Pelangi memalingkan wajahnya.


"Lalu, si dia... Ehm, cowok cuek yang menyebalkan itu. Bagaimana? Apa kau juga akan membuatnya menjadi tawananmu?"


"Kita lihat saja nanti. Aaah, Princess cold. Kau membuatku mendadak pusing, bagaimana jika nanti aku galau harus memilih salah satu diantara mereka itu?" decak Lisa memegangi lengan Pelangi dengan erat.


"Saran ku, sebaiknya jangan lagi mengharap pada cowok sepertinya. Dia memang pendiam dan cuek pada semua wanita, tapi bisa saja bukan itu hanya topeng diluarnya saja."


"Princess cold, tunggu!" ucap Lisa menghentikan langkahnya di belakang Pelangi yang terus saja berjalan.


"Hem?" Pelangi pun menolehnye ke belakang.


"Maafkan aku, tapi boleh kah aku tahu kenapa kau begitu tidak menyukai si cuek? Kau dan Exelle bukan kah sedang dekat, itu artinya kau dan dia mau tidak mau harus lah baik terhadap si cuek."


Aaah, menyebalkan. Aku tidak bisa menahan diri di depan Lisa, aku tidak mungkin membeberkan alasan ku bukan? Aku tidak ingin Lisa berpikir aku juga menyukai laki-laki yang dia sukai lebih dulu.


"Apaan sih, Sa? Aku hanya tidak ingin kau salah menilai laki-laki yang baru kau kenal. Itu saja, ah sudah lah. Ayo ke kelas, jangan bahas ini lagi." Bantah Pelangi menyembunyikan rahasia di hatinya.


Semakin lama, Pelangi kian dibuat menggila diam-diam ketika sedang mengingat sikap Lucky. Pelangi selalu menganggap jika Lucky adalah teman masa kecilnya dulu, yang sampai detik ini masih membuatnya terbayang oleh masa lalu yang menyakitkan di masa lalu. Begitupun Lucky, diam-diam pun merasakan hal yang sama. Ini hanya soal waktu bukan? Bagaimana mereka agar saling mengenali dan meyakinkan satu sama lain.


.


.


.


.


.


Jam kuliah pun usai. Sejak tadi Lisa sudah seperti cacing kepanasan yang menunggu jam segera berakhir di kelas, beberapa kali dia melirik jam mungil yang melingkar di pergelangan tangannya. Baginya ini sangat lama sejak tadi, namun bagi Pelangi... Ini justru hari yang cepat berputar.


"Yess, Princess cold. Aku keluar dulu, ehm.. My Lucky sudah mengirim pesan singkat padaku, Dia menungguku di luar." Ujar Lisa dengan senyuman sumringah seraya memamerkan ponselnya di hadapan Pelangi. Di goyang-goyangkannya ponsel tersebut untuk meyakinkan Pelangi.


Tuhan, ada apa dengan ku? Apakah aku cemburu? Atau sakit hati? Kenapa rasanya tidak nyaman.


"Ehm, baiklah. Hati-hati!" jawab Pelangi singkat.


Tanpa berkata lagi, Lisa beranjak pergi dengan langkah semangat, tak lupa sebelumnya ia menyemprotkan sedikit parfum mini yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi, lalu tersenyum begitu bahagia di depan Pelangi.


Saat keluar ruangan, Lucky pun sudah berdiri di depan. Melempar senyuman manis nya dan sikap khasnya yang santun menyambut kedatangan Lisa.


"Ha,hai.."


"Oh, hai. Ehm, aku tidak menyangka kau akan menjemputku sampai disini." Ujar Lisa membalasa sapaan Lucky.


"Hai, cowok cuek. Kau bilang ingin berbincang berdua dengan ku, bagaimana jika kita pergi ke suatu kafe atau restoran saja. Jadi kita bisa santai untuk saling mengenal masing-masing sambil makan, hihi. Iya kan?" Ujar Lisa dengan gaya genitnya.


"Oh, baiklah." Jawab Lucky dengan santun menundukkan kepalanya.


"Eh, tunggu. Apakah kita sungguh hanya akan berdua saja? Tiba-tiba saja aku merasa tidak nyaman pada Princess cold, sejak kemarin aku sudah meninggalkannya sendiri."


"Oh, ya? Kemarin kau pergi tanpanya? Kemana?" Tanya Lucky dengan berpura-pura, padahal dia sudah melihatnya dengan langsung Lisa pergi menemui seniornya.


Ups, mati gue! Aaarght... Dasar mulut ku ini, aduuh gimana ini?


Lisa mematung dan bibirnya sedikit gemetaran. Dengan cepat dia mengalihkan pertanyaan Lucky.


"Hahaha. Kemarin aku berbelanja, padahal aku sudah mengajak Princess cold. Tapi dia menolak dengan alasan ngantuk, haha. Biasa lah, dia itu hobby tidur mulu sejak dulu. E,eh.. Ayo kita jalan saja." Sembari melangkah maju Lisa berceloteh mencari-cari alasan. Lucky mengikutinya dari belakang.


*****


Hingga kini mereka sudah tiba di sebuah restoran mahal tentunya, Lucky sengaja memilih tempat itu untuk membuat Lisa meyakini jika Lucky benar-benar ingin mendekatinya.


Tuhan, maafkan aku. Aku terpaksa melakukan hal yang sangat licik dan yang sejujurnya aku benci ini. Namun ini sungguh mendesakku, aku hampir gila dibuat oleh gadis itu. Pelangi, nama yang sampai detik ini membuat luka lama di hati kian terasa lagi.


Mereka memulai perbincangan ringan, saling bertukar cerita dan pengalaman pribadi, keluarga, pengalaman konyol, hal-hal gila yang pernah di lakukan, dan banyak lagi. Kini Lisa mulai mengetahui semua hal tentang Lucky, sosok Laki-laki yang membuatnya kini semakin yakin bahwa Lucky adalah sosok yang sebenarnya mengagumkan dan tidak menyebalkan seperti yang Pelangi selalu tuturkan.


Baiklah. Princess cold, kali ini kau salah menilai lelaki idaman ku ini. Hum, aku semakin yakin sosoknya ini benar-benar yang ku nantikan selama ini.


Gumam Lisa dalam hati.


"Apa kau percaya jika saat sekolah taman kanak-kanak, aku tinggal di Indonesia. Dan aku bersekolah di Xxxxx terfavorite di kota itu." Ujar Lucky dengan nada bicara yang mulai santai berhadapan dengan Lisa.


"What? Sungguh? Aaah. Kenapa kita tidak bertemu sejak kecil? Aaah, pasti sangat menyenangkan jika mengenalmu lebih lama sejak kecil. Eh, tunggu. Kau pernah bersekolah di Xxxxx? Aku seperti tidak asing dengan nama sekolah itu." Ujar Lisa dengan menggaruk-garuk rambut di kepalanya. Dia seolah sedang mengingat-ingat sesuatu.


Seketika Lucky seperti mendapat suatu jalan yang dia inginkan. Jika Lisa saja tahu nama sekolah itu, tentu semua ini ada hubungannya bukan? Guman Lucky dengan wajah berbinar-binar.


"Apa kau pernah bersekolah disana? Wah, bukan kah ini kebetulan. Mungkin saat itu kita tidak pernah saling menyapa." Ujar Lucky kembali dengan senyuman tipis. Meski dalam hatinya kini seolah sedang di buru rasa penasaran yang ingin segera mencapai puncaknya.


"E,eh, bukan. Itu bukan aku, tapi... Kyaaaaaa... Apa kau sungguh pernah bersekolah di sana? Bagaimana mungkin kau tidak mengenal sahabatku, my Princess cold. Ups, mungkin saja kalian beda kelas. Ya, bisa jadi. Hihi, sepertinya kita memang berjodoh bukan?"


Mendengar hal itu. Seketika Lucky membelalakkan kedua matanya menatap Lisa, rasa terkejut, rasa lega, rasa ingin teriak, rasa tidak percaya, rasa bahagia, menjadi satu hingga kedua matanya kini berkaca-kaca.


Akhirnya. Aku menemukanmu lagi, Langi. Hatiku tidak akan pernah bisa berpaling kepada siapa seharusnya dia dimiliki.


"Hei, hei... Si cuek. Hello, ya ampun.. Apa kau sungguh terharu dengan ucapanku barusan? Sepertinya kita memang berjodoh bukan?"


Lucky terhentak akan ucapan Lisa yang sejak tadi memanggilnya seraya berceloteh sampai dia melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri.


"Ja,jadi.. Dia, eh maksudku Pe-la-ngi. Pernah bersekolah disana?" Ujar Lucky dengan terbata-bata.


Lisa menjawab dengan anggukan cepat.


"Apakah kalian saling mengenal dulunya?" Tanya nya kemudian.