
Pelangi masih mencari-cari kunci mobilnya, dia perhatikan baik-baik setiap bilik dan sudut pojokan toilet. Sampai rasanya dia semakin mual, merasa pusing dan sangat mengantuk. Tiba-tiba saja dia terjatuh tak sadarkan diri. Karena merasa Pelangi begitu lama, Joe menyusulnya dengan membawakan tas mini Pelangi.
Ponsel Pelangi berdering terus menerus, Joe mengabaikan semua panggilan termasuk panggilan Exelle. Joe menyeringai lalu meletakkan ponsel Pelangi kembali ke dalam tas.
Sampai di toilet, Joe terkejut melihat Pelangi tergeletak di bawah wastafel tak sadarkan diri.
"Langi!!!" Dengan cepat Joe menghampiri Pelangi dan meraih bagian kepalanya untuk di letakkan di pangkuannya.
"Langi... Langi..." Panggilnya dengan menepuk-nepuk kedua pipi Pelangi. Perlahan Pelangi membuka kedua matanya dengan paksa, terlihat dia sangat berat membuka matanya.
"Eh, Joe. Aku, aku sa-ngat me-ngan-tuk." Ujar Pelangi terbata-bata, dan suaranya sangat parau.
"Aku akan menggendongmu ke mobil." Ujar Joe sembari mengangkat tubuh Pelangi dalam gendongannya.
"Tidak usaah, turunkan aku saja. Aku bisa berjalan, Joe." Pelangi masih sempat meronta. Joe mengabaikan nya, namun detak jantungnya begitu cepat terdengar ketika Pelangi menempelkan kepalanya tepat di dada Joe.
"Joe, aku mau turun. Detak jantungmu sangat cepat terdengar, kau pasti lelah. Aku sangat berat bukan?"
Joe hanya tersenyum gemas sembari berjalan keluar dari toilet. Dalam hati dan pikirannya seakan terus mempengaruhinya tanpa henti.
Obat itu sudah bereaksi, Pelangi begitu lemah. Namun dia tetap kuat, sehingga dia masih terbangun melawan alam bawah sadarnya.
Joe terus berjalan melewati lorong yang begitu sepi, beberapa kali dia berpapasan dengan para pelayan di kafe ini. Namun mereka hanya sebatas karyawan, tentu tidak di perbolehkan ikut campur dan harus menjaga privasi pengunjung diruang VIP ini.
Kau tahu, langkah Joe seakan berjalan dan terdorong sendiri hingga sampai kembali memasuki ruangan tadi. Lalu menidurkan tubuh Pelangi di sofa dengan perlahan, dia sudah tertidur pulas.
"Hah, ini tidak baik. Mengapa aku justru membawanya kembali ke ruangan ini? Lalu, aku.. Aku harus bagaimana? Aaarght... Otakku rasanya sudah mau meledak."
Joe mondar-mandir dengan meremas rambut di kepalanya sendiri, sesekali ia memandangi kemolekan wajah Pelangi. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu berusaha memalingkan pandangannya dari posisi Pelangi yang tertidur pulas.
"Cih, sial!!! Apakah aku sedang berada di puncak masa puber? Kenapa aku merasa sangat panas di dalam ruangan ini. Haruskah? Haruskah aku benar-benar menyentuhnya? Tidak apa kan, Langi? Ini demi hubungan kita. Aku tidak ingin kehilangan kamu nantinya, aku tidak ingin kau dimiliki siapapun selain aku. Kau hanya milikku, kau milikku."
Kembali Joe di kejutkan oleh suara dering ponsel Pelangi. Dilihatnya nama Exelle memanggil, dan itu sudah yang ke 30 kali. Hatinya bergemuruh menahan bara api cemburu yang kini sudah terasa mengeluarkan lahar di ubun-ubunnya.
"Halo.. Ex." Dengan berani dia menerima panggilan Exelle di ponsel Pelangi.
"Eh, Joe. Dimana Pelangi? Kenapa kau yang menerima panggilanku?" Tanya Exelle dengan cemas yang ternyata kini sudah berada di halaman parkir kafe tersebut.
"Kau pikir Pelangi dimana hah? Kau kalah Ex, kau kalah. Sebaiknya kau enyah selamanya setelah ini."
"Brengsek. Joe pasti sedang merencanakan sesuatu, Oh Tuhan." Exelle segera keluar dari mobil dan berlari menghampiri ketiga sahabat Pelangi.
"Oh, Exelle. Kau sudah datang?" Sapa Jeni.
"Dimana Pelangi?" Tanyanya dengan wajah cemas.
"Hey, tenanglah. Princess cold sedang kebingungan mencari kunci mobilnya. Kami keluar lebih dulu karena... Kau lihat sendiri Lisa." Jawab Jeni sembari menunjuk Lisa yang sedang mengorok.
"Joe, apakah Joe di dalam?"
"Eh, i-iya tentu. Dia bilang akan menemani Pelangi mencari kunci tersebut. Ini gara-gara Lisa tiba-tiba saja seperti hilang kesadaran."
"Jen, ikut gue. Pelangi dalam bahaya, cepat." Exelle mengajak Jeni dengan lebih dulu berlari cepat. Lucas pun kebingungan dengan mulut menganga.
Jeni masih kebingungan akan maksud ucapan Exelle, tak lama kemudian tiba-tiba Lisa muntah. Dan baunya sangat menyengat.
"Sa, astaga." Jeni terkejut mencium bau menyengat dari bekas muntahan Lisa.
"Iyuh... Lisa, elu jorok ih." Lucas melepaskan rangkulannya dari tubuh Lisa.
"Tunggu, ini... Ini seperti bau..." Jeni berucap sembari mencoba menerka dan mengingat bau menyengat ini. Jeni dan Lucas saling menatap kemudian, dan mendadak Jeni mendorong Lisa begitu saja ke tubuh Lucas.
"Aaduuuh. Jeniiii, kurangajar. Sakiiit," Lisa mulai sadarkan diri, ketika terjatuh di pelukan Lucas.
Jeni berlari sekencang mungkin, dalam hati dan pikirannya tersirat rasa takut yang mendalam.
"Pliss, Tuhan. Aku tidak ingin kecolongan, Pelangi harus lulus tes kali ini." sembari menyeka air mata yang merembes di kedua matanya.
Dengan terus berlari Exelle membuka setiap pintu ruangan VIP karena begitu sepi. Sembari terus menelpon ponsel Pelangi, bahkan hampir setiap pintu yang ia buka selalu mendapat makian karena orang yang berada di dalamnya terkejut.
Jeni sudah menyusul di belakang, mengejar Exelle yang terus mencari dimana ruangan Joe dan Pelangi berada. Jeni berniat pergi ke toilet untuk menghampiri Pelangi yang di harapkan masih disana.
Dan pada akhirnya. Suara ponsel Pelangi terdengar semakin dekat, Joe sengaja membiarkannya lalu mematikan ponsel Pelangi. Di dalam ruangan yang kini hanya ada dia dan sosok gadis yang ia cintai, ambisi dan rasa cemburunya membutakan matanya.
Kau tahu apa yang dia nekat lakukan saat ini???
Tanpa ragu, Joe mengecup kening Pelangi dengan mengelus pipi kenyal Pelangi. Melanjutkan mengecup hangat kedua pipi Pelangi, meski nalurinya kini bercampur aduk antara menahan diri atau melanjutkannya. Namun ego nya begitu keras, tak mampu ia kendalikan.