Because, I Love You

Because, I Love You
#83



Malam harinya, Beni mendapat kabar kalau ternyata Olivia membatalkan dirinya menjadi salah satu model dalam peragaan busana yang akan diselenggarakan malam ini.


Beni segera memberi tau Rendy dan Andreas. Mereka berkemas dan segera pergi meninggalkan penginapan ini karena sepertinya orang-orang dari Axel akan berpatroli malam ini dan menyingkirkan siapa saja yang berani membawa Olivia pergi darinya.


"Ben, apa anak buahmu bisa diandalkan?" Tanya Rendy yang merasa ragu.


"Kamu nggak perlu khawatir Bos. Mereka udah mulai menyerang orang-orang Axel dengan sangat rapi dan sebagian udah lumpuh." Jawab Beni dengan tersenyum miring merasa bangga.


"Rend, itu Axel!" Tunjuk Andreas dari dalam mobil dan Rendy langsung menatap lurus pada Axel sambil mengepalkan tangannya menahan segala amarahnya.


Mereka bertiga saat ini sedang didalam mobil memperhatikan tempat yang menurut informasi adalah tempat Olivia disekap oleh Axel.


Rendy pernah mengenal Axel sebelumnya. Ternyata mereka adalah teman satu sekolah sewaktu SMA di Jerman.


Axel De Munly pernah melecehkan seorang siswi disekolahnya dan siswi itu adalah teman baik Rendy. Tidak hanya teman baik, tapi mereka pernah dekat dan hampir pacaran. Sejak kejadian itu, siswi tersebut merasa sangat malu dan trauma hingga akhirnya bunuh diri.


Itu sebabnya, Rendy sangat membenci Axel. Dia tidak akan membiarkan Olivia mengalami hal yang sama dengan perempuan yang dulu sempat dicintainya dimasa SMA. Meski dirinya dan Olivia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi diantara mereka, tapi didalam hati kecil Rendy, masih ada rasa cinta untuk Olivia. Kalau tidak? Mana mungkin Rendy akan nekat pergi sampai ke New York dan membohongi Papanya.


Beni menoleh menatap Andreas dan sedikit mengangguk memberi isyarat untuk bersiap.


Andreas mengambil sebuah pistol dan menyimpannya didalam jaket kulitnya lalu memakai masker dan topi.


Rendy juga bersiap untuk menyalakan mesin mobilnya begitu Beni dan Andreas membawa Olivia keluar dari tempat itu.


Ternyata sebagian orang-orang yang berjaga disekeliling tempat itu adalah anak buah Beni yang menyamar menunggu Beni bergerak.


Beni dan Andreas turun dari mobil dan berjalan dengan mengendap endap lalu dua orang anak buah Beni memberi kode untuk bersembunyi sejenak karena Axel sedang ada didalam.


Andreas menggerakkan gigirnya ketika mengintip dibalik tembok. Dia melihat Olivia sedang duduk disofa dan empat orang anak buah Axel mencekoki minuman kepada Olivia.


"Emmh!" Olivia menutup mulutnya rapat-rapat saat mereka menyodorkan sebotol minuman kepadanya.


"Buka mulutmu!" Bentak salah satu anak buah Axel sambil mencengkeram kedua pipi Olivia dengan satu tangannya.


"Ahhk..!" Olivia pun membuka mulutnya ketika merasakan tangan Axel meremas dengan keras sebelah dadanya.


"A axel..aku mo hon, lepas kan a aku." Ucap Olivia dengan nafas tersengal dan tubuhnya mulai lemas.


Entah apa yang dicampurkan Axel kedalam minuman itu karena Olivia semakin merasa gelisah dan kepanasan.


Axel melambaikan tangannya kepada para anak buahnya dan mereka tau maksud dari dia. Mereka melampar Olivia ke sofa hingga terbaring lemas.


"Hah..panasssh..


Senyum Axel semakin merekah melihat Olivia mulai merasakan efek obat perangsang yang dia campurkan kedalam minumannya tadi. Dia melambaikan tangannya lagi dan para anak buahnya segera pergi keluar meninggalkan Axel hanya berdua saja dengan Olivia.


"Panas ya?" Tanya Axel dengan tersenyum dan membelai wajah cantik Olivia yang begitu dikaguminya.


Olivia mengangguk lemah dengan nafas yang semakin tidak teratur.


Axel membelai wajah Olivia dengan lembut lalu tangannya turun membelai leher jenjangnya yang putih mulus dan semakin turun hingga ke depan dada Olivia yang menyembul indah.


Axel meremasnya dengan pelan membuat Olivia melenguh. Sialan!


Hatinya memberontak sentuhan Axel, tapi tubuhnya begitu menginginkannya. Olivia menginginkan siapapun menyentuhnya saat ini juga untuk menuntaskan apa yang sedang dirasakannya akibat efek obat sialan itu.


"Axelhh..akuhh...


"Ya honey? Apa kau menginginkan aku?"


Olivia mengangguk dan langsung menarik tengkuk Axel lalu menciumnya dengan kasar dan menggebu.


Dibalik tembok, Beni dan Andreas terus menatap pada Axel. Beni hanya menghembuskan nafasnya melalui mulutnya karena tidak bisa melihat adegan tak senonoh didepan matanya


Sedangkan Andreas sejak tadi mengepalkan tangannya semakin erat dan berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak dulu saat ini. Dia masih menunggu aba-aba dari Beni.


................