
Sejak pulang sekolah, Pelangi izin untuk pergi ke mall bersama ketiga sahabatnya. Dia pergi di temani oleh Joe tentunya, ah... Masa muda, begitu menyenangkan saat mereka berdua yang kini masih malu untuk mengakuinya pada ku dan Irgy sebagai orang tua nya. Joe dan Pelangi puteri ku, semoga berbahagia dan tidak mengulang masa lalu ku yang buruk kala itu.
Tuuut... Tut, tuuut...
Aku mencoba melakukan panggilan telepon pada Abel, sudah mama juga tidak pernah mengobrol dengannya. Terakhir kami bertemu saat pesta ulang tahun Pelangi saja, entah sesibuk apa dia kini.
"Ha-lo, Fanny.. My sweety," Jawab Abel di ujung ponselnya.
"Hey, apa kau begitu sibuk sehingga melupakan ku, padahal kita berada di kota yang sama. Kau menyebalkan!"
"Ya ampun, sayang ku. Baik lah, baiklah. Ayo kita nongkrong diluar,"
"Ok, kita ketemu di restoran X ya."
"Ok sayang. Sampai ketemu disana ya,"
Klik!!!
Panggilan berakhir. Aku segera bersiap-siap untuk segera pergi ke restoran yang sudah di janjikan untuk bertemu dengan Abel. Aku harus menanyakan dengan pasti siapa Joe sebenarnya, aah... Tuhan, kenapa aku meragukan Abel?
Setelah meyakinkan si kembar untuk diam dirumah saja dengan bibi asisten, aku beranjak pergi dengan cepat. Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Abel, karena aku tidak mungkin membawa si kembar disaat aku dan Abel akan membicarakan hal yang serius bukan?
Beberapa saat kemudian sudah tiba di Restoran yang kami janjikan. Aku segera mencari tempat yang nyaman untuk kami bisa duduk santai dengan banyak obrolan. Seorang pelayan menghampiriku dan menanyakan sesuatu yang akan aku pesan.
"Fanny," Panggil seseorang dari arah belakang, aku tersenyum ketika Abel yang kulihat kini datang lalu dia memberikan ku sebuah pelukan hangat dan kecupan di kedua pipi ku.
"Maaf, aku terlambat."
"Gapapa ih, aku juga baru sampai kok." Jawab ku lalu duduk kembali berhadapan dengan Abel.
"Jadi gimana nih, hari-hari mu?"
"Hem, seperti biasa. Selalu bergulat dengan para bayi yang manja, dan itu membuatku merasa semakin tua."
"Hahaha, aduh sayang. Tua apaan? Mau justru semakin cantik dan energik Fanny, aku selalu iri melihatmu demikian. Aku saja yang hampir setiap hari perawatan di salon, masih saja terlihat keibuan. Huh!"
"Hahaha, Abel. Astaga, bisa tidak sih.. Kau ini, lagi pula kita ini sudah tua. Anak-anak kita sudah remaja bukan? Masih saja menggerutu demikian."
"Huuh, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Kita sudah menjadi orang tua dan semakin tua, hihi."
Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya berkata demikian, ku tarik nafas dalam-dalam.. Aku ragu untuk benar-benar bertanya tentang Joe, putera tunggalnya. Tapi ini harus, walau mungkin akan sedikit menyinggungnya.
"Ehm, Abel. Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Abel mengernyit menatapku setelah aku berkata demikian.
"Hahaha, aduh Nyonya Irgy. Silahkan bertanya, tidak perlu izin dahulu nyonya."
"Cih, dasar. Aku serius kali ini, karena jujur aku mulai gelisah beberapa hari ini karena memikirkannya."
"Wow, apa sungguh seserius itu?"
"Hemm, sangat serius. Aku hanya tidak ingin hal yang menyakitiku di masa lalu terulang pada anak-anak ku, khususnya Pelangi."
"E,eh mak..maksudmu apa, Fan? Aku bingung, apa yang kau bicarakan itu."
"Abel, apa kau tahu jika saat ini anak-anak kita sedang menjalin suatu hubungan pacaran?"
"Huhft!!! Apa itu terdengar lucu bagimu, Abel?"
"Ups, sory Fanny. Maafkan aku, aku tidak bermaksud meledekmu. Tapi sejak awal aku sudah tahu jika putera ku Tama jatuh hati pada puteri mu, Pelangi. Dan ku rasa itu wajar bukan, mereka sudah kenal dekat saat kecil. Atau jangan-jangan kau menentang hubungan mereka? Ya ampun..."
Abel mulai cemas dan panik. Dia berpikir aku menentang hubungan mereka, meski tidak demikian tapi aku tetap ragu dan ketakutan.
"E,eh.. Tidak, tidak. Bukan seperti yang kau pikirkan itu, Abel. Tapi bagaimana dengan Tama?"
"Ku mohon, sayangku. Biarkan putera ku, Tama menjalin hubungan si cantik Pelangi. Pliss, yah.. Jangan menentangnya. Aku tidak sanggup melihat putera ku patah hati, Fanny."
"Hey hey hey, itu tidak seperti yang kau pikirkan Abel. Bukan itu maksud ku,"
"Lalu apa?"
"Katakan dengan jujur padaku, Abel. Apakah Tama darah daging mu dengan Ammar?"
Sontak wajah Abel berubah serius. Tatapannya sungguh menyiratkan amarah mulai dirasakannya, namun berusaha ia tahan dengan helaan nafasnya yang begitu dalam.
"Apa kau sungguh meragukan ku sedemikian konyolnya, Fanny?"
Aku sungguh merasa kali ini menyinggung nya. Tatapannya sangat serius padaku, oh Tuhan. Dia menakutkan, seolah aku kembali bertemu dengan sosok Abel yang dulu.
"E,eh.. Abel, maafkan aku." Rasanya berat ku rasa di dada, begitu sesak.
"Aku justru merasa ragu saat ini, apakah kau benar-benar sudah memaafkan ku dan melupakan semua hubungan kita di masa lalu Fanny?"
"Tidak Abel, aku sudah melupakan itu. Aku sudah memaafkan mu, aku sudah menganggapmu bukan lagi sebagai teman biasa. Aku menganggapmu bahkan melebihi seperti saudara kandung ku,"
"Lalu kenapa kau begitu ragu padaku, Fanny?"
"Karena, ehm.. Itu karena kau memberinya nama akhiran Ammar."
Abel tampak menarik nafasnya dalam-dalam. Dia terlihat berusaha menetralisir keadaan yang kini seolah menghujaninya.
"Apa kau lupa alasan ku memberinya nama itu Fanny? sejak awal aku sudah menceritakan semuanya padamu, bahwa benih Ammar dalam rahimku telah lama pergi meski saat itu suami ku sudah mau menerima anak itu sebagai anak nya. Tapi aku tidak ingin melukai hatinya dengan bayang-bayang masa lalu ku."
"Lalu kenapa kau tetap memberinya nama itu, Abel? Bukan kah itu tetap terlihat kau enggan melepas nama Ammar dari masa lalu mu."
"Yah, aku tahu itu Fanny. Tapi..."
"Jika begitu maafkan aku, Abel. Aku telah meragukan mu, maafkan aku telah menyinggung mu di masa lalu."
"Tidak apa Fanny. Aku tahu kau pasti akan meragukan nya, sejak awal aku tahu kau akan merasa terganggu dengan nama itu. Ku harap kau akan merestui anak-anak kita menjalin hubungan, aku sangat berharap mereka berjodoh hingga melahirkan cucu-cucu mungil untuk kita. Akan semakin manis bukan jika kita bisa besanan, hihi."
"Cih, dasar. Kau ini, menolak tua tapi pikiran mu sudah sejauh itu. Biarkan saja bagaimana hubungan mereka berjalan sewajarnya, mereka baru menginjak usia remaja. Butuh waktu lama untuk menatap masa depan mereka saat dewasa nanti."
"Hem, baiklah. Terimakasih sudah mau menerima puteraku sebagai kekasih dari puterimu, si cantik Pelangi."
"Hahaha, ya ya. Kau tau mereka sungguh menggemaskan, tingkah mereka membuat ku ingin sekali terus menggodanya, Abel."
"Sungguh? Woah, aku jadi tidak sabar ingin mengundang Pelangi kerumah ku. Hihi,"
Kemudian kami melanjutkan perbincangan dengan lain topik. Meski aku melihat ekspresi Abel yang tidak biasa berubah sejak tadi. Entah itu apa, aku berusaha menepisnya.
Maafkan aku, Fanny... Maafkan aku...