Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 240



Jam menunjukkan waktu makan malam. Tak seperti biasanya, Irgy pulang dari kantor sedikit lebih awal tiba dirumah.


"Sayang, kau sudah pulang?"


"Hemm, kerjaan di kantor lebih cepat selesai sayang." Jawab Irgy dengan helaan nafas panjang bersandar duduk di sofa mini yang terletak di kamar semula.


"Apa kau lelah? Ayo, lekas mandi. Lalu makan malam, setelah itu aku akan memijatmu. Agar lelahmu sedikit berkurang, sayang."


"Hmm.. Kau memang istri terbaik,"


"Tentu, itu sebabnya kau tidak akan menyesal memilih ku hingga menua bersama nantinya dengan ku." Ucap ku menggodanya.


Irgy tersenyum di balik wajahnya yang kusut, ia beranjak bangun lalu mengecup keningku. Setelah itu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, aku tersenyum menanggapinya.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, ku lihat Irgy menuruni tangga dengan rambutnya yang sedikit basah. Aku yang sedang menata hidangan makan malam, di bantu oleh bibi asisten, melempar senyum padanya. Rasanya sudah lama tidak pernah menatap wajah suami ku ini.


"Sayang, dimana Peri kita?" Tanya Irgy setelah dilihatnya hanya ada si kembar yang tengah duduk manis di kursi lebih dulu.


"Aku disini, Pa." Jawab Pelangi yang muncul dari arah dapur dengan semangkuk sup di bawanya. Sejak tadi dia membantu bibi di dapur, entah apa yang membuatnya berubah demikian.


Irgy mengerutkan keningnya. Seakan terkejut melihat Pelangi ikut hadir dan menyibukkan diri di dapur bersama ku, Irgy melempat pandangan matanya padaku. Ada isyarat tanya dari kedua bola matanya, aku tersenyum sembari mengangkat bahu kedua tangan ku.


"Wah, peri papa. Sudah mulai belajar memasak nih, semenjak punya pacar jadi makin manis, hemm... Sepertinya bakal gagal punya calon dokter dirumah kita, istriku. Hihi," Ucap Irgy menggoda Pelangi.


"Cih, papa. Apaan sih, bukannya mendoakan. Pelangi harus jadi dokter hebat nantinya, agar kelak saat kalian menua.. Kalian bangga karena Pelangi akan selalu menjaga kesehatan kalian."


"Hahaha, jadi mendoakan mama dan papa cepat tua nih.."


"Jangan tua dulu, Pelangi masih ingin bermain bersama kalian lalu jalan-jalan keliling dunia."


"Waah, istriku. Ada apa dengan peri kita hari ini? Apakah ada yang salah dengannya?"


"Hahaha, suami ku. Tidak ada yang salah, hanya sepertinya berusaha baik-baik saja. Hahaha,"


Irgy kebingungan akan jawaban ku.


"Mama, mulai deh. Jangan dengarkan mama, Pa. Sejak tadi Pelangi selalu di godanya, huh."


Irgy masih menatapku heran.


"Ehm, nak. Kau dan Joe..."


Sepertinya Irgy baru mulai mengerti, hah.. Dia memang selalu terlambat hal begini.


"Pelangi dan Joe, sudah putus pa. Kami memutuskan untuk tidak menjalin hubungan berpacaran, Pelangi ingin fokus pada kelas Pelangi yang sebentar lagi mungkin akan lebih sibuk tentunya." Jawab Pelangi dengan senyuman tipis.


"Tapi ada apa? Selama ini papa lihat hubungan kalian baik-baik saja, kalian berpacaran secara sehat, saling mendukung dalam hal belajar, Joe juga anak yang baik, dia selalu menjaga dan melindungimu selama ini." Bantah Irgy.


"Ayo lah, Pa. Jangan membahas ini dulu, kita sedang makan malam. Pelangi sangat lapar,"


"Tapi, nak..."


"Ehhem, ayo kita makan malam dulu." Jawab ku mengalihkan agar Irgy menghentikan rasa penasarannya.


🌻🌻🌻


22.30 malam.


Irgy belum juga terlelap dari tidur. Ia masih berkutat dengan laptopnya, harusnya dia duduk di ruang kerja nya. Tapi malam ini entah kenapa dia bermain laptop di kamar kami.


"Sayang, ayo tidur. Aku mengantuk,"


"Sebentar lagi, sayang ku." Jawab Irgy dengan terus menatap layar laptopnya.


"Apa lagi yang sedang kau kerjakan?"


"Aku sedang mencari sebuah kampus terbaik untuk anak kita nanti."


"Astaga, itu masih lama. Jangan terburu-buru begitu ah," Aku beranjak bangun dari posisi ku du atas ranjang. Lalu mendekatinya dengan merebahkan leherku di atas pundaknya.


Irgy tersenyum menoleh kemudian mengecup kening ku.


"Huuuhft... Baiklah, maafkan aku. Katakan apa yang membuatmu kesal?" Irgy menghela nafas panjang kemudian menatapku dengan menaikkan satu alisnya ke atas.


"Apakah kau tidak ingin tahu alasan puteri kita putus dengan Joe?"


"Ehm.. Walaupun aku tahu apa yang bisa kita lakukan? Itu urusan anak-anak, bukankah itu hal biasa di masa remaja seperti mereka itu?"


"Sayang... Ih, kau ini. Peka dikit dong, Pelangi kita sedang cemburu. Joe kedatangan teman wanitanya dari LN, dan ku lihat mereka sangat dekat. Sampai rasanya aku ikut kesal,"


"Hahaha, sungguh??? Wah, puteri kita sudah mengerti akan hal cinta. Sampai dia merasa cemburu begitu,"


"Lalu bagaimana dong, seterusnya? Apakah aku harus bertanya hal ini pada Abel? Seharian ini aku sudah sengaja menunggu apakah Abel akan menelpon ku lebih dulu untuk membahas hal ini, tapi..." Jelas ku dengan memanyunkan sedikit bibirku.


"Istriku, mereka baru saja berpacaran. Sudah lah, jangan terlalu ikut campur, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri."


"Sayang!!!" Bentak ku membantah jawabannya.


"Ku hanya tidak ingin Puteri kita tersakiti, aku takut dia akan merasakan seperti masa lalu ku dulu." Ucap ku lagi dengan suara lirih.


"Sssssttt... Jangan membuatnya merasa terbebani oleh masa lalu mu, istriku."


"Aku hanya berpikir jika sikap Joe kali ini seolah membayangiku pada sosok..."


Irgy menatapku dengan sedikit tajam. Aku mengerti dia pun merasa kesal jika aku membahas kemudian menyebut nama Ammar kembali.


"Pelangi kita sudah tumbuh menjadi gadis remaja, sudah pasti dia tahu mana hal yang terbaik untuk nya. Jangan mengacaukan hatinya, tugas kita hanya memantau dari jauh. Bagaimana dia akan membentuk jati dirinya dalam perihal hubungan percintaan, maka itu... Tenang saja."


Mendengar Irgy berkata sebijak demikian, aku hanya mampu mengedipkan kedua mata ku berulang kali. Sejak tadi aku lah yang selalu terbawa emosi menyikapi apa yang sudah terjadi. Aku terlalu takut, terlalu khawatir jika Pelangi akan merasakan hal yang dulu pernah aku rasakan. Itu sangat buruk, sangat menyesakkan.


Sementara Abel...


Hah, tidak kah dia berniat untuk menghubungiku untuk membahas penyebab anak-anak kita putus? Itu karena sikap Joe bukan?


"Sayang, sudah lah. Ayo kita tidur saja," Ajak Irgy kemudian, lamunan ku yang sudah melayang jauh buyar sejetik.


"Hemm, baiklah." Jawab ku singkat beranjak berdiri. Kemudian tiba-tiba saja Irgy mengangkat tubuhku dan di di gendongnya menuju ranjang. Aku memekik pelan karena sungguh terkejut


"Awh... Irgy, kau apa-apaan? Turunkan aku!!!"


"Kau bilang sedang kesal tadi, aku akan menghiburmu." Jawab Irgy setelah menidurkan tubuhku di ranjang dengan perlahan. Dia menatapku dengan senyuman nakal, membuatku mengerti apa yang dia inginkan.


"Cih, dasar. Kau memang menyebalkan, apakah hanya itu yang bisa kau lakukan untuk menghiburku hah?"


"Tidak, masih banyak. Aku selalu memiliki 1001 macam cara untuk menghilangkan kekesalan mu. Namun kali ini, sepertinya ini jauh lebih ampuh." Jawab Irgy seraya berbisik di ujung ucapannya.


Kemudian kami melewati malam panjang yang indah, dimana segala erangan halus dan desahan manja membaur jadi satu dalam keringat yang mulai bercucuran mesra. Hingga waktu malam mendekati pagi, kami baru terlelap dalam mimpi.


.


.


.


.


.


.


.


Di sela lelah yang baru saja menghujani kami, Irgy masih saja menggodaku.


"Istriku..." Panggilnya dengan lembut


"Hemm?" Jawab ku dengan mesra.


"Sejak kemarin kau mendapatkan banyak pertanyaan dari para readers setiamu. Kau menghilang sejak kemarin,"


"Ah, ya. Aku sungguh sibuk, kau tahu itu. Aku akan meminta maaf pada mereka, semoga mereka mengerti. Aku butuh istirahat sejenak, menenangkan pikiran. Berjalan-jalan di pesisir pantai, dan menikmati waktu senja. Itu sudah cukup buatku mengumpulkan banyak tenaga untuk kembali menghibur mereka hari ini."


"Baiklah, sampaikan salam ku pada mereka. Maukah mereka memberikan like dan vote yang banyak untuk mu?"


"Hah, jangan bermimpi. Mereka tidak akan memberikannya padaku."


"Ehm, mereka membuatku sedih..."