Because, I Love You

Because, I Love You
#65



Rendy juga tersenyum saat merasakan Kirana membalas pelukannya. Ia mengeratkan pelukannya dan menghirup dalam-dalam aroma wangi strawberry dari ceruk leher Kirana.


Rendy melonggarkan pelukannya dan menunduk menatap Kirana. Kirana pun mendongak dan menatap Rendy. Jantungnya kembali berdegup kencang ketika wajah Rendy semakin dekat.


Kirana tau kalau Rendy ingin menciumnya. Tapi Kirana terlalu terbuai oleh pesona ketampanan wajah Rendy dan juga aroma wangi bercampur mint dari Randy.


Kali ini, ia hanya bisa pasrah kalau pun Rendy benar-benar ingin menciumnya.


"Boleh aku cium kamu?" Tanya Rendy ketika wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Kirana.


Ia tidak ingin membuat Kirana kembali kecewa dan marah kepadanya dengan sikapnya yang dianggap sangat kurang ajar kepadanya. Jadi sebaiknya, ia meminta ijin lebih dulu dan tidak akan mempermasalahkan kalau Kirana menolaknya.


Lidah Kirana terasa kelu dan sulit untuk bicara. Tanpa Rendy duga, Kirana menganggukkan kepalanya yang artinya Kirana mengijinkannya menciumnya.


Rendy sedikit tersenyum lalu ia benar-benar menempelkan bibirnya kembali pada bibir merah muda Kirana.


Kirana memejamkan matanya ketika merasakan hangat dan lembut sentuhan bibir Rendy.


Sedetik kemudian begitu melihat Kirana memejamkam matanya, Rendy ******* bibir Kirana yang terasa hangat dan manis dengan lembut.


Kirana mendesis karena masih merasakan perih dibibir bawahnya ketika Rendy menciumnya.


Rendy tidak menghentikan ciuamanya malah memperdalamnya dan mengeratkan pelukannya. Perlahan ia membaringkan tubuh Kirana diranjang tanpa melepas ciumannya.


Kirana merasakan tangan Rendy yang menerobos masuk kedalam bajunya dan merabanya semakin naik. Seketika ia membuka matanya dan menahan tangan Rendy.


Rendy menghentikan ciumannya lalu menatap Kirana dengan tatapan yang sudah berbeda dan nafas yang berat.


"Mas..jangan diterusin." Ucap Kirana dengan nafas memburu.


Kirana juga manusia biasa. Ia seorang wanita normal yang jika mendapat sentuhan seperti ini, tentu saja tubuhnya akan merespon. Apalagi ini pertama kalinya bagi Kirana.


Meski ia terbuai dan menginginkan lebih, tapi ia masih sangat sadar untuk menolak dan menghentikan Rendy.


"Maaf." Ucap Rendy lalu bangkit duduk dan mengusap wajahnya. Ia hampir saja hilang kendali.


Kirana juga bangun dan duduk disamping Rendy lalu membenahi pakaian dan rambutnya.


Rendy terdiam sesaat dan lagi-lagi teringat dengan Olivia. Ia hanya merasa heran. Sebelumnya, ia sangat mencintai Olivia. Tapi kenapa ia selalu bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan lebih ketika sedang bersama dan membuat Olivia uring-uringan.


Tapi ketika dengan Kirana, kalau saja Kirana tidak menghentikannya, mungkin Rendy akan benar-benar hilang kendali dan melakukan lebih.


'Ting Tong!'


Tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi dan keduanya menoleh kearah luar kamar.


"Mungkin makanan yang aku pesan udah dateng." Ucap Rendy sambil memurunkan kakinya dari ranjang.


"Em..biar aku aja Mas." Sahut Kirana dan segera beranjak untuk membuka pintunya.


Rendy kembali terdiam dan terus memperhatikan Kirana.


Kirana berdiri diam sejenak didepan kamar dan ia memejamkan matanya sambil menekan dadanya yang masih berdegub kencang.


Kirana ingin sekali melompat karena merasa kegirangan.


Kirana segera tersadar dan memukul kepalanya sendiri untuk mengusir pikiran kotor yang hinggap diotaknya. Kemudian ia setengah berlari menuju pintu lalu membukanya.


Pesanan makanan sudah datang. Orang yang mengantar makanan segera pergi setelah Kirana menerima pesanannya lalu masuk kedalam.


"Mas, ayo makan." Ucap Kirana dan Rendy segera beranjak keluar menuju ruang makan.


Ia merasa kalau tubuhnya sudah tidak lagi lemas. Rasa pusing yang dirasakannya juga menghilang.


Apa karena baru saja ia bisa memeluk dan mencium Kirana membuatnya kembali bersemangat? Tapi memang inilah kenyataannya.


Kirana duduk disamping Rendy dan membukakan box yang berisi makanan lalu meletakkan didepan Rendy. "Ini Mas."


"Makasih." Ucap Rendy sambil meraih sumpit lalu mencapit cumi asam manisnya dan melahapnya.


Rendy mencapitnya lagi lalu menyodorkan kemulut Kirana. "Kamu coba ini."


"Euh?" Kirana terbengong tapi kemudian ia membuka mulutnya dan Rendy menyuapinya.


"Enak?" Tanya Rendy dan Kirana hanya mengangguk sambil mengunyah.


"Kamu makan yang banyak." Lanjut Rendy.


Mereka pun makan malam bersama dengan menu seafood favorite Rendy karena Rendy belum tau makanan kesukaan Kirana.


Tiba-tiba Kirana merasakan gatal dilehernya. Ia menggaruknya lalu rasa gatal juga ia rasakan dikedua tangannya. Kirana terus menggaruk hingga ia merasakan gatal diseluruh tubuhnya.


Rendy mengernyit melihat Kirana. "Kirana, apa kamu punya alergi makanan laut?"


"Iya." Jawabnya lalu Kirana merasa mual dan ia bangkit berdiri lalu berlari menuju dapur. "Hueeeekk!" Kirana muntah diwastafel yang ada didapur.


Rendy langsung menyusulnya dan mengurut leher belakang Kirana dengan pelan.


"Mas, kamu jangan kesini! Aku lagi muntah!" Ucap Kirana yang merasa sangat malu dengan Rendy lalu ia kembali muntah.


"Udah nggak apa-apa." Ucap Rendy sambil terus mengurut leher Kirana tanpa rasa jijik melihat Kirana yang terus muntah. Malah Rendy merasa kasihan dan sangat bersalah karena memesan menu seafood dan membuat Kirana seperti ini.


Kirana merasa sangat lemas dan sesak nafas. Pandangannya berkunang-kunang lalu menjadi gelap. Kemudian Kirana jatuh pingsan. Untung saja Rendy ada dibelakangnya dan langsung menangkapnya.


"Kirana? Bangun Ki!" Ucap Rendy sambil mengusap-usap sisi wajah Kirana.


Rendy mengangkat dan menggendong Kirana lalu membawanya kekamar. Ia membaringkan Kirana diranjangnya kemudian segera memanggil dokter untuk datang memeriksa kondisi Kirana.


Rendy merasa sangat cemas melihat Kirana yang seperti ini. Ini kali kedua ia menggendong Kirana dan membaringkannya diranjangnya dalam keadaan pingsan.


Ia semakin cemas karena Om Fahri dokter probadi keluarganya lama sekali datangnya.


Tak lama, ada suara bell dan Rendy segera beranjak keluar membuka pintu.


"Siapa yang sakit Ren?" Tanya Om Fahri karena melihat Rendy sehat-sehat saja meski sebelumnya tadi, Rendy juga sakit.


Tapi berkat Kirana, kini ia sudah merasa sehat kembali. Malah gantian Kirana yang sakit karenanya.


................