
Memasuki
halaman rumah Abel yang begitu megah dan luas dengan segala tanaman dan
kolam-kolam ikan kecil menghiasi halaman rumahnya. Ammar tersenyum tipis
melihat sekitar, membuat Hana semakin
kesal dibuatnya. Melihat Abel lebih dulu turun dari mobilnya, Ammar menyusulnya
keluar dari mobilnya juga kemudian. Lalu membukakan pintu untuk Hana, istrinya.
“Ayolah,
jangan manyun begitu. Cepat turun!” Perintah Ammar ketika dilihatnya Hana masih menekuk wajah
cantiknya.
“Tama, ayo...”
Teriak Abel mengajak Ammar untuk masuk ke rumahnya. Ammar mengangguk pelan
melambaikan tangan. Dengan terpaksa dan langkah malas Hana keluar dari mobil, masih dengan wajah
cemberut.
Ammar
melangkah menelusuri halaman rumah Abel yang kemudian di susul oleh Hana dengan
merangkul tangan Ammar dengan erat, seolah ingin menunjukkan kemesraan di depan
Abel yang membuatnya terbakar api cemburu sejak pertama bertemu. Ammar hanya
menoleh nya sesaat ketika dia merangkul tangan Ammar begitu erat dan manja.
Tiba di dalam
ruangan rumah Abel yang begitu bersih dan rapi, di penuhi hiasan pot bunga
termahal di setiap sudut. Membuat ruangan ini tampak indah dan seni, dengan
berbagi lukisan mewah terpasang di berbagai tembok dinding ruangan, ini seolah
sengaja di desain bak style rumah yang banyak dimiliki oleh penduduk luar negeri sana. Pikir Ammar dalam hati.
“Wellcome, ini rumah ku. Silahkan duduk
dulu, aku ingin mengganti pakaian ku dahulu.” Ucap Abel menyambut mereka
setelah dibiarkannya sejenak melihat seisi rumah megah Abel.
“Ehm, rumah
yang mewah. Tapi sejak kapan kau menyukai interior rumah luar negeri begini?”
Tanya Ammar mencoba meledeknya dengan candaan.
“Cih, kau
mengejekku?”
Ammar
tersenyum tipis.
“Tidak. Aku
hanya sedikit terkejut, apakah sebelumnya kau pernah tinggal di LN?” Tanya
Ammar kemudian.
“E,eh...
Aku... Sudah lah, aku sudah kedinginan, aku akan mengganti pakaian ku dulu.”
Ujar Abel mengalihkan pertanyaan Ammar barusan dengan berbalik tepat di bawah
anak tangga.
“Eh, tunggu.
Bisakah kau meminjamkan satu ruang ganti untuk Hana?”
Abel menoleh
kembali ke belakang, melirik ke arah Hana yang masih menekuk wajahnya seribu
lipatan.
“Ikuti aku!!!” Titah nya dengan cetus.
Hana menoleh ke arah Ammar sejenak dengan tatapan penuh
harap Ammar akan mengantarnya. Namun justru Ammar perlahan meregangkan
rangkulan tangan Hana pada lengan Ammar sejak tadi.
“Honey, aku takut dia akan kembali menyerangku dengan
kasar.” Hana merengek penuh harap.
“Oh astaga. Kau ini sangat manja, ayo cepat. Aku tidak
akan memakanmu.” Ajak Abel kembali dengan memutar kedua bola matanya ke atas.
“Jika kau tidak ingin mengganti pakaian mu, kau akan
masuk angin nantinya Hana. Cepatlah, naik. Ikuti Abel, dia baik. Lagipula dia
tidak level memakan daging dari tubuhmu.” Ucap Ammar menggodanya dengan menahan
tawa dalam hati.
Brengsek kau, Tama. Kau pikir aku
masih sama seperti dulu hah?
Umpat Abel dalam hatinya. Kemudian Hana mengikuti langkah
Abel menaiki anak tangga sementara Ammar melihat sekeliling sejenak lalu duduk
di sofa empuk yang berukiran bak kerajaan kuno, Ammar hanya menggelengkan
kepalanya, dan bertanya-tanya seperti apa sosok suami Abel kali ini sebenarnya.
“Aku bersyukur, Abel hidup dengan sangat baik dan
beruntung mendapat kan suami yang sepertinya sangat mampu memenuhi segala
kebutuhan Abel.” Ujarnya sendiri di ruang tamu.
Sementara di lain tempat, diruang kamar Abel yang tak
kalah jauh lebih indah luas dan megah, Hana sempat menyumbingkan ujung
bibirnya. Baginya, kamar yang kini Abel tunjukkan tak jauh beda dengan yang ia
miliki. Untuk perlengkapan dan segala
kebutuhannya sebagai wanita, sudah memiliki tempat khusus di dalam ruangan itu.
“Kau mau mandi?” Tanya Abel dengan nada acuh.
“Tentu, jika boleh. Aku harus selalu tampil wangi dan
rapi di hadapan suamiku, agar dia tak mudah berpaling pada wanita lain.
Khususnya para wanita di masa lalunya.”
“Pffft...” Abel menahan tawa dengan menutupi bibirnya.
“Apa? Apa yang kau lakukan itu hah, kau menertawaiku?”
“Upz, tidak. Aku hanya, hahaha... Apa kau berpikir
Hana tercengang sesaat, menatap Abel dengan tajam.
“Ah, sudah lah. Jangan dipikirkan, aku tidak akan ikut
campur lagi tentang apapun kehidupan percintaan Tama saat ini.”
“Tunggu, apa yang kau bicarakan barusan? Apa kau berpikir
dia masih mencitai wanita di masa lalunya? Siapa dia? Apa itu kau hah?” Hana
mulai angkat bicara menghujani Abel dengan banyak tanya.
“Hah, jadi kau cemburu padaku? Wow, aku merasa sangat
terhormat.” Jawab Abel dengan berlagak sombong.
“Kau! Kenapa kau selalu meledekku begitu?” Hana mendecak
kesal dengan menggertakkan giginya.
“Aduh... Sudah lah, aku duluan aja deh.” Ucap Abel dengan berlalu pergi memasuki kamar
mandi. Hana merasa semakin kesal karena diabaikan rasa penasarannya tadi,
sehingga ia menggedor pintu kamar mandi Abel. Di gedornya berulang kali
agar Abel mau memberinya jawaban yang dia inginkan.
Abel yang sedang mencoba untuk melepas pakaiannya dan
membersihkan diri, terpaksa membuka pintu kamar mandinya hanya setengah di
bagian kepalanya saja, membuat Hana terkejut karena Abel sudah menghapus
setengah riasan wajahnya. Tampak semakin berantakan yang di sengaja untuk
menakuti Hana.
“Aaakh...”
Seperti dugaan Abel, Hana berteriak karena terkejut.
“Sekali lagi kau mengetuk pintu kamar mandiku dengan
keras, aku akan memintamu membayar ratusan milyard. Kau mengerti?” Ucap Abel
mengancamnya. Hana hanya meringkuk tubuhnya di balik pakaian yang akan di
kenakannya untuk mengganti bajunya yang sudah kotor tadi.
.
.
.
.
.
Sudah satu jam
lamanya, Hana dan Abel tidak kunjung turun ke bawah. Ammar gelisah dengan terus
menatap ke ruang atas, sesekali melirik perputaran arah jam di pergelangan
tangannya. Kembali ia menyeruput secangkir teh yang di suguhkan oleh asisten
rumah tangga Abel tadi.
“Hah, dasar para wanita, apa yang mereka lakukan sejak
tadi? Ini sudah satu jam.” Ujar Ammar. Lalu ia mencoba melakukan panggilan
telepon pada Hana, namun tak kunjung ada jawaban untuk meresponnya.
Tak lama kemudian, pintu rumah Abe terbuka dengan pelan. Yang jelas terlihat olehnya seorang laki-laki remaja masuk dengan pakaian
seragam lengkap anak SMA di kenakannya, yang tak lain adalah Joe. Dia baru saja
pulang sekolah. Mereka saling menatap terkejut satu sama lainnya, Ammar berdiri
dari posisi duduknya.
Apakah dia, putera Abel yang pernah ku
temui beberapa tahun yang lalu?
Ammar bertanya dalam hati.
“Halo,” sapa Ammar
denga tersenyum lembut.
“Ha,halo... Siapa kau?” Sapa Joe menyambutnya.
“Ehm, aku Ammar. Teman lama ibumu.” Jawab Ammar
menghampirinya, kemudian Joe melihat sekeliling ruangan.
“Lalu dimana Mami? Mengapa om sendirian disini?”
“Oh, mami. Ya, mami mu masih diatas menemani istriku
mengganti pakaiannya karena pakaiannya sudah kotor.” Jawab Ammar lagi,
menjelaskan dengan terus menatap wajah Joe dengan senyuman.
“Kotor? Ah, pastiyang melakukannya. Apakah mami membuat
istri om kesusahan? Dasar mami, tukang ceroboh.” Ujar Joe dengan mengusap
wajahnya cemas.
Hahaha, anak ini apakah sungguh putera
Abel? Lucu sekali, bahkan dia menyadari bagaimana sikap ibunya sejak dulu.
“Ah, tidak. Itu kesalahan istriku, bukan ulah mami mu.
Siapa namamu, boy?”
“Oh, namaku Joe. Joe Bil...”
“Joe!!! Kau baru datang? Huh, lagi-lagi kau pulang
terlambat.”
Abel berlarian menuruni anak tangga untuk menghampiri Joe
yang sedang berdiri di hadapan Ammar. Hana tertinggal jauh di belakang, Ammar
mengernyit melihat tingkah Abel yang dengan cepat berlari lalu menarik Joe
sedikit lebih jauh dari hadapan Ammar.
“Kau masuk lah ke kamar mu, ganti pakaian. Lalu makan
dengan baik, nanti biar bibi yang akan mengantar makanan mu ke kamar.” Perintah
Abel dengan pengucapan nada yang tergesa-gesa.
“Tapi, mi...”
“No tapi-tapian. Cepat masuk, kau pasti sangat lelah,”
“Aduh, mami. Aku baik-baik saja, tadi hanya nongkrong
sebentar di kafe Lucas. Tapi mereka ini, apa benar teman lama mami?” Joe masih
berdiri tegak membantah titah Abel untuk segera memasuki kamarnya dan menjauhi
Ammar.