Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 250



Memasuki


halaman rumah Abel yang begitu megah dan luas dengan segala tanaman dan


kolam-kolam ikan kecil menghiasi halaman rumahnya. Ammar tersenyum tipis


melihat sekitar, membuat  Hana semakin


kesal dibuatnya. Melihat Abel lebih dulu turun dari mobilnya, Ammar menyusulnya


keluar dari mobilnya juga kemudian. Lalu membukakan pintu  untuk  Hana, istrinya.


“Ayolah,


jangan manyun begitu. Cepat turun!” Perintah Ammar  ketika dilihatnya Hana masih menekuk wajah


cantiknya.


“Tama, ayo...”


Teriak Abel mengajak Ammar untuk masuk ke rumahnya. Ammar mengangguk pelan


melambaikan tangan. Dengan terpaksa dan langkah malas  Hana keluar dari mobil, masih dengan wajah


cemberut.


Ammar


melangkah menelusuri halaman rumah Abel yang kemudian di susul oleh Hana dengan


merangkul tangan Ammar dengan erat, seolah ingin menunjukkan kemesraan di depan


Abel yang membuatnya terbakar api cemburu sejak pertama bertemu. Ammar hanya


menoleh nya sesaat ketika dia merangkul tangan Ammar begitu erat dan manja.


Tiba di dalam


ruangan rumah Abel yang begitu bersih dan rapi, di penuhi hiasan pot bunga


termahal di setiap sudut. Membuat ruangan ini tampak indah dan seni, dengan


berbagi lukisan mewah terpasang di berbagai tembok dinding ruangan, ini seolah


sengaja di desain bak style rumah yang banyak dimiliki oleh penduduk  luar negeri sana. Pikir Ammar dalam hati.


“Wellcome, ini rumah ku. Silahkan duduk


dulu, aku ingin mengganti pakaian ku dahulu.” Ucap Abel menyambut mereka


setelah dibiarkannya sejenak melihat seisi rumah megah Abel.


“Ehm, rumah


yang mewah. Tapi sejak kapan kau menyukai interior rumah luar negeri begini?”


Tanya Ammar mencoba meledeknya dengan candaan.


“Cih, kau


mengejekku?”


Ammar


tersenyum  tipis.


“Tidak. Aku


hanya sedikit terkejut, apakah sebelumnya kau pernah tinggal di LN?” Tanya


Ammar kemudian.


“E,eh...


Aku... Sudah lah, aku sudah kedinginan, aku akan mengganti pakaian ku dulu.”


Ujar Abel mengalihkan pertanyaan Ammar barusan dengan berbalik tepat di bawah


anak tangga.


“Eh, tunggu.


Bisakah kau meminjamkan satu ruang ganti untuk Hana?”


Abel menoleh


kembali ke belakang, melirik ke arah Hana yang masih menekuk wajahnya seribu


lipatan.


“Ikuti aku!!!” Titah nya dengan cetus.


Hana menoleh ke arah Ammar sejenak dengan tatapan penuh


harap Ammar akan mengantarnya. Namun justru Ammar perlahan meregangkan


rangkulan tangan Hana pada lengan Ammar sejak tadi.


“Honey, aku takut dia akan kembali menyerangku dengan


kasar.” Hana merengek penuh harap.


“Oh astaga. Kau ini sangat manja, ayo cepat. Aku tidak


akan memakanmu.” Ajak Abel kembali dengan memutar kedua bola matanya ke atas.


“Jika kau tidak ingin mengganti pakaian mu, kau akan


masuk angin nantinya Hana. Cepatlah, naik. Ikuti Abel, dia baik. Lagipula dia


tidak level memakan daging dari tubuhmu.” Ucap Ammar menggodanya dengan menahan


tawa dalam hati.


Brengsek kau, Tama. Kau pikir aku


masih sama seperti dulu hah?


Umpat Abel dalam hatinya. Kemudian Hana mengikuti langkah


Abel menaiki anak tangga sementara Ammar melihat sekeliling sejenak lalu duduk


di sofa empuk yang berukiran bak kerajaan kuno, Ammar hanya menggelengkan


kepalanya, dan bertanya-tanya seperti apa sosok suami Abel kali ini sebenarnya.


“Aku bersyukur, Abel hidup dengan sangat baik dan


beruntung mendapat kan suami yang sepertinya sangat mampu memenuhi segala


kebutuhan Abel.” Ujarnya sendiri di ruang tamu.


Sementara di lain tempat, diruang kamar Abel yang tak


kalah jauh lebih indah luas dan megah, Hana sempat menyumbingkan ujung


bibirnya. Baginya, kamar yang kini Abel tunjukkan tak jauh beda dengan yang ia


miliki. Untuk  perlengkapan dan segala


kebutuhannya sebagai wanita, sudah memiliki tempat khusus di dalam ruangan itu.


“Kau mau mandi?”  Tanya Abel dengan nada acuh.


“Tentu, jika boleh. Aku harus selalu tampil wangi dan


rapi di hadapan suamiku, agar dia tak mudah berpaling pada wanita lain.


Khususnya para wanita di masa lalunya.”


“Pffft...” Abel menahan tawa dengan menutupi bibirnya.


“Apa? Apa yang kau lakukan itu hah, kau menertawaiku?”


“Upz, tidak. Aku hanya, hahaha... Apa kau berpikir


Hana tercengang sesaat, menatap Abel dengan tajam.


“Ah, sudah lah. Jangan dipikirkan, aku tidak akan ikut


campur lagi tentang apapun kehidupan percintaan Tama saat ini.”


“Tunggu, apa yang kau bicarakan barusan? Apa kau berpikir


dia masih mencitai wanita di masa lalunya? Siapa dia? Apa itu kau hah?” Hana


mulai angkat bicara menghujani Abel dengan banyak tanya.


“Hah, jadi kau cemburu padaku? Wow, aku merasa sangat


terhormat.” Jawab Abel dengan berlagak sombong.


“Kau! Kenapa kau selalu meledekku begitu?” Hana mendecak


kesal dengan menggertakkan giginya.


“Aduh... Sudah lah, aku duluan aja deh.”  Ucap Abel dengan berlalu pergi memasuki kamar


mandi. Hana merasa semakin kesal karena diabaikan rasa penasarannya tadi,


sehingga ia menggedor  pintu  kamar mandi Abel. Di gedornya berulang kali


agar Abel mau memberinya jawaban yang dia inginkan.


Abel yang sedang mencoba untuk melepas pakaiannya dan


membersihkan diri, terpaksa membuka pintu kamar mandinya hanya setengah di


bagian kepalanya saja, membuat Hana terkejut karena Abel sudah menghapus


setengah riasan wajahnya. Tampak semakin berantakan yang di sengaja untuk


menakuti Hana.


“Aaakh...”


Seperti dugaan Abel, Hana berteriak karena terkejut.


“Sekali lagi kau mengetuk pintu kamar mandiku dengan


keras, aku akan memintamu membayar ratusan milyard. Kau mengerti?” Ucap Abel


mengancamnya. Hana hanya meringkuk tubuhnya di balik pakaian yang akan di


kenakannya untuk mengganti bajunya yang sudah kotor tadi.


.


.


.


.


.


Sudah satu  jam


lamanya, Hana dan Abel tidak kunjung turun ke bawah. Ammar gelisah dengan terus


menatap ke ruang atas, sesekali melirik perputaran arah jam di pergelangan


tangannya. Kembali ia menyeruput secangkir teh yang di suguhkan oleh asisten


rumah tangga Abel tadi.


“Hah, dasar para wanita, apa yang mereka lakukan sejak


tadi? Ini sudah satu jam.” Ujar Ammar. Lalu ia mencoba melakukan panggilan


telepon pada Hana, namun tak kunjung ada jawaban untuk meresponnya.


Tak lama kemudian, pintu  rumah Abe terbuka dengan pelan. Yang  jelas terlihat olehnya seorang laki-laki remaja masuk dengan pakaian


seragam lengkap anak SMA di kenakannya, yang tak lain adalah Joe. Dia baru saja


pulang sekolah. Mereka saling menatap terkejut satu sama lainnya, Ammar berdiri


dari posisi duduknya.


Apakah dia, putera Abel yang pernah ku


temui beberapa tahun yang lalu?


Ammar bertanya dalam hati.


“Halo,”  sapa Ammar


denga tersenyum lembut.


“Ha,halo... Siapa kau?” Sapa Joe menyambutnya.


“Ehm, aku Ammar. Teman lama ibumu.” Jawab Ammar


menghampirinya, kemudian Joe melihat sekeliling ruangan.


“Lalu dimana Mami? Mengapa om sendirian disini?”


“Oh, mami. Ya, mami mu masih diatas menemani istriku


mengganti pakaiannya karena pakaiannya sudah kotor.” Jawab Ammar lagi,


menjelaskan dengan terus menatap wajah Joe dengan senyuman.


“Kotor? Ah, pastiyang melakukannya. Apakah mami membuat


istri om kesusahan? Dasar mami, tukang ceroboh.” Ujar Joe dengan mengusap


wajahnya cemas.


Hahaha, anak ini apakah sungguh putera


Abel? Lucu sekali, bahkan dia menyadari bagaimana sikap ibunya sejak dulu.


“Ah, tidak. Itu kesalahan istriku, bukan ulah mami mu.


Siapa namamu, boy?”


“Oh, namaku Joe. Joe Bil...”


“Joe!!! Kau baru datang? Huh, lagi-lagi kau pulang


terlambat.”


Abel berlarian menuruni anak tangga untuk menghampiri Joe


yang sedang berdiri di hadapan Ammar. Hana tertinggal jauh di belakang, Ammar


mengernyit melihat tingkah Abel yang dengan cepat berlari lalu menarik Joe


sedikit lebih jauh dari hadapan Ammar.


“Kau masuk lah ke kamar mu, ganti pakaian. Lalu makan


dengan baik, nanti biar bibi yang akan mengantar makanan mu ke kamar.” Perintah


Abel dengan pengucapan nada yang tergesa-gesa.


“Tapi, mi...”


“No tapi-tapian. Cepat masuk, kau pasti sangat lelah,”


“Aduh, mami. Aku baik-baik saja, tadi hanya nongkrong


sebentar di kafe Lucas. Tapi mereka ini, apa benar teman lama mami?” Joe masih


berdiri tegak membantah titah Abel untuk segera memasuki kamarnya dan menjauhi


Ammar.