
Menjelang sore, kami sudah siap untuk segera menikmati keindahan di kota ini. Terutama Pelangi, dia begitu tidak sabar dan terus berucap ingin bertemu Lucky Lucky dan Lucky.
"Fanny, siapa Lucky itu? Kenapa Pelangi selalu menyebutnya sejak tadi?" Tanya kak Rendy di saat kami sedang dalam perjalanan berada dalam mobil yang kak Rendy sewa terlebih dahulu.
"Lucky teman sekolah Pelangi kak, dan kau tahu.. Anak itu sungguh menggemaskan juga pintar. Sikapnya sangat santun, namun sayang.. Dia terlihat sedikit dewasa di usianya yang masih dini."
"Oh ya? Wah, pasti dia tampan." Ucap kak Shishi memuji.
"Bukan hanya tampan kak, dia juga bersikap selayaknya laki-laki dewasa. Dan ku dengar, hidupnya sehari-hari terjaga begitu ketat. Berkali-kali aku ingin mengetahui sosok misterius di balik sikapnya itu, tapi selalu gagal."
"Oh ya? Sungguh? Woah, apa kau yakin Fanny? Kau melihatnya sebagai manusia? Sudah kah mengeceknya di bagian tengkuk leher? Barangkali ada tombol rahasianya." Ucap kak Rendy kembali sembari cekikian di susul oleh Irgy yang sedang fokus menyopir sebelahnya.
"Iiih, kakak. Aku bahkan terkecoh lalu bertingkah konyol untuk mengeceknya. Ku pikir dia memang robot," Jawab ku dengan wajah cemberut.
"Dasar kakak mu itu, dia terlalu banyak menonton film aksi hollywood." Ujar kak Shishi menyela.
"Mama, Lucky bukan robot ma. Dia baik, robot kan jahat."
"Eh, bukan mama yang menyebutnya seperti itu Nak. Itu tuh, uncle mu."
"Eeeh, bukan. Bukan begitu maksud uncle bidadariku, uncle hanya bercanda."
"Tidak. Pokoknya Lucky itu baik," Jawab Pelangi dengan cetus membuat kami terkejut seketika.
"Hemm... Baiklah, baiklah. Lucky anak yang baik, dia juga bukan robot. Mama juga suka dengan Lucky,"
Aku mencoba menenangkannya setelah dia mulai menaik turunkan nafasnya yang sedikit tertahan, sepertinya dia sungguh sedang kesal.
"Lihat lah, kalian tidak akan tahu bagaimana diriku yang setiap hari bersama mereka yang terus saja memuji dan menyebut nama Lucky. Huh," Ucap Irgy dengan lirih. Membuat kak Rendy dan istrinya semakin tertawa geli.
Tak berapa lama kemudian, kami tiba di suatu tempat yang selama ini aku impikan meski kini usia ku tidak lagi anak SD atau remaja sekalipun. Dan sepertinya saat ini justru Pelangi yang sangat riang gembira seketika seolah dia lupa dengan nama yang sejak tadi di sebut.
Disneyland Tokyo
Dengan segala wahana yang ada di dalamnya, dengan segala pemandangan unik nan lucu menggemaskan, hingga kedua mataku tidak berkedip di buatnya.
"Oh My God !!! Ini sungguh menakjubkan." Ucapku menyeru.
"Huwaaaaah, mama..Papa, itu Mickey and Minnie mouse. Kyaaaaa Pelangi ingin foto bersama mereka," Seru Pelangi dengan melompat-lompat riang gembira, menarim-narik tangan ku dan Irgy.
"Sabar nak, tunggu sebentar." Jawab ku sembari mengikuti langkahnya yang berdecak.
Kemudian kak Rendy menyusul kami dari belakang, dengan saling bergantian mengabadikan moment langka ini.
Lelah dengan segala gaya kami yang berpindah di berbagai tempat hanya untuk mengabadikan moment ini, kami berniat mencari segala makanan dan minuman khas di wisata ini. Seakan tak mau kalah, kak Rendy dan Irgy pun begitu antusias menyusul kami.
"Kak, coba ini. Ini sangat enak," Ujarku pada kak Shishi lalu dia mencoba pula makanan yang sedang ku cicipi saat ini.
"Hmm... Ini memang lezat." Jawabnya menyeru sembari menjilati jari jemarinya.
"Mama, Pelangi mau itu Ma." Ucap Pelangi menunjuk ke sebuah boneka dengan berbagai karakter disney.
"Hmm.. Baiklah, ayo kita membelinya." Jawab ku untuk bisa mengalihkan pikirannya agar tak teringat kembali pada Lucky. Aku tidak tahu apa yang saat ini sedang anak itu lakukan, ku harap dia tidak sedang terkekang di hari libur seperti ini. Aku bergumam dalam hati.
"Yeaaaay..." Teriak Pelangi sembari melangkah dengan cepat menuju sebuah toko yang menjual boneka tersebut. Aku menyusulnya di temani oleh kak Shishi yang juga ingin membelinya untuk Yasmin, anak ke tiga nya.
Pelangi mulai sibuk memilih semua karakter disney yang dia inginkan. Sementara aku dan kak Shishi justru berburu segala pakaian lucu di sebelahnya, ah.. Sayangnya, aku tidak bisa membelinya untuk bayi kembarku. Konon, jika belum waktunya seorang wanita hamil tidak boleh menyiapkan segala sesuatu untuk bayi nya sebelum tiba waktunya. Entah itu mitos atau bukan, aku tidak ingin mempercayainya namun juga membuatku sedikit takut.
"Ma, Pelangi mau semua ini." Ucap Pelangi padaku setelah dia sibuk dengan dunianya sendiri sejak tadi.
"Astaga, Nak. Ini terlalu banyak sayang," Jawab ku menegurnya.
Pelangi terdiam menundukkan wajah di depan ku tanpa jawaban yang untuk membantahnya. Membuatku tidak tega, kemudian kak Rendy dan Irgy menyusul kami dengan memakai bando ala mickey and minnie. Mereka berlagak bak seorang gadis remaja yang sok imut dan kecentilan mencari mangsa untuk di goda.
"Pelangi ingin itu..." Jawab Pelangi lagi dengan suara lirih.
"Tapi nak..."
"Pelangi, sini. Aunty yang akan membayarnya, kau mau apa lagi sayang? Bebas kau memilihnya." Ucap kak Shishi menyela tiba-tiba. Membuat Pelangi kembali berbinar-binar dan ceria.
"Kakak, ayolah... Apa-apaan ini? Ini terlalu banyak, jangan memanjakannya." Jawabku membantah.
"Jangan protes. Kau sedang hamil, nanti setres loh. Bukankah kita kemari juga untuk menyenangkan hati anak mu, Pelangi?" Jawab nya pada ku dengan tegas. Dia memang hanya kakak ipar, namun sejak awal kami sudah seperti kakak dan adik kandung yang sesungguhnya. Aku sangat menyukainya, karena diantara kami tidak ada batasan antara adik dan kakak ipar.
"Sayang, jangan pelit. Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan, beli saja selagi kau dan Pelangi inginkan. Jangan memikirkan soal uang, benar kata kakak ipar. Nikmati liburan ini, jika tidak bayi kembar kita akan sedih di dalam perut mu itu." Jawab Irgy.
"Hemm.. Tepat sekali, contoh seperti kami. Lihat gaya kami ini, kakak sedang mencoba mengajari suamimu bersikap lain dari biasanya. Agar kelak dia bisa menghibur mu saat sedang marah maupun sedih." Ucap kak Rendy kemudian dengan bertingkah konyol di susul oleh Irgy yang masih terlihat sangat kaku. Membuat kami tergelak tawa seketika hingga air mata merembes keluar karena aku tidak bisa berhenti tertawa.
"Sudah, sudah. Kalian jangan membuatku semakin tertawa. Perutku sudah sakit," Jawab ku memohon ampun, begitu juga kak Shishi yang sudah menghampiri suaminya dan memukulinya.
Di tengah kegilaan ini, tawa kami terhenti ketika terdengar suara yang begitu lantang menyebut nama Pelangi.
"Pelangi..."
Seketika membuat Pelangi menoleh ke arah samping dengan mulut menganga.