
POV
Dalam perjalanan pulang, Joe benar-benar mengamuk tertahan sembari mengemudi mobilnya. Dia terus terbayang dengan wajah Pelangi yang selalu melempar senyum ketika memandang wajah Exelle. Begitupun Exelle yang terlihat jelas melempar senyumnya pada Pelangi.
"Aaarght... Brengsek, aku tidak akan menyerah begitu saja. Sejak kecil Pelangi sudah menjadi milikku." Ujarnya dengan geram.
Hingga tiba dirumahnya, Joe keluar dari mobil dengan membanting pintu mobilnya. Melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan wajah bringas. Dia hendak menaiki tangga menuju kamarnya, namun Abel, maminya. Menyapanya saat keluar dari ruang kerja suaminya.
"Joe, hei..." Panggilnya, namun Joe terus mengabaikan panggilan mami nya.
"Aduuuh, kenapa lagi dengan putera ku ini? Bukan kah ini hari pengumuman akhir sekolah?" Tanya Abel sendiri lalu kemudian menyusul puteranya ke atas.
Tok tok tok...
"Joe, mami masuk ya?" Abel sudah sudah tiba di depan pintu kamar Joe.
"Aaaarght..." Terdengar suara teriakan Joe di susul suara seperti pecahan kaca yang hancur. Sontak Abel membuka pintu kamar tanpa menunggu Joe mengizinkannya. Dilihatnya lantai kamar Joe bercucuran darah yang mengalir dari kepalan tangannya.
"Astaga, Joe!!!" Abel panik dan meraih tangan puteranya yang mulai bercucuran darah, segera ia merobek baju kaos santai nya lalu di balutkan pada tangan itu agar darah kental tidak lagi mengalir deras.
Joe hanya terdiam membatu, Abel beranjak pergi mencari kotak obat P3K di kamarnya sendiri. Dengan berlarian Abel tergesa-gesa untuk pergi ke kamarnya lalu kembali lagi dengan cepat menuju kamar Joe.
"Apa yang kau lakukan ini, Joe? Ada apa? Kau baru saja mengalami kecekaaan parah. Kau hampir mati, lalu sekarang apa kau ingin membunuh dirimu sendiri dengan menghabiskan darahmu?" Sambil mengomel Abel membuka balutan kain kaos bajunya tadi yang dia gunakan untuk menahan darah kental Joe terus mengalir dari punggung tangan puteranya.
Karen mendengar suara keributan, si embok. Asisten Abel menaiki tangga lalu pergi ke kamar Joe yang sedikit terbuka pintunya.
"Ah, ya Tuhan... Nyonya, nak Joe..."
"Mbok!!! Panggil Abel padanya, mengisyaratkan untuk diam dan keluar kamar, meninggalkan mereka berdua saja. Dia mengangguk tanda mengerti lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ssssh..." Joe mendesis, menahan perih saat Abel mengolesi obat pada lukanya itu, setelah di bersihkan dari simbahan darah kentalnya.
"Tahan sedikit. Kau yang membuatnya begini, mami tidak suka ya. Sejak kapan kau jadi pemarah begini hah?"
Sumpah demi Tuhan, aku kian merasa jika Joe semakin mewarisi sifat ayahnya ketika marah seperti ini. Brengsek, Tama... Kenapa aku harus hamil anakmu sih.
"Mi... Aku gagal dalam ujian." Ucap Joe kemudian. Suaranya begitu parau terdengar, Abel langsung menoleh dengan ekspresi terkejut.
"Apa maksudmu gagal, hah? Apa mau tidak lulus sekolah?"
"Mugkin tepatnya begitu."
"Aaaah. Joee, kenapa kau jadi anak bodoh. Tidak bisakah kau berusaha dengan benar? Bagaimana itu bisa? Bukan kah tahun lalu kau mendapat peringkat terbaik? Atau jangan-jangan gurumu sengaja tidak membiarkanmu lulus sekolah karena kau libur begitu lama saat kecelakaan hah? Itu bukan salah mu bukan. Siapa, siapa walimu di kelas? Mami akan mencarinya dan menyelesaikan..."
"Mami!!! Terus saja ngomel begitu." Bentak Joe. Abel terkejut sedikit meringkuk di depan puteranya itu.
"Maafkan aku, Mi." Ujar Joe kembali karena membuat Abel terkejut.
"Kau, huh. Bisakah bicara yang lembut dan santai seperti dulu? Bukan pemarah dan mudah emosi seperti ini."
"Aku pun benci diriku yang sekarang, Mi."
"E,eh.. Jangan begitu, my baby boy. Mami selalu mendukungmu, tapi apa yang membuatmu semarah ini?"
"Aku gagal mendapat beasiswa untuk tetap bersama Pelangi, Mami. Rasanya aku malu, justru yang mendapatkannya adalah Lisa. Sahabat kami yang selalu mendapat peringkat ke tiga di kelas."
"Tapi kau lulus sekolah bukan?"
"Tentu! Aku lulus sekolah." Jawab Joe tegas.
"Mami!!! Tidakkah mami mengerti perasaan ku?" Lagi-lagi Abel terkejut dengan suara Joe yang membentaknya.
"Lalu apa lagi hah? Kau hanya tidak berhasil mendapatkan beasiswa bukan? Apakah itu penting, hem? Kau bisa saja masuk ke universitas manapun yang kau inginkan, baby boy..."
"Tidak semudah itu mi, Pelangi terpilih masuk ke universitas terbaik di LN dengan predikat nilai tertinggi. Dia calon dokter, sedangkan aku? Bagaimana dengan predikatku selama di sekolah hah? Bukankah aku hanya anak bandel yang suka bolos dengan pindah-pindah sekolah berkali-kali bahkan aku pernah gagal naik kelas. Apa mami lupa itu?"
"E,eh.. Soal itu, ya.. Soal itu, ehm.. Untuk apa kau pikirkan, Dear? Mami bisa lakukan apapun untuk mu. Atau kau mau mami membayar konvensasi pada Lisa, agar dia mau memberikan beasiswa itu padamu? Mami akan membayarnya mahal demi kau anak mami."
"Pliss, mi. Jangan mempermalukan ku lagi, jangan terlihat rendahan."
"Eh, apa kau pikir itu rendahan? Dasar kau. Jaga bicaramu, seorang ibu akan selalu melakukan hal apapun demi memuaskan anaknya, walau itu dengan cara kotor sekalipun. Paham?" Abel mulai kesal. Ia tidak menyangka hanya karena gagal mendapatkan beasiswa itu puteranya sampai emosi seperti ini.
Apakah ada hal lain yang terjadi? Kenapa dia begitu emosi? Huh, aku harus menemui Lisa. Aku yakin dia akan tergiur dengan uang yang akan aku janjikan.
Bathin Abel berbicara. Namun, terlihat Joe menundukkan wajahnya dengan seribu kata. Perlahan terdengar isakan tangis, sontak Abel kebingungan dan terheran-heran.
"Katakan padaku, mami. Apakah aku sungguh sudah tidak pantas untuk kembali menjadi pacar Pelangi? Lalu bagaimana dengan Exelle? Apakah dia jauh lebih baik dariku, mami?"
Degh!!!
Jantung Abel seakan berhenti mendengar pertanyaan itu dari puteranya.
Sial, jadi ini ada hubungannya dengan Exelle lagi. Aaah, menyebalkan. Kenapa kalian jadi musuh bebuyutan seperti ini sih...
"Ex,exelle? Hahaha apa yang kau bicarakan nak? Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu. Kau jauh lebih baik dan pantas di sisi Pelangi tentutnya. Bahkan wanita manapun tidak boleh menolakmu, kau sangat tampan."
"Tapi nyatanya aku kalah sebelum berperang, mami. Aku menantang Exelle, aku begitu angkuh untuk mengalahkannya dalam merebut hati Pelangi."
"A,apa ini? Mami tidak mengerti, ceritakan secara detail." Ucap Abel.
Kemudian Joe menceritakan semua perseteruannya dengan Exelle selama ini, karena mereka sama-sama menyukai dan ingin memiliki Pelangi sebagai kekasih. Bahkan Joe pun menceritakan bahwa selama ujian akhir, Joe dan Exelle sedang berkompetisi untuk bisa memenangkan hati Pelangi. Walau kenyataannya, Exelle menolak untuk menjadikan Pelangi sebagai bahan kompetisi.
Betapa liciknya Joe bukan? Dia mewarisi sifat asli maminya. Joe menangis tersedu di depan Abel, tentu seorang ibu akan ikut terluka ketika putera puterinya dibuat sedih oleh seseorang. Jiwa nya akan mudah merasa jahat karena amarah. Tapi mengingat Fanny sudah menjadi sahabat baiknya, Abel berusaha menahan amarah itu. Dia tetap ingin menjalin hubungan baik dengan Fanny.
"Oowh, sayang. Jangan menangis seperti ini, kau laki-laki, apakah tidak malu?" Abel merangkul dan mendekap puteranya saat Joe semakin tersedu-sedu menangis karena menahan perasaan yang bercampur aduk di hatinya.
"Nak... Apakah mami boleh bertanya sesuatu?"
"Apa itu, Mi?"
"Apakah sungguh tidak ada wanita yang jauh lebih baik untuk kau cintai selain Pelangi? Mami tidak suka melihatmu lemah dan cengeng seperti ini. Kau berbeda jauh saat tinggal di LN, sejak bertemu kembali dengan Pelangi kau jadi berubah."
"Tidak mi, tidak!!! Tidak ada cewek lain yang bisa membuatku jatug cinta selain Pelangi. Dia berbeda, dia unik, Mi. Apakah mami lupa, bahkan sejak di LN aku hanya memikirkannya, dan menunggu waktu untuk bisa bertemu dengannya lagi? Iya kan mi, iya kan?"
"Hah... Kau hanya belum mencoba untuk membuka hati pada yang lain, itu saja. Ehm, bagaimana dengan Maria? Dia cukup baik bukan? Dia juga tak kalah cantik dan unik andai mau merubah sifat manjanya sedikit."
"Mami!!! Apakah mami ingin aku mati sekarang juga, hah?"
"Hei, apa yang kau bicarakan itu hah?"
"Apakah mami menyuruhku jadi pengecut, dengan menyerah pada Exelle begitu saja?"
"Lalu apa, apa yang harus mami lakukan agar kau tenang dan nyaman hah? Agar kau kembali seperti dulu saja. Lagipula kau tidak harus memaksa untuk mengikuti jejak Pelangi, kalaupun kau tidak bisa masuk ke universitas yang sama, kau bisa saja menjadi pengusaha handal mengikuti jejak Daddy mu. Biarkan saja Exelle saat ini menang, peperangan belum usai. Saat kau jadi pengusaha hebat nantinya, dia akan kalah."
Joe terdiam menatap Abel dengan tajam. Abel paham betul sifat puteranya ini, seakan Abel melihat masa mudanya dengan Ammar di masa lalu.