Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 249



Ammar menatap Hana dengan tatapan tajam, dan itu membuat nya


menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu Abel tertawa kian sinis, seolah meledek Hana


yang mendapat tatapan tajam dari Ammar.


“Hah… Pemandangan yang menyenangkan, aku suka ini.”


“Bisakah kita bicara berdua sebentar?” Tanya Ammar pada Abel


kemudian.


“Heh, kau yakin wanitamu itu tidak akan cemburu?”


“Tidak!!! Aku tidak akan mengijinkan kalian bebricara hanya


berdua di belakangku.” Bantah Hana.


“Hana, ini urusan ku dengan Abel. Kau tunggulah sebentar,


hem.. Lagipula aku tidak akan macam-macam.” Jawab Ammar dengan nada berat, itu


menandakan jika dia bersunguh-sungguh dengan ucapannya.


“Tidak. Kalian harus mengajakku juga berbicara, bukankah


kita datang kesini dengan tujuan yang sama, Tuan?” Bantah Hana untuk yang kedua


kalinya.


“Baiklah, aku tidak akan meninggalkanmu.” Ucap Ammar


menurut.


Ya ampun Tuhan.


Benarkah dia memang Ammar Billyantama yang ku kenal sangat angkuh dan arrogant


dulu? Kenapa terlihat penurut dan juga lemah lembut pada wanita. Bahkan dia


tidak emosi sedikitpun walau wanita di sampingnya itu begitu bawel dan manja.


“Baiklah, apa yang akan kau bicarakan? Kita bahas disini


saja.” Kata Abel dengan cetus.


“Ehm… Kau yakin kita akan berbicara disini?” Tanya Ammar


dengan melirik sekujur tubuh Abel yang masih basah kuyup dan berantakan. Abel


menghela nafas panjang, menyadari dirinya kini masih menjadi pusat perhatian


setiap pengunjung mall yang berlalu lalang.


“Tuan, aku ingin segera ganti pakaian. Bagaimana jika kita


kembali ke hotel dulu?” Hana kembali menyela dengan rengekan manja.


Ammar masih terdiam dengan menatap ke arah Abel, seolah dia


mengisyaratkan sesuatu. Abel berusaha menangkap jelas maksud Ammar kali ini,


dalam hatinya di penuhi tanda Tanya yang tak mampu dia lontarkan begitu saja di


bibirnya, bibirnya begitu keluh, bahkan kembali bertemu dengan Ammar saat ini


masih saja membuatnya ketakutan dalam hati, ia tidak ingin mengulang dan


mengingat masa lalu mereka kala itu.


“Kau ada waktu hari ini? Ku mohon, hanya kau yang bisa


membantuku kali ini, sejak dulu kau selalu bnerhasil dalam hal apapun yang aku


inginkan, Abel.”


“Huhft… Baiklah, baiklah. Aku mengerti maksudmu, tapi jika


untuk datang ke hotel bersama kalian lalu bagaimana nasibku ini? Aku begitu


kotor.”


Dan aku tidak mungkin


pula mengajakmu berkunjung kerumah ku, Tama… Belum saatnya.


“Berikan nomor ponselmu, kita bertemu di restoran saja.”


Ucap Abel mengalihkan.


“Waktuku cukup singkat, aku tidak bisa tinggal lebih lama di


Indonesia. Bisakah hari ini saja kau menyempatkan waktu, dan tidak kah kau


mengajakku berkunjung kerumahmu sebagai teman lama?”


Aku sudah menduganya,


Tama. Aku tahu ada ysng ingin kau telusuri, entah apa itu. Bagaimana ini? Jika


ku biarkan dia datang kerumah ku, dia akan curiga lalu mengetahui segalanya


bukan? Tapi jika tidak…


“Ada apa? Kenapa kau seolah enggan menyuruhku berkunjung


kerumahmu meski hanya sekedar bertamu dan numpang duduk sebentar saja.”


“Aaah… Baiklah, ayo kerumahku. Tapi kau harus berjanji


dulu,”


“Hah, kau masih tetap sama seperti dulu. Perhitungan dan


pamrih,”


“Aku tidak ingin kau banyak bertanya tentang diriku atau


siapapun yang akan kau temui saat dirumah ku nanti, katakan saja apa yang ingin


kau bicarakan. Tanpa peduli tentang hidupku, kau mengerti?”


Ammar mengerutkan kening menatap Abel penuh tanda Tanya.


Apapun yang kini mungkin Abel rahasiakan darinya, ia tidak peduli. Tujuannya


saat ini hanya satu saja, ujarnya dalam hati.


“Baiklah, aku tidak akan mengusik hal itu.” Jawab Ammar


menyanggupi, dengan melempar senyuman hangat pada Abel.


“Cih, jangan


senang dulu. Aku menerima mu hanya karena aku merasa kau dulu pernah begitu


baik padaku.” Ucap Abel dengan sinis berbalik badan hendak menuju mobil yang


dia parkir di pojok sana.


“Ayo, Hana. Kita


berkunjung sebentar kerumah Abel, dia sangat baik. Dia tidak akan mnyerangmu


lagi.” Ujar Ammar mengajak Hana seraya meledek Hana yang sejak tadi sudak


bersungut-sungut menahan kesal dan cemburu dalam hatinya.


“Haah, baiklah.


Apa boleh buat, asal aku tetap disisimu tak apa. Tap bajuku?”


“Kau bis


amenggantinya di mobil, atau jika ingin kau boleh menumpangnya di rumah Abel


“Dimanapun aku


menggantinya, temani aku.”


“Ayolah, jangan


seperti anak kecil begitu Hana. Tunjukkan sikap dewasa di depan Abel. Jika


tidak kau akan terus di bully olehnya, kau belum tau bagaimana dia sangat jago


dalam hal itu.” Ucap Ammar sembari berjalan menuju mobil menjelaskannya pada


Hanna yang mengikutinya dari belakang.


“Huh,sepertinya


hubungan kalian dulu bukan hanya sekedar teman biasa saja.” Hana memanyun kan


bibirnya, melipat kedua tangan di atas perutnya dan bersandar pada mobil Ammar.


“Sudah lah, Hana.


Jangan selalu seperti anak kecil. Tujuan kita saat ini hanya satu, cepat


masuk.” Ammar membukakan pintu mobil untuk Hana. Sementara Hana masih membuang


muka, menunjukkan kekesalannya pada Ammar. Meski sebenarnya dia begitu cemburu,


ingin memaki Ammar. Karena ucapan Abel yang mengaku sebagi teman satu ranjang


Ammar di masa lalu.


“Walau dia


suamiku, apakah sedikitpun tidak ada niatnya untuk meredakan kekesalanku ini?


Aku cemburu, Ammar.” Ujar Hana dalam hatinya.


Tin !!!


Terdengar bunyi


klakson mobil, tampak Abel memberikan isyarat ajakan kepada Ammar lewat kaca


jendelanya.


“Songong sekali,


bisakah dia membuka dulu pintu jendela mopbilnya itu?” Sahut Hanna dengan


cetus.


“Kau mau masuk


atau tidak, Hana? Jika tidak, kau pulanglah lebih dulu ke Hotel. Aku akn


mencarikanmu taxi, hem???” tanya Ammar mengancamnya.


“Honey, aku ini


istrimu. Kau tega? Kau sudah berjanji akan selalu mengajakku disisimu selama


kita di Indonesia.”


“Jika begitu,


masuk mobil sekarang!!!” Titah Ammar dengan tatapan dingin.


“Ba,baiklah. Ya


baiklah, aku akan masuk sekarang.”


Pada akhirnya


Hana menuruti titah Ammar untuk masuk ke mobil yang di susul oleh Ammar, lalu kemudian


dilajukannya mobil mewah Ammar mengikuti jejak Abel yang melajukan mobilnya


dengan kecepatan sedikit tinggi.”


“Hah, Abel.


Rupanya sudah jago kau mengemudi mobil, syukurlah. Kau bukan lagi Abel si manja


dulu,” Ujar Ammar mengomentari laju cepat mobil Abel dengan senyuman puas.


Hana menatapnya


dengan kesal, dengan tarikan nafas dalam lalu di hembuskannya dengan cepat.


“Kau masih


kesal?” Tanya Ammar sembari melirik ke arah Hana.


“Lalu apa lagi?


Kau sejak tadi asyik menatapnya saja tanpa berkedip sedikitpun. Sebagai istri


bukankah aku berhak cemburu?”


“Jika begitu, apa


hak Abel padaku jika kau sudah memiliki ku sebagi suami mu, Hana?”


“Dia lebih dulu


menikmati dunia ranjang bersamamu, sementara aku?” tanya Hana dengan nada


tinggi.


Ammar terdiam sesaat,


dia tidak ingin gegabah memberikan jawaban yang nantinya akan merugikannya.


“Jawab!!!” Bentak


Hana.


“Lupakan Hana,


aku tidak ingin membahasnya lagi.”


“Apakah Fanny


tahu jika kau seperti itu pada semua wanita di dekatmu dulu, Tuan?” Tiba-tiba


saja Hana melontarkan tanya yang membuat Ammar terhentak, hilang kendali dalam


mengemudi dan hampir saja menabrak mobil di depan saat terhenti karena lampu


merah menyala di sebuah persimpangan jalanan kota.


Hana memekik,


menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Nafas nya seakan terhenti dan sedikit


ketakutan, begitupula dengan Ammar yang mencoba mengatur nafasnya untuk kembali


normal. Kemudian dia menatap wajah Hana yang sudah memucat akibat Ammar


menghentikan mobilnya begitu saja yang melaju dengan kecepatan tinggi untuk mengejar


jejak Abel.


“Ma,maafkan aku,


Ho-ney.” Ujar Hana dengan nada lirih, di samping rasa takutnya akan kecelakaan


yang bisa Ammar hindari tadi, tatapan Ammar saat ini jauh lebih menakutkan bago


Hanna.