
Ammar menatap Hana dengan tatapan tajam, dan itu membuat nya
menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu Abel tertawa kian sinis, seolah meledek Hana
yang mendapat tatapan tajam dari Ammar.
“Hah… Pemandangan yang menyenangkan, aku suka ini.”
“Bisakah kita bicara berdua sebentar?” Tanya Ammar pada Abel
kemudian.
“Heh, kau yakin wanitamu itu tidak akan cemburu?”
“Tidak!!! Aku tidak akan mengijinkan kalian bebricara hanya
berdua di belakangku.” Bantah Hana.
“Hana, ini urusan ku dengan Abel. Kau tunggulah sebentar,
hem.. Lagipula aku tidak akan macam-macam.” Jawab Ammar dengan nada berat, itu
menandakan jika dia bersunguh-sungguh dengan ucapannya.
“Tidak. Kalian harus mengajakku juga berbicara, bukankah
kita datang kesini dengan tujuan yang sama, Tuan?” Bantah Hana untuk yang kedua
kalinya.
“Baiklah, aku tidak akan meninggalkanmu.” Ucap Ammar
menurut.
Ya ampun Tuhan.
Benarkah dia memang Ammar Billyantama yang ku kenal sangat angkuh dan arrogant
dulu? Kenapa terlihat penurut dan juga lemah lembut pada wanita. Bahkan dia
tidak emosi sedikitpun walau wanita di sampingnya itu begitu bawel dan manja.
“Baiklah, apa yang akan kau bicarakan? Kita bahas disini
saja.” Kata Abel dengan cetus.
“Ehm… Kau yakin kita akan berbicara disini?” Tanya Ammar
dengan melirik sekujur tubuh Abel yang masih basah kuyup dan berantakan. Abel
menghela nafas panjang, menyadari dirinya kini masih menjadi pusat perhatian
setiap pengunjung mall yang berlalu lalang.
“Tuan, aku ingin segera ganti pakaian. Bagaimana jika kita
kembali ke hotel dulu?” Hana kembali menyela dengan rengekan manja.
Ammar masih terdiam dengan menatap ke arah Abel, seolah dia
mengisyaratkan sesuatu. Abel berusaha menangkap jelas maksud Ammar kali ini,
dalam hatinya di penuhi tanda Tanya yang tak mampu dia lontarkan begitu saja di
bibirnya, bibirnya begitu keluh, bahkan kembali bertemu dengan Ammar saat ini
masih saja membuatnya ketakutan dalam hati, ia tidak ingin mengulang dan
mengingat masa lalu mereka kala itu.
“Kau ada waktu hari ini? Ku mohon, hanya kau yang bisa
membantuku kali ini, sejak dulu kau selalu bnerhasil dalam hal apapun yang aku
inginkan, Abel.”
“Huhft… Baiklah, baiklah. Aku mengerti maksudmu, tapi jika
untuk datang ke hotel bersama kalian lalu bagaimana nasibku ini? Aku begitu
kotor.”
Dan aku tidak mungkin
pula mengajakmu berkunjung kerumah ku, Tama… Belum saatnya.
“Berikan nomor ponselmu, kita bertemu di restoran saja.”
Ucap Abel mengalihkan.
“Waktuku cukup singkat, aku tidak bisa tinggal lebih lama di
Indonesia. Bisakah hari ini saja kau menyempatkan waktu, dan tidak kah kau
mengajakku berkunjung kerumahmu sebagai teman lama?”
Aku sudah menduganya,
Tama. Aku tahu ada ysng ingin kau telusuri, entah apa itu. Bagaimana ini? Jika
ku biarkan dia datang kerumah ku, dia akan curiga lalu mengetahui segalanya
bukan? Tapi jika tidak…
“Ada apa? Kenapa kau seolah enggan menyuruhku berkunjung
kerumahmu meski hanya sekedar bertamu dan numpang duduk sebentar saja.”
“Aaah… Baiklah, ayo kerumahku. Tapi kau harus berjanji
dulu,”
“Hah, kau masih tetap sama seperti dulu. Perhitungan dan
pamrih,”
“Aku tidak ingin kau banyak bertanya tentang diriku atau
siapapun yang akan kau temui saat dirumah ku nanti, katakan saja apa yang ingin
kau bicarakan. Tanpa peduli tentang hidupku, kau mengerti?”
Ammar mengerutkan kening menatap Abel penuh tanda Tanya.
Apapun yang kini mungkin Abel rahasiakan darinya, ia tidak peduli. Tujuannya
saat ini hanya satu saja, ujarnya dalam hati.
“Baiklah, aku tidak akan mengusik hal itu.” Jawab Ammar
menyanggupi, dengan melempar senyuman hangat pada Abel.
“Cih, jangan
senang dulu. Aku menerima mu hanya karena aku merasa kau dulu pernah begitu
baik padaku.” Ucap Abel dengan sinis berbalik badan hendak menuju mobil yang
dia parkir di pojok sana.
“Ayo, Hana. Kita
berkunjung sebentar kerumah Abel, dia sangat baik. Dia tidak akan mnyerangmu
lagi.” Ujar Ammar mengajak Hana seraya meledek Hana yang sejak tadi sudak
bersungut-sungut menahan kesal dan cemburu dalam hatinya.
“Haah, baiklah.
Apa boleh buat, asal aku tetap disisimu tak apa. Tap bajuku?”
“Kau bis
amenggantinya di mobil, atau jika ingin kau boleh menumpangnya di rumah Abel
“Dimanapun aku
menggantinya, temani aku.”
“Ayolah, jangan
seperti anak kecil begitu Hana. Tunjukkan sikap dewasa di depan Abel. Jika
tidak kau akan terus di bully olehnya, kau belum tau bagaimana dia sangat jago
dalam hal itu.” Ucap Ammar sembari berjalan menuju mobil menjelaskannya pada
Hanna yang mengikutinya dari belakang.
“Huh,sepertinya
hubungan kalian dulu bukan hanya sekedar teman biasa saja.” Hana memanyun kan
bibirnya, melipat kedua tangan di atas perutnya dan bersandar pada mobil Ammar.
“Sudah lah, Hana.
Jangan selalu seperti anak kecil. Tujuan kita saat ini hanya satu, cepat
masuk.” Ammar membukakan pintu mobil untuk Hana. Sementara Hana masih membuang
muka, menunjukkan kekesalannya pada Ammar. Meski sebenarnya dia begitu cemburu,
ingin memaki Ammar. Karena ucapan Abel yang mengaku sebagi teman satu ranjang
Ammar di masa lalu.
“Walau dia
suamiku, apakah sedikitpun tidak ada niatnya untuk meredakan kekesalanku ini?
Aku cemburu, Ammar.” Ujar Hana dalam hatinya.
Tin !!!
Terdengar bunyi
klakson mobil, tampak Abel memberikan isyarat ajakan kepada Ammar lewat kaca
jendelanya.
“Songong sekali,
bisakah dia membuka dulu pintu jendela mopbilnya itu?” Sahut Hanna dengan
cetus.
“Kau mau masuk
atau tidak, Hana? Jika tidak, kau pulanglah lebih dulu ke Hotel. Aku akn
mencarikanmu taxi, hem???” tanya Ammar mengancamnya.
“Honey, aku ini
istrimu. Kau tega? Kau sudah berjanji akan selalu mengajakku disisimu selama
kita di Indonesia.”
“Jika begitu,
masuk mobil sekarang!!!” Titah Ammar dengan tatapan dingin.
“Ba,baiklah. Ya
baiklah, aku akan masuk sekarang.”
Pada akhirnya
Hana menuruti titah Ammar untuk masuk ke mobil yang di susul oleh Ammar, lalu kemudian
dilajukannya mobil mewah Ammar mengikuti jejak Abel yang melajukan mobilnya
dengan kecepatan sedikit tinggi.”
“Hah, Abel.
Rupanya sudah jago kau mengemudi mobil, syukurlah. Kau bukan lagi Abel si manja
dulu,” Ujar Ammar mengomentari laju cepat mobil Abel dengan senyuman puas.
Hana menatapnya
dengan kesal, dengan tarikan nafas dalam lalu di hembuskannya dengan cepat.
“Kau masih
kesal?” Tanya Ammar sembari melirik ke arah Hana.
“Lalu apa lagi?
Kau sejak tadi asyik menatapnya saja tanpa berkedip sedikitpun. Sebagai istri
bukankah aku berhak cemburu?”
“Jika begitu, apa
hak Abel padaku jika kau sudah memiliki ku sebagi suami mu, Hana?”
“Dia lebih dulu
menikmati dunia ranjang bersamamu, sementara aku?” tanya Hana dengan nada
tinggi.
Ammar terdiam sesaat,
dia tidak ingin gegabah memberikan jawaban yang nantinya akan merugikannya.
“Jawab!!!” Bentak
Hana.
“Lupakan Hana,
aku tidak ingin membahasnya lagi.”
“Apakah Fanny
tahu jika kau seperti itu pada semua wanita di dekatmu dulu, Tuan?” Tiba-tiba
saja Hana melontarkan tanya yang membuat Ammar terhentak, hilang kendali dalam
mengemudi dan hampir saja menabrak mobil di depan saat terhenti karena lampu
merah menyala di sebuah persimpangan jalanan kota.
Hana memekik,
menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Nafas nya seakan terhenti dan sedikit
ketakutan, begitupula dengan Ammar yang mencoba mengatur nafasnya untuk kembali
normal. Kemudian dia menatap wajah Hana yang sudah memucat akibat Ammar
menghentikan mobilnya begitu saja yang melaju dengan kecepatan tinggi untuk mengejar
jejak Abel.
“Ma,maafkan aku,
Ho-ney.” Ujar Hana dengan nada lirih, di samping rasa takutnya akan kecelakaan
yang bisa Ammar hindari tadi, tatapan Ammar saat ini jauh lebih menakutkan bago
Hanna.