Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 171



Saat tiba dirumah aku dibuat terheran-heran oleh sebuah mobil yang terparkir di halaman.


Mungkinkah mobil baru Irgy? Ah tidak mungkin, kami sudah memiliki 5 mobil sekaligus. Pikir ku dalam hati dan ketika aku memasuki rumah ku, kembali aku di kejutkan oleh sambutan seseorang yang tidak pernah ku duga.


"Surprise, how are you my sister?"


"Kak Rendyyyyy..." Teriak ku antusias kemudian memeluknya dengan erat, aku mulai menjatuhkan air mata karena rasa bahagia ku yang tak terkira.


"Oh oh ya ampun, ada apa dengan pipi dan tubuhmu ini hah? Apa sejak menjadi seorang ibu kau tidak sempat lagi merawat diri? Kau begitu mirip adonan roti yang mengembang." Ucap kak Rendy dengan memutar-mutar tubuhku.


"Aaah, bodo amat. Aku rindu kakak, aku sangat rindu kakak." Jawab ku dengan memeluk kembali tubuhnya.


"Hmm... Kau hanya ingin memeluk kakak mu saja? Tanpa memelukku juga? Baiklah, aku pergi saja."


"Aaaah, kaka Shishi. Aku juga sangat merindukan mu kakak ipar ku yang terrr-cantik." Jawab ku sembari memeluknya, mencium kedua pipinya bergantian.


"Hmm... Dasar, sudah menjadi ibu sikapmu masih saja manja begini." Jawab kak Shishi mencubit hidungku.


"Bukan hanya satu anak, sepertinya... Aku akan menyusul kalian memiliki dua bayi yang menggemaskan nantinya."


"What? Are you really, sis?" Tanya kak Shishi berbinar-binar.


"Eeh, bocah. Apakah benar ucapan mu itu?"


"Sungguh, aku sedang hamil saat ini kak. Usia kandungan ku sudah hampir memasuki bulan ke 4."


"Oh my God. Selamat sayang, sepertinya kita memang di takdirkan untuk menikmati kebahagiaan ini bersama." Jawab kak Shishi dengan mata berkaca-kaca sembari mengelus perutnya.


"oh astaga, apakah kakak juga hamil saat ini?"


"Hemm..." Jawabnya sembari menyembikkan bibir menoleh ke arah kak Rendy. Lalu mereka tersenyum dengan menjawab kompak padaku.


"Dan ini, anak kami yang ke 4. Hahaha,"


"So what??? Iiiih, kalian menyebalkan. Lama tiada berkabar dan pulang ke indonesia, malah tiba-tiba sudah memiliki 4 anak, eh lalu dimana si kembar dan anak ketiga kalian?" Tanya ku dengan senyuman lebar, aku sungguh sangat bahagia.


"Ehm, Yasmin anak ketiga kami sedang tidak ingin di ganggu setelah papa dan mama langsung menyambut kedatangan nya dengan banyak boneka juga mainan baru. Sedangkan si kembar, mereka sedang sibuk di sekolah."


"Woah, kalian sudah hampir memiliki 4 orang anak. Aku tidak percaya ini, kak Rendy... Kau sungguh menyiksa kak Shishi."


"Hemm... Kami terlalu menikmati hidup kami hingga kami kebablasan. Hahaha," Jawab kak Rendy dengan tawa lebar.


"Cih, dasar." Jawab ku menyumbingkan bibir.


"Ehm, dimana Fanny kecil?" Tanya kak Rendy.


"Satu jam lagi, aku akan menjemputnya di sekolah. Kalian tidak akan percaya bagaimana Pelangi saat ini." Jawab ku memuji puteri ku.


"Tentu dia akan menakjubkan. Sama seperti mama nya," Jawab kak Shishi memuji, Aku tersenyum tersipu malu.


Hatiku mulai terketuk mendengar kaka Rendy dan kak Shishi bercerita tentang kehidupan mereka di LN, aku teringat pada Kevin. Bagaimana kabar dia saat ini? Tidak masalah bukan aku sekedar bertanya pada mereka?


"E,eh.. Kak, ehm.."


Ingin sekali ku bertanya kabar Kevin dan Nia, tapi entah kenapa mulut ini tidak mampu melontarkan tanya. Seperti terkunci saja di tenggorokan ku.


"Kak Kevin dan Nia baik-baik saja. Mereka hidup dengan tenang dan Nia mulai sembuh setelah satu tahun tinggal di LN, saat ini mereka tinggal di Dubai. Mereka mencoba menjalani kehidupan baru dan Nia harus menjalani beberapa teraphy agar mereka bisa segera memiliki keturunan. Namun ini sudah tahun ke tiga mereka menjalani pengobatan belum juga berhasil."


Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi akan sebuah cerita tentang kehidupan Kevin yang di lontarkan oleh kak Shishi saat ini. Rasanya, sedih dan ikut prihatin. Namun juga bahagia, mendengar mereka hidup bahagia setelah semua hal buruk terjadi pada mereka.


"Oh astaga, aku lupa mengambilnya di mobil." Ucap kak Rendy menepuk keningnya membuatku terbangun dari lamunan ku.


Aku kebingungan ketika kak Rendy beranjak dari depan ku dan berlari keluar ruangan.


"Kak Rendy lagi kumat?" Tanya ku pada kak Shishi.


"Hahaha, ya begitu lah kakak mu itu."


Sesaat kemudian kak Rendy kembali masuk ruangan, menghampiriku dengan memberikan dua boneka besar hingga menutupi tubuh kak Rendy.


"Huwaaaaaaaah, ini untuk ku kak? Makaaasiiiih, kakak emang selalu baik. Aku tahu kakak tidak akan pernah lupa pada ku,"


"Weee, narzis. Ini untuk Pelangi, keponakan kakak yang tercinta."


"Eh? Dua boneka besar ini?" Tanya ku dengan heran ketika melihat dua boneka besar dengan karakter yang berbeda. Minnie mouse dan teddy bear berwarna ungu.


"Minnie mouse ini sengaja kakak pilih untuk Pelangi. Dan Teddy Bear ini, dari Ke-vin."


Degh !!!


Ya Tuhan, bahkan dia masih ingat dan sangat peduli pada puteri ku Pelangi.


Aku beranjak untuk menghampiri boneka pemberian Kevin, dan menyentuhnya di bagian hidung boneka itu. Betapa terkejutnya aku ketika dia bisa mengeluarkan suara dan menyapaku.


Halo halo halo. Apa kabar, apa kabar? Uuugh...


Aku terkejut kemudian tersenyum penuh haru. Dalam hati aku berbicara sendiri...


Terimakasih Kevin.


"Setelah mendengar kami akan ke Indonesia, dia langsung mengirim paket boneka ini. Kau bisa merogoh sesuatu yang ada di kantong baju boneka itu Fanny." Jawab kak Shishi sembari menyentuh kedua pundakku. Aku mengernyit, ada apa lagi? Apakah itu untuk ku? Aku hanya bergumam dalam hati.


Lalu aku mengikuti arahan kak Shishi dan merogoh kantong baju boneka itu, terdapat sebuah amplop yang terisi sebuah surat di dalam nya. Dengan cepat aku langsung membacanya di hadapan kak Shishi dan kak Rendy.


Hai Fanny. Aku Nia, apa kabar? ehm, ku harap kau akan baik-baik saja dan selalu bahagia. Aku tahu kau akan terkejut dengan surat yang sengaja aku tulis ini untuk mu. Aku tahu, kesalahan ku di masa lalu mungkin tidak akan mudah di maafkan. Tapi kau sungguh wanita yang baik Fanny, tidak heran jika begitu banyak laki-laki hebat pula yang berlomba-lomba untuk mencuri hatimu kembali. Aku tidak tahu kapan waktu akan mempertemukan kita kembali, aku berharap Tuhan sudah merencanakannya di waktu yang tepat. Maafkan aku, aku sungguh minta maaf Fanny. Mari kita berdamai, dan mulai berteman baik. Banyak hal yang ingin aku pelajari wanita sepertimu, sehingga nantinya aku bisa menggeser posisimu yang special di hati suami ku, Kevin. Hihi, ah.. Aku bercanda, tapi memang itu kenyataannya. Konon, doa orang yang sangat baik akan mudah di kabulkan oleh Tuhan. Maka itu, ku mohon sebut nama ku dalam setiap doamu. Agar Tuhan segera memaafkan ku dan menghadirkan malaikat kecil seperti puterimu. Aku ingin membuat Kevin merasa bahagia dan beruntung karena telah memilihku menjadi penggantimu. Haha, lihat. Kevin terus mencubitiku karena aku menggoda kalian, hemm.. baiklah. Sampai disini dulu, ku harap kau selalu bahagia bersama keluarga kecilmu. Nia


Kau tahu bagaimana hatiku sejak tadi membacanya? Tentu, selain sekujur tubuhku terasa gemetaran menahan gemuruh hati ini. Air mata rupanya tak mau kalah untuk mewakilinya, aku senang, aku bahagia, aku terharu, aku bersyukur, aku... Aku...