
POV JOE
Drrrrttt...
Ponsel Joe bergetar pagi buta. Membuatnya sedikit kesal dan dengan mata yang masih terpejam dia mencoba meraih ponselnya dengan meraba-raba di sekitar bantalnya di atas ranjang. Kemudian menerima panggilan tersebut tanpa membuka matanya dahulu.
"Good mor-ning putera mami yang paling tampan, apa kau sudah bangun, My boy?" Ujar seseorang di ujung ponselnya dengan sangat nyaring sehingga Joe langsung menjauhkan ponselnya seketika.
"Mami, pliss.. Bisakah kau tidak selalu berteriak ketika membangunkan ku? Ini masih pagi buta."
"I know, maka dari itu mami berteriak untuk membangunkan mu. Mami akan segera terbang ke Indonesia. Oowh i miss you so much, baby boy."
"Cih, mami. Jangan selalu mengataiku baby boy, my boy, aaakh.. Itu menggelikan. Kapan mami tiba di indonesia? Aku sudah rindu nasi goreng buatan mami."
"Sungguh? Baby boy mami juga merindukan ku? Aaah, senangnya. Mami akan segera menuju bandara bersama Daddy mu yang super lemot ini. Huh,"
"Hah, Daddy terlalu banyak bercinta dengan dokumen di kantor, mami. Hahaha,"
"Betul sekali, kau memang pintar. Ehm, katakan Nak. Apakah kau sudah jujur pada princess cold mu itu, Tama?"
"Mami stop, ayo lah. Jangan lagi memanggil ku Tama, panggil aku Joe. Nama Tama terdengar pasaran, Mami."
"Hey, sejak kecil mami sudah memanggilmu dengan nama itu. Kau merubahnya baru saja setelah kita hidup di LN bukan? Huh, dasar. Cepat katakan bagaimana Pelangi saat ini? Ah, pasti dia sangat cantik jelita seperti mami nya."
"Panggil nama ku Joe dulu, Mami. Lalu aku akan menceritakannya."
"Oh my God, baiklah. Joe, putera mami. Ceritakan,"
"Bukan kah mami sedang sibuk, nafas mami terdengar ngos-ngosan sejak tadi. Mami jarang olah raga lagi ya? Dasar pemalas, mami."
"Huh, mami sedang membereskan semuanya disini. Dasar kau ini, jangan selalu mengalihkan pembicaraan. Atau kau, masih selalu mempermainkan nya?"
"Hahaha, tidak mami. Aku hanya menggodanya saja, dan Pelangi tumbuh bukan hanya cantik jelita saja. Dia juga pintar dan banyak para murid cowok di sekolah yang mengejarnya, itu membuatku semakin ingin menggodanya, Mami."
"Kau nakal,"
"Hah, itu karena sikap Pelangi berubah mami. Sikapnya begitu dingin dan keras, dia selalu cuek dan menolak untuk berteman dengan lawan jenis. Dan hanya aku yang beruntung meski tidak 100%, mami. Kami sudah berteman namun sikapnya masih dingin dan tertutup."
"Oh, Pelangi ku. Ada apa dengan nya? Kenapa dia berubah seperti itu, lalu apakah kau sudah berkunjung kerumah nya untuk memberi salam pada tante Fanny?"
"Hmm.. Mami, rasanya tidak mungkin. Tapi saat mami di indonesia nanti, mami harus janji. Jangan memberitahu nya dulu, saat mami bertemu dengan tante Fanny. Ok mami,"
"Tapi sampai kapan, Nak? Kau ingat betaps dulu kau begitu sedih berpisah dengan nya saat kita akan pindah ke LN, dan kau begitu semangat saat kita sudah akan kembali ke Indonesia. Kau sudah merepotkan Daddy mu juga untuk mencari alamat dimana Pelangi bersekolah, huh dasar. Kau tahu berapa banyak uang yang Daddy mu keluarkan untuk orang-orang itu?"
"Mami, mami. Pliss, mulai deh ngomel terus. Ku dengar dari para sahabat Pelangi, 3 hari lagi ulang tahun nya yang ke 17. Dan ini tepat satu bulan kami berteman, aku ingin mengakui semua itu nanti mami."
"Oh ya, kau harus menyiapkan kado paling special untuk nya."
"Tentu Mami, dan hari ini aku akan bolos sekolah saja. Ok Mami,"
"Hey, kau mulai lagi Nak. Kau ingin Daddy mu marah?"
"Bukan kah mami akan tiba di indonesia hari ini? Aku akan menjemput kalian di bandara nanti. Aku sangat rindu kalian,"
"Aaaah, baik lah. Kali ini mami izinkan kau bolos, hihi. Ya sudah mami tutup panggilannya dulu ya. Sampai ketemu nanti my baby Boy, mmmuach."
"Hah, mami. Hari-hari ku dirumah ini akan lebih bising nantinya dengan suara teriakan mami setiap pagi, oh Tuhan. Tapi, hemm... Aku jadi penasaran, apakah Pelangi akan merasa sepi hari ini tanpa ku di sekolah? Haha. Aku rasa begitu, tapi.. Ah, dia kan cewek dingin."
🌻🌻🌻
Pagi ini Pelangi menjalani aktifitas di sekolah nya seperti biasa. Selalu cuek, dingin dan tanpa senyuman. Berbeda dengan ketiga sahabatnya yang sejak tadi kebingungan dengan terus melihat ke arah pintu kelas, khususnya Jeni. Dia begitu gelisah namun berusaha tetap santai di hadapan para sahabatnya itu.
Kemudian bel masuk kelas berbunyi...
"Aduh, apakah si kumis tipis akan terlambat. Tidak biasanya, kemana dia? Iih, khawatir deh." Ujar Lucas. Namun Pelangi hanya terdiam tanpa ekspresi akan ucapan Lucas.
"Ih, ini sungguh aneh? Kemana Joe tampan ku, apakah dia bolos sekolah?" Ucap Lisa menambahkan.
"Aku sudah menelponnya dan mengirim pesan singkat, tapi dia tidak memberi tanggapan." Kata Jeni kemudian.
"My princess cold, ih.. Kau begitu tenang, apakah Joe tidak menghubungimu?" Tanya Lisa kembali setelah melihat Pelangi tampak tenang tanpa melihat ke arah pintu sedikitpun. Seolah dia memang tidak peduli Joe kemana.
"Cih, memangnya aku punya nomor nya?"
"Ya ampun my Princess cold. Jadi selama ini kau sungguh masih belum memberinya nomor ponselmu?"
"Hemm.." Jawab Pelangi singkat dengan mengankat kedua bahu nya setengah ke atas.
Tampak Lucas dan Lisa menepuk jidatnya bersamaan, dan Jeni menatap Pelangi dengan salah tingkah. Pelangi membalas tatapan mata Jeni dengan lekat, kemudian Jeni tersenyum penuh keraguan.
Dalam hati Pelangi bergumam,
Aku tahu Jeni, dan aku tidak ingin membuatmu kecewa. Ini cinta pertama mu, aku tidak ingin mengusiknya. Maka itu, aku selalu menolak saat Joe meminta nomor ku. Tak peduli apapun alasannya, aku tidak ingin kau berasumsi jika aku bukan sahabat baik yang akan merebut cinta pertamamu.
Hingga jam pelajaran sekolah berakhir, Pelangi dan ketiga sahabatnya segera keluar kelas. Lucas dan Lisa sudah keluar kelas lebih dulu dengan saling bergelut canda tawa riang. Sedang Jeni perlahan menghampiri Pelangi yang masih memasukkan peralatan alat tulisnya.
"Pelangi, aku mau bicara sebentar." ujar Jeni dengan lirih.
"Hem, kenapa Jen? Tentang Joe?" Jawab Pelangi dengan menebaknya langsung, membuat Jeni terkejut dengan kedua mata nya yang melotot.
"Pelangi, aku..."
"Tidak perlu kau jelaskan lagi, Jen. Aku mengerti, berjuanglah untuk cinta pertamamu. Pertahankan, dan kejarlah jika kau sulit meraihnya."
"Tapi Princess Cold, tidak kah kau merasa jika Joe sangat menyukaimu sejak awal?"
Pelangi menyumbingkan bibirnya menatap Jeni.
"Apakah kita baru kenal, Jen? Selama ini aku tidak ingin mencoba pacaran dengan siapapun. Aku belum bisa membuka hati dan siap untuk menjalaninya, aku takut dengan kata berpisah Jen."
"Pelangi..." ucap Jeni dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Kemudian Pelangi beranjak berdiri lalu memeluk tubuh Jeni.
"Kau sahabat ku yang paling terbaik."
Lalu mereka melangkah bersama keluar kelas dengan keceriaan Jeni kembali di balik sifatnya yang sedikit galak dan tomboy.