
Tak berapa lama kemudian, dengan tergesa-gesa Abel memasuki ruangan ku di rawat hingga kakinya tersandung di bagian ujung pintu. Dia gelagapan melihat ku bersama Irgy dan Kevin.
"Wow, upz... Ma,maaf." Ucap Abel kikuk.
Aku hanya menggelengkan kepala dengan tingkahnya itu. Menyadari akan keheningan diantara kami, Abel semakin salah tingkah.
"A,apakah kedatanganku mengganggu obrolan kalian?" Tanya Abel memecah keheningan.
"Tidak, kami hanya tidak tahu lagi harus berkata apa dengan kondisi saat ini." Jawab Irgy.
"Ehm, baiklah. Aku keluar dulu, nanti aku akan datang berkunjung kembali." Ujar Kevin kemudian.
"Tak apa, tak usah memaksa untuk datang kembali Vin. Aku baik-baik saja, kau bisa fokus menjaga Nia saja." Jawab ku berusaha untuk melegakan hatinya.
Kevin hanya menatapku sejenak, lalu melihat ke arah Irgy tanpa memberikan jawaban kemudian berbalik keluar ruangan begitu saja.
"Sayang, ayo giliran mu istrahat. Aku akan menemanimu disini,"
"Ehhem, sepertinya.. Aku, menunggu diluar saja." Ujar Abel kepada kami, dengan cepat berbalik badan keluar ruangan. Melihat hal itu, Irgy tertawa cekikikan.
"Sayang, kau pasti sengaja mengerjainya bukan? Kasihan Abel tau."
"Hahaha, ya ampun. Aku tidak berniat demikian, Tapi tingkahnya sejak tadi lucu sekali, entah bagaimana kau bisa berteman dengan wanita sepertinya." Ujar Irgy sembari mengelus lembut pipiku.
"Aku tahu, sejak awal kami bertemu sebenarnya dia orang yang baik. Hanya saja, dia mudah terpengaruh dan menggila."
"Hemm, baik lah. Semoga kali ini dia benar-benar bisa berteman baik dengan mu. Aku takut dia akan menyakitimu seperti dulu,"
"Jangan khawatir, lagi pula. Aku sudah memiliki seseorang yang jauh lebih baik, yang akan selalu melindungi dan menjagaku sepenuh hati dengan penuh kasih sayang."
"Oh ya, siapa?" Tanya Irgy dengan mengerutkan kedua alisnya, menatap heran padaku.
"Hmm.. Ra-ha-si-a." Jawab ku mengerjainya.
"Dih, jadi udah kuat nih ngajakin duel?"
"Iih, apaan sih yank? Aku sakit gini malah diajakin duel. Duel apa?" Jawab ku dengan wajah di tekuk.
Cup !!!
Sebuah kecupan singkat di bibir mengejutkan ku.
"Terimakasih, selalu mencintaiku sedemikian dalam. Aku akan selalu menjagamu dengan baik, selalu berada di sisimu dalam kondisi dan keadaan apapun itu." Ucap Irgy sembari mengecup keningku kembali dengan lembut.
"Cih, siapa yang bilang begitu? Kau Ge-er yank," Balas ku masih berniat mengerjainya.
"Tuh kan, tatapan mu tidak bisa membohongiku." Jawab Irgy lagi.
"Huh, sudah lah. Aku tidur saja,"
"Tunggu yank, aku lupa menyampaikan sesuatu." Ucap Irgy dengan wajah serius. Membuatku berbalik badan kembali menghadapnya.
"I love you." Bisiknya di telingaku.
Aku tersipu malu akan sikapnya yang terbilang jarang menggombaliku. Dan perlahan aku mulai merasa lelap dam tidurku.
🌻🌻🌻
Entah sudah berapa lama aku terlelap dalam tidur ku, Namun aku merasa seperti sudah terbangun, ku lihat sekeliling aku berada di sebuah ruangan yang tertutup dengan minim cahaya terang.
Perlahan aku memaksakan diri untuk membuka mata lebih terbuka, dan beranjak bangun dari posisiku.
"Ah, dimana Irgy? Kenapa tempat ini begitu sepi dan sedikit gelap?" Gumam ku.
Kemudian aku mencoba turun dari atas ranjang, berjalan dengan tertatih-tatih berpangku pada tiang infus ku menuju pintu untum keluar ruangan.
"Ada apa dengan rumah sakit ini, kenapa begitu sepi?"
Aku masih bertanya-tanya pada diri sendiri sembari melangkah menyusuri lorong diruangan ini.
Tiba-tiba langkah ku bagai terhenti dan tergerak sendiri untuk memasuki ruangan lain. Ku lihat seseorang tengah terbaring diatas ranjang dengan kantong infus pula tergantung di sisinya.
Entah darimana asalnya dorongan ini, kaki ku bagai terus tergerak dengan sendirinya untuk lebih dekat menghampiri seseorang yang tengah terbaring di depan sana.
"Oh Tuhan, Ammar. Apakah benar ini Ammar?"
Aku terkejut bukan main ketika seseorang yang terbaring lemah di hadapan ku ini adalah Ammar. Seseorang yang kini sedang mengancamku dalam ketakutan setelah kepergian istrinya.
Lalu tangan ku kembali tergerak dengan sendirinya, menyentuh wajahnya yang memucat hingga di bibirnya yang selalu terlihat merah merona kini sedikit menghitam.
Tapi pliss kenapa ini tangan ku sulit ku kendalikan. Justru makin mengusap kening Ammar dengan lembut, aku tidak ingin membuatnya terbangun lalu melihatku disini. Aku kembali terkejut saat melihat ada butiran bening yang mengalir dari kedua sisi matanya yang terpejam.
"Aku tahu, kau pasti akan datang menghampiriku kemari." Ucap Ammar dengan suara lirih. Sementara bibirku kembali tergerak untuk menjawab nya.
"Ada apa dengan mu? Kenapa kau terbaring lemah seperti ini Ammar?"
"Aku bahagia kau masih peduli terhadapku Fanny."
Oh Tuhan, Tidak. Apa yang aku ucapkan dan lakukan disini, tapi.. Kenapa tubuhku terasa berat aku kendalikan.
Lalu Ammar beranjak bangun, dia duduk dengan terhuyung-huyung sesekali. Meraih tangan ku, menarik ku untuk duduk di dekatnya. Ini sangat aneh, aku justru luluh dengan menurutinya duduk di dekatnya. Walau hatiku menolak, membantahnya.
Haha, aku tahu. Ini pasti hanya mimpi bukan? Tapi kenapa sentuhan tangannya begitu nyata terasa.
"Ammar. Ini tidak baik, aku sebaiknya tidak disini. Aku harus pergi, Irgy pasti sedang mencariku."
Aku berusaha bangkit dari hadapannya dan segera pergi menuju pintu. Aku tidak ingin berlama-lama disini, aku harus segera pergi.
Namun Ammar menarik jarum infus di tangannya dan turun dari ranjang mencoba menghentikan ku. Lagi-lagi dia berhasil meski dengan posisinya yang terjatuh bersimpuh di hadapanku.
"Fanny, pliss jangan tinggalkan aku. Hidupku sudah hancur Fanny, Aku tidak punya semangat untuk hidup lagi, kecuali hanya dengan mu. Aku ingin kita kembali bersama, pliss.."
Ucapan Ammar membuat hatiku merasakan perih yang entah darimana datangnya. Dia bersimpuh tepat di hadapan ku dalam kondisinya yang lemah itu, dia begitu berantakan. Rambutnya sedikit gondrong, kusam, wajah pucat, tubuhnya lemah meski tetap terlihat tegap berisi.
"Bangun lah, jangan begini. Aku bukan Tuhan, kau sedang sakit saat ini. Dan hidupmu bukan urusan ku lagi Ammar, aku sudah memiliki keluarga yang harus ku bahagiakan."
Ammar bangkit dari posisinya, dengan berdiri tepat di depan ku. Aku mundur selangkah, namun dia menarik pinggangku dengan cepat hingga lebih dekat dengannya. Mata kami saling menatap, aku mencoba berpaling dan meronta.
"Fanny, katakan jika dalam lubuk hatimu kau masih belum melupakan ku. Katakan Fanny, katakan !!!"
"Tidak, aku sudah melupakan mu Ammar. Aku sudah melupakan semua masa lalu kita."
"Oh ya, lalu bagaimana dengan ini hah?"
Ammar mencoba memagut bibirku, aku mendorongnya dengan keras. Aku menolak untuk bersentuhan bibir dengan nya.
"Umm, Lepaskan aku Ammar. Kau brengsek !!!"
"Lalu bagaimana dengan ini, ini dan ini."
Lagi-lagi Ammar mencium tengkuk leherku, bibirnya mulai bergerilya seakan berusaha meninggalkan bekas di sekujur tubuhku.
"Ammar lepaskan, tolong... Perawat, dokter, suster, atau siapapun yang diluar."
Aku berteriak mencoba meminta pertolongan tapi justru suaraku begitu dalam terasa mencekik leherku sendiri. Aku masih berusaha mendorong keras tubuh Ammar yang berusaha menyentuhku.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi Fanny, sampai kapan ku kau hanya akan menjadi milikku. Aku ingin kita seperti dulu, melakukan ini atas dasar suka sama suka. Tapi kenapa kau begitu munafik kali ini hah?"
Ammar terus menghujaniku dengan sentuhan kasar, hingga tangannya berusaha menyeruak untuk menyentuh organ intimku. Kenapa tubuh ini terasa begitu lemah, dan Ammar begitu kuat dalam kondisinya yang kini sedang tidak baik.
Air mata ku terus mengalir deras hingga sesak ku rasa di dada.
Irgy, tolong aku... Aku mohon datang lah.
Tuhan, ada apa dengan ini semua? Kenapa tak ada satupun yang datang untuk menolongku.
Ammar berusaha membuka paksa seragam pasien ku yang ku kenakan sejak tadi. Aku terus berteriak tapi dia mengabaikan ku, aku terus memberontak memohon dan berharap sesuatu bisa ku lakukan.
Dengan sekuat tenaga aku berusaha berlari menuju arah pintu, namun langkahku begitu berat. Arah pintu terasa jauh...
Oh Tuhan, kenapa.. Ada apa ini? Tolong selamatkan aku.
Berkali-kali aku bergumam memohon pertolongan kepada Tuhan, namun Ammar kian semakin menggila. Dia berusaha menindihku di atas ranjang, aku berusaha mencari-cari sesuatu di dekatku. Berusaha meraih sebuah benda untuk melindungiku.
Hingga akhirnya tangaku menyentuh sebuah nampan di atas meja, ku hantamkan tepat di kepala Ammar. Dengan wajah meringis Ammar beranjak dari posisinya yang menyerangku sejak tadi.
Kemudian aku kembali mencoba berlari, menjauh dari hadapan Ammar. Namun dengan sigap, entah darimana dia mendapatkan benda itu. Ammar menghuyungkan sebuah benda tajam tepat di depan ku. Dia mengcengkram erat benda itu.
"Baiklah Fanny, jika kau menolak ku lagi kali ini. Kau akan melihatku membunuh diriku sendiri, atau.. Bagaimana jika kita mati berdua saja disini hah? Lalu di alam sana. Kita akan kembali bersama kan?"
"Jangan gila Ammar, jangan gila. Lepaskan benda itu, jangan coba-coba. Jangan, ku mohon. Biarkan aku keluar dari sini, dan aku... Aku akan memaafkan mu. Aku janji," Jawab ku ketakutan saat Ammar mencoba menciumi benda tajam itu di depan ku.
"Kenapa Fanny, kau takut mati dengan ku?"
"Ammar, ku mohon. Jangan lakukan apapun, sadarlah."
Tanpa mendengarkan ucapan ku, Ammar meraih tangan ku dengan cepat dan mendorongkannya benda tersebut tepat mengenai di bagian dadanya hingga menusuk begitu dalam. Darah nya begitu segar mengalir membasahi seluruh tubuh dan tangan ku berlumuran darah.
Ammar terkapar begitu saja tepat di depan ku.
"Ammaaaaaaar... Tidak, Tiidaaaaakkk."