Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 169



"Sayang, kita mau kemana lagi? Arah kerumah kita sudah lewat." Tanya ku kebingungan ketika ku sadari Irgy mengemudi mobil di jalan yang berbeda, melewati yang seharusnya memasuki arah rumah kami.


"Kita harus beritahu ini pada keluarga ku sayang, mereka pasti senang mendengarnya."


"Ehm, baik lah." Jawab ku tanpa membantah. Sedangkan Pelangi sibuk bermain di kursi belakang.


Sampai akhirnya kami memasuki halaman mewah yang selalu membuatku takut lebih dulu sebelum bertemu dengan penghuni di dalam nya meskipun aku sudah bertahun-tahun menjadi bagian di rumah ini.


Kedatangan kami di sambut oleh papa dan mama Irgy dengan senyuman ramah dan sikap hangat mereka, yang kemudian merangkul gemas Pelangi. Tampak jelas sangat berbeda sikap Pelangi terhadap mereka, ketika Pelangi bertemu dengan ibu ku Ia begitu manja dan lebih ceria berlagak konyol.


Dirumah ini juga ada Ira beserta suami dan puteri si mata wayangnya yang menyambutku seperti hal nya biasa, dia memang selalu dingin dan cuek.


"Cucu opa, sini gendong opa."


"Jangan, gendong oma aja. Oma juga rindu cucu oma yang cantik ini."


Mereka tampak saling merebut untuk menggendong Pelangi. Ku lirik ekspresi wajah Ira yang menatap mereka dengan sedikit cemberut.


"Cantika, apa kabar nak?" Tanya ku menyapa Cantika.


Ia terdiam, mengabaikan sapaan ku padanya. Walau begitu tidak ada satupun yang menegurnya, Aku sudah biasa dengan hal ini. Justru Cantika kini berebut untuk minta di gendong oleh papa Irgy.


"Opa, gendong."


"Cantikaaa, kan sudah besar. Ngalah dulu ya sebagai kakak, kasihan adik Pelangi." Ujar mama Irgy.


"Pelangi sudah besar oma, Pelangi tidak mau di gendong lagi." Jawab Pelangi.


Oh malaikat kecilku, kau sangat pintar Nak...


Aku bergumam dalam hati.


"Waaah, Pelangi sudah pintar ya."


"Tentu Ma, Pa. Pelangi begitu pintar karena sebentar lagi akan memiliki dua adik sekaligus." Jawab Irgy kemudian.


"Apa?" Jawab mereka serentak seolah terkejut dan tidak percaya hal ini.


"Kenapa, ada apa dengan kalian? Bukan kah ini berita menggembirakan? Aku bahkan sangat bahagia saat ini, itu sebabnya aku datang kemari jauh-jauh adalah untuk memberikan kabar bahagia ini." Ucap Irgy lagi.


"Tentu saja kami bahagia juga, tapi apakah kalian sungguh telah mengecek kondisi kehamilan Fanny kali ini?" Tanya mama Irgy kemudian.


"Apa maksud mama, dia sehat lihat bahkan dia jauh lebih terlihat sehat. Haha, iya kan?"


Ih, keterlaluan Irgy. Bisa-bisanya dia menertawakan perubahan tubuhku ini di depan mama dan papa nya.


"Ya jelas lah kak, kami kasihan sama kakak. Bukannya kehamilan pertama kak Fanny sudah mempersulitmu, bagaimana jika terjadi hal yang sama lagi nanti? Ih, membayangkannya saja aku merinding." Jawab Ira sembari meliuk-liukkan tubuhnya.


"Apa kau berharap hal itu terjadi kembali padaku Ira?" Tanya ku menyela, membuat papa dan mama Irgy terhentak melihat ke arah ku.


"Ih, kakak. Aku kan hanya peduli saja pada kak Irgy. Karena dia begitu mencintaimu sampau gila,"


"Ira !!!" Panggil mama Irgy membentaknya. Dia terdiam menunddukkan wajah sejenak.


"Ku pikir kalian akan merasakan hal yang sama sepertiku, tapi nyatanya... Kalian..."


"Tidak pa, aku tidak akan pernah membiarkan Pelangi tinggal jauh dari ku. Aku bisa mengurusnya meski nantinya aku harus mengurus dua bayi juga sekaligus." Jawab ku membantah.


"Betul kata Fanny Pa, Ma. Kami tidak akan pernah membiarkan Pelangi di asuh oleh siapapun meski Fanny dalam keadaan hamil. Dan aku sudah menantikan ini begitu lama."


"Aku saja belum mau hamil, kakak malah mendahuluinya. Apa kedatangan kalian mau pamer pada ku?"


"Ya Tuhan Ira, kenapa kau berpikir begitu buruk pada kakak? Seharusnya kau juga merasakan kebahagiaan yang kakak rasakan ini."


"Cih, selalu aja Ira tidak pernah di bela dan di dengarkan."


"Sudah sudah, jangan saling menyalahkan lagi. Kalian pasti lelah, Fanny. Ayo duduk dulu nak, kau mau mama siapkan apa?"


"E,eh.. Fanny, ingin jus mangga saja ma." Jawab ku kikuk, ku lirik sejenak Ira melempar tatapan tajam pada Irgy. Seraya masih berdengus kesal.


Kami mulai saling berbincang ringan di ruang tamu. Sementara Pelangi bermain dengan Cantika meski mereka jarang saling menyapa. Ira menghilang dari obrolan kami, hanya suaminya saja yang ikut serta meski tak banyak bicara.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara tangisan Pelangi yang begitu histeris. Seketika membuatku berlari di susul oleh Irgy untuk menghampiri Pelangi di ruang bermain.


"Ada apa nak? Kenapa kau begitu histeris sayang?"


"Mama, huwwaaaaa. Tante Rara bilang mama dan papa tidak sayang Pelangi lagi, Pelangi tidak mau punya adik. Hikzt..."


Aku dan Irgy terkejut mendengarnya berkata demikian. Seketika Aku memeluk Pelangi sangat erat, Pelangi tidak pernah menangis sehisteris ini sebelumnya.


"Ira, apa yang kau katakan pada Pelangi hah?" Bentak Irgy pada Ira yang sejak tadi menertawakan Pelangi di susul oleh Cantika, puterinya.


"Hahaha, ayo lah kak. Aku hanya mengerjainya saja, ternyata anak kalian begitu cengeng."


"Ira stop, berhenti terus menilai Pelangi semau mu sendiri. Dia masih terlalu kecil kau berikan candaan untuk meracuni otaknya. Bagaimana jika aku memperlakukan Cantika hal yang sama hah?"


"Kakak... Lihat istrimu ini, dia mengancam keponakan mu, puteri ku satu-satunya." Jawab nya mengadukan ku pada Irgy.


"Kau memang sungguh keterlaluan Ira, bagaimana bisa kau berbuat demikian?"


"Aku kan hanya bercanda kak," Jawab Ira membantah.


" Tapi candaan mu keterlaluan Ira,"


"Ya ya baik lah, aku minta maaf. Ayo Cantika, kita main di halaman belakang saja bareng papi. Disini tidak asyik," Jawab Ira mengajak Cantika yang menurut saja ajakan Ira.


"Weeeeekkkk..." Ujar Cantika menjulurkan lidahnya pada Pelangi. Membuat Pelangi semakin teriak menangis.


"Sudah, sudah. Cup cup cup, jangan menangis lagi. Tante Ira hanya bercanda saja Nak, jangan mempercayainya ya." Ucap Irgy sembari memeluk Pelangi dan mencoba menenangkannya.


"Ku pikir adik mu akan berubah sungguh baik seperti saat itu. Tapi justru lebih berani meracuni pikiran anak kita, aku tidak bisa bisa terima itu sayang."


"Maafkan aku istriku. Jangan diambil hati, Sifat Ira memang selalu begitu karena kami selalu memanjakannya sejak kecil, itu adalah kesalahan kami yang tidak menyangka dia akan bersikap begini."


"Tapi walau begitu aku gak bisa diam lagi dong, jika sudah menyangkut hal anak kita Pelangi."


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku, jangan di pikirin lagi ya, kau tidak boleh stres dulu."


Aku hanya diam akan ucapan Irgy sejak tadi yang selalu meminta maaf. Meski itu bukan mutlak kesalahannya, aku hampir tidak percaya jika sifat Ira bisa berubah kembali setelah dia kembali lagi kerumah ini.