Because, I Love You

Because, I Love You
#62



Beni dan Kirana pun saling memandang merasa bingung. Bukannya tadi Olivia mengatakan kalau dia datang kesini karena Rendy menelponnya.


Apa Olivia sedang membohonginya atau membodohinya agar Kirana merasa cemburu dan sakit hati lalu pergi?


Tapi bahkan Rendy terlihat terkejut saat melihat Olivia ada disini.


"Honey, bukannya kamu tadi yang menelponku? Aku punya bukti kalo kamu telpon aku. Kamu bilang kamu butuh bantuan aku dan minta aku datang! Dan sekarang kenapa kamu tanya kenapa aku disini? Apa karena ada dia, jadi kamu takut nyakitin perasaan dia? Kenapa kamu nggak bilang jujur aja ke dia kalau kamu memang masih cinta sama aku dan kamu...


"STOP! Cukup Oliv!" Bentak Rendy sambil menutup telinganya karena mendengar Olivia yang banyak bicara.


Semua pun terkejut dan menatap Rendy.


"Honey..."


"Aku bilang cukup! Berhenti panggil aku honey! Dan denger Oliv! Aku nggak pernah telpon kamu apalagi membutuhkan bantuan dari kamu!" Ucap Rendy dengan keras dan tegas.


"Sebaiknya kalian semua pergi dari sini! Bikin tambah pusing aja!" Lanjutnya lalu Rendy berbalik dan tiba-tiba tubuh tingginya merasa lemas, pandangannya kabur dan kepalanya semakin pusing.


Tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh.


"Bos!"


"Mas Rendy!"


"Ren!"


Mereka pun secara bersamaan memanggil Rendy dan Kirana lebih dulu berlari lalu memeluk lengan Rendy kemudian disusul dengan Olivia yang memeluk lengan Rendy satunya.


Beni yang melihat kedua wanita ini hanya berdiri diam merasa sedang menonton drama saja.


Rendy menyingkirkan tangan Olivia. Lalu menoleh menatap Kirana dan membiarkan Kirana tetap memeluk lengannya. "Ayo Mas, aku bantu kamu masuk kekamar." Ucap Kirana dengan tenang meski hatinya merasa kacau tapi ia tetap berusaha untuk tetap tenang.


Rendy sedikit mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju kamar.


"Tunggu!" Olivia menghentikan mereka karena merasa tidak terima.


"Ren! Kamu tadi nyuruh kita semua pergi kan? Kenapa kamu malah biarin dia sih?" Tanya Olivia dengan marah.


"Apa kamu lupa kalau dia pacarku? Sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah muncul didepanku lagi." Ucap Rendy dengan pelan tapi tegas karena saat ini, ia sedang merasa kurang baik.


Tanpa menghiraukan Olivia lagi, Rendy meraih tangan Kirana yang memegangi lengannya lalu ia merangkulnya dan mengajaknya masuk kedalam kamar.


Olivia mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan wajahnya. Ia sangat marah dan tidak terima karena merasa dipermainkan oleh Rendy.


Tadi Rendy memang menelponnya. Lebih jelasnya, sebenarnya Rendy ingin menelpon Kirana. Karena tadi ia masih setengah sadar ia tidak memperhatikan nama dan nomor telepon dikontaknya dan salah menelpon Olivia. Hingga terjadilah kesalah pahaman ini.


Beni tersenyum sinis pada Olivia. "Sebaiknya mbak Olivia pergi dari sini atau memang mau melihat kemesraan Bos dengan pacarnya didalam?" Ucap Beni sengaja ingin mengejek Olivia lalu berbalik dan pergi.


Olivia mendengus kesal dan juga sangat marah. "Awas kamu!" Geramnya kemudian juga segera pergi.


Rendy duduk bersandar di ranjangnya. Ia terus menatap Kirana yang duduk didepannya membuat Kirana menjadi salah tingkah.


"Emm..apa kamu..udah..minum obat?" Tanya Kirana dengan tergagap dan sedikit menundukkan wajahnya.


"Aku baru tau kalo ternyata kamu gagap." Ucap Rendy tidak menjawab pertanyaan Kirana malah mengejeknya.


Kirana langsung melotot dan mengangkat wajahnya menatap Rendy. "Sebaiknya aku pulang aja! Kamu emang nyebelin!" Ucap Kirana manjadi cepat karena merasa sangat kesal.


"Kamunya nyebelin! Aku tanya baik-baik malah diledekin!" Jawab Kirana sambil mendengus kesal dan cemberut.


"Udah sini duduk. Aku nggak butuh obat. Aku butuh kamu." Ucap Rendy sambil menarik tangan Kirana dan Kirana pun duduk kembali dengan hati yang merasa berbunga-bunga karena Rendy mengatakan kalau dia butuh dirinya.


Kirana memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Apa Beni yang nyuruh kamu kesini?" Tanya Rendy dengan wajah serius.


"Iya. Dia khawatir sama kamu tapi bingun mau ngapain karena katanya kamu nggak mau dianter ke dokter." Jawab Kirana sambil menoleh menatapnya.


"Kamu nggak khawatir sama aku?" Tanya Rendy lagi sambil sedikit menunduk mendekat pada Kirana dan Kirana kembali menjadi salah tingkah.


"A aku.." Kirana menghela nafasnya lalu bangkit berdiri karena merasa tidak tahan ditatap oleh Rendy sedekat ini. "Aku haus! Boleh minta minum?" Lanjutnya dengan sangat gugup membuat Rendy ingin tertawa.


Entah mengapa ia semakin tertarik dengan Kirana dan setiap kali bersamanya, ingin sekali selalu menggodanya. Rendy merasa lebih nyaman jika dekat dengan Kirana.


Hari ini, ia sengaja cuek dan tidak peduli dengan Kirana karena ia hanya ingin memastikan perasaannya terhadap Kirana.


Bagaimana rasanya saat tidak bersama dengan Kirana? Bagaimana rasanya saat acuh dan tidak peduli dengannya?


Dan ternyata Rendy semakin merasa kacau hingga ia semakin pusing dibuatnya karena pikirannya terus tertuju pada Kirana. Sepertinya memang benar kalau Rendy sudah jatuh cinta kepada Kirana.


"Ambil aja." Jawab Rendy yang tau kegugupan Kirana dan membiarkannya pergi mengambil minum.


Kirana segera keluar dari kamar Rendy dan langsung mencari dapur untuk mengambil minum. Ia membuka kulkas, mengambil sebotol air mineral, membukanya dan langsung meneguknya hingga setengah botol.


Nafas Kirana terengah-engah seperti habis lari maraton. Ia mengusap bibirnya dan mendesis karena luka akibat gigitan Rendy dibibirnya masih terasa perih.


"Apa masih sakit?"


"Hah?!" Pekik Kirana karena ia sangat terkejut dan langsung berbalik. Ternyata Rendy sudah berdiri dibelakangnya.


"Emm..Mas, kamu ngagetin aja." Lanjutnya dengan gugup.


"Sini aku liat." Rendy memegang pundak Kirana lalu sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya untuk melihat luka dibibir Kirana.


Sontak, Kirana memundurkan kepalanya karena wajah Rendy terlalu dekat didepan wajahnya. "Eng..nggak usah. Udah nggak sakit kok." Ucap Kirana mengelak.


"Diem dulu. Aku cuma mau liat sebentar." Ucap Rendy sambil memegangi kepala Kirana.


Kirana pun memejamkan matanya rapat-rapat karena ia tidak bisa melihat wajah tampan Rendy sedekat ini. Jantungnya sudah berdegup sangat kencang.


Aroma harum dari Rendy membuatnya terbuai.


Rendy tersenyum ketika melihat ekspresi Kirana. Ia menyentuh bibir bawah Kirana yang masih terluka. Rendy masih selalu mengingat ketika ia mencium bibir ini. Ia adalah laki-laki pertama yang sudah menyentuh bibir ini dan juga melukainya.


Rasa bersalah dan penyesalan kembali hinggap dibenaknya. Ingin sekali Rendy mengulang kembali. Mencium bibir manis Kirana. Tapi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Tanpa sadar, Rendy semakin mendekatkan wajahnya pada Kirana. Kirana merasakan hangatnya nafas Rendy yang semakin mendekat dan 'CUP' bibir Rendy menempel dibibir Kirana.


Kirana sangat terkejut dan ia membuka matanya lalu terbelalak. Rendy menjauhkan kembali wajahnya dan menatap lekat Kirana. Ia melihat perubahan wajah Kirana.


Kirana terlihat terkejut. Hanya itu yang dilihat dimata Kirana. Tidak terlihat ada kemarahan dan kekecewaan dimatanya.


................