
Siang harinya.
Seperti biasa, Yolanda, Rossa dan Kirana pergi bersama untuk makan siang. Mereka tidak lagi makan siang dikantin perusahaan demi kenyamanan Kirana.
Karena kedua teman baik Kirana yang juga merasa risih sekaligus jebgkel selalu mendengar para karyawan yang tak henti-hentinya membicarakan Kirana.
Mereka pun memilih Cafe yang ada diseberang gedung Pradipta Grup sebagai tempat istirahat juga makan siang mereka sekalian cuci mata. Karena Cafe tersebut cukup ramai pengunjung. Yang membuat Rossa dan Yolanda bersemangat ketika jam makan siang tiba untuk pergi kesana karena barista di Cafe itu sangat tampan.
"Hai. Kopi seperti biasa?" Tanya barista dengan senyum ramah kepada ketiga perempuan cantik didepannya.
"Wah, belum juga pesen udah tau aja kamu, Ken!" Seru Rossa dengan senyum lebar pada Keenan laki-laki tampan berwajah blesteran yang merupakan barista di Cafe ini.
"Tau dong. Kalian merupakan pelanggan setia disini. Ada lagi pesanan lain? Spageti, sandwich, kentang goreng?"
"Wah Keenan, kamu begitu hafal dengan pesanan kami." Ucap Yolanda dan Keenan hanya terkekeh pelan.
"Kalau gitu aku tambah spagetti bolognese aja." Sahut Rossa dengan sumringah. Keenan hanya mengangguk dengan terus tersenyum.
"Aku sandwich seperti biasa." Lanjut Yolanda.
Keenan kemudian menatap kearah Kirana yang hanya diam saja dengan wajah tanpa ekspresi. Tanpa mereka sadari kalau tatapan Keenan terlihat berneda saat menatap Kirana.
Tatapannya menunjukkan kalau dirinya tertarik dan terpesona dengan Kirana yang terlihat cantik dan manis dari dekat. Keenan juga merasa kalau Kirana terlihat berbeda dengan wanita-wanita lain yang pernah dia kenal.
Rossa dan Yolanda pun menoleh kearah Kirana lalu menepuk pelan lengannya. "Ki, kamu mau pesan makanan juga nggak?" Tanya Rossa.
"Oh, aku mau potato wedges sama matcha panna cotta." Jawab Kirana.
"OK ladies, silahkan duduk! Pesanan segera diantar." Ucap Keenan dengan ramah.
Yolanda, Rossa dan Kirana pun segera mencari tempat duduk. Mereka duduk didekat jendela dengan kaca besar.
"Ki, aku dengar Pak Rendy sakit dan pingsan didalam ruangannya tadi. Sampai ada dokter yang datang memeriksanya." Ucap Rossa memberitau.
"Serius kamu Ros?" Tanya Yolanda meyakinkan.
Sedangkan Kirana masih terdiam. Tapi, hatinya merasa terkejut dan mengkhawatirkan kondisi Rendy. Meski dia merasa sangat kecewa dan tidak ingin lagi mengingat Rendy, nyatanya diam-diam Kirana mengkhawatirkan laki-laki yang telah memporak porandakan hatinya hingga sedemikian rupa.
"Serius! Tadi pas aku mau ketoilet, kebetulan aku lihat Bu Tania jalan sama seorang dokter sambil memberitau keadaan Pak Rendy yang katanya mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya dan tiba-tiba pingsan!" Ucap Rossa dengan menggebu.
"Astaga. Kasihan banget Pak Rendy. Moga aja Pak Rendy nggak punya penyakit yang serius. Kan ngeri kalau seandainya Pak Rendy yang super ganteng tiba-tiba dikabarkan meninggal karena terkena kanker otak dan ......" 'BRAK!'
Tiba-tiba Kirana menggebrak meja hingga Yolanda mengatupkan bibirnya merasa terkejut. Begitu juga dengan Rossa. Tidak hanya mereka berdua yang terkejut. Beberapa orang yang duduk didekat meja mereka pun langsung memperhatikan kearah mereka.
Karena gebrakan Kirana cukup keras hingga menarik perhatian semua orang didalam Cafe termasuk Keenan yang juga langsung menatap heran kearah meja Kirana.
Kirana sudah tidak tahan lagi selalu mendengar orang-orang disekitarnya yang terus membicarakan Rendy. Dan lebih parahnya, ucapan Yolanda membuat mata Kirana langsung terasa memanas menahan air matanya yang ingin keluar.
"Ki, sorry. Aku ...."
"Aku yang minta maaf." Sahut Kirana memotong ucapan Yolanda Yang langsung tersadar atas ucapannya barusan.
Kirana kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Cafe begitu saja dengan langkah cepat.
"Kirana!" Teriak Yolanda sambil bangkit berdiri saat melihat Kirana pergi.
"Yol!" Rossa menahan tangan Yolanda yang ingin mengejar Kirana. "Biarin aja dulu. Mungkin Kirana butuh sendiri untuk nenangin dirinya sendiri. Sebaiknya, kita makan dulu. Setelah itu baru kita cari Kirana. Aku yakin, dia pasti udah balik ke kantor."
"Mas, yang ini tolong dibungkus aja ya!" Pinta Rossa dengan sopan kepada pelayan yang mengantar pesanan mereka.
...
Kirana kembali masuk ke gedung Pradipta Group. Dia berjalan menuju lift ingin naik ke lantai dimana ruangannya berada.
Saat pintu lift terbuka dan dia ingin masuk, kebetulan Beni keluar dari lift tersebut dan langsung menunjukkan wajah sumringahnya. Membuat Kirana menatap heran.
"Pak Beni." Sapa Kirana sambil mengangguk sopan.
"Mbak Kirana, ayo ikut aku! Kita naik lift ekslusif aja!" Serunya sambil menarik pergelangan tangan Kirana. Hal itu langsung menarik perhatian semua orang yang berada disana.
"Eh Pak Beni, mau kemana?" Pekik Kirana yang merasa terkejut dengan sikap Beni karena ini pertama kalinya melihat Beni menjadi aneh seperti ini.
"Nanti kamu juga akan tau sendiri." Jawab Beni masik terus menarik Kirana hingga masuk kedalam lift ekslusif.
Kirana memperhatikan Beni menekan angka lantai paling atas. Tidak perlu bertanya lagi, Kirana tau disana hanya ada ruangan Pak Presiden Direktur. Jantungnya berdegup kencang saat pintu lift terbuka dan mereka sampai dilantai paling atas gedung Pradipta Grup.
"Ayo Mbak!" Beni kembali menarik tangan Kirana hingga mereka berjalan keluar dari dalam lift.
Tapi, Kirana langsung menghempaskan tangannya hingga terlepas dari genggaman Beni.
Langkah mereka pun terhenti.
"Maaf Pak, aku masih banyak kerjaan. Sebaiknya aku kembali ke ruanganku aja." Ucap Kirana berusaha tetap tenang meski jantungnya tidak bisa berdetak dengan tenang.
Sudah lama sekali dia tidak menginjakkan kakinya dilantai ini. Semenjak pernikahannya dengan Rendy batal dan semenjak Rendy mengalami kecelakaan.
Hingga saat ini, dia masih belum melihat Rendy. Saat ini, dia merasa belum siap untuk bertemu dengan laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta juga membuatnya merasakan sakit hati karena kecewa.
Apalagi, tadi pagi Rendy datang ke kantornya bersama Olivia, mantan kekasihnya yang kini berstatus menjadi calon tunangannya.
Bahkan, Rendy terang-terangan memperkenalkan Olivia kepada semua karyawannya sebagai calon tunangannya.
Lalu, bagaimana dengan status Kirana?
Memikirkan ini, Kirana pun tersenyum merasa miris. Dia hanyalah orang yang dimanfaatkan dan dipermainkan oleh laki-laki brengsek macam Rendy.
"Mbak, sebentar aja. Ini perintah dari Bos Rendy." Ucap Beni dengan wajah yang berubah menjadi serius.
"Memangnya ada urusan apa dia minta aku menemuinya? Bahkan selama ini dia nggak pernah kirim kabar ke aku sampai akhirnya dia kembali membuat heboh semua orang, datang bersama mantan pacarnya! Ups salah, maksudku calon tunangannya!" Ucap Kirana dengan emosi.
Beni terkejut mendengarnya. "Mbak, ini salah paham. Tolong sekarang ikut dulu ke ruangan Bos. Aku yakin kamu pasti akan ngerti."
"Ngerti? Ngerti apa? Ngerti kalau ternyata dia mau kasih tau aku acara pertunangan dia sama mantannya itu? Udah deh Pak Ben, aku udah capek! Aku udah cukup sakit hati dan kecewa! Aku udah berusaha buat lupain semua ini, terutama semua tentang Mas Rendy! Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi atau aku bakal resign dari perusahaan ini!" Ucap Kirana dengan menggebu karena dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit didalam hatinya.
Tanpa sadar, air matanya pun jatuh menetes dipipinya.
Beni terpaku mendengar semua ucapan Kirana yang sedang mengungkapkan isi hatinya.
Kirana mengusap dengan cepat air matanya kemudian berbalik dan melangkah menuju lift. Saat pintu lift terbuka, Kirana menghentikan langkahnya karena mendengar ucapan Beni.
"Bos Rendy mengalami amnesia, Mbak! Dia hanya mengingat masa lalunya aja yang artinya dia hanya ingat disaat dia sedang menjalin hubungan dengan Olivia!" Seru Beni dengan keras membuat Kirana menghentikan langkahnya.
................