
Hari ke dua liburan...
Rasanya belum juga puas menikmati semua makanan khas di kota ini, belum juga merasa lelah dengan segala gaya kami ketika berfoto keluarga yang tidak ada matinya. Kak Rendy dan Irgy terkadang hanya bisa menghela nafas panjang ketika melihat ku dan kakak ipar seakan tidak pernah kelelahan walau kami tengah hamil.
"Ma, Pelangi capek ma foto aja daritadi." Ucap Pelangi mulai mengeluh.
"Hey, ini liburan mu Nak. Ayo lah nikmati dengan senang hati," Ujar ku.
"Ke mall aja ma, dan ketemu Lucky."
"Sayang, kenapa kau begitu senang berteman dengan anak itu? Apa karena Lucky tampan? Hihi.." Jawab kak Shishi menggodanya.
"Lucky suka melindungi Pelangi aunty. Dia jelek,"
"Sungguh? Hmm.. Menurut mama Lucky justru sangat tampan. Hihi," Jawabku mencoba menggodanya lagi.
"Papa paling ganteng."
"Upz, jawaban yang smart sayang ku." Ujar kak Shishi.
"Cih, dasar. Anak dan papa sama saja," jawabku mengernyitkan batang hidung.
"Sayang," Panggil ku pada Irgy yang berada sedikit jauh dari kami bersama kak Rendy.
Kemudian Irgy menghampiri di susul oleh kak Rendy.
"Aku ingin mencoba makan kudapan di sebuah restoran ala-ala jepang gitu, hihi." Ucapku pada Irgy.
"Boleh, ayo kakak ingin mencoba nya lagi. Meski sebelumnya sudah sering sih, hehe. Iya kan honey?" Jawab kak Rendy dengan antusias memeluk istrinya.
"Ya ya, baiklah. Ayo kita akan mencarinya dahulu di sekitaran sini." Jawab Irgy dengan tersenyum hangat.
"Pa, ma. Kita mau kemana?" Tanya Pelangi.
"Ehm, kita akan mencoba makanan yang enak lagi. Mau?"
"Yeay yeay, mau Ma. Pelangi juga lapar," Jawabnya dengan riang gembira. Wajahnya yang sejak tadi di tekuk lesu menjadi ceria kembali.
Lalu kemudian kami berjalan-jalan sekitaran tempat kami berkunjung sejak tadi. Tak berapa lama kemudian kami mendapat perunjuk tempat yang bagus dan cocok sesuai yang kami inginkan. Namun tempat itu cukup mahal dan fantastic, hanya orang-orang berkelas dan memiliki banyak uang yang mampu memasuki tempat itu.
"Tidak jadi. Kita bisa makan di restoran biasa saja," Jawab ku dengan ragu. Menghentikan langkah mereka yang tidak tanggung-tanggung dengan harga yang di jelaskan oleh seseorang tadi.
"Ada apa? Kenapa sayang? Apa kau berubah keinginan lagi?" Tanya Irgy dengan lembut padaku, sembari menyentuh bagian perutku.
"Tidak sayang, aku hanya... Tidak ingin menghambur-hamburkan uang saja. Hanya untuk menuruti keinginan ku ini,"
"Oh astaga. Sayang, apa yang kau ucapkan ini? Sudah lah, jangan memikirkan hal yang konyol seperti ini. Lagi pula aku tidak ingin membuat mereka sedih dan mengumpatku di dalam perutmu."
"Hahaha, apaan sih.."
Jawaban Irgy memang konyol.
"Benar apa kata Irgy, ayo.. Ini bukan hanya untuk menyenangkan liburan Pelangi. Tapi juga untuk mu, sebagai ungkapan rasa bahagia karena Irgy akan segera menjadi papa lagi. Wah, kakak jadi terharu." Ujar kak Rendy berusaha merayu dan meyakinkan ku.
"Ayo ma, Pelangi lapaar."
"Ehm, baiklah baiklah. Ayo kita makan," Jawabku sembari melanjutkan jalan dan menggandeng tangan Pelangi dalam genggaman.
🌻🌻🌻
Ini sungguh membuatku merasa gemas setelah tiba di tempat yang ku inginkan. Aku dan yang lainnya duduk di lantai yang beralaskan bantal, kemudian ada sebuah meja besar di depanku yang kini sudah tersedia beberapa macam kudapan yang tampilannya sangat mewah. Pantas saja, di bandrol dengan harga yang menguras kantong. Dari segi desain ruangan ini juga makanannya sangat unik nan bersih, sepertinya ini tempat memang selalu menjadi tongkrongan orang-orang kaya atau pengunjung wisatawan yang berlibur disini.
"Sayang, apa kau suka makanan ini?" Tanya ku pada Pelangi.
"Suka banget ma, enak." Jawab Pelangi dengan terus melahap makanan di depannya.
"Istriku, makan yang banyak." Ucap Irgy dengan menyuapiku makanan lainnya.
"Uuuh, nanti aku semakin gendut suami ku. Apa kau tidak malu?"
"Untuk apa malu, walau bagaimana pun kau tetap istri yang paling ku cintai." Jawab Irgy tanpa ragu dan malu walau diantara kami tengah duduk kak Rendy beserta istrinya yang sejak tadi sudah begitu lahap.
"Ehhem, apa-apaan kalian ini? Kalian menjadikan kami seperti penonton drama romance saja. Bukan kah ini liburan keluarga, tapi kalian menikmatinya hanya berdua saja." Jawab kak Rendy dengan berdehem, menggoda kami dengan berpura-pura kesal.
"Huh, biar saja. Dulu kan kakak juga memperlakukan Fanny seperti kambing congek setiap kali kalian bermesraan tidak mengenal waktu dan tempat."
"Oooh jadi balas dendam nih sama kakak, begitu?"
"Bukan kak, tepatnya lagi menyadarkan kakak jika kakak kini sudah semakin tua maka dari itu harus tetap romantis pada pasangan."
"Eeeh, dasar kau ini." Kak Rendy mengancamku dengan ocehan dan omelan khasnya yang membuat kami tertawa riang.
"Owh my God, this is not good." Ucap kak Rendy tiba-tiba melongo. Membuat kami terhenti dari gelak tawa. Di ruangan ini hanya 10 meja yang di tempati oleh beberapa sekelompok orang, yang tak kalah ramainya dengan candaan dan keseruan kami sejak tadi.
Aku mengernyit saat kak Rendy berubah ekspresi di wajahnya. Dan melihat ke arah mata kak Rendy memandang tanpa berkedip sedikitpun.
"Lucky," Sontak Pelangi berdiri dari duduknya menyebut nama Lucky.
Sedangkan diriku, rasanya hampir tersedak makanan yang sejak tadi ku kunyah tanpa henti. Melihat sosok anak laki-laki yang ku kagumi sejak awal berdiri menggandeng tangan sosok laki-laki yang saat ini sangat jauh dari segi penampilannya yang jelas terlihat jika dia kini menjadi orang hebat dan di segani.
Beberapa pelayan di tempat ini begitu hormat dan menyambutnya seakan ini memang sudah biasa menjadi tempatnya berkunjung. Dia mendapatkan sambutan yang sangat berbeda, tapi kenapa? Kenapa Tuhan???
Aku semakin gelagapan ketika Pelangi melangkah maju menghampiri Lucky, sikap Lucky seperti ketakutan. Dan dia begitu gelisah serta kebingunngan ketika Pelangi menyapanya seperti biasa.
"Nak, kau mengenal gadis kecil ini?" Tanya nya pada Lucky yang menundukkan wajah dengan gelisah.
"I,iya ayah. Ma,maafkan Lucky. Dia Pelangi, teman sekolah Lucky. Mohon jangan memarahinya Ayah, ini salah ku yang memilihnya sebagai teman tanpa izin dari ayah dahulu." Jawab Lucky dengan gemetaran.
"Apa kau mulai berani melanggar aturan nenek besar?"
"Tidak ayah, tidak sama sekali. Maafkan aku,"
"Lucky, siapa dia? Apa dia ayah angkatmu yang galak itu?" Ucap Pelangi bertanya pada Lucky. Membuat Lucky semakin gelisah ketakutan.
Aku tidak tahan, aku ingin segera menjauhkan Pelangi dan hadapannya. Sikapnya tidak berubah, dia justru semakin sombong. Apakah dia tidak mengenalku yang sejak tadi duduk dihadapannya saat ini? Bahkan disini pun ada kak Rendy.
Langkah ku terhenti sejenak ketika seorang wanita cantik muncul di dekatnya memberikan sebuah map berwarna merah. Rasanya emosiku kembali meluap dan semakin jadi melihat sosok wanita itu dengan gaya khasnya yang membuatku ingin segera menjambaknya.
"Honey, ini laporan bulanan dari restoran kita. Aku sudah mengecek semuanya, Ehm.. Lucky, kau mau makan apa sayang?"