
Keesokan harinya.
Rendy telah sampai dibandara diantar Pak Salim karena Beni semalam ijin dengan alasan ingin pulang kampung menjenguk keluarganya disana selama Rendy berada di Surabaya. Rendy tidak mempermasalahkan hal itu dan langsung memberinya ijin.
Rendy menaiki pesawat pribadi milik Papanya yang memang telah disiapkan untuknya. Untuk melakukan perjalanan bisnis supaya lebih memudahkan Rendy dan sedikit mempersingkat waktu perjalanannya.
"Aku pergi dulu Pak." Ucap Rendy berpamitan pada Pak Salim.
"Iya Den, hati-hati ya Den. Semoga selalu dilancarkan segala urusannya." Jawab Pak Salim memberi doa untuk Rendy.
"Makasih Pak." Ucap Rendy dengan tersenyum kemudian segera menuju pesawat pribadinya.
...
Seluruh karyawan yang ada di cabang perusahaan di Surabaya kalang kabut mempersiapkan kedatangan Rendy sang pimpinan barunya.
Sesampainya di cabang perusahaan di Surabaya, Rendy langsung mengadakan rapat dengan para petinggi cabang perusahaan. Beberapa jam telah berlalu membahas mengenai masalah yang sedang terjadi sekaligus cara penanggulangannya.
Akhirnya rapat pun selesai tepat saat jam makan siang.
Rendy mencoba menghubungi Olivia sekedar ingin memberi kabar kepada sang kekasih juga ingin tau kabar darinya hari ini.
Tiga kali Rendy menghubungi Olivia, namun sambungan terputus dengan sendirinya karena Olivia tidak juga mengangkat telepon darinya.
"Lagi apa sih dia?" Gumam Rendy dengan menghela nafasnya kasar merasa kesal karena Olivia tidak mengangkat teleponnya.
Rendy memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jasnya dan segera beranjak. Ia telah menjadwalkan pertemuan untuk makan siang dengan klien barunya yang baru saja menyepakati kerja samanya untuk menggantikan klien lama yang tiba-tiba menghentikan kiriman pasokan bahan baku yang sangat dibutuhkan perusahaannya.
Rendy makan siang bersama klien barunya disebuah restoran mewah di Surabaya. Klien barunya ini merupakan salah satu pemilik perusahaan yang cukup besar di Surabaya yang usianya terlihat setara dengan papanya.
Klien baru Rendy didampingi seorang wanita yang terlihat masih sangat muda dan cantik yang ternyata anak perempuan dari kliennya tersebut dan dua orang asistennya.
Sedangkan Rendy didampingi oleh para petinggi cabang perusahaan yang berkaitan dengan masalah pasokan bahan baku yang dibutuhkan cabang perusahaannya tersebut.
Klien Rendy yang bernama Surya ini merasa sangat tersanjung karena perusahaan besar seperti Pradipta Grup yang dipimpin Rendy mau bekerja sama dengan perusahaannya. Meski permintaan dari cabang perusahaan milik Rendy cukup besar, namun Surya berusaha memenuhi permintaan tersebut.
Bisa bekerja sama dengan Pradipta Grup yang merupakan perusahaan terbesar di tanah air ini otomatis akan memajukan perusahaannya.
Beberapa hari berada di kota Pahlawan, Surya bersama anak perempuannya mengajak Rendy survey kelapangan supaya Rendy bisa melihat langsung bahan baku yang dibutuhkan oleh perusahaannya.
Olivia masih belum bisa dihubungi oleh Rendy. Rendy menggenggam erat ponselnya dan membuang nafas dengan kasar berharap pikiran buruk tentang kekasihnya yang bersarang diotaknya ikut terbuang.
Beberapa hari ini, Olivia masih sulit dihubungi oleh Rendy. Selama di Surabaya, Rendy selalu dibayangi oleh anak dari Surya yang bernama Vanessa.
Malam ini Vanessa sengaja mengajak Rendy untuk makan malam bersama keluarganya dengan alasan untuk menjamunya dan untuk merayakan kesepakatan kerja sama yang telah terjalin antara perusahaan ayahnya dengan Pradipta Grup.
Rendy bukanlah laki-laki bodoh. Ia bisa merasakan maksud terselubung dari Vanessa. Namun, Rendy juga tidak bisa menolak ajakan Vanessa karena kini perusahaannya sangat membutuhkan kerja sama ini.
Malam ini pun Rendy terlihat begitu mempesona dengan setelan jasnya. Ia duduk satu meja dengan keluarga Surya dan ia duduk disamping Vanessa. Vanessa terlihat begitu cantik malam ini memakai gaun panjang dengan pundak terbuka dan belahan memanjang sampai ke pahanya. Make-Up yang terkesan berani dan terlihat dewasa juga begitu menggoda. Tapi sayangnya, Rendy sedikitpun tidak merasa tertarik dengannya.
"Terimakasih banyak atas jamuannya malam ini, Pak Surya." Ucap Rendy dengan tulus menatap Surya.
"Sama-sama Mas Rendy dan tidak perlu merasa sungkan. Saya juga sangat berterima kasih. Suatu kehormatan bagi saya bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan Pradipta Grup." Jawab Surya dengan ramah dan Rendy hanya tersenyum.
"O ya Mas Rendy, apa kamu udah punya pacar?" Tanya Vanessa to the point sambil menoleh dan tersenyum manis menatap Rendy.
Rendy mengernyit menatap Vanessa.
Karena malam ini acara jamuan perayaan kesepakatan kerja sama bisnis jadi menurut Rendy sangat tidak etis kalau membahas selain pekerjaan dan bisnis. Rendy juga tidak suka jika orang lain ingin tau tentang kehidupan pribadinya.
"Aku kan cuma tanya, apa susahnya sih jawab iya atau nggak?" Celetuk Vanessa dengan tidak elegan karena merasa sangat kesal dengan jawaban Rendy yang terdengar sangat menyebalkan baginya.
Baru kali ini ia merasa terabaikan oleh laki-laki. Biasanya semua laki-laki yang melihatnya akan meliriknya dan terlihat sangat tertarik dengannya, namun Rendy sama sekali tidak meliriknya apalagi tertarik dengannya.
"Vanessa, jaga sikapmu!" Bentak Surya dengan melototi Vanessa.
Vanessa mendengus kesal dan memalingkan wajahnya dengan sinis.
"Emm..maafkan anak saya ya Mas Rendy. Dia memang masih suka kekanak-kanakan." Sambung istri Surya dengan tersenyum kepada Rendy merasa tidak enak karena ucapan anak perempuannya yang suka ceplas ceplos.
"Nggak apa-apa Bu. Saya mengerti." Jawab Rendy membalas senyum istri Surya untuk menghargainya.
"O ya, sampai kapan Mas Rendy di Surabaya?" Tanya Surya dengan menatap Rendy.
"Besok pagi saya sudah kembali lagi ke Jakarta Pak." Jawab Rendy dengan sopan membuat Vanessa menoleh dan menatap Rendy kembali.
"Besok? Cepet banget?" Sahut Vanessa merasa tidak rela kalau Rendy harus kembali ke Jakarta.
Karena memang urusannya sudah beres dan Rendy ingin cepat-cepat sampai ke Jakarta dan menemui Olivia yang sejak keberangkatannya, kekasihnya ini sulit sekali dihubungi.
Ia semakin merasa kesal dengan sikap Vanessa yang seperti wanita murahan ini. Ia pun tidak ingin berlama-lama berada disana. Karena acara makan malamnya sudah selesai, Rendy segera berpamitan kepada keluarga Surya.
Sesamapinya dihotel tempat ia menginap selama berada di Surabaya, Rendy langsung menghubungi Olivia namun lagi-lagi Olivia tidak bisa dihubunginya dan nomornya tidak aktif. ****!
Rendy dibuat kesal hari ini. Ia pun memutuskan untuk mandi dengan air dingin untuk mendinginkan hati dan pikirannya lalu ingin beristirahat karena besok pagi ia harus segera ke bandara untuk kembali ke kota kelahirannya.
Selesai mandi, ponselnya berdering dan Rendy segera meraihnya. Ia mengernyitkan keningnya menatap layar ponselnya.
"Nomer siapa ini?" Gumannya bertanya pada diri sendiri.
Karena yang ada nomor yang tidak dikenal sedang memanggilnya. Rendy enggan mengangkat teleponnya namun pikirnya bisa saja ini nomor Olivia yang baru mengingat Olivia sulit dihubungi olehnya atau kalau bukan ya nomor milik salah satu rekan bisnisnya yang belum ia simpan diponselnya. Akhirnya Rendy mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Ya hallo, dengan siapa ini?" Tanya Rendy dengan sopan.
"Hallo Mas Rendy, ini aku Vanessa." Jawab Vanessa terdengar lembut membuat Rendy kembali mengernyit dan menatap layar ponselnya sesaat kemudian menempelkannya kembali di telinganya.
"Oh Mbak Vanessa? Ada apa menelpon saya?" Tanya Rendy dengan sopan dan memanggil Vanessa dengan tambahan Mbak. Terdengar suara Vanessa mendengus kesal.
"Biasa aja manggilnya! Aku belum setua itu dan umurku juga beberapa tahun dibawahmu!" Gerutu Vanessa dengan kesal.
"Maaf, aku hanya menghormati anda sebagai anak dari Pak Surya." Balas Rendy sambil duduk bersandar di ranjangnya.
"Oke terserah kamu aja!" Ucap Vanessa yang mengalah karena tidak ingin membuat Rendy menutup teleponnya kalau ia masih bersikap konyol.
"Ada apa Mbak Vanessa menelpon saya?" Tanya Rendy kembali.
"Emm..enggak. Aku cuma mau tanya aja. Besok kamu berangkat jam berapa?"
Rendy mengernyit kembali. Untuk apa Vanessa malam-malam begini menelponnya dan menanyakan keberangkatannya besok?
................