
Libur panjang sekolah mulai beranjak pergi, kini bergilir datang hari-hari yang akan di lewati dengan penuh usaha serta semangat untuk mengapai cita dan impian. Begitu yang si keluhkan dalam tekad Pelangi, karena hari masuk sekolah yang di tentukan sudah dimulai.
"Hah, gak nyangka. Aku sudah kelas 12 mulai hari ini, siap mental, lebih fokus, giat belajar bersungguh-sungguh harus aku terapkan dalam keseharian ku mulai detik ini. Abaikan kata cinta, pacaran dan sakit hati itu, huhft.. Ya, harus!!!"
Pelangi menatap dirinya sendiri di depan cermin, sesaat dia mengingat tentang semua yang terjadi selama libur panjang sekolah, ia pejamkan kedua matanya. Lalu menarik nafasnya dalam-dalam, di susul dengan anggukan tegas kepalanya.
"Oke, Pelangi. Semua pasti akan bisa kau jalani." ucapnya lagi untuk menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
"Pagi, Ma.. Pa, dan selamat pagi adik-adik ku yang nakal." Sapa Pelangi setelah sampai di meja makan. Di raihnya sepotong roti dan di cicipinya.
"Pagi. Kakak cantik,"
"Hem, pintar." Sahut Pelangi setelah si kembar menanggapi sapaan paginya.
"Papa senang, melihatmu ceria begini sayang."
"Hehe..." Jawab Pelangi singkat, kemudian ia tersenyum nyengir. Aku hanya tersenyum melihatnya.
Tak berapa lama kemudian, sarapan pagi selesai. Irgy berpamitan hendak pergi ke kantor, sedangkan aku harus mengantar si kembar ke sekolah. Sementara Pelangi berpamitan lebih dulu sebelum Irgy pergi.
"Ma, Pa. Aku pergi ke sekolah." Pamitnya.
"Nak, hati-hati di jalan ya. Dan..."
"Siap, Ma. Tenang aja, aku mengerti apa yang akan mama ucapkan." Jawabnya langsung, memotong bicaraku. Seakan dia sudah mengerti apa yang akan aku sampaikan.
"Anak papa memang pasti yang terbaik. Ya sudah, pergi lah ke sekolah. Hati-hati di jalan, peri papa." Sahut Irgy padanya.
"Beres pa.." Jawab Pelangi santai.
"Eeeh, ini uang jajan hari ini. Sisanya nanti papa transfer untuk uang jajan mu satu bulan ke depan." Ucap Irgy kemudian, lalu memberinya beberapa lembar uang kertas ratusan ribu.
"Papa, uang jajan masih ada. Ih, ini terlalu banyak."
"Sudah, pakai saja. Kau bisa mentraktir beberapa teman-teman mu nanti di sekolah," Ucap Irgy dengan senyuman hangat. Di kecupnya kepala puterinya dengan penuh kasih sayang. Dia memang selalu lebih memanjakan Pelangi selama ini.
Tapi entah kenapa, aku justru ragu melihatnya pagi ini. Meski dia tampak begitu tenang dan tetap ceria begitu saja, aku tetap khawatir. Andai saja dia tidak menolakku semalam, untuk mengantarnya ke sekolah pagi ini. Aku hanya ingin memastikan jika Joe nantinya tidak akan mempermalukan dia di sekolah.
Hah, Tuhan.. Jaga selalu puteriku, Pelangi.
🌻🌻🌻
Tiba di sekolah, tak ada yang berubah. Tampak semua siswa dan siswi berlalu lalang memasuki halaman sekolah. Mereka tersenyum ceria, bersenda gurau satu sama lainnya. Beberapa pun ada yang begitu bahagia menggandeng tangan para kekasihnya di sekolah. Pelangi segera turun dari mobilnya ketika ketiga sahabatnya sudah melambaikan tangan di depan pintu gerbang sekolah. Seperti biasa, Pelangi memarkir mobilnya lebih dulu.
"Kyaaaaaaa... Princes cold, kami rinduuu..." Sontak ketiga sahabat Pelangi memeluknya secara bersamaan. Mereka saling melepas rindu setelah dua minggu berlalu tidak saling bertemu.
"Aku juga merindukan kalian, ih jahat ya semua. Kenapa tidak ada satupun dari kalian yang berbagi video liburan kalian. Huh, menyebalkan."
"Jam tangan edisi terbatas bulan ini??? Aaaaakh, keren. Hikzt... Lisa, aku jadi terharu. Kau memang paling terbaik." Ekspresi Pelangi berubah penuh haru biru ketika Lisa memberinya sebuah jam tangan edisi terbatas bulan ini sebagai oleh-oleh dari LN.
"Iih, makasih doang nih? Kau tahu bagaimana usaha ku untuk mendapatkannya, hah..."
Pelangi hanya menatapnya dengan senyuman haru.
"Hey, ini. Aku juga punya hadiah khusus untuk mu," Ujar Jeni kemudian. Ia sodorkan sebuah kotak besar. Pelangi menerimanya dengan terkejut.
"Wow, Jen. Kau bahkan juga memberiku oleh-oleh,"
"Hem, tentu. Dan aku susah payah membawanya, buka lah. Semoga kau suka,"
Dengan cepat Pelangi membuka kotak itu.
"Waaah... Ini, ini pasti sangat lezat." Seru Pelangi setelah melihat beberapa cemilan khas dari tempat Jeni berlibur selama dua pekan kemarin.
"Aku tahu kau juga suka nyemil," Jawab Jeni dengan menyumbingkan ujung bibirnya.
Pelangi tiada hentinya menatap dua kotak kado yang di berikan oleh Lisa dan Jeni. Hanya Lucas yang sejak tadi diam tanpa memberinya oleh-oleh. Kemudian Pelangi menatapnya dengan tajam setelah menyadarinya.
"Lucas, kau lupa lagi membelikan ku oleh-oleh hah?"
"Iiih, Princes cold. Maafkan aku, jangan marah ya. Aku benar-benar lupa,"
"Aah, sudah ku duga. Kau memang selalu lupa padaku, tak apa. Aku sudah mendapat dua oleh-oleh menakjubkan dari Lisa dan Jeni." Ujar Pelangi dengan senyuman pada Lucas.
"Tapi, Princess cold. Aku hanya membeli ini, khusus untuk mu. Aku tidak tahu kau akan menyukai modelnya atau tidak, tapi ku pikir ini sangat cocok buatmu. Sangat manis, aku berharap kau akan menyukai lalu memakainya." Tiba-tiba, untuk yang pertama kalinya Lucas memberikan oleh-oleh dari tempat nya menikmati liburan sekolah setelah dua tahun mereka bersama dan bersahabat. Sebuah dompet limitied edition dari brand Gucci, berwarna kuning keemasan.
"Oh ya ampun, tolong aku. Sepertinya aku akan pingsan detik ini juga." Ujar Pelangi ketika Lucas memamerkan dompet itu.
"Kyaaaaa... Lucas, iih.. Kenapa tidak mengabariku sih, jika kau mendapatkan kesempatan itu. Aku justru menantinya sudah lama, aaaah... Aku mau juga." Lisa mulai mengacau dengan kedua mata berbinar-binar melihat dompet itu.
"Huuuh, dasar. Memangnya hanya kau saja yang bisa mendapatkan jam tangan edicy terbatas itu, beruntung... Mama mempunyai colega di butik khusus penjualan barang-barang limit seperti ini." Jawab Lucas memamerkan, dia kembali memamerkan dengan bibir yang sengaja di mainkan untuk mencibir Lisa.
"Iiih... Dasar, kaaau..." Lisa menggertakkan giginya.
"Aduh, sudah deh. Kalian malah saling pamer, ehm... Makasih banyak, kalian. Aku terharu akan semua pemberian kalian ini."
Kembali Pelangi merangkuk ketiga sahabatnya itu. Kemudian dari arah belakang terdengar suara memanggil namanya dengan lirih, suara itu sudah tidak asing lagi di telinga Pelangi.
"Langi..."
Pelangi menolehnya seketika.
"Hai... Joe," Sontak Lisa langsung menyapanya dengan senyuman ceria.
"Hai." Sapa Jeni dengan singkat kemudian.
"Aaah, pangeran ku. Aku sangat merindukan mu," Seperti biasa, Lucas mulai mendekatinya. Melewati Pelangi, lalu memeluk tubuh Joe seperti sepasang kekasih.