Because, I Love You

Because, I Love You
#11



"Aku seneng banget bisa jalan-jalan ke taman ini, kak." Kirana membuka percakapan setelah mereka saling diam sesaat. "Lama banget aku nggak ke sini. Terakhir kali datang ke sini, sehari sebelum ayah mengalami kecelakaan dan meninggal."


Kirana masih selalu mengingat kenangan masa kecilnya saat-saat bahagianya bersama sang ayah tercinta. "Dulu, Ayah sering mengajak aku dan ibu jalan-jalan saat weekend atau saat ayah libur kerja."


Haris masih diam mendengarkan cerita dari Kirana. Ia merasa sangat prihatin dan kasihan kepada Kirana, karena Kirana sejak kecil sudah menjadi anak yatim dan hanya hidup bersama ibunya saja.


'Aku janji akan selalu menemanimu, Kirana. Aku siap menjadi teman dalam hidupmu dan membahagiakanmu.' Ucap Haris dalam hati dengan sungguh-sungguh.


"Kamu pasti sangat merindukan ayahmu." Ucap Haris sambil menoleh menatap Kirana.


"Hmm." Kirana mengangguk. "Aku selalu rindu ayah." Kirana tersenyum kecil. "Kadang, ada rasa iri saat melihat orang lain pergi bersama ayahnya, dipeluk dan ditenangkan saat merasa sedih, yah...meski ibuku juga selalu memelukku. Tapi, pasti rasanya berbeda jika ayah yang memeluk kan, kak?"  Kirana menatap kosong lurus ke depan tampak sedih.


Haris meraih tangan Kirana dan mereka menghentikan langkahnya.


"Jangan sedih dong." Haris menepuk bahunya sendiri. "Bahuku ini cukup kuat kok untuk jadi sandaranmu saat kamu sedih. Kalau kamu nggak keberatan, kamu juga boleh peluk aku." Haris mencoba untuk menghibur Kirana meski sebenarnya ia sangat berharap jika Kirana mau memeluknya.


Namun, tanpa ia duga, Kirana langsung memeluknya. Haris tertegun dan terpaku karena terkejut dengan perilaku Kirana yang begitu tiba-tiba ini.


"Makasih ya, kak. Andai saja aku punya kakak sepertimu, pasti aku akan selalu merasa terhibur. Selain sangat baik, kak Haris juga ganteng." Gurau Kirana sambil memeluk Haris, meski sebenarnya hati Kirana merasa begitu sedih karena sangat merindukan sosok ayahnya.


Seketika senyum Haris memudar saat mendengar ucapan Kirana. Kedua tangannya menggantung di udara saat ingin membalas pelukan Kirana.


'Jadi, kamu hanya menganggapku sebagai kakakmu aja, Ki?' Batin Haris merasa kecewa.


Meski kenyataannya begitu, bagaimanapun juga mereka bukanlah kakak beradik sungguhan dan tidak ada hubungan darah. Haris tetap memutuskan untuk memperjuangkan rasa cintanya pada Kirana. Haris akan meyakinkan Kirana dan berharap Kirana juga bisa mencintainya suatu saat nanti, lalu menjadikan Kirana sebagai pendamping hidupnya seumur hidup.


Akhirnya, Haris membalas pelukan Kirana dan mengusap lembut punggung gadis itu.


Pelukan Haris membuat Kirana merasa nyaman seperti...pelukan ayah!


...


Seminggu kemudian.


Kirana sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kecil. Meskipun gajinya tidak sebesar di perusahaan Pradipta, Kirana tetap bersyukur dirinya masih bisa bekerja. Sekarang ini, dia hidup sendirian di kota metropolitan. Jika tidak bekerja, bagaimana dia menjalani hidupnya di kota ini?


Kirana tidak ingin terus menyusahkan ibunya yang saat ini masih tinggal di kampung. Dia sengaja kembali ke kota ini memang ingin mencari pekerjaan agar bisa membantu mengurangi beban hidup ibunya selama ini.


Keinginan Kirana, ingin sekali mengajak ibunya kembali ke kota ini, tinggal bersama di rumah peninggalan mendiang ayahnya setelah Kirana mengumpulkan cukup uang untuk kehidupan mereka.


Kirana tidak tega jika membiarkan ibunya bekerja banting tulang sendirian untuk membiayai hidupnya. Dia hanya ingin membuat ibunya bisa duduk bersantai dengan perasaan bahagia menikmati masa tuanya.


...


Kirana berangkat bekerja bersama Haris.


Hal itu membuat Bunda Siti merasa semakin senang melihatnya. Bunda Siti juga semakin yakin tentang keinginannya untuk menjodohkan Haris dengan Kirana.


"Makasih ya, kak Haris." Ucap Kirana sambil turun dari motor Haris dan melepaskan helmnya lalu menyodorkannya pada Haris.


"Sama-sama dan selamat bekerja. Aku langsungan ya, ada meeting pagi ini." Haris tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Kirana.


Kirana tertegun dengan perlakuan Haris, namun ia juga tidak menolaknya. Ia merasa seperti punya kakak laki-laki yang begitu perhatian dan menyayanginya. Kirana kemudian tersenyum. "Iya, kak Haris hati-hati dan juga selamat bekerja."


"Iya." Haris segera melajukan motornya kembali dan pergi menuju tempat kerjanya dengan penuh semangat.


Kirana segera berjalan masuk ke dalam perusahaan tempatnya bekerja.


"Selamat pagi Pak Wahyu!" Seru beberapa karyawan pada pimpinan perusahaan yang baru datang.


"Pagi." Jawabnya dengan ramah.


"Selamat pagi, Pak." Kirana dan rekan-rekannya menyapa atasannya.


"Pagi." Jawab Pak Wahyu dengan senyum ramah lalu tatapannya mengarah pada Kirana. "Kamu, karyawan baru ya? Saya baru lihat."


"Benar, Pak. Ini hari ketiga saya bekerja di sini." Jawab Kirana dengan sopan.


Wahyu mengangguk dan tersenyum. 'Penampilannya biasa saja,tapi wajahnya sangat cantik.' Batinnya.


"Eh, tunggu, tunggu!" Tiba-tiba seorang wanita berpakaian seksi berlari kearah lift lalu masuk karena melihat atasannya berada di dalam lift tersebut.


Wanita seksi itu adalah Dina. Dia merupakan sekertaris Pak Wahyu. Dia kemudian menyapa dengan senyum genit. "Pagi, Pak Wahyu."


"Pagi." Jawab Wahyu dengan tatapan penuh arti.


'Ding'


Pintu lift terbuka di lantai tiga, di mana letak ruangan Kirana berada. "Permisi Pak, Bu, kami duluan." Ucap mereka dengan sopan kepada Wahyu dan Dina kemudian segera keluar.


Dina menekan tombol di samping pintu lift dan pintu tertutup kembali membawa atasan dan sekertarisnya menuju ke lantai paling atas, yaitu ruangan Wahyu sebagai pimpinan perusahaan ini.


...


Perusahaan Pradipta Grup.


Rendy yang baru masuk ke dalam ruangannya merasakan ponselnya bergetar. Dia segera meraih dan melihat, ternyata Olivia sedang memanggilnya.


"Ya, ada apa?" Dingin.


"Honey, apa kamu marah?" Olivia merengek manja.


"Enggak. Ada apa?" Suara Rendy terdengar acuh.


Tok, Tok, Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan, Rendy menoleh menatap ke arah pintu dan menyuruh orang yang mengetuk pintu itu masuk. "Masuk!"


Olivia terdiam mendengarkan dari seberang sana.


Siska, sekertaris Rendy pun masuk setelah mendengar suara dari sang atasan tampannya menyuruhnya masuk.


Rendy sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap Siska seolah meminta penjelasan kenapa sekertarisnya yang cantik ini mencarinya.


"Maaf, Pak Rendy. Saya hanya ingin menyerahkan berkas-berkas ini untuk diperiksa kembali sebelum meeting pagi ini bersama Pak Andi dari perusahaan Wijaya." Ucap Siska mengingatkan Rendy sambil menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya kepada Rendy.


'Ah...iya, pagi ini aku ada meeting. Aku hampir lupa.' Batin Rendy.


"Oke. Kamu letakkan saja di meja." Ucap Rendy pada Siska dan Sisak segera meletakkan berkas-berkas yang dibawanya di atas meja kerja Rendy.


"Aku sangat sibuk, nanti aku hubungi kamu lagi." Ucap Rendy kepada Olivia kemudian langsung menutup panggilan teleponnya begitu saja tanpa memberi kesempatan Olivia untuk bicara.


Di jauh sana, Olivia merasa sangat kesal atas perlakuan Rendy yang menutup teleponnya begitu saja. Bahkan ia belum mengatakan maksudnya menghubungi Rendy, tapi mendengar ucapan Rendy yang terdengar acuh kepadanya, dan menutup telepon darinya begitu saja, membuat Olivia semakin kesal.


"Sialan! Ini pertama kalinya dia mengacuhkanku. Bahkan dia seperti bukan Rendy yang aku kenal. Tidak ada romantis-romantisnya sedikitpun seperti biasanya!" Gerutu Olivia dengan menggenggam erat ponsel di tangannya.


"Ada apa, sayang?" Tanya seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya, lalu memeluk pinggang Olivia dan mengecup sekilas bibirnya.


"Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit kesal saja." Jawab Olivia dengan memaksakan senyum manis menatap pria tampan yang sedang memeluknya posesif, lalu mengusap rahangnya dengan lembut.


................