
Pelangi dan Lucky saling menatap heran ketika penuturan mereka pada Lisa justru membuatnya bertepuk tangan gembira.
"Sa, kamu..."
"Apa? Apa kau pikir aku akan marah? Aduh, my Princess cold. Aku justru senang, karena dengan begitu kalian bisa saling menyapa dan akrab. Tidak harus bermusuhan seperti di awal bertemu," ujar Lisa memotong ucapan Pelangi barusan.
Pelangi menatapnya dengan mata haru, lalu memeluknya langsung dengan dekapan erat. Lisa kebingungan akan sikap Pelangi kali ini, karena terkesan ini berlebihan.
"Boleh aku berkata jujur kali ini, Princess cold?" tanya Lisa setelah meregangkan pelukan Pelangi begitu saja.
Pelangi hanya termangu menatap wajah Lisa tanpa mengedipkan matanya ketika Lisa menyentuh kedua bahunya berhadapan.
"Apa saat ini kau sedang dalam masa puber yang sesungguhnya? Kau begitu berlebihan kali ini." ujar Lisa dengan serius.
"Iih, Lisa. Apaan sih? Kau, kau membuatku malu saja." jawabnya tersipu malu.
"Hahaha... Baiklah, aku hanya bercanda. Dan kau, si cuek. Dasar kau ini, kau diam-diam menyembunyikan identitasmu dari sahabatku."
"Ti-tidak. Bukan begitu, itu karena kami sudah bertahun-tahun berpisah jadi kami tidak bisa langsung mengenali wajah kami."
"Hah, sudah lah. Apapun alasan mu aku ikut bahagia, itu berarti aku mempunyai satu jalan yang mudah. Hihihi," Ujar Lisa dengan tawa geli. Seolah dia sedang merencanakan sesuatu yang membuat Pelangi mulai bertanya-tanya lagi.
"Maaf, apa yang kau maksud itu, Lisa?" tanya Lucky dengan nada lembutnya itu. Yang tentu membuat Lisa kian semakin merasa terenyuh.
"Ah. Sudah lah, ini urusan para wanita. Kau kembali saja ke kelasmu, aku juga akan kembali ke kelas dengan Princess cold. Aku sudah menemukan buku yang ku cari."
Dengan hati yang masih penuh tanda tanya, Lucky pun undur diri dengan setengah tubuhnya yang membungkuk dengan santun untuk kembali ke kelas lebih dulu. Sejenak, dia melempar tatapan sendu pada Pelangi. Lisa masih fokus menatap wajah Lucky seraya senyum-senyum sendiri tanpa menyadari tatapan Lucky begitu lekat pada Pelangi.
*****
Sesaat kemudian, setelah Lucky menghilang dari hadapan mereka, Lisa merangkul leher Pelangi dan berbisik manja.
"Sa, aku hanya sebentar dengannya bertemu dan berada dalam satu kelas. Sebab saat itu kami..."
"Ah, aku tidak mau tahu. Aku hanya ingin bertanya satu hal, tolong katakan dengan jujur. Apakah aku cocok dengan nya? Aaah, aku sudah tidak tahan. Aku ingin menjadikannya pacar!"
Degh!
Pelangi menghentikan langkahnya saat beriringan berjalan dengan Lisa yang merangkulnya hendak menuju ruang kelas mereka.
"Iih, kenapa dengan ekspresi mu itu. Apa aku tidak cocok dengannya?"
Tuhan, aku... hatiku kenapa terasa perih begini?
"Princess cold, hei!"
Pelangi terbangun dari lamunan sesaatnya barusan, setelah Lisa memanggilnya cukup keras.
"Ah, ya. Maaf, kau... Kau dan Lucky cocok, hehe. Ya, kalian sangat cocok." Dengan suara terbata-bata Pelangi menjawabnya demikian.
"Kyaaaa... Sungguh? Aaakh, aku bahagia mendengarnya. Kau harus janji padaku, kau harus membantuku untuk menjadikannya pacarku. Ok,"
Pelangi terdiam tak menanggapi tuturan Lisa padanya
"Princess cold..." panggil Lisa kembali.
"Ah, ya. Aku akan mencoba membantumu, kau tenang saja. Ayo, ayo kita ke kelas." jawab Pelangi masih dengan nada terputus-putus, nafasnya seolah memburu.
"Kau memang sahabat ku yang paaling baik, aku percayakan hal ini padamu."
Pelangi hanya tersenyum tipis dengan ucapan Lisa sembari melangkah kembali menuju ruang kelas mereka. Dalam hati Pelangi kini sulit di jabarkan apa yang ia rasakan, bahkan di keningnya mulai keluar keringat. Walau ini masih musim dingin, keringat itu seakan menjadi perwakilan hatinya yang ingin meledak rasanya dari hawa panas yang menggebu-gebu.