Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 255



Abel sedikit gelisah ketika sudah tiba di sebuah kafe kecil duduk berhadapan dengan Exelle yang menatapnya selalu dengan senyuman, terkadang menatapnya tajam.


"Ada apa tante? Apa ada hal yang begitu penting untuk di bicarakan?" Tanya Exelle memulai bicaranya lebih dulu.


"Ehm... Bagaimana, eh... Hubunganmu dengan Pelangi?" Abel mencoba mencari-cari alasan untuk menetralkan hatinya yang kini bercampur aduk.


Exelle mengerutkan keningnya hingga alisnya terangkat ke atas.


"Bukankah tante ibu dari mantan pacar Pelangi? Kenapa tante ingin tahu kelanjutan hubungan kami? Atau... Jangan-jangan, tante ingin memintaku menyerah untuk mendapatkan cinta Pelangi?"


Lihat, sifat kritiknya tak jauh berbeda dengan ayahnya, Tama. Menyebalkan!


"Oh tidak, Nak. Walau bagaimana pun, tante sudah menganggap Pelangi seperti puteri tante sendiri. Oleh sebab itu, tante ingin memastikan siapapun yang dekat dengannya harus pria baik-baik."


"Cih, tante... Hahaha, lalu bagaimana dengan anak tante?"


"Eeh, apa kau sekarang sedang mengkritik anak tante?" Abel mulai terpancing emosinya kembali.


Hei, Abel. Tenanglah sedikit, tujuanmu bukan untuk puteramu."


Abel menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan kembali.


"Tante akui, putera tante Joe. Dia memang masih sedikit labil. Ah, lupakan saja. Bagaimana dengan mu, apa pekerjaan orang tua mu?" Tanya Abel kembali. Dengan perasaan yang kian semakin campur aduk tak menentu, berharap penuh jika Exelle bukan lah putera Ammar.


"Mama ku seorang dokter hebat, papa ku juga seorang pemimpin perusahaan. Kata oma dan opa, papa ku dulu seorang guru yang sangat dicintai oleh mama ku. Tapi mereka meninggal karena kecelakaan, dan tidak terselamatkan. Oleh karena itu aku juga sangat benci dengan profesi dokter, sebab mama ku tak bisa menolong dirinya sendiri untuk tetap hidup bersamaku lebih lama lagi."


Degh!!!


Jantung Abel seakan terhenti, mendengar penjelasan Exelle yang begitu tegas akan semuanya.


Oh my God. Tidak mungkin dia sungguh Exelle putera Eliez dan Ammar, tidak mungkin...


"Nak, apakah... Mama mu bernama, Eliez?"


Exelle terhentak. Dia terkejut, ketika Abel menyebut nama mendiang ibu nya.


"Ya, itu nama mama ku. Bagaimana tante tahu? Woah, siapa sebenarnya kau?" Tanya Exelle dengan menatap tajam kedua mata Abel.


Dengan sekujur tubuh gemetaran dan kian mulai berkeringat. Bibir Abel tampak gemetaran, nafasnya seakan sesak, dia gelisah, sekujur tubuhnya terasa sangat panas.


Tuhan, kenapa ini terjadi begitu cepat? Apa yang harus ku lakukan? Eh, tunggu. Kenapa dia bilang jika kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan? Mungkinkah ada yang memutar cerita kebohongan agar Exelle tidak lagi bertemu dengan Tama? Kasihan anak ini.


Mulut Abel terasa terkunci untuk menanggapi pertanyaan Exelle. Hanya hatinya yang berbicara dan mengeluarkan banyak tanya. Tubuhya mematung menatap wajah Exelle, hingga tanpa ia sadari air matanya berlinang.


"Tante, hei... Kau menangis? Ada apa tante?" Tanya Exelle lagi dengan panik setelah melihat Abel menitikkan air mata hingga membasahi kedua pipinya. Dengan sigap Exelle memberinya sebuah sapu tangan.


Abel meraihnya dengan ragu lalu dipakainya untuk menyeka air matanya yang terus mengalir deras.


"Terimakasih, Nak. Maafkan tante, tante jadi sedih mendengar ceritamu."


"Hemm... Haha, gapapa tante. Aku sudah biasa dengan hal itu, tapi bagaimana tante mengetahui nama mama ku? Tante juga dokter kah?"


"Sungguh??? Bisakah tante menceritakan bagaimana papa ku tante? Ehm, sejak kepergian mereka. Aku tidak bisa mengingat apapun lagi. Opa dan oma bilang aku mengalami trauma berat sehingga banyak melupakan kenangan manis bersama mereka."


Apa yang harus aku katakan padamu, Nak?


Lagi-lagi Abel terdiam tanpa kata.


"Tante..." Panggil Exelle dengan lembut.


"Ah, ya. Ehm, papa mu. Dia... Dia orang yang baik juga pintar. Dia tampan dan gagah, cool seperti mu, bola mata cokelat kehitaman, kalian sangat mirip. Bahkan gaya bicaramu, aku merasa seolah sedang berbicara dengan papa mu saat ini."


"Oh ya? Woah, bagaimana dengan mama ku?"


"Eh, apakah tidak ada yang menceritakan bagaimana mereka padamu, nak?"


Exelle menggelengkan kepalanya dengan menundukkan wajah menanggapi tanya Abel.


"Oma dan opa saja sudah enggan sekali mengingat mereka apa lagi menceritakannya pada ku. Mereka bahkan masih sering menangis memanggil nama mama saja, padahal papa juga ikut serta meninggal di samping mama."


Oh, pantas saja. Sepertinya orang tua Eliez sudah sangat membenci dan ingin menghapus nama Tama di keluarga mereka.


"Nak, bagaimana jika... Ehm, andai... Jika... Papa mu Ammar masih hidup?"


Kembali Exelle terkejut dengan kedua bola mata terbelalak begitu besar.


"Pffttt... Hahaha, tante ngelawak nih. Hahaha, mana mungkin tante. Orang yang sudah meninggal akan hidup kembali, apa lagi itu karena kecelakaan."


"Eeeh... Hahaha, yah.. Tante hanya bercanda. Tante hanya ingin mencairkan suasana saja, tapi bagaimana jika papa mu masih hidup dan selamat dalam kecelakaan itu?"


"Ehm... Jika papa masih hidup, aku akan mencarinya. Lalu berterimakasih karena sudah bertahan untuk hidup, menggantikan posisi mama. Karena paling tidak, aku masih memiliki setengah harapan. Hidup bahagia walau hanya dengan satu orang tua saja, yaitu papa."


Sepertinya, sikapnya ini menurun dari mendiang mama nya. Begitu tulus dan baik.


"Tapi tante, apa maksud pertanyaan tante tadi? Apa benar orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali? Lalu jika demikian dimana papa saat ini, tante?" Tanya Exelle kembali.


"E,eh... Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Tante hanya, hanya bercanda saja. Hehe." Bantah Abel. Dalam hatinya ia hanya masih berusaha berpikir lebih jernih untuk menghadapi ini semua.


Exelle kembali terdiam sesaat, memandang lekat wajah Abel yang memucat, matanya sedikit sembab karena tangisan tadi.


"Tante berbohong." Ucap Exelle menghentakkan hati Abel hingga lehernya sedikit terangkat dan wajahnya mendongak.


"Bo,bohong? Untuk apa tante berbohong, nak?" Abel melempar tanya kembali pada Exelle.


"Sebenarnya papaku masih hidup kan, tante? itu sebabnya kau meminta untuk bicara berdua dengan ku."


"Eeeh... Tidak, tidak. Tante hanya asal bicara saja, jangan di masukkan ke dalam hati."


"Tante, katakan sekali lagi. Jawab dengan hatimu, apakah papa ku masih hidup? dimana dia tante, dimana???"


🍒Hai, author disini. Kembali menyapa kalian pembaca setia BILY, ehm... Bagaimana Abel akan menceritakan semuanya pada Exelle ya? Kira-kira akan ketahuan gak nih? Episode selanjutnya akan di jawab. Jangan lupa tekan favorite, like, dan vote ya. Sedih deh, kalian slalu lupa tekan like dan vote nya. Padahal author sudah bela-bela in meluangkan waktu menulis untuk menyapa kalian saat ini. Hihihi🍒