Because, I Love You

Because, I Love You
#112



"Apa??!" Teriak Kirana sangat terkejut.


"Innalillahi..!" Seru para warga yang berada disana.


Kirana memutar roda pada kursi rodanya dan mendekati Beni. "Pak Beni, kamu nggak becanda kan? Kamu nggak bohong kan? Atau Mas Rendy sengaja nyuruh kamu kesini karena nggak mau dateng buat nikahin aku?" Tanya Kirana dengan emosional dan tanpa sadar air matanya mengalir.


"Mbak, mana mungkin aku bohong dengan musibah yang menimpa Bos Rendy? Kalian bisa lihat diberita news pagi ini." Jawab Beni.


Staff KUA yang masih berdiri disana langsung mengambil remote TV dan menyalakannya.


Kirana melebarkan matanya dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Dia sangat syok saat melihat tayangan berita yang sedang menayangkan acara live pagi ini.


Terlihat dilokasi kejadian sudah banyak polisi yang mengatur lalu lintas karena jalanan menjadi macet.


Disana juga terlihat mobil sport warna hitam milik Rendy yang sudah terbalik dipinggir jalan.


Raporter mengatakan kalau ada sebuah truk tronton yang diduga pengemudinya mengantuk lalu oleng dan menabrak beberapa mobil juga pengendara motor didepannya yang sedang berhenti dilampu merah.


Ada kurang lebih lima belas orang korban termasuk Rendy. Tujuh orang dinyatakan meninggal dunia dan delapan orang mengalami luka yang serius.


"Lalu bagaimana dengan Mas Rendy?" Tanya Pak RT setelah melihat tanyangan berita tersebut.


"Saya belum tau pastinya. Yang jelas, dia selamat." Jawab Beni.


"Alhamdulillah..!" Seru dari para warga dengan serentak.


Namun, Kirana masih terdiam dan menatap layar televisi yang masih menayangkan berita kecelakan maut pagi ini.


"Tapi, Mas Rendy akan segera diterbangkan ke Jerman atas permintaan orang tuanya. Karena mengalami luka yang cukup parah." Ucap Beni yang membuat Kirana langsung menatapnya terlihat sangat syok.


"Apa?!" Pekik Kirana. "Pak Beni, Mas Rendy sekarang ada dirumah sakit mana? Aku mau lihat dia sebentar sebelum dia diterbangkan ke Jerman." Pinta Kirana sambil menggenggam tangan Beni dan mengguncangnya dnegan air mata yang masih terus mengalir.


"Maaf Mbak. Mungkin sekarang ini Bos sudah dalam perjalanan ke bandara. Aku juga akan langsung kesana setelah memberi kabar ini. Sebaiknya kamu tunggu dan doakan aja Bos Rendy." Ucap Beni sambil melapisi punggung tangan Kirana yang memegani tangannya sambil menepuknya pelan seolah ingin menguatkan hati Kirana.


"Dan untuk Bapak-Bapak juga Ibu-Ibu semuanya, saya mewakili Mas Rendy untuk meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janjinya hari ini untuk menikah dengan mbak Kirana. Mohon doanya untuk Bos saya." Ucap Beni.


"Ya sudah tidak apa-apa. Karena memang ini musibah. Kami akan mendoakan supaya Mas Rendy segera pulih seperti sediakala." Ucap Pak RT mewakili warganya untuk menanggapi ucapan Beni.


"Terimakasih banyak." Ucap Beni lalu menunduk melihat Kirana. "Maaf mbak Kirana, aku harus pergi sekarang." Lanjutnya pada Kirana sambil melepaskan genggaman tangan Kirana dengan pelan. "Semuanya, sekali lagi saya mengucapkan terimakasih. Saya permisi." Imbuhnya dengan menangkupkan kedua telapak tangannya dan sedikit menunduk.


"Kalau begitu hati-hati dijalan Mas!" Seru Pak RT dan Beni segera pergi menuju bandara untuk mendampingi Rendy sebagai asisten pribadi sekaligus bodyguardnya.


Tadi Rendy meminta Beni keperusahaan dulu untuk menggantikannya bertemu dengan kliennya dan Rendy mengendarai mobil sportnya sendiri menuju kampung Anggrek sesuai janjinya juga demi rasa cintanya terhadap Kirana. Dia ingin segera menikahi Kirana dan membersihkan nama Kirana dikampung tempat tinggalnya.


Tapi ternyata takdir sedang mengujinya. Saat dilampu merah, tiba-tiba ada tronton yang menghantam mobil bagian belakangnya dengan sangat keras hingga mobilnya terpental dan berguling beberapa kali. Membuat dirinya tidak sadarkan diri karena benturan yang begitu keras dikepalanya.


Meski dikabarkan selamat dalam kecelakaan tragis itu, Rendy mengalami luka yang cukup parah. Setelah orang tuanya dikabari oleh Beni, mereka pun meminta agar Rendy langsung diterbangkan ke Jerman untuk mendapatkan penangan khusus juga terbaik disana.


...


Malam harinya, Kirana masih memakai gaun dan penampilannya masih sama seperti tadi pagi saat menunggu Rendy datang untuk melangsungkan ijab qabul.


Hanya wajahnya yang terlihat sembab karena terus menangis. Dia masih tidak percaya kalau Rendy mengalami kecelakaan. Dia hanya berharap Rendy akan baik-baik saja dan akan segera kembali untuk menemuinya, memeluknya dan membuatnya selalu tersenyum juga marah-marah karena keisengannya yang sering menggodanya.


Belum ada sehari tidak melihat Rendy juga tidak menerima kabar darinya saja, Kirana merasakan begitu rindu kepada laki-laki yang telah mengambil ciuman pertamanya.


'Tok Tok Tok!'


Ada suara ketukan pintu diluar. Kirana tidak mendengarnya karena masih larut dalam lamunannya.


'Ceklek.'


Pintu dibuka dari luar karena tidak terkunci.


"Kirana?" Panggil Haris yang melihat Kirana duduk dikursi roda tampak melamun dengan wajah sembab.


Kirana diam tidak merespon panggilan Haris juga tidak menoleh. Tatapannya masih kosong kearah depan.


Haris pun melangkah masuk dan berdiri didepan Kirana lalu berjongkok. "Kamu baik-baik aja?" Tangannya sambil meraih tangan Kirana lalu menggenggamnya.


Kirana sedikit mengerjapkan matanya dan air matanya pun kembali menetes membasahi pipi.


"Jangan sedih. Sebaiknya kamu doakan aja pacarmu yang sok kegantengan itu biar cepet sembuh." Ucap Haris yang berusaha menghibur Kirana.


Tapi, bukannya terhibur malah Kirana langsung memeluk erat Haris dan tangisnya pecah.


Haris terpaku membiarkan Kirana memeluknya sambil menangis. Perlahan tangannya terangkat dan membalas pelukannya. "Kalau menangis bisa membuatmu lebih merasa tenang, maka menangislah. Tapi setelah ini, aku nggak akan biarin kamu nangis lagi, Ki." Ucap Haris sambil mengusap punggung Kirana.


Setelah merasa puas menangis untuk melampiaskan segala rasa dalam benaknya, perlahan tangis Kirana mereda.


Haris melepas pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi wajah cantik Kirana. "Gimana? Udah merasa lebih baik? Kalau belum, bahuku ini selalu kuat jadi sandaran kamu menangis." Ucap Haris sambil menepuk-nepuk bahunya sendiri.


Kirana terkekeh pelan membuat Haris menghela nafas lega. "Syukurlah sang rembulan malam sudah menampakkan sinarnya kembali."


"Apaan sih kak Haris!" Kirana menepuk bahu Haris sambil tersenyum.


Disaat dia membutuhkan seseorang sebagai tempat untuknya bersandar meluapkan segala rasa, Haris datang dan mampu membuatnya merasa tenang. Bahkan senyum diwajahnya yang cantik telah kembali setelah seharian ini menghilang.


"O ya, kita jalan-jalan keluar gimana? Kamu pasti bosen kan dirumah terus seharian ini? Aku siap nemenin kamu kemana aja. Asal kamu nggak sedih lagi." Bujuk Haris untuk membuat Kirana melupakan kesedihannya.


"Makasih ya Kak. Tapi, aku lagi nggak mau ngapa-ngapain." Jawab Kirana dengan lemah.


"Ya udah, kalau gitu gimana kalau aku ajak kamu keluar untuk makan? Kamu pasti belum makan kan? Kita makan pecel lele di langganan aku? Kamu suka itu kan?" Tanya Haris lagi yang masih berusaha ingin mengajak Kirana keluar jalan-jalan agar tidak lagi larut dalam kesedihannya memikirkan Rendy.


"Aku nggak laper kak." Jawab Kirana menolak Haris.


Haris menghela nafasnya pelan kemudian menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Aku juga belum makan loh seharian ini.  Makanya aku kesini mau ngajak kamu makan. Kalau kamu nggak mau ya udah, aku nggak mau makan. Aku temenin kamu disini."


"Kok gitu sih kak? Aku kan nggak laper. Kak Haris makan dulu aja sana. Ntar sakit loh. Kasihan Bunda ntar repot ngurusinnya." Ucap Kirana yang balik membujuk Haris.


Haris mendengus pura-pura kesal. "Ya makanya ayo kita keluar makan. Kalau nggak, kamu temeni aku makan deh. Terserah kalau kamu nggak laper dan nggak mau makan. Gimana?" Tanya Haris dengan menaikkan sebelah alisnya.


Kirana menghela nafasnya lalu mengangguk. "Ya udah deh aku temenin. Tapi, aku mau mandi dulu."


Akhirnya bujukan Haris berhasil.


................