
"Honey, kenapa kamu diam aja? Kamu nggak percaya sama aku?" Tanya Olivia sambil kembali menggenggam tangan Rendy memperlihatkan wajah sendunya.
Namun kali ini Rendy menghindar. Ia mengambil foto dari saku jasnya lalu memberikannya pada Olivia. "Kamu bisa jelasin tentang semua ini?"
Olivia meraih semua foto-foto itu dari tangan Rendy dan seketika matanya melotot tampak sangat terkejut melihat dirinya dan Andreas didalam foto tersebut. "Ini..foto ini..dari mana kamu dapat?" Tanya Olivia sambil melihat beberapa foto-foto yang diberikan oleh Rendy kepadanya dengan panik.
Dalam foto-foto tersebut menampilkan gambar Olivia bersama Andreas saat berada di Club malam sedang berciuman dan tampak jelas tangan Andreas sedang meremas pantat Olivia ketika mereka berciuman sedangkan tangan Olivia memeluk leher Andreas.
Lalu ada foto ketika Olivia dan Andreas berjalan bersama dengan Olivia yang bergelayut manja pada lengan Andreas. Mereka masuk kedalam sebuah hotel berbintang hingga foto saat mereka masuk kedalam kamar bersama.
"Nggak perlu kamu tau dari siapa foto-foto itu." Jawab Rendy berusaha tetap tenang dan bersabar untuk bicara dengan Olivia.
"I..ini, Ini pasti ada orang yang sengaja ingin membuat hubungan kita hancur Ren! Atau ada orang yang iri denganku lalu membuat editan foto seperti ini! Aku yakin kalau memang ada yang nggak suka dengan hubungan kita atau orang itu iri denganku!" Ucap Olivia dengan keras terlihat emosi, berusaha mengelak dan ingin membuat Rendy tetap percaya kepadanya.
Rendy hanya menyunggingkan senyum mirisnya. "Kamu pikir aku sebodoh itu? Nggak bisa membedakan mana foto asli dan mana foto editan?" Tanya Rendy dengan menatap Olivia yang kini terlihat menjadi gugup juga panik seperti maling yang telah tertangkap basah.
Olivia merasa sulit menelan ludahnya ketika mendengar ucapan Rendy. Ia semakin gugup dan panik. Namun ia harus bisa membuat Rendy yakin dan percaya kepadanya. Setidaknya, hubungan percintaan dengan Rendy akan tetap berjalan.
"Kenapa? Kamu nggak bisa jelasin karena memang ini foto asli?" Tanya Rendy kembali dengan menatap Olivia.
"Honey, tolong kamu percaya sama aku! Aku nggak mungkin selingkuh dibelakang kamu!" Pekik Olivia yang terus mengelak tidak mau mengakui kesalahannya terhadap Rendy.
"Bahkan aku sama sekali nggak menunduhmu selingkuh, tapi sejak tadi mulutmu sendiri yang mengatakannya. Bukankah itu artinya kamu memang sedang berusaha untuk jujur sama aku?" Tanya Rendy dengan menyeringai dengan perasaan yang semakin kecewa.
Ia lalu bangkit berdiri namun Olivia segera meraih tangannya dan menggengamnya. "Honey! Tolong kamu percaya sama aku! Aku sangat mencintai kamu! Mana mungkin aku selingkuh, apalagi dengan Andreas? Dia itu teman baik kita kan?" Ucap Olivia dengan keras penuh emosional berusaha terus mengelak dan meyakinkan Rendy.
Rendy menghela nafasnya lagi dan menatap Olivia. "Sejak kapan dia berada disini?" Tanya Rendy menanyakan tentang Andreas.
"Setauku dia datang setelah aku sampai." Ucap Olivia tanpa sadar memberitau Rendy dan seketika ia mengumpat merutuki dirinya dalam hati.
Oh sial! Kenapa aku memberitau Rendy? Dia pasti akan semakin curiga! Dasar bodoh banget aku ini!
"Wah, ternyata kamu tau banget tentang dia ya? Aku yang teman baiknya udah lama nggak tau kabar dari dia." Ucap Rendy dengan tersenyum miris.
"Honey, aku juga nggak tau kalau dia tiba-tiba sudah ada di kota ini. Dia..."
"Sudah cukup Oliv!" Tegas Rendy yang sudah tidak ingin mendengar penjelasan lagi dari Olivia yang semakin membuatnya merasa sakit hati dan kecewa. Ia juga takut kalau sampai tersulut emosi dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas yang akan ia lontarkan kepada wanita yang selama ini sangat dicintainya. Tapi pada kenyataannya, Olivia telah membuatnya sakit hati dan kecewa.
"Kamu boleh pergi sekarang." Lanjut Rendy sambil berbalik enggan menatap Olivia.
"Enggak! Aku akan tetap disini sampai kamu mau percaya sama aku!" Ucap Olivia masih terus berusaha meminta Rendy percaya kepadanya.
"Honey, aku mohon percayalah! Aku sangat mencintaimu!" Lanjut Olivia sambil melangkah dan berdiri dihadapan Rendy untuk menatapnya.
Rendy hanya diam. Hati dan pikirannya terus terbayang dengan foto-foto kemesraan antara kekasihnya dengan teman yang selama ini dianggapnya sangat baik bahkan sudah seperti saudaranya sendiri. Namun nyatanya, kekasih dan teman baiknya mengkhianatinya. Ia merasa menjadi seperti orang paling bodoh yang selalu percaya dengan mereka. Hingga selama ini mereka berselingkuh dibelakangnya, ia tidak tau.
Melihat Rendy yang hanya diam saja, Olivia memeluk leher Rendy dan langsung mencium bibirnya. Seketika Rendy tersadar dari lamunannya saat merasakan bibir Olivia ******* bibirnya.
Rendy mendorong Olivia begitu saja membuat Olivia hampir jatuh terjungkal. "Ren?!" Pekik Olivia dengan menatap Rendy tidak percaya.
Ini pertama kali Rendy menolak ciumannya bahkan Rendy sanggup mendorongnya sampai ia hampir terjatuh.
"Enggak!" Teriak Olivia menolak untuk pergi. "Kamu tadi yang mengajakku kesini tapi kenapa sekarang kamu mengusirku?!" Tanya Olivia dengan marah.
"Oliv. Kalau kamu nggak mau pergi, it's ok! Aku yang akan pergi!" Ucap Rendy kemudian ia keluar dan menutup pintu apartemennya dengan membantingnya membuat Olivia terkejut.
Rendy benar-benar pergi. Hati dan pikirannya saat ini sedang kalut. Ia sedang tidak ingin diganggu. Tidak ingin melihat wajah Olivia maupun Andreas yang telah membuat hatinya sangat kecewa dan sakit.
Ia hanya tidak habis pikir, kekasihnya dan teman baiknya selama ini sanggup menyakiti dan membuatnya kecewa.
Olivia yang melihat Rendy pergi begitu saja, ia segera mengejarnya. Ia tidak ingin Rendy semakin marah dan mengakhiri hubungan mereka. Ia harus bisa membuat Rendy mempertahankan hubungan ini. Olivia hanya menginginkan Rendy. Ia tidak ingin melepaskan Rendy begitu saja.
"Rendy! Tunggu!" Teriak Olivia yang melihat Rendy berjalan cepat menuju parkiran mobilnya.
Olivia berlari dan ia berhasil meraih lengan Rendy lalu memeluknya erat sambil menangis.
"Honey, aku mohon jangan pergi! Jangan tinggalin aku!" Pinta Olivia dengan menangis sambil memeluk Rendy.
Beni yang sudah berdiri disamping mobil ingin membukakan pintu untuk Bosnya jadi terhenti dan melihat drama didepan matanya. Ia menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya.
Aktingnya memang sangat Bagus. Nggak sia-sia dia jadi pemain film.
Gumam Beni dalam hati.
Rendy menghela nafasnya berat. Hatinya terasa sangat sakit dan ia benar-benar sudah sangat kecewa dengan Olivia. Sebenarnya bukan kali pertamanya ia merasa kecewa terhadap Olivia. Sudah sejak lama, ia curiga dengan kedekatan Andreas dan Olivia. Memang hubungan pertemanan mereka sangat baik tapi Rendy bukan laki-laki bodoh yang bisa terus-terusan dibohongi seperti ini. Rendy bisa merasakan ada yang aneh dengan kedekatan antara Andreas dan Olivia dan itu terjadi setahun setelah Olivia menjadi kekasihnya.
Namun, karena Rendy begitu mencintai Olivia, jadi ia berusaha untuk selalu percaya kepada kekasihnya ini. Bahkan, ia masih saja mempertahankan hubungan ini meski orang tuanya terus menentang dan tidak akan memberi restu kepada hubungan mereka.
Rendy hanya diam membiarkan Olivia memeluknya sambil menangis. Ia kuga tidak membalas pelukan Olivia hingga terdengar suara dering ponsel milik Rendy berbunyi dari dalam saku jasnya.
Olivia pun melepaskan pelukannya. Rendy segera meraih ponsel disaku jasnya dan melihat siapa yang menelponnya lalu ia menjawabnya.
"Ya, ada apa?"
"Maaf Pak kalau saya mengganggu. Saya barusan keruangan Pak Rendy tapi Bapak tidak ada. Saya hanya ingin mengingatkan kalau setengah jam lagi ada pertemuan dengan Pak Davit."
Ucap Siska memberitau Rendy dengan sopan.
"Ok, kamu siapkan semuanya. Aku segera datang."
Ucap Rendy lalu menutup sambungan teleponnya. Ia melangkah melewati Olivia dan langsung masuk kedalam mobilnya tanpa menghiraukan Olivia.
Olivia masih berusaha mengejar Rendy hingga mobil Rendy melaju. Ia berlari sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Rendy. "Rendy! Berhenti! Aku mohon berhenti!" Teriak Olivia sambil berlari mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Rendy namun Rendy sama sekali tidak peduli.
Sebenarnya dalam hati, Rendy tidak tega melihat wanita yang masih sangat dicintainya mengejarnya seperti ini. Tapi, rasa kecewa dan sakit hatinya membuatnya harus melakukan ini kepadanya agar Olivia sadar akan kesalahannya dan tidak lagi membohonginya.
Mobilnya semakin melaju cepat dan Olivia tidak sanggup untuk mengejarnya lagi. "Aaaargh!" Olivia mengerang merasa sangat frustasi.
"Aku tetap akan terus mengejar kamu Ren! Kamu akan tetap jadi milik aku sampai kapanpun!" Gumamnya dengan menggertakkan giginya.
................