Because, I Love You

Because, I Love You
#107



Rendy baru saja sampai dirumah sakit setelah meminta supir Hotel mengantarnya.


Dia langsung berjalan dengan cepat menuju ruang IGD karena Rossa yang tadi menjawab teleponnya mengatakan kalau Kirana masih ditangani oleh dokter diruang IGD.


"Pak Rendy!" Seru Rossa saat melihat Rendy berjalan cepat kearahnya.


"Gimana keadaan Kirana?" Tanya Rendy dengan wajah panik dan penuh kekhawatiran.


"Kirana..dia masih diperiksa Pak." Jawab Rossa dengan gugup.


"Kenapa bisa sih?" Tanya Rendy dengan tidak sabar.


"Tadi, kita lagi mau belanja, tapi Kirana mau cari toilet dulu dan nitip tas ke saya. Saya disuruh nunggu dia didepan toko. Pas dia nyeberang tiba-tiba ada motor yang melaju kencang dan nabrak dia Pak." Ucap Rossa menjelaskan kepada Rendy.


Rendy mengangguk pelan dan dokter yang menangani Kirana keluar. "Siapa keluarga dari pasien atas nama Kirana?"


Rendy segera menghampiri dokter dengan cepat. "Gimana keadaan calon istri saya Dok?"


"Pasien sudah sadar. Tapi harus menjalani operasi pemasangan gips karena mengalami cedera dikaki kanannya. Kami butuh tanda tangan persetujuan dari pihak keluarga." Ucap dokter dengan ramah.


"Kalau begitu lakukan aja yang terbaik Dok!" Tegas Rendy.


Setelah menandatangani persetujuan operasi, Rendy mengurus administrasi terlebih dulu.


Rossa masuk kedalam ruang IGD untuk menemui teman baiknya ini dengan mata berbinar dan senyum yang merekah.


Kirana pun mencibirnya dengan melirik sinis pada Rossa. "Dasar teman yang tak punya akhlak! Temennya lagi menderita gini malah kelihatan girang banget kamu."


"Ki, kamu nggak tau sih gimana wajah panik dan khawatirnya Pak Rendy!" Rossa begitu antusias memberitau Kirana.


Kirana malah terlihat terkejut dan terbelalak mendengar Rossa. "Apa? Kenapa dia tau aku kecelakaan?!" Pekik Kirana dengan suara tertahan agar tidak mengganggu pasien lain yang juga sedang diperiksa dokter disebelah biliknya.


"Nggak sengaja Ki. Tadi HP kamu bunyi terus. Pas aku lihat eh nama my lovely sedang memanggil. Aku angkat dong, ternyata suara merdunya Pak Presdir ganteng nanyain kamu dimana. Aku nggak bisa kalau nggak kasih tau Pak Rendy, Ki."


Kirana menghela nafasnya panjang lalu menghembuskannya pelan. Dia sedang berusaha untuk menghindari Rendy, tapi teman tak berakhlaknya ini malah membuatnya mati kutu tidak tau harus berbuat apa lagi.


"Udah lah Ki, nggak apa-apa kan kalau Pak Rendy tau. Dia lagi urus semua biaya administrasi kamu buat operasi pemasangan gips di kakimu." Ucap Rossa lagi saat melihat Kirana yang terdiam dengan wajah murung.


Rendy kemudian masuk dan Rossa yang duduk disamping Kirana langsung berdiri menjauh memberi akses kepada Rendy untuk mendekati Kirana.


Rendy tidak hanya mendekat tapi dia langsung memeluk Kirana. "Kalau aja kamu mau pergi sama aku, nggak bakal terjadi hal seperti ini." Ucapnya pelan sambil memeluk Kirana.


Kirana mendorong dada bidang Rendy dan Rendy melepaskan pelukannya. "Aku nggak apa-apa kok. Makasih udah dateng dan ngurus biaya administrasi aku. Nanti aku ganti tapi nyicil. Kamu bisa potong gaji aku tiap bulannya." Ucap Kirana dengan wajah tanpa ekspresinya.


Meskipun hati kecilnya begitu senang dengan kedatangan Rendy yang terlihat mengkhawatirkannya, dia masih tetap tidak bisa melupakan rasa kecewanya terhadap kekasihnya ini.


"Ngomong apa sih kamu? Apa kepalamu juga cedera?" Rendy ingin sekali marah, tapi dia harus bisa menahannya. Tidak mungkin memarahi gadisnya yang sedang terkena musibah ini. Yang ada dia dibuat panik dan khawatir olehnya.


Rossa benar-benar dibuat baper melihat mereka. Dia berdehem lalu pamit untuk keluar karena tidak ingin menjadi obat nyamuk.


...


Kirana baru saja menjalani operasi pemasangan gips. Dia tidak bisa berjalan normal untuk sementara waktu.


Saat ini, Kirana sedang berada dikamar rawat inap dan harus dirawat inap beberapa hari untuk pemulihan. Tapi Kirana menolak untuk dirawat inap. Lagi pula besok dia harus kembali pulang ke kota metropolitan. Bagaimana bisa dia menginap di rumah sakit?


"Mas, aku nggak mau nginep disini. Besok kita udah harus balik ke Jakarta kan? Aku harus siap-siap sekarang." Rengek Kirana pada Rendy.


"Kamu nggak denger tadi dokter bilang apa? Kamu nggak usah mikirin yang lain dulu deh. Fokus aja buat pemulihanmu." Tegas Rendy.


'Tok Tok Tok'


'Ceklek'


Rossa dan Yolanda masuk kedalam kamar rawat Kirana dengan membawakan koper milik Kirana.


"Rossa, Yola?" Sapa Kirana dengan melabarkan matanya dan tatapannya tertuju pada koper miliknya yang dibawa oleh Rossa.


"Hallo Ki. Malam Pak Rendy." Sapa Yolanda dengan senyum ramah sedangkan Rossa hanya tersenyum saja.


"Malam." Balas Rendy dengan tersenyum tipis lalu bangkit berdiri.


"Gimana keadaan kamu, Ki?" Tanya Yola sambil berjalan mendekat ke arah ranjang Kirana.


Rendy berjalan ke arah sofa lalu duduk disana membiarkan Kirana bicara dengan kedua temannya.


"Ya begini Yol, seperti yang kamu lihat." Jawab Kirana dengan menatap kosong pada kaki sebelah kanan yang baru saja dioperasi.


"Udah jangan sedih gitu, Ki. Nih kita bawain koper kamu. Aku udah beresin semua barang-barang kamu karena kita besok udah pulang." Sela Rossa sambil menarik koper Kirana dan meletakkannya didepan laci samping tempat tidur.


"Makasih ya Ros." Ucap Kirana.


Setelah mereka berbincang sebentar, Rossa dan Yolanda segera pamit untuk kembali ke Hotel karena mereka juga harus beberes. Selain itu, mereka juga tidak ingin mengganggu waktu istirahat Kirana.


"Cepet pulih dan sampai ketemu di Jakarta ya Ki." Ucap Yolanda disusul Rossa kemudian memeluk sekilas teman baiknya ini.


"Iya, makasih ya." Ucap Kirana dengan tersenyum.


"Pak Rendy, kita pamit dulu ya." Lanjut mereka berpamitan kepada Rendy.


Rendy mengangguk pelan dan tersenyum. "Hati-hati dijalan."


Setelah mereka pergi, Rendy kembali mendekati Kirana yang terus menatap kosong pada kaki kanannya.


Rendy duduk ditepi tempat tidur menghadap Kirana. "Mending kamu tidur gih, dari pada ngelamun terus. Ntar kalau kesambet akunya yang repot." Ucap Rendy sambil mengusap kepala Kirana.


Kirana mendengus lalu menatap Rendy dengan mengerucutkan bibirnya. "Aku cuma takut aja Mas." Ucapnya pelan.


"Takut kenapa? Ada aku disini. Nggak perlu takut."


"Ih kamu tuh ya, nyebelin emang!" Kirana memukul pelan dada bidang Rendy dan Rendy hanya terkekeh pelan lalu menarik Kirana kedalam pelukannya. "Aku takut kalau kaki kananku nggak berfungsi lagi." Lanjut Kirana dengan menahan tangisnya.


"Udah deh ya. Nggak usah mikir yang enggak-enggak! Sebaiknya kamu tidur biar ceper pulih." Tegas Rendy sambil mengusap-usap punggung Kirana untuk menenangkan hatinya.


................