
Hari weekend telah tiba...
Sejak mengetahui hari libur sekolah hari ini, dari malam tadi Pelangi sudah merengek mengajakku ke wahana bermain di mall.
"Sayang, kau mau kemana? Kenapa memakai setelan jas rapi begitu? Bukah kah ini weekend?"
"Astaga. Bukan kah semalam sebelum tidur aku sudah memberitahu mu?"
"Aku tidak mendengarnya. Kapan kau memberitahuku hah?"
"Huhft, sudah lah. Aku tidak tahu jika semalam kau sudah tertidur sayang, tapi aku harus keluar kota pagi ini. Besok aku harus bertemu clien penting, jadi maafkan aku. Hari ini aku tidak bisa menemani kau dan Pelangi pergi weekend."
"Lalu kapan kau pulang?" Tanya ku dengan suara lirih. Aku kesal dalam hati, dia akan pergi keluar kota tanpa memberitahuku meski dia berkata sudah.
"Besok sore aku sudah kembali. Apakah kau takut aku akan jauh darimu?" Jawabnya meledekku.
"Tidak. Kau saja yang terlalu percaya diri," Jawab ku cetus.
"Ayo lah, jangan marah begitu. Aku akan sangat merindukan mu nanti, karena malam ini aku pasti akan sangat sedih terlelap tidur tanpa memeluk mu."
Aku membuang muka menanggapinya. Kemudian Irgy menangkap kedua pipiku lalu mengecup hangat keningku. Aku masih mendenguskan hidungku dengan hentakan nafas karena kesal.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Sebelum ketinggalan pesawat nantinya, Pelangi masih tidur. Aku tidak ingin mengganggunya, aku akan menelponnya saja nanti." Ucap Irgy yang kemudian meraih tas rangsel.
"Sayang..." Panggilku merengek manja, menarik tangan nya. Irgy menoleh dan menatapku dengan senyuman.
"Biarkan aku mengantarmu ke bandara."
"Hem? Dengan baju piyama begini? Dengan rambut berantakan dan kotoran mata yang masih penuh dengan kotoran?"
Seketika aku mengusap wajah ku berdiri di depan cermin. Ku perhatikan tidak ada satupun kotoran seperti yang di katakannya, hanya rambutku sedikit teracak. Lalu menatapnya dengan geram.
"Aaah, sayang. Ih, kau..."
"Hahaha, maafkan aku. Aku hanys bercanda, Ehm.. Sudah lah, sebentar lagi aku akan di jemput sekretaris ku. Jaga diri baik-baik ya, selama aku jauh." Ucapnya mengusap kepala ku lalu mengecup punggung tangan ku.
"Seharusnya kau yang menjaga diri baik-baik juga pandangan matamu pada wanita lain."
"Astaga. Aku pergi untuk pekerjaan, bukan liburan."
"Hem, ya ya ya. Pergilah, hati-hati. Aku akan merindukan mu,"
"Aku mencintaimu sayang." balasnya kemudian keluar dari kamar, aku menyusulnya hingga di depan teras rumah. Di halaman ku lihat sebuah mobil hitam sudah terparkir. Menunggu Irgy untuk segera memasukinya, kemudian Irgy kembali mengecup keningku.
Dia melangkah memasuki mobil tersebut, aku terus menatap punggung mobil itu hingga menghilang dari pandangan ku.
🌻🌻🌻
Pelangi sudah siap untuk pergi ke mall bersamaku, dengan baju kaos berwarna peach di padukan celana joger yang menutupi hanya di bagian betisnya saja. Rambut panjangnya di kuncir dua, dengan poni berbentuk huruf U tersisir rapi, membuatnya manis ku lihat.
"Ma, papa dimana?"
"Ehm, papa tidak bisa ikut bersama kita weekend kali ini sayang. Karena papa harus pergi keluar kota untuk urusan bisnis, nanti kita video call papa saja ya?"
"Yah, papa gak seru." Keluhnya dengan bibir manyun.
"Gapapa, kan masih ada mama. Nanti kita main sepuasnya, oke baby?"
"Oke ma. Yeay..."
Lalu kami pergi menuju sebuah mall terbesar di kota kami tinggal. Pelangi begitu antusias dan senang ketika kami sudah sampai dan memasuki mall tersebut. Dengan menarik-narik tangan ku Pelangi terus melangkah dengan terburu-buru.
"Pelangi, pelan sedikit Nak. Nanti jatuh, sabar lah. Astaga, kau ini."
Pelangi mengabaikan ucapan ku, lalu tanpa sengaja pandangan ku tertuju pada sosok anak kecil yang sangat ku kenal hanya dari pandangan jarak jauh saja, dia berjalan di ikuti dengan wanita pengasuhnya. Bahkan di jarak satu meter terlihat dua pengawal mengawasi dengan ketat. Ya, dia Lucky..
"Pelangi, tunggu nak. Itu Lucky, apa kau melihatnya?"
"Ah, dimana Ma? Mana?" Pelangi menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok Lucky.
"Itu, di depan sana." Tunjuk ku ke arah depan.
"Lucky, Lucky..."
Teriak Pelangi memanggil, namun Lucky terus berjalan melihat sekeliling bersama para pengawalnya. Pelangi mencoba berlari lebih cepat, aku menyusulnya hingga nafasku sedikit terengah-engah.
"Lucky..." Kembali Pelangi berteriak memanggil Lucky setelah jarak kami semakin dekat. Seketika Lucky menoleh ke belakang, dan dengan sigap para pengawal di belakangnya menghalangi. Membuat Pelangi sedikit ketakutan dan menghentikan langkahnya yang hendak meraih tangan Lucky.
"Lucky," Ucap Pelangi dengan lirih. Sementara aku terpaku dengan mulut menganga. Rasanya tenggorokan ku mendadak kering melihat pemandangan ini.
"Pelangi, tante... Mohon maafkan sikap kedua paman ini." Ucap Lucky dengan santun, penampilannya kali ini sungguh berbeda. Dia terlihat lebih cute, seolah dia memang sengaja di permak dengan penampilan yang gagah bak anak sultan. Aku gemas di buatnya.
Tampan sekali anak ini, gumam ku dalam hati.
"E,eh tidak ap-pa. Maafkan sikap Pelangi jika kurang sopan sampai mengejarmu barusan."
"Tidak tante, tidak apa."
"Lucky, kau datang untuk bermain? Ayo kita main bersama."
"Sungguh? Kau ingin mengajak ku bermain disini? Baiklah, ayo kita bermain." Tanya Lucky dengan wajah sumringah.
"Tapi tuan..." Bantah wanita pengasuh di sisinya.
"Bibi, aku baru memiliki teman semenjak tiba disini. Izinkan aku bermain sebentar."
"Ba,baiklah. Tapi mohon berhati-hatilah tuan muda. Jangan sampai kelelahan,"
"Terimakasih bi, sudah mengerti."
Wanita itu mengangguk dengan senyuman pilu menatapnya.
Kemudian Pelangi dan Lucky mulai bermain di banyak wahana tanpa merasa puas dan lelah. Muncul keinginan untuk mengabadikan momen keceriaan dan kebersamaan mereka.
Lalu aku mengirimkan foto mereka pada Irgy. Seketika Irgy menelepon ku melalui vCall. Aku tersenyum puas, merasa berhasil membuatnya merasa iri tentunya.
"Sayang, kau lihat bukan? Anak laki-laki itu yang bernama Lucky. Dia tampan bukan? Menggemaskan, kau lihat gayanya. Ugh.."
"Ehm, ya ya. Anak itu memang tampan dan menggemaskan, tapi akan lebih menggemaskan lagi jika kita yang memilikinya." Jawab Irgy di ujung panggilan vCallnya.
"Kau, dasar. Huh, sabarlah sebentar. Aku akan menghadirkannya nanti, hihi."
"Sungguh, aaah aku mencintaimu." Jawab nya dengan ceria.
"Ehm, baiklah. Aku tutup dulu, aku harus mengawasi mereka. Mmuach, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu istrimu," Balasnya kemudian menutup panggilan vCall kami.
Aku mulai bosan dua jam berlalu mereka masih asyik bermain dan berkeliling mencoba berbagai wahana permainan baru. Hingga beberapa menit kemudian Pelangi menghampiriku dengan sebuah boneka lucu di dekapnya. Saling melempar senyum dengan Lucky, akupun ikut tersenyum.
"Mama, ini hadiah dari Lucky. Dia sangat jago bermain, dan mendapatkan boneka ini."
"Wah, Lucky. Terimakasih," Jawab ku mengusap rambut di kepalanya.
Eh, tunggu sebentar. Boneka itu, boneka Cony bukan? Tanya ku dalam hati.
Jangan-jangan...
"Lucky, apa kau mengenal Kevin?" Sontak pertanyaan ini keluar begitu saja dari mulutku. Membuatnya kebingungan di depan ku lalu kembali tersenyum dengan tenang.
"Maaf tante, Lucky tidak mengenal siapa itu Kevin."
"Lalu siapa nama orang tua mu Nak?" Tanya ku lagi,
"Tuan muda.." Tiba-tiba wanita pengasuhnya kembali tiba memotong obrolan kami.
Aaakh menyebalkan. Kenapa begitu sulit mengetahui identitas anak ini.
"Pelangi, aku harus pulang. Kita berjumpa kembali di sekolah besok."
"E,eh tunggu Nak. Tante belum selesai..."
"Maafkan Lucky tante, Lucky harus pulang." Pamitnya kemudian berlalu begitu saja di susul oleh para pengawalnya.
"Ma, Lucky bilang dia memiliki ayah dan ibu angkat. Apa itu artinya ma?" Ucap Pelangi membuyarkan pandangan ku yang menatap punggung Lucky.
"Ayah dan ibu angkat? E,eh.. Ada apa dengan ku? Kenapa pikiran ku tiba-tiba mengingat sosok anak itu tidak jauh beda dengan Kevin."
"Ma, Kevin itu siapa?"
"Eh, bagaimana bisa kau melupakan om Kevin nak? Dia sangat baik. Dan dia juga sangat menyayangimu,"
"Oh.." Jawab Pelangi singkat.
Fiuht... Kenapa anak ini jadi cuek begini sih...