Because, I Love You

Because, I Love You
#6



Jantungnya kembali derdegub dengan cepat dan kini rasanya semakin cepat hingga hampir keluar dari sarangnya. Bahkan, tubuhnya menegang seperti terkena aliran listrik tegangan tinggi saat merasakan dekapan pria yang merupakan Presiden Direktur Utama Pradipta Grup.


Aroma maskulin yang khas dari pria ini begitu memabukka, hingga membuatnya merasa nyaman ingin berlama-lama dalam peluknya.


Namun, seketika dia tersadar saat pria ini mendorong pelan tubuhnya.


"CK! Apa terjatuh sudah menjadi hobimu?" Rendy memasang wajah dingin menatap gadis tersebut.


"Hah? Eum, i-iya Pak. Eh, bukan, bukan...maksud saya...ma-maaf...saya tidak hati-hati." Jawab gadis itu dengan tergagap karena sangat gugup menahan rasa malu sekaligus sakit pada pergelangan kakinya.


Rendy menghela nafasnya tidak menghiraukan permintaan maaf gadis yang menurutnya sangat aneh. Dia tidak ingin berlama-lama dan terlihat peduli.


Dia kemudian melanjutkan langkahnya melewati gadis itu dan berlalu pergi.


"Hizzz, Dasar! Aku pikir dia akan berbaik hati membantuku jalan. Menggandengku atau mungkin menggendongku...xixixi. Ngarep banget sih aku." Gadis itu menggerutu dan terkikik sendiri.


...


Di parkiran, Beni dan Pak Salim sudah menunggu Rendy.


Pak Salim sudah mengenal Beni sebelum Rendy menghampirinya.


"Mulai besok, Bapak nggak perlu lagi menyupiri saya, karena sudah ada Beni."


"Baik, Den."


Beni membukakan pintu untuk Rendy di bagian penumpang. Setelah Rendy duduk, Beni menutup pintunya dan berbicara pada Pak Salim. "Biar saya yang bawa mobilnya, Pak."


"Oh, silahkan." Pak Salim menyerahkan kunci mobilnya pada Beni.


Pak Salim kemudian duduk di bagian co-driver dan Beni yang akan menjadi supir Rendy mulai saat ini.


"Loh, Den...itu bukannya perempuan yang tadi pagi hampir bapak tabrak, kan?" Tanya Pak Salim sambil menunjuk gadis yang berjalan tertatih keluar dari gerbang perusahaan saat mobil mulai berjalan.


Rendy melihat ke arah gadis itu lalu menjawab dengan deheman seolah tidak peduli, karena memang tidak peduli. "Hmm."


"Tapi, tadi pagi dia masih bisa berlari loh Den. Kenapa sekarang pincang gitu? Lalu ada urusan apa dia ke sini?" Tanya Pak Salim lagi ingin tahu.


"Saya juga nggak tahu, Pak. Coba bapak tanya sendiri saja ke orangnya." Jawab Rendy setengah bergurau membuat Beni yang sejak tadi hanya diam ingin tertawa, namun ia tahan karena takut dosa.


Pak Salim pun tidak berbicara lagi.


Rendy meraih ponsel dari saku jasnya, melihat pesan chat dari sang kekasih tercintanya yang sedang dia rindukan.


...


Gadis yang tadi telah menaiki ojek online yang telah dipesannya untuk mengantarnya pulang ke rumahnya.


"Makasih ya, Bang." Ucap gadis itu dengan tersenyum ramah sambil membayar tarif ojek yang ditumpanginya.


"Sama-sama, mbak." Jawab Bang Ojol juga dengan tersenyum ramah kemudian segera pergi setelah menerima uang dari gadis tersebut.


"Kirana, kamu udah pulang?" Tanya ibu-ibu paruh baya yang tinggal di seberang rumah gadis tersebut yang memiliki nama Kirana.


"Eh, Bunda Siti? Iya nih, Bun." Jawab Kirana dengan tersenyum manis.


"Loh, kenapa lengan dan kaki kamu, Ki?" Tanya Bunda Siti sambil menghampiri Kirana.


"Oh, ini...ini, tadi Kirana terburu-buru terus keseleo dan jatuh, Bun. Tapi, enggak apa-apa kok, Bun. Tadi udah diperiksa dan diobati sama dokter." Jawab Kirana dengan memaksakan senyumnya untuk menahan rasa sakitanya karena tidak ingin membuat orang lain mengkhawatirkannya.


"Beneran kamu enggak apa-apa?" Tanya Bunda Siti yang terlihat khawatir.


"Iya Bun. Makasih banyak ya, karena Bunda Siti udah khawatir sama Kirana. Tapi, beneran Kirana enggak apa-apa kok." Ucap Kirana meyakinkan Bunda Siti.


Bunda Siti pun tersenyum lega lalu merangkul Kirana membantunya berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Setelah membuka pintunya dan masuk, Kirana mempersilakan Bunda Siti untuk duduk di ruang tamu rumahnya.


"Makasih banyak ya Bun, jadi ngrepotin. Bunda, silakan duduk."


Kirana tertawa pelan, merasa terharu atas kebaikan dan perhatian Bunda Siti. Meski dia jauh dari ibunya, dia merasa seperti mempunya sosok ibu kedua yang memberinya perhatian seperti yang diberikan Bunda Siti kepadanya.


Bunda Siti merupakan tetangga dekat Kirana di kampungnya ini. Orang tua Kirana sudah sangat dekat dengan keluarga Bunda Siti sejak Kirana masih kecil.


Tapi, setelah ayahnya meninggal, Kirana diajak ibunya pulang kembali ke kampung halaman tempat kelahiran ibunya.


Setelah Kirana dewasa, Kirana ingin kembali ke kota untuk menempati rumah peninggalan mendiang ayahnya yang juga merupakan kota kelahirannya.


"Bunda mau minum apa? Biar Kirana buatin ya?" Tawar Kirana.


"Enggak perlu! O ya, gimana tadi? Kamu diterima enggak?" Bunda Siti bertanya perihal lamaran Kirana di Perusahaan Pradipta Grup.


Kirana terdiam dan senyum di wajah cantik dan manisnya perlahan menghilang. Kirana kemudian menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan.


"Kenapa? Masih belum diterima ya?" Tanya Bunda Siti lalu menghampiri Kirana.


"Iya, Bun. Kirana enggak diterima." Jawab Kirana pasrah.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Mungkin rejeki kamu bukan di sana." Ucap Bunda Siti sambil mengusap punggung Kirana untuk menenangkannya. "Coba nanti Bunda tanya ke Haris, siapa tahu di tempat Haris bekerja sedang memembutuhkan karyawan seperti kamu."


Kirana hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. "Makasih banyak ya, Bun."


...


Di kediaman Pradipta.


Rendy baru saja tiba di rumahnya, karena dia belum banyak pekerjaan hari ini, hanya sekedar membaca beberapa dokumen saja. Selesai itu, dia memutuskan untuk pulang dan ingin makan siang di rumah.


Dia juga masih belum punya teman di kota kelahirannya ini, karena sejak kecil, dia sekeluarga diboyong Papanya ke London dan sekolah di sana.


"Den Rendy sudah pulang?" Tanya Bi Sumi yang melihat Rendy berjalan masuk.


"Iya, Bi." Jawab Rendy sambil melonggarkan dasinya.


"Ya sudah, kalau gitu makan siang dulu ya, Den. Pasti Den Rendy belum makan, kan?"


"Belum, Bi. Aku memang sengaja buru-buru pulang karena mau makan di rumah. Mau makan masakan Bibi." Guraunya sengaja ingin menggoda Bi Sumi.


"Ih, si Aden mah sekarang udah bisa godain Bibi. Yasudah, Bibi siapin dulu ya, Den. Tunggu sebentar!" Bi Sumi tersenyum sumringah dan segera pergi ke dapur menyiapkan makan siang untuk Rendy.


"Bos, apa hari ini ada rencana ingin pergi keluar? Jalan-jalan mungkin?" Tanya Beni memastikan.


"Kayaknya iya." Jawab Rendy kemudian segera naik ke atas menuju kamarnya untuk ganti baju.


Beni pergi keluar menuju pos satpam dan ikut bergabung dengan Pak Salim serta beberapa satpam yang berjaga di rumah ini.


Tak lama, Rendy sudah turun kembali setelah berganti pakaian. Dia memakai celana jeans selutut warna mocca dan kaos putih polosnya.


"Sebentar ya, Den!" Teriak Bi Sumi dari dapur yang melihat Rendy sudah duduk di ruang makan.


"Iya, Bi. Aku tunggu." Jawab Rendy sambil fokus pada layar ponselnya.


Beberapa menit kemudian, Bi Sumi keluar dari dapur dengan membawa dua piring besar berisi masakan kesukaan Rendy.


"Ayo makan dulu Den! Bibi masakin makanan kesukaan Den Rendy." Ucap Bi Sumi sambil meletakkan dua piring yang dibawanya ke atas meja makan.


Rendy meraih kedua piring dari tangan Bi Sumi lalu dia letakkan di atas meja.


"Sepertinya enak nih." Rendy mencium aroma lezat dari masakan Bi Sumi.


Meski sejak kecil tinggal di London, Rendy tetap selalu merindukan masakan Nusantara, terutama masakan dari Bi Sumi yang selalu membuatkan menu-menu kesukaannya.


Rendy memanggil Beni untuk mengajaknya makan bersama.


Selesai makan, Rendy kembali ke kamarnya.


................