Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 274



Tiba di penghujung ujian akhir. Semua siswa dan siswi tampak cemas menunggu pengumuman di papan pengumuman. Apakah aku lulus, bagaimana jika aku tidak bisa lulus dengan nilai baik, apakah aku juga termasuk dalam urutan beasiswa yang di janjikan, ah... berbagai pertanyaan itu terdengar bising di telinga Pelangi. Lalu dia menjatuhkan setengah badannya di atas meja, dia menghela nafas panjang.


"Hah... Akhirnya." Ujar nya dengan menatap kosong meja yang selama ini setia menemaninya belajar di kelas, menjadi saksi setiap usaha kerasnya ya g menguras tenaga dan energi. Bahkan rasanya dia sudah sangat ingin menulis setiap keluh kesahnya di meja itu.


"Tenanglah, Langi. Kau pasti berhasil, aku yang akan menemanimu nantinya. Hihi," Jawab Joe dengan percaya diri, menggoda Pelangi.


"Aduuh. Rasanya aku sangat mual menanti pengumuman ini." Ujar Lisa mendecak pelan.


"Aku pasrah saja." Keluh Jeni.


"Aku.. Akh, aku tidak mementingkan ini lagi. Kalaupun aku gagal, aku bisa masuk di universitas biasa saja. Lalu melanjutkan cafe papa yang sudah di wariskan padaku." Ujar Lucas dengan wajah sedih.


Kemudian seorang guru yang merupakan wali kelas mereka memasuki ruangan. Sontak semua siswa mendongak tegang menatap ke depan kelas. Mereka bagaikan patung lilin saat ini, rasa cemas, takut, tidak sabar, bercampur aduk di hati mereka semua.


"Baiklah, anak-anak. Bapak akan mengumumkan hasil ujian akhir kalian dan siapa saja yang berhak mendapatkan beasiswa untuk 2 orang siswa menuju ke universitas terbaik nantinya. Sangat mengejutkan anak-anak, disini terjadi banyak perubahan. Tapi bapak harap bagi yang tidak mendapatkan nilai terbaik dan masuk dalam pilihan beasiswa, jangan berkecil hati. Tetap lah semangat, kalian semua calon dokter dan perawat, atau mungkin bidan dan bisa jadi kalian menjadi pemilik sebuah clinic kesehatan nantinya, bapak harap kalian tidak akan melupakan bapak sebagai guru dan wali kelas kalian."


Ucapan guru tersebut membuat beberapa siswa bersedih, ada pula yang meneteskan air mata, bahkan ada pula yang masih tetap menegang tak berkutik.


"Ehhem. Bapak akan memulai membacakannya. Wah, sudah bapak duga sebelumnya." Ucap guru itu kembali dengan senyuman puas.


"Pelangi, kau memang kebanggaan bapak, Nak. Kau berhak mendapatkan beasiswa berharga ini."


Sontak Pelangi menganga tak berkedip, seakan masih tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia tersadar kemudian setelah beberapa temannya bertepuk tangan bersorak ria. Ketiga sahabat Pelangi yang paling ribut tentunya.


Pelangi memejamkan kedua matanya, hatinya sungguh bergemuruh bahagia. Hanya air mata yang mampu mewakilinya, nafasnya seolah memburu.


"Akhirnya, aku berhasil mendapatkannya. Terimakasih Tuhan, tinggal satu ujian lagi untuk bisa memasuki universitas yang aku inginkan." Ucapnya dengan lirih.


"Langi, kau yang terbaik." Ujar Joe. Pelangi tersenyum tipis.


"Selanjutnya... Ehm, waow. Ini diluar dugaan, sepertinya dia berusaha dengan keras kali ini." Ujar pak guru kembali dengan senyum-senyum sendiri, sesekali dia mengangkat kedua alisnya ke atas hingga kelopak matanya seolah menggantung di balik kaca mata yang terpasang di batang hidungnya.


Sesekali dia melihat ke arah tepat Pelangi duduk. Entah siapa yang dia lihat, tapi sepertinya... Aku yakin, kali ini Joe akan berhasil. Ucap Pelangi dalam hatinya.


"Monalisa. Selamat, kau berhasil terpilih mendapatkan beasiswa menyusul Pelangi."


Sontak Pelangi dan semua siswa menoleh ke arah Lisa yang termangu menatap ke depan, terlihat jelas di bagian lehernya bahwa ia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Dia sangat shock, dia pun tak percaya ini.


"Sa, kau hebat." Jeni berseru lalu merangkulnya, diciuminya pipi kanan Lisa dari arah samping.


"Sa, kita memang tidak akan terpisahkan." Ucap Pelangi mengedipkan mata nakal.


"Muach muach, aku padamu Princess cold." Jawab Lisa melempar kecupan jauh dari ujung telapak tangannya.


"Pak, bisakah bapak mengecek hasil pengumuman itu kembali?" Tanya Joe tiba-tiba dengan berdiri dari posisi duduknya. Mendadak hening seisi kelas.


"Apa yang kau maksud, Joe?" Tanya pak guru seraya membuka sedikit kacamatanya untuk menatap Joe.


"Mengapa, mengapa Lisa? Lalu bagaimana dengan hasilku?"


"Tenang, bapak belum menyelesaikannya membaca pengumuman dari kepala sekolah. Sabar lah, Nak."


"Ih.. Apaan sih, Joe. Kau itu aneh deh, memangnya kenapa jika aku dan Pelangi yang mendapatkan kesempatan itu hah?" Lisa mulai kesal melihat tingkah Joe.


"Tau tuh, si Joe. Apaan coba?" Jeni merasakan kekesalan yang sama.


Pelangi terdiam sesaat, dia menatap punggung Joe dengan kebingungan lalu melempar tatapannya pada Lisa kemudian.


Benar, aku juga tidak percaya ini. Kenapa, kenapa bisa Lisa? Lalu Joe? Bukan kah tahun lalu dia berada di peringkat yang sama sepertiku? Mengapa dengan sekarang?


"Apa lagi yang akan bapak sampaikan? Jika yang terpilih hanya dua. Bukan kah itu berarti aku gagal mendapat beasiswa itu pak?"


"Hemm... Bapak mengerti, apa kau merasa malu karena tidak bisa menyaingi pacarmu, haha." Kali ini pak guru menggoda Joe untuk yang pertama kalinya. Mungkin karena ini sudah akan menuju hari perpisahan, eh tapi bagaimana dia tahu jika Joe dan Pelangi pernah pacaran? Bathin Pelangi kembali bertanya-tanya.


"Aaarght, sial!!!"


Diluar dugaan, Joe berani bertingkah kasar hingga memukul meja nya di depan pak guru langsung.


"Huuuu... Santai saja dong," salah satu siswa menegurnya saat Joe duduk kembali dengan kesal.


Pelangi masih tak percaya ini, ia terlalu fokus dengan apa yang di dengarnya ini. Pelangi sangat paham apa yang Joe rasakan, melihat usahanya selama ini, sangat jelas terlihat Joe begitu ambisi ingin mendapatkan kesempatan ini. Meskipun, Pelangi juga menyadari bukan itu alasannya. Melainkan dia ingin menarik perhatian Pelangi dan mengejarnya untuk kuliah di kampus yang sama.


Jika pun kau gagal dalam beasiswa itu, bukan kah kau masih bisa masuk di universitas yang sama dengan ku melalui jalur semestinya, Joe? Ada apa sebenarnya? Kenapa kau begitu marah? Apa yang kau harapkan sebenarnya?


Lalu kemudian guru melanjutkan pengumuman hasil akhir ujian kita, Joe berada di urutan ke tiga, Jeni ke lima, justru Lucas berada si urutan ke empat.