Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 239



Pelangi tidak bisa lagi menahan emosinya yang sudah memuncak ketika Maria membentaknya karena melihatnya memasuki kamar yang kini hanyalah ada Joe dan Maria berdua saja.


"Maria!!! Kau memulainya lagi. Bisakah kau berbicara lebih halus menyapanya?"


"Joe, dia tidak sopan. Kau lihat itu barusan," Bantah Maria.


"Aduuuuh ada apa sih kalian ribut sekali?" Abel memasuki kamar setelah terdengar suara Maria yang sedikit nyaring dengan banyak omelan.


"Tante, Pelangi pamit pulang dulu ya." Kini Pelangi tak bisa lagi menahan diri.


"Eh, nak. Kau baru saja sampai, tante buatkan jus dulu ya."


"Gak usah tante, aku pulang dulu." Kemudian Pelangi keluar kamar berlarian menuju pintu keluar rumah Abel.


"Aaarght, sial!!! Semua gara-gara kau Maria." Joe membentak Maria kemudian mengejar Pelangi keluar.


"Langi, Langi tunggu " Joe berteriak berusaha agar Pelangi menghentikan langkahnya saat sudah tiba di halaman rumah Joe, tempatnya memarkir mobil tadi.


"Langi, ku mohon jangan salah paham. Tadi aku hanya berusaha menenangkannya, jangan marah lagi ya." Ucap Joe menjelaskan setelah berhasil menarik lengan Pelangi.


"Hentikan, Joe. Jangan menjelaskan apa-apa lagi,"


"Tidak, Langi. Dengarkan dulu, Maria adalah gadis manja. Itu karen dia terbiasa dengan ku saat di LN dulu, kami sudah bersahabat lama."


"Oh ya? Lalu bagaimana dengan kita? Bukan kah kita juga berawal dari sahabat dekat? Bahkan sampai saat ini aku ragu menganggap hubungan kita sebagai pacar atau sebatas pelengkap saja."


"Tidak! Kau pacar ku, dan Maria sahabatku Langi. Ayo lah, Maria sudah biasa bersikap seperti itu karena kebiasaannya di LN."


"Dan kau pun begitu, bukan? Maaf Joe. Sejak ku lihat kau dengan Maria begitu dekat dan akrab, aku mulai berpikir jika sebaiknya kita akhiri saja hubungan status kita."


"Langi!!!" Joe meninggikan suaranya. Pelangi terkejut dengan sedikit meringkuk.


"Eh, maaf Langi. Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu."


Pelangi menarik nafasnya dalam-dalam ketika Joe terus berbicara tanpa jeda.


"Joe, kau tahu.. Aku benci seseorang yang tidak pernah bisa memegang teguh ucapannya, itu sama halnya dengan pembohong yang sebenarnya."


"Lalu bagaimana aku harus menjelaskannya agar kau percaya???"


"Kita.. PU-TUS!!!"


Joe terpaku saat mendengar ucapan Pelangi yang begitu mudahanya dia lontarkan dengan tegas menekan nada bicaranya. Hingga ia tidak menyadari Pelangi sudah memasuki mobilnya dan menyalakan mesinnya untuk melajukan dan berlalu pergi keluar halaman rumah Joe.


"Pelangiiiii!!!"


Joe berteriak sekeras mungkin namun nihil, Pelangi telah pergi jauh melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Di dalam mobil Pelangi pun berteriak mengeluarkan segala umpatan kasar memaki Joe.


"Aaaaarght.. Brengsek, kau gila Joe. Kau jahat, sejak awal aku sudah enggan menjalin hubungan kita dengan status pacaran. Kau bilang aku prioritas utamamu, aku berbeda, aku pacar yang akan selalu kau buat bahagia. Tapi ini apa hah?"


Pelangi tiada hentinya berteriak di dalam mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar berada di puncak amarah yang tak bisa dia kontrol, namun tidak sedikitpun dia sampai menjatuhkan air matanya.


Pelangi pun tiba memasuki halaman rumahnya, dengan sedikit kasar dia menutup pintu mobilnya lalu masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu dia terkejut ketika melihatku sedang duduk di ruang tamu.


"E,eh.. Tadi hanya ketemu Joe, Ma."


"Ciye... Jadi sudah baikan, nih?" Tanya ku menggodanya.


"Pelangi pikir tadinya begitu, Ma. Tapi, Pelangi sudah mengambil keputusan terbaik untuk hubungan kita."


"Wah, bagus dong. Belajar berpikir dewasa, anak mama pasti melakukan yang terbaik."


Pelangi tersenyum kecut. Aku mengernyit, mencoba menelusuri apa yang sudah dilakukannya pada Joe tadi.


"Ya udah, Ma. Pelangi ke kamar dulu, ngantuk." Pelangi melangkah hendak menuju kamar.


"Eh, nak. Lalu kenapa Joe tidak kau ajak kemari? Sudah lama dia tidak pernah berkunjung kemari." Tanya ku, dan langkah Pelangi terhenti.


"Mungkin dia gak akan pernah lagi datang berkunjung kesini. Kita sudah putus." Jawab Pelangi santai, dengan mengankat kedua bahunya setengah ke atas.


"What??? Pelangi. Jangan bercanda ah, mama serius."


"Ya ampun, Mama. Hah, terserah lah." Jawab Pelangi kembali dengan memutar kedua bola matanya ke atas. Aku beranjak berdiri menatapnya penuh heran, apa dia sungguh serius? Tapi kenapa kesannya dia begitu tenang.


"Kemari sebentar, mama mau bicara." Titah ku kemudian.


Dia mengangguk, berjalan memghampiriku. Kali ini ekspresinya sudah berubah sedikit gusar.


"Katakan sekali lagi, apa benar yang kau ucapkan barusan, Nak?" Tanya ku untuk meyakinkan hatiku sendiri.


Pelangi hanya mengangguk pelan. Kemudian menundukkan wajahnya di depanku, tanpa berani menatap saat aku memandanginya sejak tadi.


"Lalu apa masalahnya nak? Apakah harus itu pilihan yang terbaik?"


"Tidak ada pilihan lain, Ma. Semua sudah jelas, karena sejak awal aku ragu dengan hubungan kita."


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Ma, apakah begini rasanya menahan cemburu pada orang yang kita sukai? Sementara dia tidak peka akan perasaan kita?" Tampak wajah Pelangi mulai merah padam. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.


Telah terjadi sesuatu, ya.. Puteri ku kini sedang terpukul, namun dia berusaha menahan dan mengabaikan rasa sakit itu. Beruntung dia tidak selemah diriku saat itu yang mudah meluapkan segala amarah dengan isakan tangis. Tapi apa yang di lakukan Joe padanya? Kali ini aku tidak bisa tinggal diam.


Lalu aku melangkah maju untuk mendekatinya, ku peluk erat tubuhnya. Ku tepuk-tepuk bahunya dengan pelan, berusaha menenangkan hati dan pikirannya saat ini.


"Tak apa, mama mengerti Nak. Jika memang itu keputusan terbaik, dan kau siap dengan segala resikonya. Lakukan, jangan memendamnya sendiri, jangan menyiksa dirimu sendiri. Itu hanya akan merugikan mu nantinya, Nak."


Pelangi mengangguk dengan tarikan nafas dalam-dalam. Rasanya aku sudah ingin sekali menemui Abel, aku ingin minta pertanggung jawabannya. Berani-beraninya dia membiarkan putera nya menyakiti puteri ku kali ini. Aku mengenal Joe selama ini adalah anak yang baik, selalu membuat Pelangi ceria. Dia santun, dia selalu menjaga Pelangi, tapi ada apa kali ini? Apakah ini karena kehadiran Maria? Ah, entahlah...


Kemudian Pelangi meregangkan pelukan ku, ku tatap wajahnya. Dia masih mampu tersenyum tipis menatapku, walau ku tahu betul. Aku bisa membacanya dengan jelas, hatinya sedang sakit, hatinya di penuhi amarah yang meluap, dia kecewa, dia terluka.


"Pergilah ke kamar mu, Nak. Mama akan buatkan jus kesukaan mu, hem..?"


"Terimakasih, Ma. Sudah menerima keputusan ku, Pelangi tahu mama juga menyayangi Joe. Tapi kali ini, Pelangi..."


"Ssssttt... Mama akan selalu mendukung keputusan mu, Nak."