Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 262



Sudah tiga hari berlalu, Joe belum juga sadarkan diri. Abel hanya bisa menangis, sesekali Ammar datang menjenguknya. Dilihatnya suami Abel begitu menyayangi dan peduli pada Joe, membuat Ammar memilih untuk menahan dirinya. Dia tak ingin terlihat terlalu mencolok, jika saat ini... Ammar juga memiliki hak atas Joe yang kini sudah di ketahui adalah putera kandungnya juga.


Begitu juga dengan Exelle, hampir setiap hari datang menjenguk Joe ditemani oleh kedua temannya. Abel tidak lagi melarangnya untuk menjenguk Joe atas permintaan Ammar, karna walau bagaimanapun mereka tetap saudara satu ayah. Kenyataan ini tidak bisa di pungkiri walaupun Exelle dan Joe belum mengetahuinya.


Abel sengaja merahasiakan atas apa yang terjadi pada Joe dari pengetahuan Fanny dan Pelangi. Sementara Ammar masih berkeliaran datang ke rumah sakit, Abel tak ingin memperkeruh keadaan jika saja sampai mereka bertemu. Ini akan semakin kacau nantinya. Begitupun pada Exelle, Abel telah membuat kesepakatan untuk tidak memberitahu Pelangi.


Siang ini, sepulang sekolah Exelle kembali datang menjenguk Joe di temani oleh kedua temannya lagi. Sebelumnya dia sudah berjanji akan bertemu dengan Ammar di rumah sakit, untuk menghindari segala kecurigaan.


"Ex... Papa ingin bicara, Nak. Kau ada waktu luang?" Tanya Ammar padanya sembari melirik ke arah dua temannya di sisi Exelle.


"Aah, baiklah. Kalian bisa mencari tempat yang nyaman, aku akan menunggu mu di luar saja, Ex." Ujar kedua temannya, seketika mereka mengerti jika Ammar membutuhkan waktu berdua saja dengan puteranya.


"Uuh, kalian sungguh teman yang sangat pengertian. Aku suka, terimakasih ya sudah mau menjadi teman yang baik untuk Ex." Ucap Hana pada mereka.


"Sama-sama tante, ya sudah om. Kami pergi dulu, kalian bisa bicara bertiga." Jawab mereka kemudian berlalu pergi lebih dulu dan melambaikan tangan pada Exelle.


"Ayo, kita ngobrol di restoran dekat sini. Papa lihat ada restoran di seberang jalan." Ajak Ammar seraya merangkul bahu puteranya itu.


"Ehm, pa. Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul."


"Ada apa, Nak?"


"Ehm... Nanti ku jelaskan."


Ammar dan Hana saling menatap sejenak lalu pergi lebih dulu dengan anggukan mantap.


Exelle masih berusaha mengelabui beberapa orang yang mengawasinya dari jauh. Beruntung salah satu bodyguard yang mengawasinya berhasil Exelle dekati dan memihak padanya. Karena Exelle pernah membantu keuangan keluarganya.


Tiba di restoran yang di kini sudah ada Ammar dan Hana menunggunya, Exelle tersenyum hangat melihat Ammar dan Hana menyambutnya dengan senyuman pula.


"Kau mau pesan makanan apa, Ex? Atau kau mempunyai selera makan yang sama dengan tuan Ammar?"


"Ehm, tidak. Terimakasih, aku mau jus strawberry saja. Aku sedang mencoba menyukai buah itu saat ini." Jawab Exelle dengan canggung pada Hana.


"Ciye... Apa kini kau sedang jatuh cinta pada seorang gadis?" Hana mencoba menggodanya dan lebih akrab dengan Exelle. Ammar mengerutkan kening menatap mereka yang berbincang.


Hana selalu mencoba lebih dekat dengan anak-anak ku, Exelle masih sedikit canggung, entah dia akan mau menerima nya atau tidak jika ku beritahu siapa Hana saat ini, karena Lucky begitu tidak menyukainya hingga saat ini.


Gumam Ammar dalam hati.


Kemudian Exelle tersipu malu ketika Hana menggodanya demikian. Ammar tersenyum geli melihat puteranya demikian.


"Ex, dia... Dia Hana. Istri papa saat ini." Ujar Ammar menjelaskannya dengan ragu.


Exelle terkejut dengan mata melotot.


"Hai... Mulai saat ini, jangan panggil aku tante lagi. Panggil saja, mama. Mami, moms atau... Terserah saja. Hihi," Jawab Hana dengan senyuman lebar.


"Dan kau, memiliki satu saudara di LN yang tinggal dengan papa sejak kecil. Papa menganggapnya sebagai anak kandung papa sendiri, dia Lucky. Usianya hanya beda beberapa bulan saja dengan mu, Nak. Kau pasti akan senang berkenalan dengannya."


"Apakah dia bukan anak kalian? Dimana dia sekarang?" Tanya Lucky dengan kebingungan.


"Bukan. Dia anak angkat papa mu, Ex. Tapi dia, ehm... Dia, tidak pernah seakrab ini dengan ku. Oleh karena itu dia tidak ikut hadir disini karena selalu merasa risih di dekatku." Jelas Hana kemudian.


"Hana!!!" Bentak Ammar. Membuat Joe juga terkejut kembali.


"Cih, apa? Aku hanya bercerita yang sebenarnya." Balas Hana membantah.


Ternyata papa sudah menikah lagi dan belum memiliki anak dari wanita ini, syukurlah. Dia terlalu over dan manja, aku tidak suka itu. Dan Lucky? Seperti apa dia? Sepertinya dia anak yang asyik. Reaksi kita pada istri baru papa ini sama. Wah, aku jadi ingin bertemu dengannya.


"Exelle... Kau baik-baik saja, Nak? Apa kau marah mengetahui semua ini tentang papa?"


"E,eh... Tidak pa, tak apa. Aku tidak marah, bisa bertemu dengan papa kembali aku sudah sangat bahagia. Paling tidak, aku tidak benar-benar hidup sendiri tanpa orang tua di dunia ini."


"Lalu bagaimana dengan ku? Apa kau juga senang dan bahagia aku menjadi mama mu, Ex? Haha, aku yakin kau pasti juga menerimaku dengan bahagia bukan?" Tanya Hana dengan penuh percaya diri.


"E,eh... Ya, ya. Aku... Aku juga suka, tante. Eh, ma-ma." Jawab Exelle dengan kikuk.


"Kyaaaa... Aku sudah menduganya. Aku suka sekali itu, aku suka kau memanggilku mama."


Exelle meringis menatap Ammar dan Hana.


"Terimakasih, anak ku. Kau begitu baik meski kau terpisah begitu lama dengan papa, dan sikapmu ini. Seolah papa bertemu kembali dengan mendiang mama mu."


Exelle hanya tersenyum tipis tanpa banyak kata. Lalu kemudian Hana berpamitan untuk pergi ke toilet. Exelle merasa ini adalah kesempatan baginya untuk menanyakan banyak hal meski tidak akan semuanya bisa dia sampaikan.


"Pa, apakah apa mencintai mama tiri?"


Ammar terhentak menatap wajah puteranya itu.


"Ada apa, kenapa kau bertanya seperti itu, Nak?"


"Lalu dengan mama, apakah papa mencintai mama dulu pa?"


Ammar menarik nafasnya dalam-dalam, ia tidak ingin salah bicara di depan puteranya saat ini. Ia tidak ingin mengulang hal yang sama lalu membuatnya jauh kembali dengan Exelle.


"Mamamu tetap istri papa yang terbaik, nak. Mama mu adalah cinta pertama papa, begitu juga kau saat ini. Kau begitu penting bagi papa, mau kah kau tinggal dengan papa di LN? Kita akan hidup bahagia disana."


"Tidak, Pa." Jawab Exelle singkat.


"Kenapa? Bukah kah kau juga sudah menantikan hal ini sudah lama?"


"Pa, aku memang sangat berharap jika papa masih hidup. Bisa bertemu dan memeluk papa kembali hingga aku bisa menatap nyata wajah papa seperti ini, meski tidak setiap detik. Itu sudah cukup membuatku bahagia pa, tapi untuk tinggal dengan papa di LN... Itu tidak mungkin."


"Ex..."


"Aku tidak tahu kenapa dan apa alasan oma dan opa melarangku untuk mengetahui papa dan mama yang sebenarnya. Aku tidak ingin mengetahuinya meski ingin, yang aku tahu papa dan mama tetap orang tua ku, yang melahirkan ku, yang terbaik untuk ku. Tapi pa, aku tetap ingin tinggal bersama opa dan oma. Mereka hanya memilikiku saat ini, setelah kepergian mama. Iya kan, pa?"


"Nak... Papa..."


"Tak apa, Pa. Aku tidak akan menuntut kasih sayang dan keberadaan papa yang ku rindukan selama ini. Melihat papa hidup bahagia dengan orang-orang baik di sisi papa itu sudah bonus terindah untuk ku, Pa."


Sungguh mulia hatimu, nak. Eliez, lihatlah. Putera kita sudah dewasa, kau pasti bangga jika melihatnya bukan?


Ammar bergumam kembali dalam hatinya, tanpa sadar air matanya kembali berlinang.


"Hiduplah dengan baik dan bahagia dengan keluarga papa saat ini, aku berjanji pa. Aku akan selalu ada untuk papa, apapun caranya. Aku juga akan datang menemui papa di LN, aku ingin bertemu dengan saudara baru ku disana, Lucky. Aku yakin dia adalah anak yang baik, oleh karena itu papa mengapdosinya bukan?" Jawan Exelle kembali dengan menggenggam tangan Ammar di atas meja.


"Exelle, papa bangga padamu. Mama mu Eliez pasti akan sangat bahagia melihatmu seperti ini, kau kebanggan kami Nak. Hatimu begitu besar, tadinya papa takut kau akan menolak kenyataan ini, kau akan membenci papa."


"Pa, sebagai anak apakah aku berhak membenci papa yang sudah membiarkan ku lahir ke dunia ini? Melihat segala keindahan dan bertemu dengan orang-orang yang menyayangiku di dunia ini?"


Ammar kian menangis tersedu. Sesak di rasanya, penyesalannya selama ini kian membuatnya ingin menangis berteriak.