
Joe sedang marah-marah sejak pengumuman di kelas tadi. Dia pergi ke toilet lalu mengamuk di dalamnya, emosinya meledak-ledak, sesekali dia berteriak keras.
"Aaarght... Brengsek, sial. Aku gagal meraih beasiswa itu, bahkan peringkatku turun drastis." Joe mendengus kesal tak bisa lagi menahan gemuruh amarahnya yang meletup letup di dadanya saat ini.
Lalu dia pergi keluar dari toilet dengan wajah merah padam terlihat jelas di wajahnya yang berkulit putih bersih.
"Joe..." Panggil Pelangi. Namun dia mengabaikannya dengan terus berjalan tak tentu arah di lorong setiap kelas.
"Joe, tunggu!" Panggil pelangi kembali.
Joe menghentikan langkahnya setelah Pelangi berhasil meraih tangan Joe lalu menahannya untuk berhenti.
"Ada apa denganmu hah?"
Bukannya menjawab, Joe justru menepis tangan Pelangi dengan kasar. Pelangi terkejut akan hal itu.
"Aku merasa malu. Aku gagal untuk mendapatkan beasiswa itu dan menemanimu kuliah bersama."
"Astaga, Joe. Kau begitu marah hanya karena itu? Bukankah ini berlebihan?"
"Mungkin bagimu berlebihan, Langi. Tapi bagiku ini sesuatu yang menyakitkan. Tadinya ku pikir dengan berusaha keras aku bisa meraih beasiswa itu."
"Hei, kau masih bisa masuk di kampus yang sama sepertiku dengan atau tanpa beasiswa itu, tante dan om masih mampu membiayaimu. Kau tidak perlu khawatir."
"Heh, apa kau pikir semudah yang kau ucapkan masuk ke universitas itu, Langi?"
"Kenapa kau menyerah begitu saja hah?"
"Sudah lah, aku sedang tidak ingin membahasnya"
"Joe, apa kau marah padaku?" Tanya Lisa tiba-tiba menghadang di depan Joe.
Joe menghela nafas panjang.
"Hah, datang satu lagi." Ucap Joe malas.
"Joe, kau ini sungguh kekanakan. Kenapa kau jadi marah hanya karena gagal mendapat bea siswa itu? Kau ini aneh sekali, bukan kah orang tua mu kaya raya? Tentu kau bisa menyusul kami jika kau tetap ingin menemani Pelangi. Iya kan Princess cold?" Ujar Lisa dengan nada manja.
"Joe... Sudah lah, jangan marah begitu. Aku mengerti perasaan mu, tapi apa kau juga harus marah juga pada kami semua?" Tanya Jeni kemudian.
"Apa kau pikir setelah kami mendapatkan bea siswa lalu kami lolos dengan mudah? Kami juga harus menjalani berbagai tes dan ujian juga nantinya. Lalu apa bedanya dengan mu jika kau ingin mencobanya juga bukan?" Jelas Lisa kembali pada Joe, berharap dia bisa meredakan amarah Joe. Lisa pun mengerti apa yang saat ini sedang Joe rasakan, ia pun tak mengerti juga mengapa kesempatan itu justru jatuh padanya.
"Berusahalah Joe. Kami semua mendukungmu!!!" Ujar Jeni.
"Kau pasti bisa, pangeran ku." Ujar Lucas menggenggam tangan Joe.
Joe menundukkan wajah dengan sedih, dia tidak menyangkanya jika semua sahabatnya kini justru memberikan banyak dukungan dan semangat saat Joe merasa terkucilkan karena gagal mendapatkan beasiswa.
"Joe.. Semangat lah." ujar Lisa yang kemudian mereka saling merangkul. Pelangi tersenyum lega melihat Joe pada akhirnya mereda emosinya.
.
.
.
.
.
Tiba waktu pulang sekolah. Pelangi tak sabar ingin segera sampai dirumah dan memberitahukan kepada kami kabar bahagia ini.
"Hai, cewek galak."
Lagi-lagi Exelle menyambut kepulangan Pelangi di pintu gerbang sekolah Pelangi.
"Hai, Ex." Sapa Pelangi dengan senyuman manis.
Exelle melambaikan tangan dengan membalas senyum Pelangi. Sementara Joe yang berjalan di belakang mengejar langkah Pelangi mengepalkan tangannya, ia meremas jemarinya sendiri.
"Hai, Exelle ganteng..." Sapa Lisa dan Jeni bersamaan. Exelle hanya tersenyum membalas sapaan mereka. Lucas yang menyadari kekesalan Joe, hanya meliriknya diam-diam.
"Bagaimana hasil pengumumannya? Ah, tunggu. Jangan menjawabnya dulu, sepertinya... Senyuman ini sudah mewakilinya. Kau pasti berhasil meraih beasiswa itu bukan?" Exelle mencoba menangkap kebahagiaan di balik senyuman Pelangi yang lebih sumringah.
"Woah, kau benar Ex. Aku dan Pelangi berhasil masuk dan terpilih menerima beasiswa itu. Duh, senangnya." Jawab Lisa mewakili Pelangi yang tak mampu berkata-kata.
"Yess. Kau memang patut mendapatkannya, aku bangga padamu, sesuai janjimu. Aku akan menyusulmu, kita akan satu kampus meski jurusan kita berbeda. Tapi aku senang, aku bahagia. Papa ku sudah mengurusnya disana." Jelas Exelle sembari melirik ke arah Joe. Dengan sengaja dia ingin membuktikan bahwa dia akan bisa merebut hati Pelangi nantinya.
"Sungguh? Jadi kau juga akan masuk di kampus yang sama dengan kita?" Lagi-lagi Lisa yang menjawab dengan riang gembira.
"Hemm... Aku sudah berjanji pada Pelangi."
"Kyaaaaa... asyiiikkk, eh jangan-jangan kalian... Apakah kalian sudah jadian?" Lisa mulai ceplas ceplos lagi. Hingga Jeni mencubit lengannya, sontak Lisa terkejut menoleh ke arah Jeni yang memberinya isyarat bahwa Joe sudah menahan amarahnya tadi.
"Ups... Eh, maksudku.. Kalian, wah... Sejak kapan saling mengikat janji? Tapi, syukurlah. Jika kita nanti akan berkumpul bersama lagi." Ujar Lisa kemudian.
"Ehm, Joe. Bagaimana dengan mu?" Dengan santai Exelle menyapa Joe yang sejak tadi diam seribu bahasa.
"Ah, eh.. Ex, aku harus pulang lebih dulu. Aku sudah tidak sabar menyampaikan berita ini pada mama dan papa."
"Baiklah, sampaikan salam ku untuk tante." Jawab Exelle lagi dengan mengedipkan mata nakal pada Pelangi. Mereka saling melempar senyum bersama-sama. Semakin membuat Joe geram, namun dia harus menahannya agar Pelangi percaya bahwa Joe sudah berubah jauh lebih dewasa seperti Exelle saat ini.