Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 295



Aku lega ketika Pelangi menelpon jika dia sudah tiba di apartemen yang Kevin sediakan, dia dan Lisa sangat menyukainya. Sangat betah meski baru beberapa jam saja tiba di apartemen tersebut. Dia bilang bibi asisten yang saat ini bekerja untuk menjaga dan merawat Pelangi serta Lisa disana.


Ah, Kevin... Lagi dan lagi Kevin. Dia tak tanggung-tanggung baik dan peduli pada puteri kami.


"Ya udah ma, aku mau nelpon om Kevin dulu ya." Ujarnya lalu menutup panggilan teleponnya.


Lisa baru saja selesai membersihkan dirinya, dia keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk menutupi rambutnya yang basah di atas kepalanya. Lalu tiba-tiba saja menyambar di depan layar menubruk tubuh Pelangi yang sedang video call dengan Kevin.


"Halo om Kevin, kau sangat luar biasa. Aku suka tempat ini, om." Ujarnya tanpa rasa canggung.


"Eh, Lisa... Pakai dulu bajumu, Nak. Jangan vulgar begitu." Jawab Kevin menegurnya.


"Ups, hihihi. Baik om, siap. Aku baru selesai mandi, aku hanya ingin menyapa om Kevin yang saaangat baik." Ujar Lisa lagi sembari mundur dan bersembunyi di belakang Pelangi.


"Huh, maafkan sahabatku yang konyol ini om. Dia memang suka sekali berulah konyol seperti itu."


"Hahaha... Gapapa, peri kecilku. Ya sudah nikmati kedatangan kalian disitu, maafkan om masih belum bisa menyambut kedatangan mu disana."


"Hem, gapapa om. Sampaikan salam ku untuk tante Nia, aku rindu."


"Baik, nanti om sampaikan. Ingat makan, jaga kesehatan. Lisa dengar itu?"


"Siap om tampan." Jawab Lisa kembali dengan senyum nyengir. Lalu kemudian mematikan panggilan video nya.


"Hah... Rasanya lega bisa mengabari semua yang mengkhawatirkan ku." Ucap Pelangi menghempaskan badannya terlentang di atas kasur.


"Eh, apa kabar dengan Exelle? Bukan kah dia belum ada kabar?" Tanya Lisa lagi.


"Aaah, iya. Dimana dia? Apakah aku yang harus menelponnya lebih dulu? Cih, dasar." Pelangi mulai mengomel sembari mengutak atik layar ponselnya. Pada akhirnya pun dia yang lebih dulu menelpon Exelle (dasar cewek).


Tuuuuut... tuuuutt...


Dua kali suara sambungan teleponnya, belum ada respon hingga yang ke lima kali barulah di respon, Pelangi sudah mulai ngomel tanpa nafas menegur Exelle.


"Hei, kau. Menyebalkan sekali, kenapa belum mengabariku? Aku sudah di LN, bagaimana dengan mu, Ex?"


"E,eh.. Maaf, Exelle masih mandi. Aku terpaksa menerima panggilan teleponnya, karena dia pasti akan memarahiku jika mengabaikan panggilan si cewek galak."


Degh!!!


Detak jantung Pelangi serasa terhenti mendengar suara itu, yang sudah pasti dari Lucky. Yang belum juga Pelangi sadari dan ketahui. Begitupun dengan Lucky, mendengar suara Pelangi yang di ketahuinya dengan namanya 'cewek galak' membuatnya sesak dan gemetaran.


"Ah, ehm.. Ups, maaf. Ku pikir Exelle, jadi.. Aku langsung mengomelinya. Apakah kau saudara Exelle? Ah, itu berarti Exelle sudah di LN bukan?" Pelangi bertanya tanpa jeda.


"Hem, ya. Dia sudah dirumah, di LN. Dia, dia sedang mandi."


Dalam bathin Lucky bertanya, ada apa dengan detak jantungnya, kenapa setiap kali berbicara dengan cewek galak ini membuatku merasakan sakit yang menyesakkan. Mungkin, karena dia sungguh galak. Pikirnya lagi dalam hati.


"Eh, biarkan saja. Sampaikan aku menunggu telepon nya, karena aku sudah di LN."


Klik !!!


Dengan cepat Pelangi mematikan ponselnya langsung karena dia begitu gemetaran tak tahan menahan getaran di dadanya hingga telapak tangannya pun berkeringat.


"Hah, apa-apaan ini? Kenapa aku selalu ketakutan begini mendengar suaranya?"


"Hei, ada apa? Siapa yang menakutimu hah? Katakan padaku. Aku akan menghajarnya." Ujar Lisa setelah selesai memakai baju di ruang khusus nya mengganti pakaian, namun rambut nya masih basah.


"Eh, tidak. Aku hanya heran saja, kenapa setiap kali aku mendengar suara dan berbicara dengannya, aku selalu gemetaran, detak jantung ku terasa berhenti."


"Cih, Lisa. Apaan sih, bukan. Tapi... Dia saudara Exelle."


Lisa mengernyit menatap Pelangi.


"Apakah Exelle punya saudara banyak?" ujarnya lirih.


"Apa?" Tanya Pelangi singkat.


"Eh, ti..tidak. Lupakan! Itu berarti Exelle sudah lebih dulu di LN? Dasar menyebalkan. Aku akan menghajarnya nanti."


"Hem... Lisaaa..." Pelangi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya itu.


Jelang beberapa menit kemudian, ponsel Pelangi berdering. Exelle memanggil, dengan cepat Pelangi menerima panggilan tersebut.


"Hai, cewek galak!" Sapa Exelle di ujung ponselnya itu.


"Cih, dasar. Kemana saja kau? Tiba-tiba saja sudah di LN. Kau belum mengabariku, menyebalkan." Pelangi menggerutu dengan bibir manyun.


"Hahaha, ya ampun. Ex, kau tahu bagaimana wajah Princess cold saat ini?" Tanya Lisa yang lagi dan lagi menyambar ponsel Pelangi dari tangannya.


"Hei, Lisa. Kemarikan ponselku," teriak Pelangi mengejar Lisa mengelilingi ruangan.


Di kejauhan sana, Exelle tertawa membayangkan Pelangi yang sedang cemberut atau mungkin saat ini sedang memerah wajah nya karena malu.


"Halo, Ex. Kau masih mendengarnya?" Tanya Lisa lagi. Pelangi sudah menyerah merebut ponselnya di tangan Lisa saat ini.


"Ya ya, aku masih mendengarnya. Ayolah, jangan mengerjai kekasihku lagi. Berikan ponselnya, aku rindu dengan suaranya yang imut itu."


"Dih, kau membuatku geli mendengarnya, Ex. Baiklah, aku akan berikan ponselnya pada pemiliknya. Bicaralah yang puas." Lisa tertawa menggoda Pelangi. Lalu memberikan ponsel Pelangi kembali, dengan bibir menyembik Pelangi membalas kejahilan Lisa.


"Halo, Ex. Aku, aku tinggal di Apartemen om ku. Dekat kampus, jalan Xxxx. Sekitar 30 menit jika berjalan kaki ke kampus, bagaimana dengan mu? Apakah kau lulus tes awal?" Tanya Pelangi kemudian.


"Aku sudah lulus tes awal sejak pengumuman kelulusan. Papa ku yang mengurus semuanya, kita akan sering bertemu meski jurusan kita berbeda nantinya."


"Aaah, hebat. Kau hebat Ex, mampirlah ke apartemen tempat ku tinggal." Ajak Pelangi.


"Hmm... Apakah kau sudah merindukanku, cewek galak?"


"Dih, apaan sih? Aku hanya ingin merasakan jika disini aku tetap bersama dengan orang-orang dari negara yang sama dengan ku."


"Hahaha aku hanya bercanda, jikapun benar kau merindukanku pun akan lebih membuatku bahagia. Haha, tapi sepertinya tempat tinggalku saat ini juga dekat dengan kampus. Itu berarti kita berdekatan, ah... Sepertinya aku akan sering mengunjungimu nanti."


"Ehm, Ex. Apa kau tinggal dengan papa mu?"


"Ah, tidak. Papa hanya memberikan fasilitas rumah untuk ku tempati berdua dengan saudaraku ini. Kau tahu, kami satu jurusan. Aku bahagia sekali, merasa memiliki teman yang tidak asing lagi. Yah, meski dia masih canggung dengan ku."


"Ah, begitu. Baiklah, jika kau tidak sibuk. Kemarilah, Ex. Ada yang ingin ku bicarakan." Ajak Pelangi lagi.


"Sungguh? Kau memintaku menemuimu hari ini juga? Yesss. Baiklah, aku segera datang my Princess cold."


"Iih, Ex. Jangan gombal, atau ku jitak kau nanti." Pelangi mendecak pelan.


"Hahaha, ampun... Eh, tapi apakah boleh mengajak saudaraku? Aku takut salah alamat nantinya. Karena sepertinya dia lebih mengetahui jalanan di kota ini."


"Eh? Ba..Baiklah. Kau boleh mengajaknya." Jawab Pelangi dengan ragu. Mendadak hatinya kembali sesak, bergetar di dada. Dan panggilan pun berakhir.