Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 180



"Lucky, ayo kita makan bersama. Ini sebagai tanda perkenalan kita,"


Lucky masih terdiam menundukkan wajahnya, kemudian menangis. Menangis tanpa suara, dia terlihat begitu terkekang dan ingin marah namun tidak bisa. Dia terlalu kecil dan lemah, aku tidak tega tapi bagaimana aku akan menolongnya sementara dia bagian dari orang yang pernah menghancurkanku.


"Lucky, jangan..."


"Pelangi, kemari." Panggil ku dengan membentaknya. Kemudian dengan cepat kak Rendy meraihnya jauh dari mereka karena Irgy pun kini tak bisa berkutik.


"Ha,hai... Fa-nny? Kau Fanny kan? Hahaha, astaga. Sepertinya Tuhan masih ingin kita bertemu kembali, tapi.."


"Kenapa? Kau senang bisa bertemu dengan ku dan suamiku kembali?" Jawab ku dengan cetus.


Ya, dia Hana. Wanita yang pernah membuatmu menggila ketika itu. Namun kini Tuhan mempertemukan kami kembali dalam keadaan yang tidak pernah ku bayangkan. Bagaimana mungkin dia mengenal Ammar, cih.. menyebut nanya dalam hati saja aku tidak sudi.


"Hahaha, ayo lah. Tentu aku sangat bahagia, sangat bahagia. Ehm, hai Gigy. Apa kabar mu?" Ucapnya tersenyum seolah dia menunjukkan kebahagiaan.


Irgy terdiam dengan tatapan tajam pada Ammar yang kini juga menatapnya, sementara Lucky masih berlinangan air mata kebingungan menatap kami.


"Hai bro, ternyata kau masih hidup. Kau ingat dengan ku? Woah, tentu kau masih mengingatku. Mengenai pukulan ku saat itu kau juga pasti masih mengingatnya bukan?"


Kali ini kak Rendy angkat bicara. Namun Ammar tetap diam dan mengabaikannya, dia hanya sedikit menyeringai mengalihkan tatapannya dari Irgy ke arah ku.


"Hei, aku sedang menyapamu. Dasar songong, shit !!!"


Ucap kak Rendy kembali dengan mengumpat. Dia mulai emosi karena Ammar mengabaikannya.


"E,eh.. Tuan, apa kau mengenal mereka? Kau juga dulu tinggal di Indonesia bukan?" Tanya Hana mulai kebingungan melihat ke arah kami lalu berpaling ke arah Ammar yany kini menatapnya dengan senyuman hangat.


"Ayo, kita pulang saja. Aku perlu berbicara dengan Lucky, putera ku." Jawab Ammar dengan suara lembut.


Tidak, dia bukan Ammar.. Pasti hanya mirip saja, iya bukan? Kenapa dia begitu hangat berbicara pada Hana, dan dia sama sekal tidak terpancing emosi dengan umpatan kak Rendy.


"Lucky, uncle.. Turunkan Pelangi, aku mau main sama Lucky." Pelangi mulai menangis meronta-ronta.


"Pelangi... Maafkan aku," Ucap Lucky menangis menatap wajah Pelangi.


"Ayo.." Ajak Ammar kembali pada Hana sembari menarik tangan mungil Lucky dalam genggamannya, meski Lucky begitu berat beranjak dari hadapan kami.


"Tunggu Hana." Ucap Irgy memanggil Hana. Membuat Hana menghentikan langkahnya dan menarik lengan Ammar untuk terhenti pula.


"E,eh ya.. Ada apa Gigy? Hahaha apa kau ingin bertanya siapa mereka? Ayo lah akui saja kau pasti mulai penasaran bukan? Hihi, upz.. Sory Fanny," Jawab Hanna dengan cekikikan. Ammar meliriknya lalu mengalihkan nya padaku, yang terdiam kaku mematung tanpa tahu harus menyapa atau berbicara apa lagi. Yang ku pikirkan hanya lah, apa benar dia Ammar yang ku kenal?


"Hem... Dia tunangan ku, dia laki-laki yang di pilih orang tua ku untuk ku. Dan dia Lucky, putera tunggal tuan Ammar. Dia tampan bukan? Eh, tunggu. Apakah gadis kecil yang berbicara dengannya tadi adalah puterimu Gigy? Wah, hahaha kebetulan sekali. Kelak mereka akan..."


"Tidak. Kelak mereka tidak akan pernah bertemu dan bersama kembali mulai detik ini." Ujarku menyela dengan lantang ucapan Hana. Membuat Hana terkejut dan semua pengunjung di ruangan ini pun terkejut dan saling berbisik.


"Hahahaa, astaga Fanny. Ada apa dengan mu? Apa kau takut bersaing dengan ku jika kita menjadi satu keluarga karena hubungan anak-anak kita nanti? Bukan kah kita juga sudah berteman dan saling kenal."


"Apa kau pikir aku hanya akan diam saja saat ini Hana? Kau pikir aku tidak tahu dibalik senyuman palsumu itu, dan kau.. Kenapa kau diam hah? Apa kau sengaja mengirim Lucky ke indonesia dan menguntit kehidupan ku selama ini hah? Jawab !!!"


Rasanya kembali aku ingin meledak, aku ingin menjambak Hana dan mengunyahnya sekalian. Namun Ammar hanya diam akan ucapan ku yang penuh dengan amarah, tak peduli banyak mata yany mengarah pada kami saat ini.


"Sayang, ku mohon tahan emosi mu. Kau sedang hamil, jangan terpancing emosi lagi." Ucap Irgy menggenggam erat tanganku yang mulai gemetaran.


"Irgy, kau mengenal wanita itu? Dan, dan kenapa Fanny begitu kalap padanya? Apa kau pernah menduakannya dengan wanita lain? Wah, berani-beraninya kau mempersulit hidup adik ku." Tanya kak Rendy mulai kesal.


"Dan kau, apa kau sungguh yang merencanakan semua ini Ammar?" Ucap kak Rendy kembali dengan penuh amarah.


"Eh, ah.. Honey. Apa kau sungguh tidak mengenal mereka? Mengapa mereka begitu marah?" Hana bertanya pada Ammar yang diam saja seolah benar tidak mengenal kami kembali.


"Hana, ayo lah. Kita pulang saja, mereka mungkin salah orang." Jawab Ammar dengan senyuman pada Hana. Menyentuh lembut pipi Hana di depan ku. Ingin, ingin rasanya aku menjambak mereka semua. Ingin rasanya aku memaki dan meneriaki mereka, terlebih lagi pada Ammar. Bagaimana mungkin dia bersikap seolah tidak mengenalku?


"Tapi mereka menyebut namamu tuan?" Bantah Hana.


"Apakah di dunia ini nama Ammar hanya aku saja. Mereka pasti salah orang dan iri melihatmu berjalan dengan laki-laki tampan seperti ku. Ayo kita pulang, kita harus segera mengurus surat pindah Lucky."


"Tidak, tidak ayah. Tidak, jangan lakukan itu. Aku senang di indonesia, aku senang berada di sekolah itu. Ku mohon jangan biarkan aku berpisah dari Pelangi, selama ini aku tidak mempunyai teman bermain ayah."


"Lucky, jangan pindah sekolah. Aku tidak mau, Lucky... Lucky. Uncle biarkan aku bersama Lucky," Pelangi mulai meronta kembali dengan teriakan isakan tangis dari dekapan kak Rendy. Membuat hatiku bagai teriris rasanya, kenapa.. Kenapa dia di usianya kini harus mendapatkan pemandangan yang menyakitkan seperti ini.


"Ehm, baiklah. Ayo kita pergi saja, aku akan beritahukan pengurus restoran ini untuk tutup 15 menit lagi." Jawab Hana menurut dengan melempar senyuman manis pada Ammar dan mengusap air mata Lucky, namun Lucky menepisnya.


"Ammar, kau brengsek. Kau gila, apa kau sungguh sengaja berpura-pura tidak mengenalku lagi hah? Semua ini kau yang merencanakan bukan? Kau sengaja ingin terus mengusik kehidupan ku dan puteri ku Pelangi. Kenapa kau tidak mati saja, kau brengseeekkk !!!"


Aku meneriakinya dan melemparnya dengan gelas yang sejak tadi berisi minuman. Tepat mengenai jas warena hitam yang di kenakannya, dia tetap terdiam akan perlakuan ku ini. Kemudian beberapa bodyguard datang mencoba melakukan tindakan kasar pada ku.


"Biarkan. Jangan sentuh mereka, aku baik-baik saja." Jawab nya kepada mereka, beberapa orang bodyguard yang akan menyerangku. Sedang Irgy dan Kak Rendy sudah siap siaga melindungiku.


"Oh, jadi kau sungguh mulai pamer kepada kami?" Ucap kak Rendy. Namun Ammar tetap berjalan melangkah di balik para bodyguard yang menghalangi kami sejak tadi.