
Hari ke tiga...
Pelangi selalu datang tanpa mengenal rasa lelah ketika pulang sekolah. Abel menangis tersedu-sedu mengadukan segala yang menimpanya saat ini ketika aku dan Irgy datang untuk menjenguk Joe yang masih saja terbaring koma.
Ya, sebagai sahabat. Aku hanya bisa memberinya semangat untuk bersabar dan berdoa semoga semua yang terjadi pada Joe segera Tuhan berikan jalan terbaik.
Dan hari ini, hari weekend. Tentu hari libur sekolah, ketiga sahabat Pelangi tidak bisa ikut hadir menemaninya di Rumah sakit. Pelangi hanya datang sendiri untuk menggantikan Abel dan suaminya sementara beristirahat.
Dengan penuh perhatian Pelangi membantu membersihkan wajah, kedua lengan dan telapak kaki Joe saat mengeluarkan keringat. Terkadang kedua matanya yang terpejam mengalir butiran bening, mungkin Joe sedang menangis di bawah alam sadarnya. Entah apa yang terjadi di dalam sana. Mengetahui hal itu, Pelangi menyekanya dengan lembut.
"Hei, kau. Yang menyebalkan, apa kau sedang menangis? Lekaslah bangun. Aku disini, Joe." Ucap Pelangi di sisi telinga Joe. Lalu Pelangi pun meneteskan air matanya.
"Joe, aku benci melihatmu yang lemah seperti ini. Aku rindu kekonyolanmu, cepatlah pulih dan bangun dari tidurmu itu. Apakah kau tidak lelah?" Ucap Pelangi kembali.
Batas jam besuk di ruangan sudah berakhir. Dengan cepat Pelangi segera keluar saat dokter datang untuk mengecek keseluruhan kondisi Joe saat ini. Hanya Abel yang masuk untuk mengetahui kondisi Joe selanjutnya.
Pelangi terkejut saat melihat Exelle diluar ruangan telah duduk sendiri.
"Ex, kau disini?" Tanya Pelangi.
"Hem, aku menunggumu. Bagaimana Joe?"
"Masih belum ada perubahan." Jawab Pelangi dengan wajah murung.
"Hah, dia begitu lemah." Ujar Exelle.
"Ex, kau mau ikut?"
"Kemana?" Tanya Exelle dengan sigap ketika Pelangi bertanya demikian.
"Aku lapar. Aku melewatkan makan siangku tadi, bisa kau temani aku?"
"Ya ampun, ini sudah hampir sore. Ayo, kita makan di restoran sebrang jalan sana."
"E,eh apakah ada?"
Exelle tersenyum kecil lalu mengajak Pelangi pergi.
.
.
.
.
.
Tiba di restoran, Pelangi melihat wajah Exelle sedikit murung. Tatapannya pun kosong, beberapa kali Pelangi mengajaknya bicara dan memberikan testi tentang makanan di restoran itu.
"Exelle !!!"
Panggil Pelangi kembali dengan sedikit lantang.
"Eh, ya? Kenapa?"
"Astaga, hmm... Apa kau sungguh sudah punya pacar?"
Exelle menatap Pelangi yang berkata demikian dengan acuh, sembari mengaduk-aduk makanan di depannya.
Mendengar Exelle masih terdiam, Pelangi kembali menoleh dan menatap Exelle yang memandanginya sejak tadi.
"Apa?" Tanya nya lagi dengan cetus.
"Aku merindukan makan bersama disini dengan papa ku."
Pelangi terkejut, menghentikan kunyahannya.
"Bukan kah kau pernah bilang jika papa mu sudah meninggal akibat kecelakaan dengan mama mu?"
"Kau tidak percaya bukan, jika papa ku ternyata masih hidup. Dia tinggal di LN dengan istri baru nya."
"Ya Tuhan, ini sangat mengejutkan ku Ex. Tapi aku ikut bahagia mendengarnya, akhirnya kau tidak benar-benar sendiri bukan?"
Exelle melempar senyuman tipis.
"Hmm... Yah, terlebih lagi. Aku memiliki saudara laki-laki yang saat ini tinggal bersama papa. Kami sudah berkenalan melalui telepon, dia baik, sangat lembut, namun tidak terlalu banyak bicara. Kami memiliki banyak kesamaan yang tak kami duga, termasuk memiliki ketidak sukaan yang sama pada istri papa ku saat ini."
Pelangi menelan ludah dengan paksa yang terasa mencekik di lehernya mendengar Exelle bercerita demikian.
"Wah... Sepertinya, saudara mu itu lebih tampan darimu. Hihi..." Pelangi menggoda Exelle kemudian.
"Cih, apa kau mulai genit?"
"Hahaha, astaga. Aku hanya bercanda..."
"Ehm... Pelangi." Panggil Exelle dengan nada serius.
"Ya?"
"Aku masih mencintaimu. Dan aku akan setia menunggu hingga kau mau menerima ku sebagai kekasihmu."
Pelangi menarik nafasnya dalam-dalam mendengar Exelle lagi-lagi mengutarakan perasaannya.
"Ex..."
"Aku sudah biasa mendengar kata penolakan darimu, tapi walau begitu... Aku tetap sakit mendengarnya."
"Maafkan aku, Ex."
"Lalu bagaimana perasaan mu saat ini pada Joe?"
Karena aku takut, kau akan kembali padanya, Pelangi. Aku tidak sanggup menahan diri ketika harus melihatmu menjalin kasih lagi dengan saudara ku sendiri, Pelangi.
Dalam hati Exelle bergumam.
"Karena..."
Ah, tidak. Aku harus menahan diri untuk menceritakan hubungan ku dengan Joe. Aku takut Pelangi akan risih dan mengaggap jika papa kami orang maniax ****.
"Karena apa, Ex?"
"Karena aku cemburu." Jawab Exelle spontan.
"Iiih, kau ini." Pelangi mencubit lenganya dengan keras.
"Aduh aduh, sakit. Astaga, cubitan mu ini... Sakit sekali." Exelle mengadu.
"Lagian, kau ini. Bisakah jangan dulu membahas tentang ini, Ex? Joe sedang terbaring koma."
"Oke, oke. Kali ini aku serius, aku tidak akan membahasnya. Tapi bagaimana jika saat Joe sudah terbangun dari koma nya, lalu memaksakan diri untuk menjadi pacarmu lagi. Apa, apa kau akan menerimanya?"
"Ex... Ayo lah, aku minta kau menemaniku makan agar nafsu makan ku baik. Beberapa hari ini pencernaan ku sedikit buruk, sejak mendengar Joe koma." Pelangi menundukkan wajah nya sedih.
"Apakah itu berarti kau masih mencintainya?"
"Tidak, Ex... Tidaaaak, Joe sahabatku sejak kecil. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja melihatnya seperti itu bukan?"
"Hah.. Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi."
"Hem, baguslah." Jawab Pelangi singkat sembari menyeruput minumannya.
"Tapi..."
"Ex..." Pelangi menyela dengan memainkan nada malas menyebut namanya.
"Hihihi, aku hanya ingin bilang. Jika makan mu sejak tadi sudah banyak, apa kau tidak sadar?"
Pelangi terhentak, menatap semua menu yang Exelle pesan untuknya tadi di atas meja. Tampak semua piring kosong bersih tak tersisa.
"Apakah aku yang menghabiskan semua makanan ini?"
"Hahaha... Astaga, sepertinya pencernaan mu sudah membaik. Apa itu karena aku yang menemanimu?"
"Dih, kau terlalu percaya diri Ex. Menyebalkan, itu karena sejak tadi kau mengajakku bicara banyak. Jadi aku tidak sadar melahap semua makanan ini, ah... Aku jadi merasa kenyang seketika." ucap Pelangi mengalihkan dengan wajah tersipu malu.
Exelle tertawa cekikikan meledekinya. Lalu ponselnya berdering, mengharuskannya berhenti mentertawakan Pelangi. Begitupun Pelangi yang sedikit penasaran setelah melihat ekspresi Exelle ketika melihat layar ponselnya dengan senyuman.
"Halo, my Bro." Jawab Exelle dengan lagak anak punk.
"Ehm... Kau sedang sibuk, Ex?" Jawab si penelpon itu yang tak lain adalah Lucky.
"Ah, tidak. Ini weekend, dan aku sedang menemani calon pacarku makan siang." Jawab Exelle sembari melirik ke arah Pelangi, lagi-lagi Pelangi mencubitnya sangat keras, membuat Exelle mengadu menahan sakit dan gatal bekas cubitannya.
"Oh, maaf. Mengganggu waktu mu, Ex."
"Aah, tidak tidak. Kami sedang dirumah sakit, tidak sedang berkencan. Hanya saja, calon pacar ku ini sedang kelaparan. Kau tahu, dia makan sangat banyak bro."
Lucky tersenyum di ujung ponselnya di kejauhan sana.
"Ex... Kau menyebalkan, berhenti membuatku malu." Ujar Pelangi dengan memukul pelan bahu Exelle.
Mendengar suara Pelangi, Lucky sedikit terhentak. Dia heran merasakan hatinya demikian, entah kenapa.
"Ha,halo... Hei, kau masih mendengarku?" Tanya Exelle setelah tak mendengar suara Lucky berbicara lagi.
"Ah, ya.. Maaf, aku... Ehm, aku masih mendengarmu."
"Aduh... Kenapa kau masih saja kaku berbicara, ayolah. Eh kau mau berkenalan dengan calon pacar ku?" Ujar Exelle kemudian, membuat Pelangi tersipu malu karena selalu di godanya sejak tadi.
"Ah, tidak. Aku, masih ada urusan lain. Kalian, lanjutkan saja. Maaf, Ex. Sudah mengganggu waktu mu, Aku hanya ingin menyapamu saja." Jawab Lucky dengan lembut.
"Ah, baiklah. Sayang sekali, kau tidak mau berkenalan dengan gadis cantik calon pacarku ini. Tapi syukurlah, kau terhindar dari omelan. Dia sangat galak, hihi." Ujar Exelle sembari berbisik. Namun Pelangi masih mendengar dan menatapnya tajam.
"Hmm... Baiklah. Happy Weekend, Ex. Berbahagialah, aku sangat menunggu untuk bertemu dengan mu langsung."
"Ah, sabarlah sedikit. Terimakasih selalu mengabariku, sampaikan salam ku pada papa dan nenek, ups buat si tente girang juga tentunya. Jika tidak, dia akan mengomelimu nantinya. Hahaha,"
"Hem... Baiklah, Ex. Aku tutup teleponnya dulu, bye..."
Bip bip bip...
Panggilan berakhir.
"Hah, dasar. Bagaimana bisa papa membiarkan dia begitu kaku berbicara, apakah papa tidak mengajarinya untuk tertawa?" Ujar Exelle mengomel setelah panggilan teleponnya berakhir.
"Siapa? Kakak mu itu?"
"Hei, dia bukan kakak ku. Hanya terpaut beberapa bulan saja dengan ku, harusnya dia yang memanggilku kakak."
"Ya, terserah kalian saja. Siapa yang kakak, siapa yang adik, kalian sama saja." Jawab Pelangi dengan menyembikkan bibir bawahnya.
"Cih, dasar. Kau belum tahu saja, dia sangat kaku dalam berbicara. Aku berbicara dengannya seolah aku sedang berhadapan dengan seorang raja. Penuh santun dan bahasa yang berat, aaah... Tapi dia begitu baik dan lembut, aku suka ketika kami sedang mengobrol panjang lebar."
"Oh, ya? Mungkin saja papa mu tinggal di negeri kerajaan. Oleh karena itu dia terbiasa hidup dalam kesehariannya."
"Yah, begitulah. Akh, aku tidak bisa membayangkan jika nanti aku berada disana. Aku akan kelabakan, hahaha."
"Tentu. Karena kau terbiasa menggila, hahaha." Pelangi tertawa lepas mengejek Exelle.
Exelle memanyunkan bibirnya ketika Pelangi terus meledekinya.