Because, I Love You

Because, I Love You
#105



Dentuman suara musik yang dimainkan seorang DJ begitu memekakkan telinga saat Kirana memasuki club malam yang ada di Hotel Pradipta. Dia sampai menyipitkan matanya ketika sorot lampu berganti-ganti warna dan menyorot kesana kemari didalam ruangan yang remang-remang ini.


Club ini memang cukup luas. Tapi terlihat begitu sempit karena banyaknya orang yang berkumpul disini. Entah hanya minum, menikmati musik atau menggunakan waktu untuk berkencan dengan pasangannya.


Bau alkohol dan asap rokok yang menyengat sangat mengganggu indera penciuman Kirana hingga dia terus mengibaskan tangannya didepan wajah sambil berdecak kesal karena kepulan asap rokok yang sangat tidak disukainya berhembus didekat wajahnya.


Kirana menghentikan langkahnya dan berdiri diatas tangga yang mengarah ke meja bartender. Dia menyipitkan matanya saat melihat pesan chat dari Rossa yang menanyakan keberadaan dirinya. Setelah membalas memberitau Rossa keberadaan dirinya, Kirana celingak celinguk mengamati setiap orang yang berada didalam ruangan ini.


Dimana sih Mas Rendy? Apa bener dia ada disini sama cewek lain? Kalau emang bener, berarti dia udah bohongin aku.


Gumamnya dalam hati sambil mengamati sekeliling mencari sosok Rendy.


Kirana turun dan kembali melangkah. Tapi langkahnya kembali terhenti saat merasakan ada yang memegang pergelangan tangannya. Dia menoleh sedikit mendongak melihat siapa yang telah lancang memegang tangannya.


Seketika Kirana menyentakkan tangannya seorang laki-laki yang tidak dikenalnya dengan menyeringai memegang tangannya. "Lepas!"


Kirana terlihat panik dan ketakutan kemudian barjalan dengan cepat kesembarang arah menghindari laki-laki yang tidak dikenalnya yang ternyata masih mengikuti langkahnya.


"Hey tunggu!" Seru laki-laki itu dengan langkah semakin cepat dan kembali memegang tangan Kirana dengan erat.


"Ih lepas! Apaan sih?! Nggak usah pegang-pegang!" Pekik Kirana dengan sangat marah sekaligus takut karena disini tidak ada yang dia kenal.


"Hey Nona. Nggak usah jual mahal gitu. Aku lihat kamu sendirian. Sebaiknya ayo ikut bersamaku dan kita bersenang-senang." Ucap laki-laki dengan wajah blesteran dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Kirana.


Kirana hanya bergidik ngeri sambil mengusap lengannya sendiri dan segera melangkah cepat menuju meja bartender yang tidak terlalu banyak orang.


Langkahnya terhenti saat Kirana melihat laki-laki tampan yang sedang dicarinya. Dia tersenyum dan kembali ingin melangkah.


Namun, baru selangkah Kirana berjalan, dia kembali berhenti dan senyum Kirana lenyap begitu saja saat melihat seorang wanita cantik dengan pakaian sexy persis seperti yang dibilang teman-temannya tadi. Wanita itu duduk disamping kekasihnya dengan jarak yang sangat dekat bahkan dadanya terlihat menempel dilengan Rendy.


Kirana kembali melangkah menuju meja bartender kemudian duduk disamping Rendy tanpa Rendy sadari. Kirana mendengar dengan jelas obrolan mereka berdua juga tawa Rendy. Mereka terlihat sangat akrab.


"Mau minum apa mbak?" Tanya seorang bartender laki-laki dengan ramah seketika Kirana menatap kearah bartender.


"Eum..smoothie!" Jawab Kirana sedikit mengeraskan suaranya membuat Rendy langsung menoleh kearahnya dengan mengerutkan keningnya.


"Oh maaf, disini tidak ada smoothie. Minuman bersoda mungkin?" Tanya kembali si bartender tersebut dengan menahan senyumnya.


"Boleh deh asal nggak bikin mabok." Jawab Kirana dengan menyengir dan bartender hanya tersenyum sambil. menganggukkan kepalanya. Lalu memberikan sebotol minuman bersoda kepada Kirana dan gelas juga es batu.


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Rendy dengan wajah yang sudah berubah dingin menatap tidak suka pada Kirana. Bukan tidak suka melihat kekasihnya yang manis ini, melainkan Rendy tidak suka kalau Kirana yang masih polos berada ditempat seperti ini.


Kirana menurunkan gelas dari mulutnya sedikit mengerjapkan matanya, sekilas melirik pada seorang wanita yang begitu genit terhadap kekasihnya ini.


Oh ternyata Lena? Tapi..kenapa dia ada disini? Atau mungkin Mas Rendy diam-diam ngajakin dia?


Gumam Kirana bertanya dalam hatinya dan hatinya semakin terkoyak.


"Kirana! Apa kamu nggak denger? Aku tanya sama kamu!"


Kirana kemudian menatap Rendy dengan sinis sambil meletakkan gelasnya. "Emangnya kenapa? Siapa pun boleh dateng kesini kan?"


Rendy menyipitkan matanya menatap Kirana penuh selidik.


"Ternyata yang dilihat mereka memang benar." Gumam Kirana pelan namun Rendy masih bisa mendengarnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Rendy dengan mengernyit merasa tidak mengerti.


Kirana tersenyum sinis. "Mereka lihat kamu jalan sama cewek lain yang katanya cantik banget dan sexy. Tadinya aku nggak mau percaya sih. Aku bilang ke mereka, mungkin aja mereka salah lihat karena kamu lagi sibuk ngurusin kerjaan. Tapi, aku penasaran pengen buktiin dan berharap kalau yang dilihat mereka salah. Ternyata harapanku musnah." Kirana menatap Rendy dengan tatapan penuh kekecewaan karena tadi Rendy mengatakan kepadanya kalau dirinya sedang sibuk mengurus pekerjaannya.


"Ki, kamu jangan salah paham. Kebetulan Lena juga lagi ada di Bali dan nginep di Hotel ini. Jadi kita ketemuan dan memang kebetulan ada urusan bisnis yang harus dibahas sama dia." Ucap Rendy sambil menatap wajah Kirana yang terlihat sedih juga kecewa.


Namun Kirana merasa kalau Rendy sedang mencoba menyembunyikan sesuatu darinya. Apa sebenarnya Rendy juga menjalin hubungan dengan Lena? Mereka terlihat begitu dekat. Kalau orang lain melihat, mungkin akan langsung beranggapam kalau mereka sepasang kekasih.


"Oh, jadi gitu?" Kirana mengangguk berusaha percaya meski masih ragu. "Kalau gitu aku minta maaf udah ganggu urusan kamu sama dia." Lanjutnya dengan tenang dan berusaha untuk tetap tersenyum. "Ya udah, aku mau balik kekamar, capek ngantuk. Kamu lanjutin aja urusan kamu sama dia." Tambahnya dengan wajah yang sudah berubah tanpa ekspresi kemudian berdiri dan melangkah pergi dengan cepat sambil mengusap air matanya yang tanpa permisi keluar begitu saja. Untung saja dia sudah menjauh dari Rendy dan Rendy tidak harus melihatnya menangis karena cemburu.


Rendy menghela nafasnya dan mengusap wajahnya. Lalu menoleh menatap Lena saat wanita itu menepuk pundaknya dari belakang. "Dia itu pacar kamu kan?" Tanya Lena.


Rendy mengangguk pelan. "Hm. Sorry, sepertinya aku harus susul dia. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?" Ucap Rendy membuat Lena terpaksa mengangguk meski dia juga merasa kecewa karena baru saja bisa bertemu dengan Rendy, tapi gara-gara Kirana, Rendy harus pergi meninggalkannya.


"O-oh, okay. No problem. Kita bisa ketemu lain waktu." Ucap Lena berusaha tetap tenang dan tersenyum manis pada Rendy.


"Kalau gitu aku pergi dulu." Ucap Rendy yang diangguki Lena kemudian dia mengambil dompetnya, memeberikan beberapa lembar uang kepada bartender membayar minumannya juga milik Kirana dan memberitaunya untuk memberikan minuman gratis kepada Lena.


Rendy pun segera beranjak pergi untuk mengejar Kirana.


................