Because, I Love You

Because, I Love You
#104



Rendy yang masih berada didalam kamarnya, dia memilih untuk menyibukkan dirinya dengan bekerja. Mengecek semua pekerjaannya melalui MacBooknya setelah makan siang.


Dia tau kalau Kirana sedang menikmati liburannya di sini bersama teman-temannya. Rendy berencana ingin mengajaknya jalan-jalan setelah dirinya menyelesaikan urusan pekerjaannya.


Gerakan jari tangannya yang lentik mengetik lincah diatas keyboard MacBooknya terhenti saat ponsel yang diletakkan diatas meja berdering. Dia mengambilnya, melihat siapa si pemanggil lalu mangangkatnya.


"Hallo Len. Ada apa?"


"Aku dengar pimpiman perusahaan Pradipta sedang mengajak liburan karyawannya ke Bali ya?" Tanya Lena dari seberang telepon dengan antusias.


"Iya. Kenapa?" Jawab Rendy bertanya balik.


"Wah, kebetulan banget. Aku juga lagi ada di Bali. Kamu tau, aku nginep di Hotel Pradipta. Aku harap kita juga sama..haha." Jawab Lena sambil tertawa riang.


"Benarkah? Kamu sama siapa?" Tanya Rendy lagi.


"Iya Ren. Aku nganter Berta kesini. Sudah dua malam aku disini." Jawab Lena. "O ya, apa kamu ada waktu? Ketemuan yuk? Lama nggak ketemu, kangen nih." Imbuhnya diselingi canda tawanya.


"Oke oke. Nanti malem kita ketemu di Club Hotel Pradipta, gimana? Sekarang aku lagi sibuk." Ucap Rendy.


"Boleh deh. Kamu pasti lagi sibuk pacaran ya?" Goda Lena.


Rendy hanya terkekeh pelan tidak menghiraukan pertanyaan Lena. "Ya udah, kalau gitu nanti malem kita ketemu."


"Okay. See you to night." Ucap Lena dan Rendy menutup teleponnya kemudian melanjutkan pekerjaannya.


...


"Aduh belanjaan kamu banyak banget sih Yol. Kamu maksa ngajakin kita kesini cuma buat jadi kacung kamu bawain semua belanjaanmu ini ya? Sialan!" Seru Rossa dengan wajah kesal.


Yolanda tertawa puas bisa membuat Rossa kesal seperti ini. "Bukan maksudku begitu Ros. Kapan lagi bisa lihat kamu bawain belanjaanku ini, ya kan?"


"Awas ya kamu Yol. Kamu sengaja mau ngerjain kita ya? Ki, kamu laporin aja perbuatan Yola ini ke Pak Rendy, pasti dia nggak terima deh pacarnya dijadiin kacung gini." Ucap Rossa dengan menggebu.


Kirana yang juga membawakan banyak belanjaan Yolanda malah ikut tertawa. "Udahlah Ros, biarin aja. Aku laper nih. Biar Yola yang traktir kita sebagai upahnya. Oke kan Yol?"


"Aha! Setuju Ki! Pinter kamu! Ayo cepet kita cari makanan yang paling enak disini!" Seru Rossa yang menjadi bersemangat melupakan kekesalannya pada Yolanda.


"Dih! Tadi marah-marah. Denger makanan aja langsung semangat kamu." Sahut Yolanda yang tidak keberatan dengan usul Kirana.


Mereka pun sampai di Hotel Pradipta dan kembali kekamar untuk menaruh belanjaan kemudian menuju Kafe yang ada di Hotel ini untuk makan malam.


Rasanya masih belum puas berjalan-jalan menikmati suasana Bali hingga langit semakin gelap. Mereka benar-benar kelaparan sekarang.


Kirana dan Rossa melihat buku menu setelah masuk dan duduk didalam Kafe.


"Ki, ini kaya nya enak deh." Ucap Rossa sambil menunjukkan gambar menu makanan yang terlihat menggiurkan.


"Kalian pesen aja yang kalian mau." Sahut Yolanda dengan santai.


"Iya iya Ki! Kalian pesen aja!" Jawab Yolanda sambil menatap layar ponselnya.


Setelah mereka pesan dan pelayan menacatat pesanan mereka, ada teman mereka yang menghampiri meja mereka. "Loh Ki. Aku pikir kamu yang lagi jalan sama Pak Rendy barusan. Ternyata kamu disini? Terus, cewek tadi siapa dong?"


Kirana, Yolanda dan Rossa menoleh menatap teman sekantornya dengan mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu Yok? Seharian ini Kirana sama kita." Tanya Rossa dengan mengedikkan dagunya menatap Tio.


"Iya, aku sejak siang sama Rossa dan Yola. Kamu salah lihat kali. Mas Rendy tadi bilang lagi sibuk ngurusin pekerjaan." Ucap Kirana terlihat tenang.


"Astaga. Nggak mungkin aku salah lihat. Jelas-jelas itu Pak Rendy." Bantah Tio. "Tapi yang bikin heran sedikit kaget karena cewek yang aku pikir kamu itu pake pakaian sexy banget. Buset bohay banget anjir!" Tambah Tio dengan antusias terlihat tidak dibuat-buat.


"Iya, aku juga lihat Pak Rendy jalan sama cewek sexy dan cantik banget tadi. Kalau Kirana ya jelas nggak mungkin lah pake pakaian minim bahan kaya gitu!" Sahut Melia yang mendengar pembicaraan Tio.


"Nggak heran sih kalau Pak Rendy punya banyak cewek. Secara Pak Rendy gantengnya banget banget. Sudah ganteng, tajir pula. Harusnya sih bisa dapetin cewek yang lebih cantik dan menarik." Sela Serlin yang dengan sengaja ingin memancing kemarahan Kirana terhadap Rendy.


Meskipun mereka-para karyawan wanita sudah bersikap baik dan ramah terhadap Kirana, mereka tetap selalu berharap dan akan sangat senang jika hubungan Kirana dengan Rendy tidak langgeng.


Kirana sedikit menunduk menatap meja didepannya. Hatinya seketika bergemuruh bagai gunung berapi yang siap menyemburkan awan panas. Kirana menghela nafasnya dalam-dalam berusaha untuk tetap tenang.


Yolanda yang paling peka, dia meraih tangan Kirana yang terkepal dibawah meja lalu menggenggamnya. "Ki, are you okay?"


"Hey, kalian ini! Udah sana bubar! Kita mau makan! Bikin selera makan ilang aja! Pergi sana!" Ucap Rossa dengan keras mengusir mereka.


"Kalau masih nggak percaya, kamu samperin aja ke Club yang ada dilantai bawah Hotel ini. Aku baru dari sana dan nggak sengaja liat Pak Rendy gandeng cewek super sexy dan cantik." Ucap Serlin dengan menyeringai kemudian berbalik dan pergi.


"Ki, kaya nya kamu harus nyamperin Pak Rendy deh. Buat buktiin kalau omongan mereka ngawur." Ucap Rossa.


"Ros!" Yolanda langsung melototi Rossa.


"Bukan aku mau percaya sama mereka Yol. Tapi, gimana pun juga kan Pak Rendy pacarnya Kirana. Apa salahnya kalau Kirana buktiin omongan mereka kan?" Ucap Rossa.


Kirana masih diam hingga makanan pesanannya datang. Mereka makan tanpa ada perbincangan atau candaan seperti biasanya karena melihat Kirana yang menjadi pendiam dengan wajah murung.


Kirana tetap memakan habis makanannya dengan cepat meski hatinya merasa muak. Kalau saja nanti dia membuktikan apa yang dilihat teman-temannya benar, dia tidak ingin terlihat lemah karena kelaparan.


"Aku udah selesai. Aku duluan ya? Kalian lanjutin aja." Ucap Kirana sambil berdiri dan tersenyum tipis menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja seolah tidak pernah mendengar omongan teman-temannya tadi.


Selesai bicara, Kirana langsung beranjak pergi.


"Eh Ki, tunggu!" Teriak Rossa sambil berdiri ingin mengejar Kirana.


Yolanda meraih tangan Rossa. "Tunggu, aku bayar dulu. Setelah ini kita susul Kirana. Aku yakin dia pasti mau buktiin omongan mereka tadi." Ucap Yolanda.


"Ya udah cepetan gih!" Ucap Rossa dengan tidak sabar.


................