Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 261



Joe sudah berada di ruang ICU, sementara Abel masih belum sadarkan diri. Karena Joe masih belum di perbolehkan untuk di temui, Ammar memilih untuk menjaga Abel dari luar ruangan, di temani oleh Hana dan Exelle juga kedua teman Exelle yang masih setia di sisi Exelle.


"Kalian pulang lah lebih dulu." Ucap Exelle menyuruh kedua temannya itu.


"Apa kau mengusir kami, Ex?"


"Aah, tidak... Aku hanya tak ingin kalian kesulitan disini karena ku."


"Santai saja bro. Kita ini sahabat, tenang lah. Kami akan menemanimu sampai kau pulang nanti." Jawab mereka.


"Baiklah, terimakasih." Ucap Exelle dengan lirih.


Tak ada yang berani mengajak Ammar bicara, termasuk Exelle. Yang hanya terdiam menatap wajah ayahnya itu, ada banyak tanya yang ingin dia lontarkan namun ia memilih untuk tetap diam.


"Honey,kau mau ku carikan teh? Agar kau sedikit tenang." Ucap Hana menghampiri Ammar yang terduduk memegangi kepalanya dengan kedua tangan menopang keningnya.


"Tidak usah, kau saja yang pergi membeli minum. Kau melewatkan makan malam mu, pergilah."


"Tapi..."


Ammar mendongakkan kepalanya menatap tajam wajah Hana. Seketika Hana menghentikan ucapannya yang hendak memaksa Ammar. Exelle menatap wajah Hana penuh heran dan tanda tanya, siapa wanita itu? Tanya Exelle dalam hatinya.


Lalu Hana pergi tanpa berkata apapun lagi. Tak lama kemudian asisten rumah tangga Abel keluar dari ruangan yang sejak tadi ia berada di dalamnya untuk menjaga majikannya.


"Ehm, mbok. Gimana Abel?" Dengan sigap Ammar beranjak dari duduknya.


"Nyonya belum sadar. Maaf tuan, saya harus menelpon tuan besar dulu." jawabnya lalu beranjak pergi.


Dengan cepat Ammar memasuki ruangan mengganti asisten rumah Abel. Dilihatnya Abel masih terbaring dengan mata terpejam.


"Abel, bangun lah. Banyak hal yang harus kau jelaskan padaku saat ini juga." Ucap Ammar menggenggam tangan Abel.


"Tolong jangan mengiyakan jika Joe memang putera kandung ku, yang terlahir karena kekhilafan kita saat itu Abel..." Ammar menundukkan wajah sembari menggenggam erat tangan Abel.


Beberapa menit kemudian, Abel membuka matanya dan sedikit merintih. Membuat Ammar terkejut lalu beranjak mendekatkan wajahnya pada Abel.


"Kau sudah sadar?" Tanya Ammar. Namun Abel membuang wajah nya dari pandangan Ammar.


"Abel... Jangan begini, kau membuatku takut. Atau kau sengaja ingin menghukumku seperti kau sedang marah pada putera ku Exelle saat ini?" Ujarnya kembali.


".........."


Abel masih terdiam. Kemudian dia memaksa beranjak bangun dari posisinya lalu mencabut jarum infus yang terpasang di punggung tangannya.


"Abel, kau mau kemna? Kau masih lemah."


"Aku harus menemui dan menemani puteraku. Dia pasti sedang ketakutan dan kesakitan, aku tidak bisa membiarkannya sendirian."


Abel kembali hampir terjatuh, lagi lagi Ammar menangkapnya. Abel menepis tangan Ammar dengan kasar kemudian menangis tersedu-sedu. Kembali Ammar mencoba menenangkannya dan memeluk Abel dalam dekapannya.


"Dia putera mu, dia putera kita. Apa kau ingat, saat kita melakukannya tanpa memikirkan hal apapaun lagi. Aku tidak tahu ini semua mengapa terjadi, aku pun tidak menyadarinya jika aku hamil. Ku pikir tadinya, ini adalah anak Andi. Aku sangat bahagia saat itu, tapi nyatanya... Joe puteramu. Itu sebabnya ku beri dia nama Joe Bilyantama JR."


Dan pada akhirnya Abel mengungkap segalanya. Dengan isakan tangis yang tertahan mencengkram bagian punggung Ammar yang memeluknya. Ammar pun menarik nafasnya dalam-dalam, dia semakin mempererat pelukannya pada Abel.


"Bagaimana mungkin kau menanggung semua ini sendirian selama bertahun-tahun, Abel? Aku sungguh brengsek, aku telah membuat banyak orang kesulitan karena ku. Aku memang pantas mendapat hukuman karma seperti ini. Jikapun aku mati, itu masih belum cukup menebus semua nya."


"Tidak. Ini bukan hanya salah mu, ini juga salah ku. Aku terpaksa meninggalkan Andi yang saat itu bersedia mengakui anak kita sebagai anaknya, tapi aku menolaknya."


"Jadi Andi selama ini sudah mengetahuinya?"


Abel terdiam seraya mempererat pelukannya lagi pada tubuh Ammar.


"Oh ya Tuhan, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Mengucap kata maaf lagi apakah masih pantas?" Ujar Ammar.


"Lupakan. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing, keluarga yang bahagia."


"Ku harap demikian. Walau tidak dengan ku." Jawab Ammar tegas.


Abel mendongakkan kepalanya dan meregangkan pelukannya pada tubuh Ammar, ia memandang wajah Ammar yang murung dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Hei, kau... Apa ini sungguh kau? Sejak awal aku tidak percaya jika itu kau. Kenapa kau berubah lemah begini? Kau juga cengeng. Cih, ini bukan kau." Kini Abel justru berbalik meledeknya.


"Kau tidak tahu betapa aku sangat sulit menahan diri untuk bisa sampai seperti ini. Aku pun kadang membenci Ammar yang dulu, andaipun aku memilih untuk mengalah pada Ego. Mungkin aku dan Fanny..."


"Hentikan Tama!!!" Ujar Abel menyela ucapan Ammar ketika menyebut nama Fanny kembali.


"Jika kau memang sungguh membenci jati dirimu di masa lalu. Maka relakan Fanny bahagia dengan kehidupannya yang saat ini, kau sudah memiliki anak dan istri."


"Apakah status bisa merubah hati yang sudah berserah diri pada cintanya di masa lalu?"


"Kau... Kau gila. Apakah kau tidak kasihan pada istrimu, Hana. Jika dia tahu kau masih menyimpan rasa pada Fanny, bagaimana dia akan bertindak nantinya hah? Kau tahu bukan, istrimu itu sangat sangar."


"Dia sudah mengetahuinya, karena dia pun bagian masa lalu dari suami Fanny saat ini."


"So what???"


"Sudah lah, banyak hal yang terjadi. Dan aku tidak ingin membicarakannya, itu membuatku merasa semakin buruk. Karena entah kenapa, semakin aku ingin menjauhi dan melupakan masa lalu ku dengan Fanny, semakin pula sesuatu yang berhubungan dengannya hadir di dekatku."


Ya ampun, lalu bagaimana jika kau tahu bahwa kedua puteramu pun sama-sama menggilai puteri Fanny yang begitu cantik jelita. Ah, sebaiknya aku merahasiakan hal ini. Kasihan dia, dia sudah cukup menderita selama ini. Aku tidak tega, ah... Bagaimana ini.


"Aku ingin melihat puteraku, bantu aku berjalan ke ruangannya." Titah Abel mengalihkan.


"Baiklah. Ayo, pelan-pelan."


Kemudian Abel melangkah perlahan dengan tertatih-tatih di papah oleh Ammar hendak menuju ruang ICU tempat Joe terbaring koma.