
"Ma, ma, mama..."
Terdengar suara Pelangi yang memanggilku dengan nada yang sudah bisa ku tebak jika dia sedang dalam hati bahagia hari ini.
Pelangi tiba dirumah...
"Mama disini, nak." Jawab ku setelah dia sampai di dekat kolam. Kebetulan aku sedang duduk santai sembari menikmati beberapa cemilan dan jus buah segar yang dibuat oleh si bibi, cuaca hari ini sangat panas.
"Ma, aku.. Aku sangat bahagia. Hah, mama tidak akan percaya ini." Ujarnya padaku sembari beberapa kali memutar kedua bola matanya ke atas. Dia masih berdiri dengan senyuman sumringah, begitu enggan duduk dahulu.
"Mama tahu, mama sudah dengar apa yang akan kau sampaikan." Jawab ku dengan tersenyum menyambutnya bahagia.
"Eh, bagaimana mama bisa tahu apa yang akan aku sampaikan?"
"Kepala sekolah mu sudah menelepon mama barusan. Kau berhasil terpilih beasiswa itu bukan?"
"Aaaah, mama... Ih, gak seru ah. Mama sudah tahu lebih dulu." Pelangi menghempaskan tubuhnya di sofa terduduk di sebelahku.
"Mama bangga padamu." Aku memuji dan mengecup pipinya yang lembut dan kenyal.
"Hehe, siapa dulu dong? Aku sungguh bahagia dan puas, Ma."
"Kau patut mendapatkannya, Nak."
Pelangi masih tersenyum lebar di bibirnya yany mungil itu. Namun hatiku, entah kenapa berubah ragu di balik bahagiaku mendengar keberhasilan puteriku bisa masuk ke universitas terbaik di Luar Nergeri.
"Ehm, nak. Apa kau, sungguh yakin akan melanjutkan pendidikan di LN? Nanti jauh loh dari mama dan papa. Gak takut nih?" Tanya ku berpura-pura sembari menyeruput segelas jus ku.
"Aah, Mama. Aku sudah dewasa, aku juga tidak sendiri. Ada Lisa, mama percaya? Lisa berhasil mendapat beasiswa itu bersamaku, Ma. Kita berdua lolos terpilih, aku masih tidak percaya ini." Ujar Pelangi dengan decakan gemas.
"Li-sa? Sungguh? Wah, hebat juga anak itu ya. Hihi, ehm.. Lalu Joe? Bagaimana dengannya?"
"Eh, ehm... Joe, dia.. Dia gagal ma, sepertinya... Kecelakaan yang dia alami saat itu membuatnya gagal hari ini, bahkan peringkatnya sangat turun drastis."
"Ya ampun, kasihan Joe."
"Tapi aku sudah memberinya semangat, Ma. Dia harus tetap mencoba untuk masuk di kampus yang sama dengan ku nantinya, itu akan lebih seru jika kita masih bisa bersama bukan?"
"Hmm... Apakah kalian sungguh tidak bisa di pisahkan? Atau.. Jangan-jangan udah balikan nih, kalian?" Aku menggoda puteriku yang kini sudah akan beranjak dewasa. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang mahasiswi di universitas terbaik di LN, dengan gelas calon dokter.
"Ih, mama. Apaan sih, enggak ma. Aku dan Joe, ehm.. Aku tetap ingin menganggapnya sahabat saja. Dengan begitu kita tidak akan mudah berselisih paham ketika tidak ada kecocokan."
"Yakin, Joe bisa menerima itu semua?"
"Yaaah... Mau gak mau harus bisa ma, jika tidak. Aku akan marah padanya? Hihihi." Pelangi cekikikan manja di depan ku. Aku merangkulnya kemudian.
"Hah... Rasanya, mama beraaat sekali akan membiarkanmu hidup jauh dan mengerjakan semuanya sendiri disana. Meskipun mungkin ada Lisa, tapi bagaimana kau akan makan, bagaimana jika kau nanti sakit, siapa yang akan membangunkan tidurmu jika kau begitu lelap tertidur."
"Ma..ma... Jangan begitu, aku pasti bisa menjaga diri baik-baik. Mama tenang saja, aku akan bisa hidup mandiri disana nantinya."
"Baiklah, mama percaya. Mama akan selalu mendukungmu, Nak. Kejarlah semua cita-cita dan impianmu itu, buatlah kami bangga nantinya."
"Siap ma!!!"
Aku tersenyum sembari mempererat pelukan ku pada tubuh puteriku ini. Dan tiba-tiba saja, dia kembali berbicara akan hal yang tak ku duga sebelumnya.
"Ma, bolehkah aku menyampaikan kabar ini pada om Kevin? Dia pasti akan sangat bahagia mendengarku akan melanjutkan pendidikan di LN."
"Ehm, itu akan merepotkannya nantinya. Apa sebaiknya tidak usah saja?"
"Ya ya, Baiklah. Kau saja yang menelponnya jika begitu."
"Yes!!!"
Pelangi sangat bahagia sembari mengeluarkan ponselnya, mengutak atik layar ponselnya itu lalu melakukan panggiln video pada Kevin.
"Hei, kau memanggil via video pada mu?"
"Iya dong, Ma. Tentu om Kevin akan bahagia melihatku meski berjauhan."
Ya ampun. Dasar anak nakal, aakh... Eh, bagaimana dengan penampilanku hari ini? Aku malu jika terlihat kumel.
"Udah deh, Mama udah cantik kok. Om Kevin tidak akan melirik mama lagi, huuuh." Ujar Pelangi setelah melihatku diam-diam merapikan rambut dan lipstikku untuk membersihkan, barangkali ada bekas biscuit tadi.
"Anak nakal!" Jawab ku memelototinya.
Tak lama kemudian.
"Halo, Princess om."
Tampak Kevin meuncul di balik layar video itu dengan memakai kemeja berwarna biru navi dengan dasi senada bergaris biru terang di kenakan melingkar di kehernya. Dia kenakan kaca mata minus yang sangat cocok terlihat menopang di batang hidungnya. Dia masih tetap tampan dan menawan diusianya yang sekarang.
"Hai om, iih lama sekali om menghilang tanpa kabar. Jahat!"
"Eh, sungguh? Om yang jahat atau kamu yang terlalu sibuk dengan pacar, hayo..." Kevin menggoda Pelangi dengan senyuman nya yang masih sama, hangat dan manis.
"Iih, om. Apaan sih, enggak. Aku hanya fokus belajar dan sekolah saja, tanya aja nih ada mama juga."
Tiba-tiba saja Pelangi dengan sengaja menghadapkan layar video call nya pada ku. Tentu aku kebingungan, harus memulai bicara seperti apa. Kami lama tidak bertemu dan mengobrol.
"Eh, eh.. Haha, hai. Vin, ehm.. Kau, kau di kantor?"
"Pffft... Hihihi, rasaian." Ujar Pelangi meledekku. Hai, aku mama nya disini bukan?
"Hem, ya. Aku sedang di kantor, bagaimana kabarmu dengan Irgy? Bagaimana dengan si kembar?"
"Baik, kami semua baik. Kau dan Nia?"
"Ehm, baik juga. Kau sedang bersantai?" Tanya Kevin dengan canggung kemudian.
"Iih, apaan sih kalian. Malah asyik ngobrol berduaa, ah em ih uh eh, apaan itu?" Pelangi kembali menghadapkan layar video call itu padanya. Lalu Kevin tertawa terbahak-bahak saat Pelangi mendecak pelan.
Kemudian Pelangi asyik mengobrol panjang lebar dengan Kevin, berkali-kali dia bertukar posisi senyaman mungkin, laku menceritakan jika dia akan melanjutkan kuliah di LN. Mendengar hal itu Kevin sangat terharu hagia, berkali-kali dia mengucap syukur dan bahagia.
"Wah, Princess om sangat hebat. Tante Nia pasti sangat bangga juga nendengar hal ini. Jika begitu om akan menyiapkan kado terbaik untuk mu, Nak. Kau harus tetap berhasil lolos dari hasil tes berikutnya, ok sayang."
"Tentu om, aku akan berusaha. Sampaikan salam ku untuk tante Nia ya, Om. Aku akan menutup teleponnya dulu."
"Baiklah, salam untuk papa dan si kembar. Ehm, dan untuk... Ma-mamu." Ujar Kevin dengan senyuman bahagia.
"Siap om baik, bye bye..."
klik!!!
Panggilan berakhir. Pelangi sangat bahagia dan puas setelah berbicara lama dengan Kevin yang dirindukannya pula selama ini. Sesekali ia meledekku, aku mencubitinya lalu kami tertawa lepas bersama.
🍒Hai hai, dengan author disini. Kembali menyapa kalian, btw... Hari ini author sudah menyuguhkan berapa part episode ya?Hmm... ini belum satu hari loh, haha. Ayo dong bantu vote dan like kalian, bagi yang belum tekan rate. Ayo di rate dulu, author akan lanjut setelah kalian memberikannya untuk ku, bye bye...🍒