
Sayup ku dengar suara yang terus berbisik memanggilku di telinga. Perlahan ku buka mata dengan paksa, ku lihat sekeliling ruangan masih pening terasa di telinga.
"Sayang, kau sudah bangun? Maafkan aku, maafkan aku datang terlambat."
Ku lihat Irgy terus menggenggam tangan ku, sesekali dia ciumi dengan penuh kasih sayang. Kepala ku masih terasa pening ku rasa.
"Sayang, aku.. dimana?" Tanya ku dengan suara serak.
"Kau dirumah sakit, luka mu cukup parah." Ujar Irgy menjelaskan.
Aku memaksakan diri berusaha beranjak dari posisiku, namun tertahan oleh bahu yang terluka bekas lemparan pot bunga tadi.
"Sayang, jangan banyak gerak dulu. Nanti lukamu semakin parah dan itu akan menyakitimu." Ucap Irgy menegurku.
Aku meringis menatapnya. Irgy menatapku dengan penuh kekhawatiran, di kecupnya kening ku dengan lembut. Setelah ku sadari berapa helai perban melingkar untuk menutupi luka di kening ku.
"Irgy, separah apakah luka di keningku ini? Bagaimana jika aku terlihat jelek dan meninggalkan bekas di kening, aku tidak akan secantik dulu di hadapanmu." Ucapku dengan wajah sedih. Irgy tersenyum menggelengkan kepalanya kemudian menggenggam erat kedua tangan ku.
"Kau pikir aku akan peduli jika kau berubah buruk rupa sekalipun, itu tidak akan merubah cinta ku pada mu Fanny. Kau tetap istri ku, wanita idaman ku. Tak apa, hanya beberapa jahitan saja. Apakah itu masih sakit?"
"Apa? Beberapa jahitan? Aaah, sayang. Itu buruk sekali, dan ini masih sangat terasa sakitnya. Begitu perih hingga kepala ku terasa pening." Jawab ku merengek manja.
Lagi-lagi Irgy tersenyum menanggapiku lalu kembali mengecup keningku dengan lembut. Di saat bersamaan, terdengar pintu yang terbuka. Membuatku dan Irgy menoleh seketika ke arah pintu, tampak Kevin mematung menatap kami setelah berdiri di ruangan.
"Ah, eh, ehm.. Ma,maaf. Sepertinya aku mengganggu kalian." Ucap Kevin kikuk salah tingkah memutar badannya hendak keluar ruangan kembali.
"Hey, tak apa. Lagi pula kita tidak sedang melakukan hal yang berlebihan, aku hanya sedikit menenangkan istriku." Jawab Irgy kemudian.
Kevin menghentikan langkahnya, dengan ragu-ragu Ia menghadap kami kembali.
"A,aku lega Fanny sudah sadarkan diri Irgy." Ucap Kevin berjalan menghampiri ku dan Irgy.
"Aku juga sangat berterimakasih padamu Vin, kau telah melindungi istriku dengan cepat. Lalu bagaimana dengan Nia?"
"Sudah tugasku selalu melindungi wanita mu sebagai.. Adikku saat ini Irgy, dan maafkan aku atas sikap Nia terhadap Fanny. Aku menyesali itu semua, maafkan aku." Jawab Kevin menatap kami dengan wajah sedih, terlihat jelas kedua matanya berkaca-kaca dengan helaan nafas yang begitu dalam.
"Vin, jangan begitu. Yang Nia alami saat ini, pasti lebih sulit dan sakit. Aku tak apa, aku baik-baik saja." Jawab ku kemudian, mencoba menepis rasa bersalah Kevin kepadaku. Irgy mengangguk tanda menyetujui ucapan ku, untuk membuat Kevin tak lagi salah tingkah dan kikuk seperti saat ini.
"Maafkan aku Vin, aku tidak bisa memberikan banyak bantuan. Hal yang saat ini kalian alami hanya team medis saja yang bisa bekerja dan membantumu."
"Irgy, aku tidak tahu lagi bagaimana mengucapkan kata terimakasih padamu. Terimakasih selalu ada dan menemaniku di saat kalut begini. Dan sampai akhirnya, Fanny terluka karena ku."
Kevin kembali menundukkan wajahnya dengan kepiluan, menunjukkan betapa rasa bersalah nya sungguh mendalam padaku.
🌻🌻🌻
Di tempat lain, Abel sedang berada di kantin rumah sakit. Membeli sebotol minuman air mineral untuk melepas dahaganya.
"Huhft, sungguh. Kehidupan Fanny terlalu di penuhi banyak drama yang menegangkan. Bagaimana dia bisa sanggup menjalani ini semua hah? Aku yang melihatnya saja sangat gerah."
Abel bergumam dengan sendirinya, sembari sesekali meneguk sebotol air mineral. Nafasnya tersengal-sengal sembari menggerutu dan duduk sejenak di kursi kantin.
"Ah, sudah lah. Sebaiknya aku kembali ke ruangan Fanny, semoga dia sudah sadar. Dia pasti akan mencariku jika aku tidak bersamanya."
Dengan beranjak bangun Abel berjalan melangkah terburu-buru. Kemudian menubruk seseorang hingga air mineral yang di teguknya lagi menyemprot kesana kemari dan mengenai seseorang yang di tubruknya.
"Aduh. Pelan-pelan dong, jadi basah kan baju gue." Ucap seorang wanita dengan nada marah.
"Maaf aku tidak sengaja. E,eh..."
"Ngapain kau disini Andi?" Tanya Abel menyapa lebih dulu.
"Abel?" Ucap Andi terkejut.
"Honey, kau mengenal wanita ceroboh ini?" Tanya Wanita di sisinya kemudian.
"Hey, aku tidak sengaja. Karena sedang terburu-buru," Jawab Abel menanggapi dengan cetus.
"Honey. Baju ku basah, coba lihat. Iiih, gak nyaman tahu.."
"Cih, wanita manja." Abel menggerutu lalu mencoba melangkah melewatinya.
"Hey, kau belum meminta maaf padaku. Berikan aku uang kompensasi, baju ku ini mahal." Bantah wanita di sisi Andi menghentikan Abel.
Abel terdiam menghentikan langkahnya sembari menatap tajam ke arah Andi.
"Honey, sudah lah. Jangan di perpanjang lagi, ini hanya basah saja. Nanti akan ku belikan baju baru lagi ya," Ujar Andi pada wanitanya tersebut. Membuatnya tersenyum puas akan ucapan Andi.
"Dia lebih buruk dariku." Ucap Abel kembali menggerutu.
"Siapa yang kau temui di rumah sakit ini?" Tanya Andi saat Abel kembali ingin melangkah menghindari mereka.
"Lalu kau?" Abel mengembalikan pertanyaan Andi tanpa memberikan jawaban terlebih dahulu. Tampak Andi menghela nafasnya dalam-dalam.
"Aku... Pak Ammar sedang di rawat disini," Jawab Andi.
"Apa? Ta..Tama? Ada apa dengannya? Bagaimana kondisinya saat ini?" Abel terkejut dan melangkah lebih dekat ke arah Andi.
"Heh, kau masih begitu peduli sampai shock begitu."
"Jangan membahas hal yang sudah berlalu. Cepat katakan," Abel membentak Andi.
"Hey kau, wanita ceroboh. Bisakah pelankan suaramu berbicara dengan kekasihku?" Balas wanita di sisi Andi dengan nada marah.
"Diam kau. Jika terus saja menyela akan ku robek mulut mu yang sok manis itu," Jawab Abel dengan kasar. Membuat wanita tersebut mundur selangkah dan merangkul lengan Andi dengan ketakutan.
"Kenapa kau begitu kasar? Kau tidak pernah berubah."
"Andi, cepat jawab aku. Ada apa dengan Tama?"
"Dia sempat kritis, saat ini dia masih di ruang ICU. Sejak meninggalnya nona Eliez hidupnya berantakan, dia menjadi perokok aktif dan tidak pernah tidur dengan nyaman sehingga iti mengganggu kesehatannya dan akhirnya dia terjatuh sakit. Dan aku baru mengetahuinya setelah semalaman dia menahan sakitnya. Kau puas dengan penjelasanku ini?"
Glek !!!
Abel mematung, tenggorokannya kembali terasa kering. Sehingga tak mampu mengeluarkan kata apapun.
"Ba,baiklah. Aku pergi dulu,"
"Tunggu. Siapa yang kau temui disini? Apa semua baik-baik saja?" Tanya Andi kembali.
"Te..teman ku, dia sedang sakit. Jadi aku menjenguknya disini, lagi pula jangan sok peduli lagi padaku. Kau pedulikan saja wanita mu yang manja itu."
Ujar Abel dengan melangkah pergi meninggalkan Andi yang kebingungan mematung tanpa berani berucap kembali. Dia ingin mengejar Abel, namun wanita di sisinya yang kini menjalin hubungan dengan Andi menahan erat rangkulannya di lengan Andi.
Dengan terus berjalan melangkah tergesa-gesa Abel bergumam dalam hati nya.
"Oh Tuhan, bagaimana mungkin Tama berada dalam satu tempat bersama Fanny juga tuan Kevin. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka bertemu sementara tuan Irgy pun disini, ah.. Aku bisa gila."