Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 204



Tiba dirumah, aku sudah sangat ingin segera menuju kamar ku. Namun Pelangi terlihat sangat sedih dia langsung berlari lebih dulu menuju kamarnya setelah mengetahui Kevin akan segera kembali ke LN. Dalam hati ada perasaan khawatir, takut dia akan kembali menjadi sosok yang dingin dan pendiam.


"Sebaiknya, aku mengajaknya bicara besok setelah Irgy tiba. Ku biarkan dia tenang dulu, supaya bisa berpikir jernih."


Kemudian aku langsung menuju kamar, ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Hasrat ingin segera tidur namun mata begitu nakal mengerjaiku, ia enggan terpejam. Beberapa kali aku memutar tubuh untuk mencari posisi yang enak, hah.. Selalu saja, tanpa Irgy di sampingku. Aku tidak pernah bisa tertidur dengan pulas disaat seperti ini.


Satu jam kemudian, ku dengar suara keributan anak-anak. Aku segeraj beranjak keluar dari kamar ku. Dan ku lihat dari atas si kembar tiba dengan papanya, Irgy. Betapa Irgy sungguh menyebalkan, dia bilang akan memakan waktu sehari-dua hari di luar kota. Tapi nyatanya...


"Mama, mama..." Panggil si kembar menghampiriku dengan pelukan.


"Kalian, huh.. Bukan kah kalian bilang besok akan pulang?"


"Papa datang menjemput kami, Ma. Lagian dirumah opa dan oma ada tante galak, hiiiih.."


Aku menengadah ke arah Irgy yang berdiri di belakang anak-anak.


"Mama menelpon ku, dan bercerita jika mereka menangis karena kejahilan Ira. Jadi aku menjemputnya segera,"


"Iya Ma, tante Ira dan kakak Cantika galak banget. Kami selalu di marahin," Ujar Rafa mengadu.


"Sudah, kalian masuk kamar. Tante Ira dan kakak Cantika hanya tidak sengaja saja, mereka hanya ingin menjahili kalian saja."


"Uuh, ayo Rafi kita masuk kamar saja." Jawab Rafa dengan wajah cemberut kemudian mengajak adik kembarnya menuju kamar.


"Puteri kita sudah tidur?"


Aku mengabaikan ucapan Irgy dengan berbalik badan memasuki kamar. Aku tidak ingin perbincangan yang ingin ku lontarkan akan terdengar oleh anak-anak nanti.


"Sayang, aku tanya. Kenapa diam? Apa kau marah padaku?"


"Kau, huh. Kau bilang akan memakan waktu sampai dua hari diluar kota, tapi..." Aku bertanya dengan wajah cemberut.


"Oh astaga, tadinya memang ku pikir akan memakan waktu lama. Apakah kau tidak senang aku pulang lebih cepat?"


"Ku pikir, aku akan tidur sendiri malam ini." Jawab ku lirih. Irgy melangkah untuk lebih dekat dengan ku, lalu kemudian mengecup kening ku dengan lembut.


"Lagi pula, aku ingin segera pulang. Karena aku sedikit cemas,"


"Cemas?"


"Hemm, kau pergi dengan Kevin. Aku takut itu menimbulkan pikiran yang tidak nyaman di hati Nia, kau tahu dia begitu sangat membenci mu saat itu."


"Astaga, Nia sudah berubah sayang. Bahkan tadi kami sempat makan malam, dia menunggu kami di sebuah restoran seafood. Dan dia berpamitan, dia sangat sedih harus kembali ke LN."


"Oh ya? Kenapa begitu cepat?"


"Pekerjaan Kevin yang mengharuskan mereka segera kembali, itu sebabnya Pelangi kita begitu sedih hingga dia menangis dan langsung mengurung diri di kamar. Selama perjalanan pulang kemari dia hanya berdiam diri tanpa kata. Aku takut dia akan kembali seperti dulu lagi,"


Mendengar hal itu Irgy memeluk tubuhku.


"Hah, jangan khawatir. Selama ada Tama disisinya aku yakin dia akan baik-baik saja nanti."


"Ku harap begitu, suami ku."


"Eh, tapi.. Aku, aku cemburu."


Degh !!!


Aku sedikit terhentak mendengar perkataan Irgy yang tiba-tiba. Cemburu? Cemburu karena apa? Jangan-jangan...


"Hemm, Kevin dan Nia telah berhasil mencuri hati puteri kita."


"Cih, dasar. Kau ini, mereka hanya menyayangi dan begitu peduli pada puteri kita. Tapi walau bagaimanapun kau tetap papa terbaik untuk nya."


Irgy diam tanpa menjawab kembali akan ucapan ku, dia menatapku seakan sedang mengorek sesuatu. Dan itu membuatku tidak nyaman, meski tadinya antara aku dan Kevin tidak ada hal yang terjadi bukan?


"Pffttt... Hahaha, kenapa kau begitu salah tingkah istriku? Apa kau pikir aku akan cemburu pada Kevin hanya karena kalian pergi berdua ke pantai tadi? Oh ya Tuhan."


"Ih, apaan sih yank? Jadi kau sungguh berpikir demikian?"


"Hahaha, aku bercanda. Aku percaya, Kevin orang yang baik. Sosoknya selalu lembut dan penuh perhatian, dia begitu tulus. Meski, ehhem.."


"Apa?" Tanya ku melototinya dengan mengangkat kedua alisku keatas.


"Dalam hatinya kau tetap wanita yang di cintai bukan?"


Rasanya aku seperti sedang ketahuan melakukan perselingkuhan. Apaan ini? Aku bahkan tidak sedikitpub berniat membalas cintanya bukan?


"Tapi justru itu membuatku termotivasi untuk semakin mencintaimu dan mempertahankan mu, apapun itu kau yang paling utama. Kau kelemahan ku, begitu juga anak-anak. Jika Kevin saja tidak bisa membuang begitu saja cintanys untuk mu, itu berarti kau memang wanita yang luar biasa."


Kau tahu, kedua kaki ku semakin tidak terasa sedang menginjak bumi saat ini. Kenapa Irgy begitu serius kali ini, ini membuatku merasa bersalah.


"Sayang, apa kau.. Sungguh cemburu pada Kevin?"


"Hem... Hah,"


Irgy kembali memelukku hanya dengan lenguhan nafas panjang.


"Jawab, jangan membuatku merasa bersalah seperti ini. Maafkan aku, karena aku ikut serta pergi bersamanya tadi. Lagi pula kau tahu aku begitu menyukai pantai, sayang." Tanya ku dalam dekapan nya.


"Aku tidak cemburu, tapi jujur ku akui. Aku takut, aku takut tidak bisa menyaingi perasaan yang telah Kevin miliki terhadapmu hingga detik ini. Aku takut jika suatu hari, mungkin aku akan melukai hatimu meski itu tanpa di sengaja. Maka kau akan berlari ke pelukan Kevin, aku takut itu akan terjadi, sayang."


"Sayang, apa yang bicarakan ini hah?" Aku mendorongnya untuk melepaskan pelukan ku. Dia menatap ku dengan lekat, dengan kedua mata yang menyiratkan ketakutan yang mulai timbul di hatinya.


"Kenapa kau selalu merasa ragu dan tidak percaya akan dirimu sendiri."


"Sedikitpun aku tidak meragukan mu, Sayang. Aku hanya takjub, hati Kevin begitu luar biasa. Bahkan aku juga lelaki, tapi cintanya dan perhatiannya padamu membuatku iri sebagai sesama lelaki. Aku ingin hanya aku saja yang memiliki hati begitu besar dan cinta yang begitu dalam untuk mu. Tidak ada yang lain, aku merasa akan tersaingi."


"Tapi kau yang ku pilih. Kau suami ku, kau ayah terbaik dari anak-anak ku, dan kau juga begitu baik pada ibu ku."


Ah, entah kenapa aku jadi ingin menangis. Aku merasa jika ini yang kesekian kalinya Irgy selalu merasa tidak percaya diri setiap kali bertemu dengan Kevin.


"Tapi jika pun aku berada di posisi Kevin saat ini, aku belum tentu bisa."


"Sayang, berhenti tidak selalu memuji laki-laki lain terlebih lagi dia mantan ku. Aku risih, atau jangan-jangan kau mulai jatuh cinta padanya?"


"Jika IYA, bagaimana?"


"Aaah, sayang..." Aku sungguh ingin memukulinya saja.


"Hahaha, sudah lah lupakan." Kembali Irgy menarikku dalam dekapannya dan mengecup mesra bibirku. Hingga kami berciuman sedikit lebih lama.


"Aku mencintaimu, Fanny."


"Aku juga. Aku saaangat mencintaimu, suami ku."