
"Ayo, kita pulang. Aku akan mengantarmu, kau sudah sehat bukan?" Ujar Exelle pada Pelangi.
"Memangnya aku sakit? Aku baik-baik saja. Ayo pulang saja. Mama dan papa sudah pasti sangat khawatir." Ajak Pelangi menyanggupi.
"Aku sudah memberitahu tante Fanny tadi, dan.. Aku terpaksa berbo-hong. Maafkan aku, Princess cold."
"Eh, apa yang kalian katakan pada mamaku?" Tanya Pelangi setelah Lisa mengaku demikian.
"Aku terpaksa mengaku jika Lucas dalam masalah, dia memecahkan gelas-gelas mahal di kafe tempat kita party tadi."
"Whaaat? Iiih. Lisaaa, Jenii. Kalian tega, apakah aku seceroboh itu?" Lucas mulai manyun. Ia tidak menerima alasan itu, sebab dia bukan lah orang yang ceroboh.
"Pffft... Kalian terbaik." Pelangi tertawa kecil melihat mereka saling menyalahkan.
"Sudah, sudah. Ayo kita pulang, sebelum nanti semakin di curigai." Ujar Exelle menyela.
Lalu kemudian mereka berjalan bersama, dan Exelle masih berusaha menyembunyikan luka di bagian belakang kepalanya. Ia sengaja menyuruh Pelangi dan yang lainnya berjalan lebih dulu sedang Exelle berjalan di belakang.
"Ex..!!! Kau baik-baik saja? Mengapa kau baru mengabari kami hah?"
Tiba di pintu keluar, kedua teman Exelle menghampiri dengan ekspresi panik dan cemas. Exelle menghela nafas dalam-dalam lalu mengedipkan kedua matanya memberikan syarat pada mereka agar tidak bersikap demikian di depan Pelangi.
"Aah, maaf. Kami pikir kau yang sakit, itu sebabnya kami buru-buru kemari." Jawab salah satu teman Exelle sembari memegangi ujung hidungnya.
"Hahaha, apa yang kalian pikirkan heh? Aku hanya memberitahu kalian bahwa aku sedang disini menemani pacarku."
"Cih, dasar. Enggak, aku bukan pacar dia. Ih, ngelantur." Bantah Exelle dengan wajah malu-malu.
"Ciye... Ehhem, pa-car. Jen, kita kalah lagi. Hihihi," Tanggap Lisa mencoba mengalihkan pikiran Pelangi yang seperti kebingungan setelah kedua teman Exelle datang.
"Ah, ya. Kau, calon bos kami. Ini, aku membawakan mobilmu. Biarkan bos kami yang menyetir, kami akan mengikutinya dari belakang. Oke!" Salah satu teman Exelle memberikan kunci mobil Pelangi ke tangannya.
"Oh, sudah ketemu? Kapan? Dimana? Aku sudah mencarinya tadi hingga aku tak sadarkan diri. Aah, sial." Jawab Pelangi sembari menggenggam erat kunci mobil kesayangannya.
"Ayo. Ku antar pulang sekarang, ini sudah jam 1 pagi." Ajak Exelle kemudian.
"Ehm, Jen... Lisa, dan Lucas. Kalian pulang saja, tak perlu mengantarku. Aku pulang dengan Exelle."
"Bener nih kita tidak perlu lagi mengantarmu?" Tanya Jeni.
"Hem.." Pelangi mengangguk.
"Sampai dirumah kabari kami." Ucap Lisa kemudian.
"Ya, baiklah."
"Lucas, hati-hati pulang bersama mereka." Sembari berjalan Pelangi masih sempat mengerjai Lucas yang kemudian dia mendecak sebal.
.
.
.
.
.
Di tengah perjalanan, barulah Pelangi menyadari bahwa Exelle memiliki perban luka di belakang kepalanya.
"Ex, kau... Apa kau sedang terluka?" Pelangi bertanya dengan cemas menolehnya.
Hah, aku lupa. Akhirnya ketahuan juga aku mengalami luka di kepala.
"Oh. Haha, hanya luka kecil. Tidak sakit, aku kan kuat? Hehe."
Pelangi terdiam menatapnya sejenak.
"Hah, ayolah. Jangan menatapku begitu, ini hanya luka kecil. Hanya 12 jahitan saja."
"Hemm.. Bukan kah itu kecil?"
"Jangan bercanda." Pelangi mencubitnya.
"Aw, sakit sekali. Cubitan mu justru lebih sakit dari luka ini."
"Katakan, apakah terjadi sesuatu? Atau itu perbuatan Joe?"
Exelle sedikit terkejut namun tetap berusaha fokus menyetir dan tersenyum tipis.
"Tidak. Ini hanya ketidak sengajaan saja, sudah lah jangan di pikirkan."
"Exelle. Jawab aku, apakah benar Joe yang melakukannya?"
Aku harus jawab apa, Pelangi? Aku tidak ingin menoreh kebencian di hatimu.
"Kau diam, itu berarti memang Joe yang melakukannya. Hah, kenapa kalian selalu saja main kekerasan seperti itu. Tidak bisakah kalian bersikap dewasa? Apa yang kalian permasalahkan sih..." Pelangi mulai kesal lalu menyilangkan kedua tangannya, membuang wajah menoleh ke arah jalanan yang di balik kaca jendela mobilnya.
"Kau marah padaku?" Tanya Exelle.
"Tidak. Aku hanya kesal, terutama pada Joe. Dia pergi begitu saja pasti karena merasa salah padamu. Keterlaluan, sampai membuatmu terluka begitu."
"Hahaha, ciye... Apakah kau mulai lebih membelaku?" Exelle menggodanya kemudian.
"Dih, jangan GR dulu. Sebagai sahabat aku hanya ingin kalian tidak lagi bermusuhan."
"Yah, mungkin ini sebagai balasan dari Joe padaku, karena telah membuatnya luka dan mengalami koma saat itu."
"Joe bukan orang pendendam seperti itu, Ex."
"Ya ya, baiklah. Aku yang salah, dia begitu cemburu bukan ketika aku menemuimu." Ujar Exelle dengan tersenyum tipis.
"Tapi kali ini dia yang keterlaluan, apakah sudah hilang akal." Jawab Pelangi pelan.
Andai kau tahu, Pelangi. Jika saja kau tahu... Semua yang Joe lakukan malam ini, dia sudah berniat menodaimu. Aku tidak ingin membencinya, tapi aku marah. Bahkan kau tahu, dia lah yang menyembunyikan kunci mobilmu dengan sengaja.
Tak lama kemudian sudah sampai di pintu gerbang rumah Pelangi. Exelle keluar dari mobil lalu membuka gerbang halaman rumah Pelangi. Kemudian memasuki halaman rumah Pelangi dan mematikan mesin mobil dengan cepat.
"Ex, terimakasih. Kau.. Sudah mengantarku." Ucap Pelangi menatap wajah Exelle.
"Hei, cewek galak. Untuk apa bilang makasih segala? Sudah kewajiban seorang cowok bukan mengantar kekasihnya pulang." Jawabnya melempar senyuman lebar.
"Hem.. Kau mulai lagi, terserah kau saja."
"Ah? Terserah? Apakah itu berarti aku di terima sebagai pacar?"
"Ih, bukaaan. Bukan itu maksudku, apaan sih. Udah lah, pulang saja. Ini sudah hampir pagi, hati-hati kepalamu." Ucap Pelangi penuh perhatian. Exelle mengangguk lalu keluar dari mobil bersamaan dengan Pelangi.
"Masuk lah." Ujar Exelle.
"Hem, ya sudah aku masuk dulu." Pelangi beranjak pergi, sementara Exelle masih berdiri di depannya. Baru saja satu langkah memutar badan nya, Pelangi memanggil Exelle dan menoleh ke belakang.
"Ex..."
"Ya? Hahaha, apa lagi? Jangan bilang kau masih merindukan ku, aku tahu. Kau pasti mau bilang jangan lupa mimpiin aku. Iya bukan?"
"Iiih. Gombal, aku hanya ingin memastikan. Jika luka di kepalamu itu, apakah tidak serius?"
"Woah, aku jadi merasa di perhatikan lebih. Ah, bahagianya aku." Ujar Exelle dengan tersipu malu.
"Oh Tuhan, kau sungguh gila Ex. Sudahlah, aku masuk dulu. Kabari aku saat kau tiba dirumah."
"Baik, gadis ku." Jawab Exelle membungkukkan setengah badannya. Pelangi hanya menggelengkan kepalanya memutar kedua bola mata nya ke atas. Berlalu pergi dan menghilang di balik pintu rumahnya.
"Selamat tidur. Pelangi..."
Lalu Exelle berbalik badan pergi menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan pintu gerbang, kedua temannya dengan sabar menunggunya disana.