
Terdengar suara isak tangis dan pandangan Rendy tertuju kearah sudut ruangan. Terlihat bayangan Kirana sedang berjongkok memeluk kedua kakinya dibawah, disamping meja sambil menangis. Ia melangkah menghampirinya.
Rendy dapat melihat tubuh Kirana yang gemetar karena ketakutan. Ia membungkuk dan ingin melihat wajah Kirana, namun ia tidak bisa melihatnya karena rambut panjang Kirana yang tergerai dan terlihat berantakan telah menutupi wajahnya.
"Ayo bangun. Kamu udah aman sekarang. Aku pastikan kejadian tadi nggak akan pernah terulang lagi. Dan aku akan merahasiakannya. Tidak akan ada seorang pun yang tau tentang kejadian malam ini." Ucap Rendy dengan pelan mencoba menenangkan karyawannya yang tampak syok dan sangat berantakan ini.
Kirana masih terus menangis memeluk kakinya. Ia benar-benar sangat syok dan ketakutan. Hampir saja kehormatannya direnggut oleh Bima kalau saja Rendy tidak datang tepat waktu untuk menolongnya.
Kebetulan tadi, Rendy sedang berjalan keluar dari lift karena ingin pulang. Namun Rendy melihat sosok Bima yang sedang mengintip keruangan tempat Kirana bekerja seperti seorang pencuri dan terlihat mencurigakan. Rendy pun diam-diam mengawasinya dari kejauhan.
Saat melihat ternyata ada karyawan wanita yang sedang lembur keluar dari ruangan tersebut, Rendy memicingkan matanya untuk melihat siapa karyawan wanita tersebut tapi ia tidak bisa melihat wajahnya.
Rendy memang belum mengenal semua karyawannya karena ia juga belum lama menjabat sebagai Presiden Direktur di Pradipta Grup. Apalagi karyawan di Pradipta Grup jumlahnya begitu banyak. Pastinya akan sulit juga kalau harus mengenali karyawannya satu per satu.
Saat ia melihat Bima yang sedang mengintip Kirana dan mengikuti langkah Kirana yang sedang menuju pantry, ia dibuat terkejut dengan kelakuan Bima yang tiba-tiba membekap Kirana dari belakang dan menyeretnya ke salah satu ruangan kantor yang sudah gelap karena lampu tidak dinyalakan lalu mengunci pintunya.
Seketika, Rendy pun tersulut emosi melihatnya. Ia segera melangkah dengan cepat. Saat ia mendengar teriakan Kirana, Rendy langsung mendobrak pintunya hanya sekali tendangan pintunya langsung terbuka lebar.
Dengan langkah cepat, Rendy langsung memberi bogem dan menghajar Bima habis-habisan.
"Ayo cepat bangun. Aku akan pastikan kalau laki-laki brengsek itu nggak akan pernah lagi muncul disini ataupun dihadapanmu." Ucap Rendy dengan tegas membuat Kirana perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Rendy dengan sesenggukan.
Rendy pun mengernyit dan sedikit terkejut saat melihat wajah Kirana yang tidak asing lagi baginya.
"Kamu?"
Kirana mengusap air matanya dan tubuhnya terasa begitu lemas.
Rendy mengulurkan sebelah tangannya kepada Kirana. "Cepat bangun." Ucapnya dengan menatap Kirana.
Perlahan, Kirana juga mengulurkan tangannya, meraih tangan Rendy dan Rendy menggenggamnya erat lalu menariknya, membantunya untuk berdiri. Tangan Kirana terasa sangat dingin dan tubuhnya masih gemetar.
Rendy melepas jas yang dipakainya dan memakaikannya pada Kirana. Ia merangkulnya dan mengajaknya keluar. Kirana masih terdiam dan menundukkan wajahnya. Ia mengikuti langkah Rendy. Setidaknya ia merasa terlindungi oleh Rendy saat ini.
Rendy berjalan membawa Kirana menuju lantai dimana letak ruangannya berada karena Kirana terlihat sangat berantakan. Ia tidak mau kalau sampai ada yang melihat keadaan Kirana saat ini dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi padanya.
"Ayo masuk." Ucap Rendy setelah membuka pintu ruangannya.
Kirana masuk dan berjalan mengikuti Rendy kearah sofa. Rendy membantu Kirana duduk disofa lalu ia menghubungi Beni kembali untuk segera ke ruangannya.
"Ya Bos?" Tanya Beni ketika masuk kedalam ruangan Rendy.
"Kamu cek semua rekaman CCTV dan kamu hapus semua rekaman dua jam yang lalu di lantai tiga!" Titah Rendy kepada Beni.
"Siap Bos!" Jawab Beni kemudian bergegas pergi menuju ruang CCTV.
Kirana terlihat semakin pucat dan tubuhnya juga semakin lemas. Perlahan Kirana menyandarkan tubuhnya pada sofa karena merasakan pandangannya kabur. Ia pun pingsan.
Rendy menoleh kearahnya dan melihat Kirana yang sudah terbaring disofa, ia mendekatinya. "Kirana!" Rendy memanggilnya.
"Dia pingsan atau tidur?" Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
Rendy merasa cemas dengan keadaan Kirana saat ini. Ia pun kembali menghubungi Beni untuk segera menyiapkan mobil. Tanpa menunggu lama setelah Beni mengecek ke ruangan CCTV dan menghapus rekaman sesuai perintah sang Bos, Beni segera menyiapkan mobil dan menuju ruangan Rendy.
"Bos, mobil sudah siap." Beni memberi tau Rendy dengan hormat.
Rendy segera membopong Kirana dan membawanya turun sampai ke parkiran khusus untuk mobilnya.
Beni membukakan pintu untuk Rendy lalu menutupnya setelah Rendy masuk bersama Kirana. Ia segera masuk kebagian kemudi dan melajukan mobilnya.
"Kita mau kemana Bos?" Tanya Beni sambil melirik Rendy dari kaca spion didepannya.
"Apartemen." Jawab singkat Rendy.
Tanpa banyak Tanya lagi, Beni melajukan mobilnya menuju apartemen yang belum lama ini dibeli oleh Rendy seminggu sebelum Olivia datang ketanah air menyusulnya.
Kurang lebih lima belas menit, mobil telah terparkir di basement parkiran apartemen Rendy. Beni segera turun dan membukakan pintu untuk Bosnya. Rendy serega turun dan membopong kembali Kirana yang masih pingsan lalu membawanya masuk kedalam lift menuju unit apartemennya diikuti Beni dibelakangnya.
Sesampainya di unit apartemennya, Beni membantu membukakan pintunya dengan menekan beberapa digit angka yang sudah ia ketahui dari Rendy.
"Ben, tolong kamu hubungi dokter sekarang juga." Ucap Rendy setelah membaringkan Kirana diatas ranjang king size nya.
"Siap Bos." Jawab Beni dan ia segera keluar untuk menghubungi dokter yang sudah lama menjadi dokter kepercayaan keluarga Pradipta.
Rendy masih berdiri disamping ranjangnya menatap Kirana. Dalam hati, ia memuji kecantikan Kirana yang terlihat alami tanpa make-up yang berlebihan. Selain cantik, Kirana juga terlihat manis.
Rendy menghela nafasnya dan mengusap wajahnya. Kenapa aku malah mikirin dia? Gumamnya kemudian ia berbalik dan keluar dari kamarnya.
"Bos, aku barusan udah menghubungi dokter. Mungkin sebentar lagi dokter akan sampai." Ucap Beni yang melihat Rendy keluar dari kamar.
"Oke, makasih." Jawab Rendy kemudian berjalan menuju dapur ingin membuat kopi.
Beni mengikuti dari belakang dan memperhatikan Bosnya. "Apa anda ingin membuat kopi Bos?" Tanya Beni.
"Hmm, ya. Apa kamu bisa bikin kopi?" Jawabnya Rendy dan balik bertanya sambil menoleh kearahnya.
"Bisa Bos." Jawab Beni.
"Kalau gitu kamu yang buat." Ucap Rendy memnyuruh Beni dengan santai dan ia berbalik melangkah menuju ruang tv lalu duduk disana.
Beni terpaku sesaat sambil menatap langkah Bosnya yang tidak jadi membuat kopi malah menyuruhnya. "Dasar Bos. Aku pikir dia mau nawarin aku kopi." Gumam Beni dengan menghela nafasnya kemudian segera membuat kopi untuk Bos Rendy juga untuknya.
Selesai membuat kopi, Beni menaruh kopi untuk Rendy diatas meja. Ia lalu duduk disofa seberang sambil mencecap kopi miliknya.
TING TONG! TING TONG!
Suara bell berbunyi dan Beni segera meletakkan kopinya lalu bergegas membukakan pintu.
"Selamat malam. Saya Dokter Fahri. Apa anda tadi yang menghubungi saya?" Sapa dokter paruh baya dengan sangat ramah.
"Ya benar. Mari silahkan masuk Pak Dokter." Jawab Beni kemudian mempersilahkan Dokter Fahri masuk dengan hormat.
Dokter Fahri kemudian masuk dan Rendy beranjak menghampirinya dengan tersenyum saat melihatnya.
"Om Fahri? Apa kabar Om? Apa masih ingat denganku?" Sapa Rendy yang sudah mengenal Dokter Fahri sejak ia masih kecil.
"Rendy? Kamu Rendy? Anak Bagas?" Tanya Dokter Fahri dengan melebarkan tatapannya pada Rendy terlihat terkejut.
"Benar Om." Jawab Rendy dengan terkekeh melihat keterkejutan dokter Fahri teman baik Papanya.
"Oh astaga! Kamu beda banget sekarang!" Seru dokter Fahri sambil menepuk lengan Rendy kemudian mereka saling berpelukan.
"Om baik! Kamu makin ganteng aja." Lanjut Dokter Fahri sambil melepas pelukannya dan menepuk-nepuk lengan Rendy kembali dengan senyum melebar.
"Makasih Om." Ucap Rendy dengan tersenyum.
"O ya, siapa yang sakit? Kamu nggak kelihatan sedang sakit." Tanya Dokter Fahri seketika mengingatkan Rendy kalau tujuan ia memanggil Dokter kesini untuk memeriksa Kirana.
"Ah iya. Ayo Om ikut aku."
Rendy langsung mengajak Dokter Fahri masuk kedalam kamarnya.
Beni memilih kembali duduk disofa menonton acara televisi sambil menikmati kopinya.
Dokter Fahri kambali terkejut saat melihat ada wanita yang terbaring diatas ranjang didalam kamar Rendy.
"Rendy, siapa dia? Apa dia istrimu? Kapan kamu menikah? Kenapa Bagas dan Nadine nggak kasih kabar ke Om?" Tanya Dokter Fahri dengan menatap Rendy dengan serius.
"Om, aku belum nikah!" Tegas Rendy menjawab dengan cepat membuat Dokter Fahri terkejut lagi.
"Apa? Lalu siapa dia? Dia bukan Nayla adik kamu kan?" Tanya kembali dokter Fahri sambil mengernyit menatap Rendy merasa bingung.
"Bukan Om. Dia..." Jawab Rendy dan terdiam sejenak lalu mengusap tengkuknya karena ia bingung harus menjawab apa kepada Dokter Fahri. Apa iya aku harus cerita ke Om Fahri?
................