
Pelangi dan Joe buru-buru berpamitan untuk segera berangkat ke sekolah. Mereka sungguh lucu nan malu-malu karena sejak tadi, aku dan Irgy terus menggoda mereka. Hah, orang tua macam apa kami ini. Tentu kami pernah merasakan hal yang sama saat remaja dulu.
Di tengah perjalan, Joe dan Pelangi masih terdiam dengan rasa canggung satu sama lain. Ini hari pertama mereka pergi ke sekolah sebagai pasangan kekasih. Berbeda sari hari kemarin, mereka hanya sebagai sahabat dekat. Tentu berbeda pula suasana hati mereka saat ini bukan?
"Hah, kenapa kita jadi canggung gini sih? Apa tidak bisa bersikap seperti biasanya saja?" Ujar Joe mencairkan suasana lebih dulu.
"Dih, itu karena kau terus saja menggodaku dan memanggilku dengan sebutan pacar. Aku kan malu," Jawab Pelangi dengan memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil. Dia mencoba menyembuntikan rasa malu nya saat ini, duduk di samping Joe yang selalu memandangnya sesekali.
"Hahaha, memangnya kenapa? Wajar kan aku panggil pacar, kau memang pacar ku saat ini."
Pelangi tersipu malu di balik wajah nya yang berpaling dari sosok lelaki yang kini menjadi pacar pertamanya.
Dan akhirnya mereka tiba di sekolah, dari kejauhan sudah terlihat Lisa dan Lucas berdiri di pintu gerbang sekolah.
"Good morniing, yang baru saja jadian. Ciye.." Sambut mereka setelah melihat Pelangi dan Joe keluar dari mobil bersamaan.
Pelangi salah tingkah, dengan berani Joe meraih tangan Pelangi untuk berada dalam genggamannya.
"Woooah, mulai pamer ya. Aaah, aku iri." Lisa mendecak manja mencubiti lengan Lucas.
"Aw aw, Lisa. Sakiit, aaah... Si kumis tipis," Dengan manja Lucas berjalan mendekati Joe lalu mengaduh.
"Cup cup cup, baby ku. Aku tetap milikmu, tapi bisakah mulai saat ini kau berbagi dengan pacar ku, Langi?" Canda Joe menggoda Lucas. Tampak Lucas menekuk wajahnya mendengar hal itu.
"Dih, siapa juga yang mau di bagi."
"Hahaha, wah bagaimana ini. Pacarku tidak mau aku membagi cinta ku untuk nya,"
"Ciye.. Akhirnya, hmm... Berbahagialah selalu, Princess cold. Aku senang melihat kalian akhirnya jadian, hihi."
"Hmm.. Senang? Puas? Tapi aku marah loh, aku marah pada kalian semua. Upz, terkecuali sahabat ku yang satu ini. Lucas, ku yakin dia tidak ikut andil dalam rencana gila kalian. Huh,"
"Huhu. Betul Princesa cold, aku tidak ikut andil. Jadi ku mohon jangan marah padaku juga." Jelas Lucas merengek manja.
"Aaah, jangan mengancam kami begitu. Sudah jelas ini demi kebahagiaan kau dan pangeran tampan di sisi mu itu, Princess cold."
"Tetap saja, kalian tega padaku. Eh, lalu dimana Jeni?"
"Aku disini, selamat ya kalian. Ciye yang baru jadian, pamer pegangan tangan niye.."
Tiba-tiba Jeni hadir tepat di sisi tengah antara Pelangi dan Joe yang sedang berdiri, lalu merangkul leher Pelangi dan Joe bersamaan.
"Jeen, kau yang lebih jahat." Pelangi menyambutnya dengan ekspresi kesal.
"Hahaha, ayo lah. Jangan marah, jika tidak aku akan merebut pangeran masa kecilmu dulu kembali."
"Iih, coba saja jika kau berani." Jawab Pelangi dengan kedua mata melotot.
"Eh, siapa takut? Iya kan Joe?"
Suasana hening seketika, Lisa pun tercengang tanpa bersuara. Begitu pula dengan Joe, yang sontak menatap Jeni dengan tajam.
"Cih, hahaha ayo lah. Ada apa dengan kalian ini, aku hanya bercanda. Oh Tuhan, hahaha. Ogah banget harus merebut pacar sahabat sendiri,"
"Jeeen..." Panggil Pelangi dengan suara lega lalu memeluk sahabatnya itu.
"Hahaha, dasar kau ini. Ayo masuk," Ajaknya dengan merangkul Pelangi. Lisa dan Lucas menyusulnya, sementara Joe menarik tangan Pelangi kembali dari arah belakang, membuatnya sedikit terhuyung ke belakang.
"Joe, apaan sih.. Kau hampir saja membuat kami semua terjatuh beruntun." Ujar Lisa mendecak sebal.
"Ups.. Sory, Sa. Aku hanya, aku hanya cemburu. Kalian membiarkan ku dan mendukungku untuk berpacaran dengan sahabat kalian, Pelangi. Tapi tetap saja kalian yang menguasainya sejak tadi, bisakah aku saja yang berjalan di sisi nya mulai detik ini, menggenggam tangan nya agar seluruh murid cowok disini tahu. Jika kini seorang Princess cold sudah memiliki pacar yang tampan, hehe."
"Kau sudah selesai ngomel, Joe?" Tanya Jeni dengan ekspresi serius.
"A,ah?" Joe kebingungan.
"So, kau pikir setelah berhasil jadian dengan Princess kita lalu kau berhak sepenuhnya, gitu? Huuh, jangan mimpi. Ayo teman-teman, kita ke kelas." Ajak Lisa kembali setelah mengomel serta memberikan ancaman pada Joe.
Joe menghela nafas panjang kemudian menepuk keningnya dengan tangannya sendiri setelah melihat mereka berlalu pergi serta meledekinya sesekali.
"Si kumis tipis, hanya aku yang tetap setia disisimu."
Joe terkejut ketika mendengar suara Lucas masih berdiri di sisinya.
"Hah, sepertinya memang iya. Peluk aku,"
Lucas mulai bertingkah konyol dan merengek manja pada Joe, mereka berjalan tampak bagaikan sepasang kekasih. Mengundang kegaduhan diantara para siswa dan siswi lainnya yang meledeki mereka berdua.
Setelah jam pelajaran pertama usai, seperti biasanya mereka pergi menuju kantin sekolah. Namun Joe meminta Pelangi tetap tinggal di kelas menemaninya sebentar, sementara ketiga sahabat Pelangi sudah menuju kantin lebih dulu.
"Ayo, Joe." Ajak Pelangi.
"Tunggu, aku masih ingin berdua dengan pacar ku."
"Dih, mulai deh..."
"Kemari, aku ingin memelukmu."
"Hey, gila ya. Ini di sekolah, nanti ketahuan yang lain kita bisa di fitnah Joe."
"Astaga, hanya memeluk begini saja." Dengan mengabaikan penolakan Pelangi, Joe langsung mendekap tubuh sintal Pelangi dengan erat.
"Hah, sebentar saja." Bisik Joe dengan lirih. Pelangi terdiam, menurut membiarkan pelukan hangat sahabat yang sudah menjadi pacarnya saat ini. Hening, mereka seolah saling merasakan kehangatan pelukan mereka sejenak.
"Kau sudah puas? Aku sudah.. Aku lapar." Pelangi mulai bersuara dengan lirih.
Perlahan Joe melepas pelukan nya.
"Hah, begini saja sudah membuatku bagaikan terbang hingga langit ke tujuh. Rasa laparku jadi hilang, hehe."
"Cih, lebay tahu gak? Ayo, kita ke kantin. Kau masih punya tanggung jawab bukan?"
"Aduh, aku hampir lupa. Aaah, sial. Untung saja kau mengingatkan ku, Baby. Jika tidak aku sudah pasti di penggal oleh ketiga sahabatmu itu. Mereka sudah pasti menunggu ku untuk di teraktir."
"Hahaha, lagian. Kamu sih, siapa suruh buat janji konyol seperti itu. Kau belum kenal mereka begitu lama, Joe."
"Kau benar, Langi. Mereka lebih menyeramkan dari hantu, ku pikir tidak akan ada yang bisa mengalahkan para preman kakak kelas di sekoah ku dulu saat di LN. Ternyata mereka lebih menakutkan, hah. Bagaimana bisa kau besahabat baik dengan mereka, menakutkan."
Pelangi hanya terus tertawa untuk meledek Joe yang sejak tadi bergidik mengomentari ketiga sahabat Pelangi. Sembari terus berjalan, berpegangan tangan menuju kantin sekolah. Mereka sungguh manis, meski sesekali mereka masih terlihat sering meledek satu sama lain.