Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 166



Aaaarght...


Aku geram, aku mulai berteriak di dalam hati. Aku beranjak bangun dan hendak diam-diam menyelinap ke dapur, suasana sepi. Seharusnya Pelangi sudah tertidur, Irgy pasti sudah menemaninya.


Di saat aku sudah melangkah mendekati pintu kamar yang dengan sengaja tidak aku kunci, gagang pintu itu bergerak kemudian pintu terbuka membuatku semakin terkejut ketika seseorang melangkah masuk.


Kini sosok laki-laki yang ku rindukan beberapa hari ini namun ku benci, aku masih ingin marah, namun kehadiran dua janin sekaligus dalam rahim ku ini, membuat semua amarahku mereda seketika. Tapi melihatnya kini menatapku dengan tersenyum hangat, aku jadi makin kesal. Huh


"Kau lapar? Ayo makan dulu. Aku membawakan mu makan malam," Ucapnya padaku dengan lembut.


Aku berbalik badan tanpa menjawabnya, meski rasanya sudah tidak tahan dengan aroma makanan yang di bawa nya itu. Lengkap dengan jus jeruk hangat, dan beberapa potongan buah. Ugh, aroma ini sangat menggairahkan. Terasa semakin ricuh di dalam perut ku, tapi aku masih sungguh kesal dengan Irgy.


Sabar lah nak, biarkan mama melihat usaha papa mu dulu untuk memperbaiki semuanya.


Aku bergumam dalam hati sembari menahan lapar.


"Makanan nya masih hangat, ayo aku suapin." Ucap Irgy kembali setelah menyusulku duduk di sofa. Aku masih sok jaga image di depan suami ku sendiri, huh.. Betapa kekanakan nya diriku saat ini.


"Sayang, jangan marah lagi ya. Maafkan aku Fanny. Aku tidak kuat menahannya lagi jika kau terus mendiamiku seperti ini. Lihat aku Fanny.."


Lagi-lagi aku masih diam. Walau di dalam perut ku kini seperti sedang beradu panco dan berteriak ingin segera makan. Aaah, sial. Kenapa aroma makanan ini begitu sangat menggiurkan. Hingga rasanya air liur ku ini akan mentes keluar.


"Ya sudah, jika kau masih ingin menenangkan diri dan belum sudi melihatku disini, aku akan tidur di sofa ruang TV. Maafkan aku jika datang terlambat Fanny. Aku melakukan ini juga demi kau dan puteri kita. Tapi kau harus percaya, jika aku sangat mencintaimu. Hanya kau dan Pelangi puteri kita yang ada di hati ini." Ujar nya kemudian beranjak bangun dari sisi ku.


Seolah tergerak dengan sendirinya, aku menahannya dengan menarik tangan Irgy yang hendak pergi dari sisi ku. Irgy terhentak sangat terasa jelas dari tangannya yang tersentuh oleh ku.


"Aku sangat lapar. Temani aku makan dulu." Ucap ku yang membuat Irgy dengan cepat meraih sepiring makan malam dengan porsi yang ku rasa ini kurang banyak.


"Biar aku yang menyuapimu sayang, terimakasih sayang. Telah mau berbicara kembali dengan ku, aku lega." Jawab Irgy dengan senyuman yang berbinar-binar, dia begitu terlihat sangat bahagia dan lega nafasnya terhembus saling memburu yang menandakan jika dia sungguh bahagia.


"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri." Jawab ku cetus dengan cepat meraih sepiring nasi hangat yang lengkap dengan lauk pauk di atasnya.


Sepertinya bunda belum bercerita padanya jika aku kini tengah hamil anak kembar, ini porsi yang biasa ku makan. Pasti Irgy yang sengaja mengambilnya untuk ku, ini sangat sedikit bagiku saat ini.


Irgy tercengang melihatku makan dengan lahap dan terburu-buru dalam waktu yang singkat. Hingga mulut Irgy menganga tanpa mata berkedip.


"Apa? Kenapa kau menatapku begitu hah?"


"E,eh.. Kau makan begitu lahap dan cepat sayang, bagaimana jika pencernaan mu nanti terganggu. Apa kau sangat lapar hingga menghabiskan semua porsi ini dalam sekejab begitu saja?" Tanya Irgy masih dengan ekspresi heran.


"Kau tidak suka melihat ku banyak makan? Buatku ini masih kurang, aku ingin menambah lagi dengan porsi yang sama. Apa kau keberatan hah?" Jawab ku dengan nada kesal.


"Ti,tidak. Eh, kemarikan piring itu. Aku akan mengambilnya lagi untuk mu sayang, siapa bilang aku tidak menyukainya? Aku justru senang jika kau banyak makan seperti ini. Dan tubuhmu saat ini semakin,,seksi" Jawab Irgy dengan suara yang semakin pelan dia ucapkan dengan ekspresi yang takut aku akan kembali marah.


"Apa kini kau sedang mengataiku gendut hah?"


Mendengarnya mengataiku seksi itu sangat menyinggungku saat ini, aku tahu dia pasti menyadari perubahan tubuhku ini. Menyebalkan, dia membuatku merasa malu dan tidak PD di depannya.


"Eh tidak, tidak sayang. Kau sungguh semakin cantik dan seksi. Jangan marah lagi, aku akan segera keluar untuk mengambilkan mu satu porsi makan malam lagi." Jawab Irgy gelagapan kemudian dengan cepat dia keluar dari kamar.


Sayang-sayangnya mama. Apa kau lihat barusan? Dia papamu, papamu sungguh menyebalkan bukan?


Kembali aku bergumam sembari mengelus perut ku, sesaat kemudian terdengar suara pintu yang hendak di buka. Dengan cepat aku berpura-pura duduk santai tanpa ekspresi apapun.


"Sayang, pelan-pelan. Nanti kau tersedak, tidak akan ada yang merebut makanan mu ini." Ucap Irgy kembali, aku bergumam dalam hati saja.


Memang tidak akan ada yang merebutnya dari ku saat ini, tapi mereka sudah saling berebut di dalam sana. Mulut ku ini sudah terasa lelah dan penuh dengan makanan.


Setelah ku habiskan semua makan malam ku untuk porsi yang kedua. Baru lah terasa lega dan nyaman ku rasa, aku bersandar pada sofa. Perutku terasa ringan dan tenang ku rasa, dan sedikit melendung terlihat. Segera aku membenahi posisi duduk ku saat Irgy mengerutkan alisnya melihatku.


"Apa kau sudah kenyang?" Tanya nya lagi.


"Sedikit," Jawab ku singkat.


"Sayang, aku senang melihat nafsu makan mu bertambah begini. Tapi bisakah kau mengontrolnya lebih pelan sedikit? Nanti kau sakit perut. Makan dengan cepat itu tidak baik sayang, nanti kau..." Lagi lagi dia mengomel dan protes akan sikapku tadi. Aku kembali dibuat kesal dan tersinggung. Dan tidak tahan ingin segera menyela omelannya itu.


"Memangnya aku yang mau semua ini hah? Semua ini karena mereka. Kau pikir aku orang yang selalu kelaparan dan kekurangan makan selama jauh darimu? Apa kau pikir aku sengaja meluapkan amarahku pada makanan itu? Aku bukan..."


"Tunggu, siapa yang kau sebut karena mereka? Jangan membuatku takut sayang." Tanya Irgy nenyela dengan melihat sekeliling, kemudian semakin mendekatkan posisinya duduk di sisiku. Melihatnya bertingkah lugu dan konyol seperti itu, membuatku ingin tertawa.


Lihatlah nak, betapa ayahmu sungguh lugu dan bodoh. Itu yang membuat Mama jatuh hati padanya sejak awal hingga kini. Dia begitu ketakutan dan sangat konyol, entah apa yang dipikirkannya itu.


"Apaan sih? Kau pikir yang ku maksud itu adalah para hantu atau jin?"


"Kau sengaja membuatku merinding, ayo lah sayang. Berhenti marah begitu, maafkan aku. Jangan mengancamku begitu. Siapa yang kau sebut mereka sampai membuatmu makan begitu banyak dan lahap. Kau membuatku sedikit ketakutan..."


"Cih, dasar bodoh. Siapa lagi jika bukan mereka yang di dalam perutku saat ini." Jawab ku dengan spontan. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, untuk tidak memberitahunya.


"Mak,maksudmu.. Mereka, dalam perut???" Tanya nya lagi, membuatku menatapnya geram. Dia sungguh lamban berpikir kali ini..


"Sayang, apa kau.. Kau kini, Ha-mil?"


Wajahnya kini mulai memucat dengan ekspresi yang sulit ku cerna.


"Huh, sangat lamban. Apa kau tidak menyadari perubahan pada tubuh istrimu ini, lihat perut ku ini sudah memblendung dan aku mulai gendut, semua baju seksi ku mulai menyempit, dan aku..."


Seketika Irgy meraih ku dalam pelukannya, dia memelukku erat, saangat erat hingga perlahan ku dengar dia mulai menangis sesunggukan. Membuatku merasa kasihan akan sikapnya ini. Entah bagaimana ekspresi wajahnya itu, dia terus menangis memelukku dan akupun spontan merasakan air mata ini ikut terjatuh, mengalir dengan deras.


"Sudah lah, lepaskan aku. Kau membuatku sesak nafas," Jawab ku dengan sedikit cetus, kemudian dengan cepat menyeka air mata ku sebelum Irgy melihatnya. Kemudian dia sungguh melepasku dari pelukannya lalu bersimpuh duduk di hadapan ku hingga meja kecil yang ada di depan ku kini tersungkur jauh oleh tubuh Irgy yang duduk di depan ku.


Aku terkejut melihatnya duduk bersimpuh menghadap ke perut ku yang sudah membuncit. Dia menciuminya hingga membuatku geli. Dia menciuminya berkali-kali dengan linangan air mata.


"Hai, hentikan. Apa yang kau lakukan?" Tanya ku sembari menahan air mata ku untuk tidak terjatuh kembali, aku tahu dia tentu sangat bahagia namun tidak tahu bagaimana dia akan mengekspresikannya.


"Hai.. Anak papa yang di dalam sana. Maafkan papa nak, papa datang terlambat. Ini papa, papa yang sudah lama menantikan kehadiran mu." Ucap Irgy dengan lembut dan terisak oleh tangis. Nafasnya seolah terlihat memburunya.


Aku semakin terharu di buatnya, namun masih berusaha menahan diri dan berpura-pura mengabaikannya.


"Jangan hanya memanggilnya anak. Nanti mereka saling iri, mereka anak-anak mu. Mereka berdua di dalam sana, apa kau dengar?"


Irgy kian semakin terisak tangis menundukkan wajahnya, kemudian kembali menciumi perut ku kembali. Aku semakin dibuatnya terharu.


"Terimakasih Tuhan, terimakasih anak-anak papa. Maafkan papa, maafkan papamu ini.."